Jum'at, 19 Juli 2019 09:10:09 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520047
Hits hari ini : 905
Total hits : 4816128
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Agama dan Spiritualitas






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 07 April 2009 00:00:00
Agama dan Spiritualitas
Sesungguhnya Spiritualitas Katolik dan umat Kristiani dengan

institusi agama bin GK maupun GP berpusat pada Yesus sebagai sumber kasih/kebaikan, jalan dan kebenaran dan hidup, tapi

spiritualitas pada umumnya cenderung berpusat pada kebaikan.



Disinilah ada perbedaan yang hakiki, karena dengan

berpusat kepada Yesus (ada Pribadi & sumber hidup), maka "Keselamatan atau hidup yang kekal itu merupakan suatu anugerah atau

kasih karunia Tuhan (pribadi)", sedangkan berpusat pada kebaikan untuk memperoleh keselamatan atau hidup yang kekal adalah

hasil usaha manusia itu sendiri (pribadi sendiri) yang berpusat pada "ALAM SEMESTA".



Sehingga bagi orang-orang

Kristiani yang sungguh-sungguh berpusat pada Yesus, maka tidak ada kekwatiran terhadap mereka untuk berpindah ke spiritualitas

apalagi pantheis maupun atheis. Tapi yang belum mengerti makna dan tujuan penebusan oleh Yesus, mereka akan mencari-cari terus

dan bias saja ke spiritualitas dan akhirnya menjadi "GANDRUNG" dan semakin "MARAK" akhir-akhir ini terutama dinegara-negara

Barat yang sudah berstigma sebagai negara "SEKULER".



Disamping alasan tersebut diatas tentu saja agama sangat

membatasi kebebasan bergerak dalam kehidupan sehari-hari bagi para pengikutnya karena "mark/tanda maupun rambu-rambu" yang

sudah terpasang didalamnya,, persis seperti kritikan Nietzsche bahwa "Tuhan itu sudah mati" dimana agama Kristen membuat

manusia menjadi lemah, nrimo, mengalah saja, jangan dibalas,kasihan, kalau ditempeleng pipi kanan, kasih pipi kiri (mungkin

mengajar kita supaya kita mengeles/mengelak, jadi tidak kena, hehehe...) dan lain sebagainya, semua itu tentu akan mempengaruhi

hati dan pikiran seseorang dan dianggap menghambat manusia untuk mengembangkan hidupnya dengan bebas. Demikian juga dengan

kewajiban2 yang ditampilkan dan harus ditaati secara lembagawi, formalistic melalui ritualistic-ritualistik, hidup berjamaat,

doktrinitas, maupun pelayanan masyarakat yg sangat menyita waktu, tenaga, pikiran serta kebebasan. Mungkin dalam hati, mereka

ngomong,"Ngapain tiap hari GUE laporan sama Tuhan, kerjaan Gue masih banyak yg lebih penting, kalau laporan melulu....kapan

kerjanya, perut ini bisa-bisa KRONCONGAN".



Didalam pengungkapan ekspresi spiritualitas, tampak ada berbagai ragam

dan cara mereka melakukannya, Seperti spiritualitas Kristiani yang tetap mempunyai varian yang "Karakteristik" karena menginduk

pada agama Kristen/ Katolik, mereka tidak terlepas dari induknya sehingga tetap berpusat pada Kristus sehingga agama tetap

sebagai pelembagaan pengalaman reliogisitas, pengalaman yang disentuh dan disapa oleh Yang Ilahi, penyerahan diri secara total

dan mengarahkan hidupnya pada Kristus.



Walaupun spiritualitas secara umum memberi arti untuk peningkatan kwalitas

moral pribadi yg menekankan pada aspek spiritual yang berhubungan dengan Transenden, menonjolkan keselarasan dan keharmonisan

hidup, sehingga mereka tidak mementingkan formalistik & ritualistik agama. Namun demikian itu bukan berarti bentuk

spiritualitas tidak ada, sebab dengan cara mempraktekan "aksi" dan "meditasi" tersebut, itu sudah merupakan jalan spiritual

mereka, dan inilah merupakan ekspresi yang menonjol dari kaum spiritualitas! Tapi juga spiritualitas bukan merupakan semacam

panteisme yang mengidentikkan Tuhan dengan alam semesta, tapi mereka lebih cenderung mengatakan bahwa "Tuhan identik dan juga

tidak identik dengan alam semesta", jadi lebih tepat kalau dikatakan bahwa Tuhan itu IMANEN dan sekaligus TRANSENDEN, TUHAN ADA

DIMANA-MANA (Ungkapan ini persis digunakan di kalangan umat Kristiani)!



Bagi manusia, agama merupakan penuntun

hidup. Memberikan dimensi kwalitas hidup supaya mempunyai karakter moral yang berkwalitas tinggi dan menjadi lebih manusiawi,

sehingga sungguh-sungguh mencerminkan cahaya Kristus sesuai dengan panggilan-Nya, sebab warta pokok agama Kristiani terefleksi

dalam "Kabar Gembira Injil" yang menyatakan bahwa Allah mencintai, mengampuni, menebus dan membawa manusia ke kehidupan yang

kekal!



Padahal spiritualitas tidak menggunakan patokan2, tanda2 maupun rambu- rambu yang membatasi gerak mereka,

karena dasarnya perbuatan baik. Mereka lebih menonjolkan aspek esoteric dan esensi kehidupan yang sudah lepas dari agama,

filsafat maupun politik. Maka bagi missioner GK maupun GP harus lebih aktif dan innovative lagi di dalam berevangelisasi untuk

mencegah lajunya arus terutama yang sudah Kristiani menyeberang dan datang ke sana dengan dalih mencari kebebasan hidup tanpa

dikekang !



Dalam proses menuju ke depan, agama menghadapi banyak ATHG (ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan),

sehingga menuntut keberperanannya juga semakin besar, bukan CUWEK saja, eloe eloe gue gue, emang gue pikirin ! Peran agama

bukan saja pada sumbangan keilmiahan dan otoritas keilmuan tetapi yang terpenting adalah kesiapsediaannya untuk melayani umat

manusia dan sekaligus mewartakan kabar gembira tersebut sampai ke ujung bumi ! Karya kita sudah dimulai hari ini, kemarin sudah

berlalu, esok belumlah datang !



MENGINGATKAN KITA, BAHWA AGAMA SUNGGUH DIBUTUHKAN…



Akar rumput

permasalahan peristiwa kerusuhan yang terbesar adalah banyaknya orang kelaparan, kehilangan pekerjaan. kesepian dan

pengangguran sehingga membuat manusia menjadi "Sangat Sensitive", mudah dihasut, mudah tersinggung, marah dan benci ditambah

lagi sirik serta irihati maka kekerasanpun terjadi karena semua sudah terkena dampak efek samping merosot dan terdistorsinya

"MORAL", ini persis direfleksikan oleh Kitab Kejadian sejak Habel dibunuh oleh Kain, karena MORAL SUDAH TERDISTORSI sehingga

bisa saja timbul rasa KEBENCIAN yg dipraktekkan melalui cara KEKERASAN sampai BERDARAH-DARAH. .(By Eddy

TG)



Salam,

EddyTG

dilihat : 439 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution