Selasa, 17 Juli 2018 05:19:45 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 175
Total pengunjung : 406111
Hits hari ini : 2324
Total hits : 3701994
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Telaah ESTER 4:1-17






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 21 Maret 2009 00:00:00
Telaah ESTER 4:1-17
1. Pendahuluan



Kitab Ester merupakan salah satu sekian banyak

kitab yang ada dalam Perjanjian Lama. Kitab Ester sangatlah unik sebab dalam kitab Ester nama Allah atau pun nama YHWH tidak

ada tertulis. Namun Allah bekerja melalui Mordekhai dan Ester.



Dalam kitab Ester konteks keadaan berada di Susa, ibu

kota Persia pada musim dingin, bukan di Israel.



Nama Ester berasal dari nama dewa Babilonia yaitu Ishtar. Nama

ibraninya adalah Hadasa (Ester 2:7). Dalam bahasa Persia kata Ester berarti bintang. Kejadian pada kitab Ester menceritakan

peristiwa yang terjadi pada jaman pemerintahan Ahasyweros, namun dalam Alkitab bahasa Inggris ada dua nama yaitu pada NIV

disebut sebagai Xerxes sedangkan pada NKJV disebut sebagai Ahasuerus.



Samapai saat ini belum dapat dipastikan siapa

pengarang kitab Ester. Menurut Baba Bathra 15 a yang menulis kitab Ester adalah seorang dari Synagoge. Josephus (Antiquities

11:6:1) berpendapat bahwa Mordekhai adalah pengarang dari kitab ini (bad. Est. 9:20).



Pendapat lain mengatakan bahwa

Ezra atau Nehemiah yang menulis kitab ini, tetapi berdasarkan bukti linguistik tidak ada kecocokan style dan diksi antara kitab

Ester dengan Kitab Ezra atau Nehemiah. Pandangan yang lain mengatakan bahwa seorang Yahudi Persia yang tidak diketahui namanya

yang menuliskan kitab ini.



Walaupun tidak diketahui dengan pasti siapa yang menulis kitab ini namun dengan rasio

kita dapat menyimpulkan kemungkinan penulis kitab ini adalah :

1. Seorang Yahudi, yang pro tindakan Yahudi dan mengetahui

budaya Yahudi, dan

2. Seorang Yahudi Persia yang menjadi saksi mata kejadian yang terjadi dan sepertinya punya akses

terhadap catatan Persia (9:20).11





2. Isi



Dalam Kitab Ester menceritakan mengenai perkawinan antara

perempuan Israel yang bernama Hadasa (pohon murd) yang kemudian diganti dengan Ester, nama Persia(bintang) dengan seorang raja

bangsa lain.



Semasa hidupnya, Ester diurus dan dibesarkan oleh pamanya. Paman Ester bernama Mordekhai sehingga dalam

Kitab Ester tokoh sentral dalam narasi ini adalah Mordekhai.



Dalam kitab Ester 4:1-17 merupakan sebuah narasi, dalam

narasi tersebut jika dijabarkan dibagi menjadi enam bagian.



Enam bagian tersebut adalah Mordekai berkabung (Ester 4

: 1 - 3), bagian yang kedua adalah perjumpaan pertama Ester dengan perkabungan Mordekhai (Ester 4 : 4), bagian yang ketiga

adalah Hatah dikirim kepada Mordekhai (Ester 4 : 5 - 8), bagian yang ke empat adalah Ester segan untuk taat (Ester 4 : 9 - 12),

bagian yang ke lima adalah Mordekhai memanaskan keadaan (Ester 4 : 13 - 14), bagian yang ke enam adalah Ester menurut dan

perintahnya (Ester 4 : 15 - 17).



Pada bagian awal Mordekhai ditampilkan dalam keadaan dukacita. Ia menggunakan kain

karung menandakan berduka cita, berjalan menuju pintu gerbang istana raja dan bersama semua orang Yahudi turut

berkabung.



Dukacita yang dimaksud di sini bukanlah dukacita karena kematian seseorang merupakan wujut protes

Mordekhai terhadap perlakuan yang tidak adil dari Haman yang ingin memusnakan orang Yahudi.



Walaupun wujut protes

Mordekhai tidak normal karena Mordekhai berkabung di depan umum daripada berkabung secara pribadi sehingga timbul pernyataan

bahwa Mordekhai bukanlah pimpinan diantara orang Yahudi.



Jika Mordekhai merupakan pimpinan diantara orang Yahudi

maka Mordekhai berkabung secara pribadi darpada berkabung di depan umum. Akan tetapi suatu lempengan tanah liat bertuliskan

huruf baji dari Borsippa dekat Babel menyebut Mordekhia sebagai pejabat tinggi istana Susan pada permulaan pemerintahaan

Ahasyweros, sebagai bawahan dari Ustannu, wali negara dari Babel dan ‘Daerah di seberang sungai’.



Marduka adalah

seorang akuntan atau seorang anggota dewan. Marduka ini telah disamakan dengan Mordekhai, yang apabila saran ini diterima,

rupanya adalah pejabat penting sebelum tampil dalam Ester. Hubungannya dengan gerbang raja rupanya adalah suatu urusan resmi,

dan mungkin kepadanya rupanya dipercayakan kedudukan sebagai penjaga gerbang.



Mordekhai tidak berkabung secara

pribadi, tapi didepan umum; sangat terbuka. Mordekai pergi ketengah kota dan ke “gerbang raja.” Dia tidak masuk gerbang, karena

terlarang bagi yang berkabung. Raja menjauhkan dirinya dengan kesedihan. Sangat tidak popular menunjukan kesedihan di

istananya. Raja abad pertengahan tidak memiliki “tempat berkabung” hanya tempat bergurau.



Ayat tiga tampaknya

menjadi pemisah antara ayat dua dan empat. Akan lebih mudah memahami membaca ayat dua lalu langsung ke ayat empat (tanpa

membaca ayat 3).



Walaupun demikian, ayat tiga tidak dapat dihilangkan karena ayat ini memiliki fungsi tersendiri

yaitu sebagai cermin atas tindakan Mordekhai dengan orang Yahudi pada kerajaan yang memerintah saat itu.



Selain itu,

dalam ayat ini terdapat rujukan bahwa orang Yahudi berpuasa. Hal ini ingin menunjukan bahwa orang Yahudi adalah orang yang taat

dan beribadah kepada ALLAH, walaupun dalam kisah ini nama Allah tidak pernah disebut-sebut.



Pada bagian yang kedua

menceritakan pertemuan Ester dengan Mordekhai, walaupun dalam bagian yang kedua ini Ester tidak mempelajari mengapa Mordekhai

berkabung akan tetapi, Ester membuju /mordekhai agar berhenti berkabung.



Ester membujuk Mordekhai berhenti berkabung

dengan memberikan pakaian kepada Mordekhai, dengan cara ini Ester berusaha membujuk ayah angkatnya untuk berhenti

berkabung.karena Mordekhai menolak pmberian baju dari Ester dan Ester selalu patuh kepada ayah angkatnya

(Mordekhai).



Walaupun Ester tidak berhasil membujuk Mordekhai karena Mordekhai memiliki pendirian yang sangat keras.

Dalam bagian ini timbul suatu pertanyaan, Apakah perlakuan Mordekhai membuat Ester malu sehingga Ester berusaha membujuk

Mordekhai berhenti berkabung dengan memberikan baju.



Pada bagian yang ketiga, Ester memanggil seseorang yang bernama

Hatah sebagai utusan untuk berbicara kepada Mordekhai. Sehingga di Ester 4:5-8 tidak ada percakapan langsung antara Ester dan

Mordekhai, yang ada hanyalah penyampaian pesan Ester melalui utusannya Hatah.



Yang mengejutkan di ayat ini adalah

Sebelumnya kita tahu, Ester terbiasa mengikuti perintah Mordekai. Kita juga aman berasumsi Mordekai juga terbiasa untuk

ditaati, bahkan saat Ester jadi ratu.



Maka sangat mengejutkan mendengar respon Ester, yang bisa disingkat dengan

satu kata: “tidak!” Kali Ini Ester tidak mau. Dia mengatakan pada Mordekai melalui Hathach bahwa menghadap raja tanpa

diperintahkan melawan hukum.



Hukumannya adalah kematian, dan kecil kemungkinannya raja menunjukan belas kasihan

dengan mengulurkan tongkat dan mengijinkan penyusup hidup. Karena Ester tidak bisa menghadap tanpa diundang, satu-satunya

harapan adalah dia diperintah oleh raja.



Inilah masalahnya; sudah 30 hari Ester tidak diundang bersama raja. Jawaban

apalagi yang bisa diberikan kepada Mordekai selain “tidak” ?



Pada bagian selanjutnya menceritakan bagaiamana

Mordkhai memanaskan suasana dengan cara mendesak Ester agar memohon kepada Raja agar mau melindungi bangsa Yahudi. Pada bagian

ini ada tiga hal yang ditekan Mordekhai kepada Ester.



Hal yang pertama adalah : Mordekhai mengingatkan kepada Ester

untuk berpikir dengan baik bahwa keputusan dari Haman melibatkan semua orang Yahudi, tidak peduli dimanapun dalam kerajaan.

Ester kelihatannya percaya dia aman dan hanya yahudi lain yang bahaya.



Dia tidak mau membahayakan diri menghadap

raja untuk menolong bangsanya, karena percaya dia aman. Perkataan Mordekhai dibuat untuk menyadarkannya bahwa itu mitos. Jika

dia tidak mau mengambil resiko bagi yang lain, maka dia membahayakan diri sendiri.



Mordekai ingin meyakinkan Ester

bahwa hal paling berbahaya adalah tidak melakukan apapun. Hal yang kedua adalah Mordekhai sangat menekankan kepada Ester bahwa,

Ester merupakan satu-satunya harapan bangsa Yahudi.



Hal yang ketiga yang ditekankan Mordekhai kepada Ester adalah

bahwa keselamatan keluarga Ester ada di tangan Ester.



Dari tiga hal tersebut timbul suatu pernyataan bahwa Mordekhai

merupakan orang Yahudi yang tidak taat, dan tidak percaya, yang tidak memikirkan Tuhan. Mordekhai sangat khawatir sehingga

Mordekhai melihat keselamatan orang Yahudi hasil dari usaha manusia. Jika Mordekhai menyebut Tuhan dalam teks

kita.



Ester merupakan katu as Mordekai, harapan terakhirnya, kesempatan terakhir orang Israel untuk selamat. Jika

dia gagal, semua akan hilang. Dan ini menjelaskan mengapa Mordekhai mengancam Ester bahwa keluarganya akan binasa. Jika

keselamatan datang dari tempat lain, maka kenapa Ester mau mati? Sebagai ratu, Ester pasti tidak mati

pertama.



Peringatan Mordekai adalah dia akan mati terakhir. Jika ini benar, maka semua Yahudi akan binasa, dan tidak

ada keselamatan dari manapun. Alasan Mordekai bahwa jika Ester harapan terakhir orang Yahudi, kegagalannya akan menghasilkan

kematiannya dan kematian seluruh bangsa.



Dan pada bagian yang terakhir akibat tekanan yang bertubi-tubi dari

Mordekhai akhirnya Ester menyerah dan Ester menghadap raja. Sebelum Ester menghadap raja, Ester memberikan perintah kepada

Mordekhai agar Mordekhai mengumpulkan seluruh orang Yahudi di Susa dan berpuasa baginya.



Jangan ada yang makan atau

minum selama 3 hari, siang dan malam. Dia dan pelayannya akan melakukan itu, dan kemudian akan pergi menghadap raja. Dia akan

melawan hukum dan mempertaruhkan nyawanya.Yang menarik pada bagian ini adalah bagaimana pernyataan dari Ester untuk membela

kaumnya umat Yahudi yaitu, “. . . kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati” (Ester 4 : 16b).



Walaupun dalam

pernyataan tersebut Ester tidak berserah kepada Allah akan tetapi dari narasi tersebut jelas Ester terbukti tetap berani. Dia

memutuskan untuk melanggar hukum suaminya dan membahayakan hidup bagi bangsanya.



Penyertaan Tuhan yang membuat Ester

menerima tantangan yang bisa menghilangkan hidupnya, dan pada akhirnya Mordekai menyatakan bahwa dia percaya Tuhan, dan

penyertaan Tuhan dalam kehidupan seseorang, dan pengaturan Tuhan atas peristiwa politik dunia walaupun tidak dijelaskan secara

detail bagaimana tahap-tahap Mordekhai bisa mempercayai Allah.



3. Relevansi



Dari narasi ini kita

diajarkan untuk tetap berusaha dengan mengandalkan kekuatan Tuhan dalam mengahadapi masalah yang kita

hadapi.



Keyakinan kita bahwa Tuhan selalu hadir di tengah masalah yang kita hadapi haruslah selalu ada dalam iman

Kristiani. Walaupun karya Tuhan tidak selalu dapat kita tebak, karena Tuhan memakai siapa saja dan apa saja untuk menjadi

alat-Nya dalam melakukan kehendak-Nya.



Dari ayat ini juga ingin mengajarkan kepada kita janganlah kita menjadi

seperti Mordekhai yang hanya mengandalkan manusia dengan menjadikan Ester sebagai kartu Asnya untuk menghidari ketakutannya

terhadap ancaman terhadap bangsa Yahudi akan tetapi kita harus selalu percaya dan mengandalkan Tuhan.



Begitu juga

dengan Ester, keyakinan Ester akan pimpinan Tuhan di dalam dirinya menjadi teladan bagi kehidupan kita. Kiranya kita dapat

seperti Ester sebagai teladan dengan mengatakan “meskipun aku harus melawan hukum; kalaupun terpaksa mati, biarlah aku mati,

“demi bangsaku”, sebagai bukti keyakinan Ester kepada Tuhan yang selalu menyertai dan melindungi mereka dalam setiap ruang dan

waktu.





DAFTAR PUSTAKA



Archer, Gleason L. Jr. A Survey of Old Testament Introduction. Chicago :

Moody Press, 1978.

Bakker, F.L., 1987. Sejarah Kerajaan Allah 1. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Barker, Kenneth, General

Ed. The NIV Study Bible. Grand Rapids : Zondervan Publishing House, 1985.

Bush, Frederic, 1996. Ruth/ Esther, WBC; Word

Books: United States of America.

Clines, T. J., 1984. Ezra, Nehemiah, Esther. NCBC; United States of America: Marshal

Morgan

and Scott.

Edward J. Young. An Introduction to the Old Testament. Grand Rapids : W. M. B. Publishing Company,

1958.

Edwin M. Yamauchi. Persia and the Bible. Grand Rapids : Baker Books, 1996.

Geisler, Norman L. A Popular Survey

of the Old Testament. Grand Rapids : Baker Book House, 2000.

Guthrie, D., J. A. Motyer, dan D. J. Wiseman. Tafsiran

Alkitab Masa Kini 1. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1983.

LaSor, W.S., 2005. Pengantar Perjanjian Lama 1, Jakarta: BPK Gunung

Mulia.

Paul Re’emi, S., 1985. Israel Among The Nation, ITC; Edinburgh: The Handsel Press.

Sproul, R.C., General Ed.

New Geneva Study Bible. Nashville : Thomas Nelson Publishers,1995



oleh :Tumpal Marthin. H. Sirait *)



*)

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Jakarta semester 6

dilihat : 313 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution