Sabtu, 23 November 2019 03:31:44 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520228
Hits hari ini : 388
Total hits : 5102161
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Memaafkan Kesalahan Orang Lain itu Sulit, Tapi Harus...






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 07 Januari 2009 00:00:00
Memaafkan Kesalahan Orang Lain itu Sulit, Tapi Harus...
Adanya iman kepercayaan kepada Tuhan, telah mendorong setiap orang percaya untuk mengaku,

bahwa Tuhan adalah Pribadi yang empunya kuasa untuk mengampuni dosa-dosa manusia.



Pengakuan tersebut masih pula

diikuti dengan pernyataan, kalau mereka juga meyakini, Tuhan akan memaafkan kesalahan manusia yang datang memohon pengampunan

dosa padaNya, meskipun manusia telah kotor oleh lumpur dosa.



Namun entah mengapa, sejumlah besar anak-anak Tuhan

justru terlihat tidak antusias apabila mereka harus bertindak sebagai pribadi yang dapat dengan tulus ikhlas memaafkan

kesalahan orang lain yang telah menghadirkan luka dan derita batin, melalui perkataan atau perbuatan yang mendukakan

hati.



Hati mereka seakan tidak tergerak untuk mengucapkan kata maaf, baik kepada orang yang langsung meminta maaf

atau yang tidak secara langsung meminta maaf, bahkan sulit memaafkan kesalahan orang lain meskipun orang lain tersebut tidak

memintanya.



Faktanya, walaupun anak-anak Tuhan sering membaca Firman Tuhan, buku-buku telaah Firman Tuhan atau buku

renungan harian yang menuliskan agar manusia dapat memaafkan kesalahan orang lain dengan tulus, serta mengaminkan isi khotbah

pendeta dengan perikope yang sama, atau bahkan telah menjawab dengan lantang pertanyaan kesediaan mengampuni kesalahan orang

lain dalam Perjamuan Kudus, namun tetap saja, banyak anak-anak Tuhan yang sulit memaafkan kesalahan orang lain dengan

tulus.



Bahkan bagi sejumlah anak-anak Tuhan, memaafkan kesalahan orang lain yang telah menghadirkan luka dan derita

batin, menganggap hal itu sebagai "bukan harus" dilakukan sebelum rasa sakit yang tercipta, terobati. Terasa berat rasanya

kata-kata maaf terucap dengan lancar dari mulut.



Tuhan saja mau memaafkan kesalahan kita, kenapa kita sulit

memaafkan kesalahan yang diperbuat orang lain kepada kita?



Dengan sulit mengungkapkan kesediaan diri untuk memaafkan

kesalahan orang lain, apakah kita ingin menghadirkan otoritas yang sama dengan Tuhan, yaitu menjadi pribadi yang berhak

mengampuni serta menghakimi sesama manusia?



Oleh karena tidak senang dan merasa telah disakiti, sejumlah anak-anak

Tuhan bahkan memilih untuk tidak bersedia mengucapkan kata maaf kepada orang yang telah menciptakan luka serta derita

batin.



Kenapa sulit memaafkan?



Pertama



Seseorang yang mengalami derita batin karena telah

mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan atau tidak adil dari orang lain, akan membangun dinding sikap

bermusuhan.



Adapun bentuk dinding sikap bermusuhan tersebut diwujudkan dengan : menjaga jarak, memutuskan rantai

pertemanan, dan menutup/mengurangi akses komunikasi dengan orang yang telah menghadirkan luka batin, dengan alasan, untuk

mempertahankan posisi, integritas dan eksistensi di depan orang lain, kestabilan emosi atau nama

baik.



Kedua



Memaafkan cenderung dikonotasikan sebagai sebuah tindakan berani untuk melupakan atau

mengingkari adanya perbuatan salah yang telah dilakukan orang lain.



Bagi sejumlah orang, melupakan begitu saja suatu

perbuatan atau pernyataan yang membuat diri ini merasakan hati yang terluka, bukanlah sebuah keharusan moral, bukanlah sebuah

tindakan fair, dan tidak otomatis menyembuhkan derita yang telah dihadirkan orang lain

tersebut.



Ketiga



Karena amarah telah menciptakan dendam dan upaya-upaya protektif diri (seperti yang

disebutkan pada point pertama diatas), dimana keadaan itu lebih mendominasi akal serta alam pikiran.



Dalam hal ini,

meskipun seseorang mengerti, memahami serta merasakan indahnya makna kasih, akan tetapi, oleh karena adanya rasa sakit lebih

melingkupi hati dan perasaan, seseorang tersebut tidak memperdulikan adanya kasih, sehingga yang putih dapat menjadi hitam, dan

yang hitam, dianggap lebih layak menjadi putih.



Secara tidak langsung, seseorang tersebut telah menambahkan atau

mengganti literatur makna kasih yang sesungguhnya.



Apabila dikaitkan dengan prinsip keimanan, maka, tindakan

memaafkan merupakan upaya "memaksa" agar dilakukan. Adanya prinsip "memaksa" dalam memaafkan kesalahan orang lain tersebut,

terdeskripsikan karena memaafkan kesalahan orang lain merupakan "perintah" Tuhan.



Ketika kata "maaf" sulit untuk

diucapkan, itu terjadi karena seseorang yang mengalami luka dan derita batin oleh perbuatan atau pernyataan tidak menyenangkan

dari orang lain, menganggapnya sebagai sebuah beban.



Beban tercipta karena seseorang yang berada pada posisi telah

disakiti orang lain tersebut, harus mengingkari adanya kesalahan yang telah membuat dirinya mendapatkan luka dan derita batin,

dengan menghadirkan suatu anggapan bahwa luka serta derita batin yang telah membuat dirinya tersakiti, tidak perlu

diingat-ingat lagi.



Artinya, dengan memaafkan kesalahan orang lain, kita telah berusaha sekuat tenaga untuk

mendamaikan hati dan diri kita, agar segenap amarah, rasa kecewa, serta perasaan diperlakukan tidak adil, tidak lagi

mendominasi pikiran, meskipun tidak ada keharusan bagi kita, untuk melupakan begitu saja kesalahan yang telah diperbuat orang

lain tersebut.



Jelas, ini bukanlah perkara yang mudah namun harus dilakukan apabila kita benar-benar berpegang pada

perintah Tuhan.



Kesulitan terbesar untuk memaafkan kesalahan orang lain, memang ada pada upaya untuk mereduksi

segenap perasaan tertekan dan adanya kebencian yang berkecamuk di dada oleh karena amarah, rasa kecewa, dan perasaan telah

diperlakukan tidak adil, menjadi sebuah keinginan baik (memaafkan) dan tidak lagi memfokuskan kesalahan atau perbuatan tidak

menyenangkan yang telah dilakukan orang lain, sebagai sebuah tindakan sulit yang harus dilakukan.



Bagaimana agar

tidak terasa sulit untuk memaafkan orang lain?



Well, konsepsi pertama yang harus kita ingat adalah : tindakan

memaafkan orang lain merupakan bagian dari menyatakan kasih, yaitu kepada orang yang telah kita anggap musuh atau orang yang

telah kita anggap bersikap bermusuhan dengan kita.



Artinya, kita telah menjalankan perintah Tuhan, untuk menyatakan

kasih kepada semua orang, yaitu menyatakan kasih kepada orang yang telah membuat hati kita terluka, dengan

memaafkannya.



Kita mengerti, tahu, dan memahami, bahwa Tuhan telah memerintahkan kita untuk dapat memaafkan

kesalahan orang lain. Tuhan sendiri telah pula memberikan contoh nyata, dimana kita bisa mencontohnya. Dalam hal ini berlaku

keadaan : kita memaafkan kesalahan orang lain agar Tuhan juga memaafkan kesalahan-kesalahan kita.



Berpikir positif

merupakan salah satu elemen penting yang membuat kita bisa memaafkan kesalahan orang lain, meskipun kita tahu, orang lain

tersebut telah membuat kita mengalami luka dan derita batin.



Kenapa kita harus berpikir positif?



Sebab

dengan berpikir positif, kita dapat melanjutkan hidup kita tanpa kita sendiri harus memikul beban, dan memiliki dendam yang

melingkupi hati serta pikiran kita.



Beban dan dendam, yang terangkum dalam aroma kebencian kita pada seseorang, pada

dasarnya dapat merusak persepsi kita, tentang bagaimana kita harus bersikap kepada orang lain, dan bagaimana cara kita

menyikapi makna kehidupan beserta keindahan yang bisa kita nikmati tanpa harus menyertakan adanya amarah didalam diri

kita.



Memang tidaklah mudah untuk mematahkan segenap derita, rasa sakit serta kebencian yang membara di dada, dengan

tindakan tidak menghakimi orang lain karena perbuatan tidak menyenangkan yang telah dilakukannya (yang sesungguhnya tidak perlu

terjadi).



Dalam hal ini, sikap toleransi kita kembangkan kepada orang yang menyebabkan kita menghadapi kondisi tidak

pasti yang hadir setelah rasa sakit hadir ke permukaan.



Ada baiknya pula apabila kita memposisikan diri kita sebagai

orang yang membutuhkan orang lain memaafkan kesalahan kita, namun kita harus menerima kenyataan, bahwa kata maaf itu tidaklah

mudah kita dapatkan. Apakah kondisi ini dapat kita terima? Tentu saja tidak.



Memaafkan memang sama artinya kita

harus bisa melupakan dan tidak lagi mengingat-ingat kesalahan atau perbuatan tidak menyenangkan yang telah dilakukan orang lain

pada kita.



Mungkin kita membutuhkan waktu untuk melakukannya. Namun tidak ada salahnya, kalau kita memikirkannya

untuk tidak menunda-nunda melakukannya.



Awalnya memang tidak mudah, karena sisi kemanusiaan kita yang dilingkupi

oleh rasa benci dan amarah, akan cepat menolak untuk memaafkan.



Namun, apabila kita segera menyadari, bahwa

memaafkan kesalahan orang lain itu perlu dan harus, itu sama artinya, kita telah mengurangi 2 masalah : menghapus rasa benci

dalam diri kita, serta memperbaiki hubungan yang retak dengan orang lain.



Why we must do that?



Sia-sia

saja kita percaya pada Tuhan kalau kita masih menyimpan dendam didalam hati kita dan membiarkan diri kita memendam amarah yang

terpicu oleh kebencian atau rasa tidak senang karena orang lain telah membuat hati kita terluka, karena Tuhan tidak menentukan

kita hidup dengan cara demikian.



Pesan indah yang ingin disampaikan dalam artikel ini : memaafkan kesalahan orang

lain itu memang sulit, tapi kita harus melakukannya, karena itulah yang Tuhan kehendaki untuk kita

lakukan.



Maafkanlah kesalahan orang tulus...



Semoga tulisan ini menggugah rekan-rekan untuk membuka

pintu maaf kepada orang yang telah berbuat salah, baik diminta atau tanpa diminta, dengan tulus

tentunya.





Tuhan Yesus memberkati kita semua.





.Sarlen Julfree Manurung

dilihat : 447 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution