Jum'at, 19 April 2019 13:24:15 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 140
Total pengunjung : 493549
Hits hari ini : 815
Total hits : 4537798
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Masalah Ekonomi Dan Pergaulan Hinggapi Mahasiswa Papua






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 02 Februari 2009 00:00:00
Masalah Ekonomi Dan Pergaulan Hinggapi Mahasiswa Papua
Jayapura - Faktor ekonomi dan pergaulan merupakan dua hal yang

sering kali menjadi masalah bagi para mahasiswa di Papua dalam menjalani perkuliahan. Hal ini dinyatakan oleh Pembantu Rektor

III, Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), Thelly Sembor kepada ANTARA di Jayapura, Sabtu

(31/1).



Menurutnya permasalahan ekonomi bukan hanya terjadi pada mahasiswa yang kurang mampu, tetapi juga pada yang

kondisi finansialnya mapan.



"Ketidakmampuan ekonomi ini bukan hanya terjadi di Papua saja, tapi seluruh mahasiswa di

Indonesia saya kira merasakan hal yang sama," ujarnya.



Thelly menegaskan bahwa jika masalah ekonomi ini berdampak

pada mahasiswa yang belum kuat mentalnya, maka yang terjadi adalah mereka menjadi stres dan akhirnya tidak melanjutkan kuliah.

Sebagai jalan keluar, Thelly menjelaskan bahwa masalah seperti ini diatasi dengan cara mencari peluang beasiswa yang banyak

disediakan oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga donor lainnya.



"Kuncinya hanya dua. Mahasiswa bersangkutan mampu

mempertahankan IPK yang disyaratkan dan peka terhadap informasi," kata Thelly.



Dia mengaku bahwa selama ini pihak

lembaga kampus telah memfasilitasi program-program beasiswa atau bantuan pendidikan yang disalurkan oleh Pendidikan Tinggi

(Dikti) melalui Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis). Misalnya Bantuan Kegiatan Mahsiswa (BKM), Peningkatan Prestasi

Akademik (PPA), Bantuan Belajar Mandiri (BBM), Peningkatan Prestasi Ekstrakurikuler (PPE) dan lain sebagainya. Beasiswa ini

diberikan setiap semester.



Selain itu untuk membantu para mahasiswa menyusun tugas akhir atau skripsi, Pemda juga

menyediakan batuan dana bagi para mahasiswa semester akhir.



"Agar penyaluran beasiswa kepada mahasiswa cepat dan

transparan, kami melibatkan mahasiswa. Biasanya kami pilih perwakilan dari setiap jurusan, tugas mereka adalah meneruskan

informasi kepada teman-teman mereka yang lain dan ikut menjaga loket beasiswa," kata Thelly.



Sementara itu,

permasalahan mahasiswa yang kondisi ekonominya memadai biasanya bermasalah dalam hal pemanfaatan keuangan untuk melakukan

hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama dan moral. Misalnya dengan mengonsumsi minuman keras (miras).



"Oleh

karena itu pihak kampus menerapkan sanksi non akademik menjadi sanksi akademik. Contoh, perbuatan konsumsi miras di dalam

kampus bukan merupakan pelanggaran akademik, tapi bisa diberikan konsekuensi akademik dengan menon aktifkan mahasiswa

tersebut," kata Thelly.



Penanganan seperti ini cukup efektif, ditandai dengan berkurangnya mahasiswa yang minum

miras atau narkoba di dalam kampus.



Kebiasaan buruk ini juga membawa dampak pada pergaulan di kalangan mahasiswa.

Thelly mengatakan bahwa masalah pergaulan mahasiswa sudah memasuki tahap yang memprihatinkan karena berpengaruh pada aktivitas

akademik.



"Jumlah mahasiswa perempuan yang berada di bawah bimbingan saya, cenderung menurun dari waktu ke waktu.

Setelah ditelusuri, biasanya mereka berhenti kuliah karena terbentur dampak pergaulan bebas," tandasnya.



Untuk

membentengi mahasiswa dari hal-hal negatif ini, kampus telah memberdayakan organisasi-organisasi kegiatan mahasiswa, seperti

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa (Hima), Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) dan Forum Komunikasi Mahasiswa

Muslim (FKMM). Melalui organisasi kampus, potensi mahasiswa dalam hal kepemimpinan atau pengembangan bakat yang lain dapat

tersalurkan sehingga memalingkan perhatian mereka dari hal-hal negatif.



Selain itu Thelly menegaskan bahwa peran

dosen sangat penting untuk pembentukan mental mahasiswa. Melalui metode mengajar soft skill, dosen dapat membagi porsi jam

mengajar dengan memberikan materi tentang moral, pergaulan atau lainnya yang berguna untuk memotivasi para mahasiswa agar lebih

giat belajar dan membentuk mental yang baik.



"Diharapkan dosen tidak hanya menjalankan tugas mengajar yang bersifat

keilmuan saja, tapi juga mendidik mental dan spiritual mahasiswa. Ini bisa dilakukan di dalam ruang kuliah, saat perwalian atau

mejadi mentor dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler," katanya.(*Ant)

dilihat : 428 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution