Kamis, 27 Juni 2019 13:48:44 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 197
Total pengunjung : 517292
Hits hari ini : 1429
Total hits : 4749641
Pengunjung Online : 9
Situs Berita Kristen PLewi.Net -HARGA SEBUAH HARAPAN






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 18 Januari 2009 00:00:00
HARGA SEBUAH HARAPAN
Danielle duduk sambil mendesah, perasaannya galau dan sangat

letih. Pengalaman hari itu membuatnya frustrasi. Hanya dengan empat puluh dollar di dalam dompet, dia dengan putus asa berusaha

mencari bank yang mau memberikan uang terhadap pembayaran berbentuk cek yang ada di tangannya.



Dia tinggal di kota

kecil, dan tidak terdaftar di salah satu bank di sana - dan bank tampaknya tidak memiliki niatan untuk membantu. Selama dua

minggu dia berusaha dan berusaha - tapi tampaknya tidak berguna. Dengan uang tunai yang berkurang dengan cepat, dia tidak

memiliki lagi sumber keuangan yang lain. Bagaimana dia bisa terus menopang hidupnya sendiri beserta kedua anaknya? Dia hanya

berpikir berapa lama lagi dia dan kedua anaknya dapat bertahan dengan uang yang tersisa.



Untuk melepaskan diri dari

segala beban yang sedang ditanggungnya, Danielle memutuskan untuk mengikuti pertemuan di Pusat Dukungan Wanita yang ada di kota

kecil itu. Para wanita yang ada di pertemuan itu telah banyak memberi semangat hidup padanya saat dia lari dari rumah untuk

menyelamatkan diri. Pikirannya mengembara kemana-mana saat dia duduk di ruang pertemuan. Dengan keputusasaan yang dalam, dia

ingin agar dapat memperoleh harapan dan semangat yang baru sehingga bisa menjalani hidup sebagai orang tua

tunggal.



"Selamat siang semuanya," terdengar suara yang membuyarkan lamunan Danielle. Itu adalah pemimpin kelompok

wanita itu. "Apakah ada yang mau mulai?"



Duduk di samping Danielle, Amy membersihkan tenggorokannya. "Saya,"

katanya. Amy mulai menceritakan secara terperinci keadaan hidupnya yang sangat menyedihkan. Dia mulai dari masalah pribadi yang

berat dengan suaminya dan baru beberapa hari kehilangan rumah dan mobilnya. Telepon dan aliran listrik terancam akan diputus.

Suaminya telah menghabiskan seluruh uangnya untuk judi. Dia juga tengah berjuang untuk melepaskan diri dari kecanduan

obat-obatan. Hubungan dengan suaminya memburuk sampai pada tahap mengancam keselamatan dirinya. Uang terakhir yang ada sudah

dibelanjakan membeli makanan untuk anaknya dan pempers untuk bayinya. Tidak ada lagi yang tersisa. Sama sekali tidak

ada.



Saat Amy meneruskan penjelasannya, Danielle mendengar bisikan Tuhan di dalam hatinya. "Setelah pertemuan

selesai, berikan dua puluh dollar pada Amy." Tapi Danielle langsung berpikir, "Tapi saya tidak bisa. Saya hanya punya empat

puluh dollar satu-satunya. " Kembali dia mendengar perintah itu, bahkan lebih jelas.



Danielle tahu bahwa dia harus

taat. Saat selesai pertemuan, dia mengambil dompet dan perlahan menarik uang dua puluh dollar untuk Amy. Karena mengetahui

keadaan Danielle, awalnya Amy enggan untuk menerima pemberian itu. Tetapi saat para wanita lain berdatangan memberi Amy pelukan

dan dukungan, Danielle berkata padanya bahwa Tuhan menginginkan hal itu dilakukanya. Kemudian Danielle keluar.



Saat

Danielle membuka pintu mobil, dia mendengar namanya dipanggil. Dia menoleh saat Amy melangkah ke arahnya, Air mata mengalir di

pipi saat Amy berkata, "Bagaimana kamu bisa tahu?" tanyanya. Air mata itu semakin deras saat Amy mengambil dompetnya. Dari

dalam dia dia menggeluarkan selembar kertas kuning botol obat. "Saya mengambilnya kemarin." Dia menunjukkan kalimat di barisan

bawahnya. "Saya penderita diabetes yang bergantung dengan obat. Saya perlu obat ini setiap hari sepanjang hidup. Sampai tadi

pagi saya tidak tahu bagaimana saya bisa membeli obat ini lagi untuk menyambung hidup." Air matanya kembali mengalir saat dia

menunjukkan bahwa obat itu harganya tepat dua puluh dollar!.



Itu adalah saat dimana Danielle merasa diperbaharui

semangatnya dengan harapan dan kedamaian. Dia berkata pada Amy, bahwa dia tidak tahu kalau Amy memerlukan obat diabetes itu;

tetapi Tuhan tahu. Saat dia melihat bahwa masalah Amy jauh lebih besar daripada yang dihadapinya, Tuhan memperlihatkan bahwa Ia

mampu menolongnya menuntun setiap langkah dan memenuhi setiap kebutuhan hidupnya sehingga bisa melewatinya, satu langkah setiap

saat. Kata-kata penghiburan dan penguatan yang diucapkan Danielle kepada Amy sebetulnya adalah kata-kata untuknya

sendiri.



Sekarang, hanya dengan dua puluh dollar di dalam dompet, dia mencoba sekali lagi untuk menukarkan ceknya

dengan uang tunai di beberapa bank dalam perjalan pulang. Saat dia mengantisipasai terhadap kemungkinan penolakan yang telah

dihadapi diibeberapa bank sebelumnya, hatinya sekarang sudah penuh dengan rasa percaya diri dan semangat yang baru. Dengan

harapan di tangan, dia masuk ke bank yang ada di dekat kantor Pusat Dukungan Wanita. Tak berapa lama, bank itu memberikan

sejumlah uang membayarkan cek yang dia sodorkan tanpa banyak bertanya!



Dengan wajah berseri-seri Danielle pulang.

Saat tahu bahwa hari-hari yang penuh kepastian akan perubahan pasti tiba, dia menemukan harapan baru yang menyala-nyala. Dia

tidak pernah bertemu Amy lagi, tetapi dia percaya bahwa Tuhan pasti menjaga kehidupannya Amy beserta kedua anaknya - seperti

halnya dia juga merasa yakin bahwa Tuhan menjaga hidupnya dan kedua anaknya sendiri.



Tiga tahun berlalu, saat

Danielle menyadari bahwa harapan yang sebenarnya tidak ditentukan oleh banyaknya uang. Dia terus berterima kasih karena Tuhan

mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya, sehari demi sehari - lebih dari dua puluh dollar yang pernah tersisa di dalam

dompetnya.



Oleh: Susan Hamilton





Sumber: elia-stories

dilihat : 434 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution