Minggu, 16 Desember 2018 13:25:14 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 145
Total pengunjung : 450974
Hits hari ini : 1104
Total hits : 4154289
Pengunjung Online : 9
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Suami Yang Bijaksana






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 24 Januari 2009 00:00:00
Suami Yang Bijaksana
Di berbagai suku dan bangsa yang ada di dunia ini, kita menemukan adanya satu

persamaan pandangan yang kemudian menjadi suatu adat atau kebiasaan bahwa suami mempunyai kuasa yang mutlak dalam mengatur

isteri dan keluarganya. Kekuasaan suami itu pun sering menjadi otoriter. Dalam memutuskan sesuatu pendapat seorang isteri

dianggap tidak terlalu perlu, hak bicaranya pun sering dianggap tidak ada. Dan hal ini dianggap sebagai sesuatu yang lajim dan

sah-sah saja. Pandangan seperti ini sebenarnya tidak baik karena akan mematikan kreatifitas dan daya pikir isteri. Padahal

kalau kita berbicara tentang keluarga berarti kita berbicara tentang seluruh komponen yang ada di dalam keluarga itu. Seluruh

komponen dalam keluarga itu harus di berdayakan dengan baik. Segala sesuatu dimulai bersama-sama sehingga kalaupun timbul

masalah dalam keluarga itu akan mudah terselesaikan. Kalau sejak awal telah memulai bersama-sama maka masalah yang timbul akan

mudah dipecahkan bersama-sama.



Pandangan tentang kuasa suami yang absolute seperti yang dijelaskan diatas juga

sering melahirkan egoisme dalam diri si suami sehingga si suami akan sangat banyak menuntut kepada isterinya. Dengan egoisme

ini si suami sering mengeluarkan aturan-aturan sekehendak hatinya yang memposisikan isterinya pada “keharusan-keharusan” .

Isteri harus begini, harus begitu dan macam-macam keharusan yang diundang-undangkan oleh suami tanpa memperdulikan bagaimana

perasaan isterinya. Bahkan ada juga mungkin suami-suami yang menggunakan ayat firman Tuhan seperti yang tertulis di Efesus 5:22

sebagai senjata mereka. Mereka mungkin hanya berfokus pada ayat yang menuntut isteri tunduk pada suami dan tidak begitu perduli

dengan ayat-ayat lain yang sebenarnya merupakan hubungan sebab-akibat dari perkataan “tunduk” tersebut.



Firman Tuhan

yang tertulis di Efesus 5:22 yang berkata :”Hai isteri, tunduklah kepada suamimu sama seperti kepada Tuhan”, adalah tidak dapat

terlepas dari ayat-ayat selanjutnya khususnya ayat 25 pasal yang sama yang berbunyi :”Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana

Kristus mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”. Secara khusus kita ambil kedua ayat ini yaitu Ef. 5:22 dan

25, bahwa disana kita mendapatkan apa yang mungkin dapat kita katakan suatu hubungan sebab-akibat. Seorang isteri diperintahkan

tunduk pada suami dan seorang suami diperintahkan mengasihi isteri. Artinya kalau suami tidak mengasihi isterinya, maka

janganlah



berharap agar isterinya tunduk kepadanya. Bahkan dengan jelas firman Tuhan mengumpamakan penundukan isteri

kepada suami seperti penundukan jemaat kepada Tuhan dan mengumpamakan kasih suami kepada isteri seperti kasih Tuhan kepada

jemaat. Berangkat dari firman Tuhan ini kita juga dapat menyimpulkan bahwa suamilah yang harus terlebih dahulu menunjukkan

kasihnya kepada isterinya sama seperti Allah yang terlebih dahulu menunjukkan kasih-Nya kepada jemaat bahkan telah menyerahkan

diri-Nya bagi jemaat itu.



Keputusan akhir tentang aturan dalam keluarga atau tentang berbagai hal yang menyangkut

masalah keluarga itu, memang berada di tangan suami. Namun akan sangat bijaksana bila suami terbuka untuk mendengar

masukan-masukan dari si isteri karena isteri juga terlibat dan bertanggung jawab dalam keluarga, sehingga keputusan akhir yang

dihasilkan akan menguntungkan bagi keluarga itu sendiri.



Demikian juga masalah membagi waktu suami perlu bijaksana.

Banyak orang beranggapan bahwa tanggung jawab seorang suami/ayah hanya mencari duit dan memenuhi kebutuhan jasmani keluarga

sehari-hari. Mereka tidak sadar bahwa tanggung jawab mereka juga meliputi masalah-masalah rohani. Dengan tersedianya segala

kebutuhan jasmani tidak akan menjamin suatu keluarga berhasil tanpa kebutuhan rohani terpenuhi. Banyak contoh yang mungkin kita

bisa lihat ditengah-tengah masyarakat, bahwa kekayaan yang dimiliki suatu keluarga justeru menjadi malapetaka dalam keluarga

itu apabila tidak ada nilai-nilai kerohanian di dalamnya dengan kata lain kebutuhan rohani tidak tepenuhi Seorang isteri akan

merasa kesepian dan akan merasa bosan dengan keadaannya, yang walaupun misalnya kaya namun suaminya sangat jarang sekali ada

disampingnya. Apalagi kalau sudah punya anak. Anak-anak pun akan kurang terkontrol dan menjadi nakal karena kurangnya perhatian

dan didikan sang ayah.



Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan rohani keluarga adalah lewat kebersamaan.

Kebersamaan ini sangat penting karena disinilah seorang suami/ayah dapat dengan leluasa mengkomunikasikan banyak hal kepada

keluarga, baik itu tentang hidup bermasyarakat, tata krama, pendidikan dan tentu saja tentang Tuhan. Dalam kebersamaan ini

juga, isteri dan anak-anak merasa mempunyai figure yang mengasihi dan mengayomi mereka.



Oleh karena itu bagaimanapun

sibuknya seorang suami/ayah, ia haruslah bijaksana dalam membagi waktu. Ia harus meluangkan waktu untuk keluarga, untuk

kebersamaan. Suami/ayah mesti menyadari bahwa tanggung jawabnya bukan hanya mencukupi segala kebutuhan jasmani tetapi juga

kebutuhan rohani.



Yosua menjadi salah contoh suami/ayah yang perduli tentang kebutuhan kerohanian keluarganya.

Walaupun di dalam Alkitab tidak banyak mengisahkan keluarga Yosua, namun dari pidato yang dia sampaikan ketika ia berbicara

dengan bangsa Israel dapat kita simpulkan bahwa ia perduli kebutuhan rohani keluarganya. Dalam kitab itu dikatakan ( Yosua

24:15 b)”…tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”.



Allah menghendaki setiap suami berlaku

bijaksana terhadap isterinya. Seperti 1 Petrus 3:5 berkata :”Demikianlah juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan

isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah, hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya

doamu jangan terhalang”.



St.LH

http://hutabalian72.wordpress.com

dilihat : 334 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution