Kamis, 19 Juli 2018 18:45:57 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 189
Total pengunjung : 406877
Hits hari ini : 1016
Total hits : 3709224
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pendeta Kadang-Kadang






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 07 Januari 2009 00:00:00
Pendeta Kadang-Kadang

Terus-terang saya semakin prihatin melihat cukup banyak

pendeta yang memerankan dirinya sebagai sungguh-sungguh pendeta secara kadang-kadang saja. Di hari Minggu, misalnya, mereka

berkhotbah di atas mimbar, memberkati dan mengutus umat dengan wibawa ilahi, namun di hari-hari lainnya mereka “nyambi” cari

uang bagi diri sendiri dengan cara mengerjakan hal-hal lain yang tak ada efeknya sama sekali untuk kemaslahatan umat.





Akibatnya, kalau umat sedang memerlukan bimbingan rohani, mereka bagaikan domba yang ditinggalkan tuannya. Si tuan

sulit sekali dicari atau dihubungi. Atau kalaupun bisa, si tuan tak punya cukup waktu untuk melayani kebutuhan spiritual

umatnya itu.



Bagaimana kita patut menyikapi pendeta sejenis ini? Tak mudah. Kalau memang si pendeta memerlukan uang

tambahan demi dirinya sendiri dan atau keluarganya, sepatutnyalah hal ini menjadi urusan gereja untuk memikirkan solusinya.

Artinya, jangan hanya mengimbau agar si pendeta menjalani hidup dalam keprihatinan. Atau, seraya mengutip sabda Tuhan

menyarankan agar si pendeta mampu “mencukupkan diri dalam segala hal” dan “mengucap syukur dalam segala

perkara”.



Oh… gampangnya bicara begitu. Tapi, bayangkanlah kalau kita sendiri yang berada di dalam posisi sulit

seperti itu. Karena itu, sekali lagi, biarlah gereja sendiri sungguh-sungguh menghiraukan pendetanya. Termasuk untuk

mengoreksi, mengingatkan, dan bahkan menegur kalau-kalau si pendeta mulai berjalan ke arah yang menyimpang dari panggilannya

yang mulia itu.



Soal ini, mari kita elaborasi kebenarannya melalui pertanyaan ini: apakah menjadi pendeta itu

merupakan panggilan? Benar, tak usah disangsikan dan diperdebatkan. Memang, boleh-boleh saja ia juga dianggap sebagai sejenis

profesi. Namun, tak dengan sendirinya ia bisa disamakan dengan jenis-jenis profesi lainnya. Sebab jika demikian, apalah bedanya

pendeta dengan pengusaha, pengacara, pesinetron, dan lainnya? Jelas tak sama antara pendeta dan profesi-profesi lainnya itu.

Sebab, seseorang menjadi pendeta mestinya karena suara Tuhan yang memanggil-manggilny a senantiasa. Jadi, di saat seseorang

memutuskan untuk menjadi pendeta, ia diasumsikan sudah siap lahir-batin untuk mengabdikan seluruh hidupnya bagi umat. Maka,

yang menjadi pekerjaan utamanya sehari-hari dengan sendirinya adalah melayani kebutuhan spiritual umat. Itu berarti, seluruh

waktunya dalam kehidupan sesehari adalah untuk umat. Fulltime, 24 jam per hari, 7 hari per minggu.



Wuih… sulitnya.

Berat betul. Memang. Siapa bilang menjadi pendeta itu gampang? Bukankah karena itu maka setiap calon pendeta mestinya belajar

dulu secara formal dan serius, selain juga harus menjalani masa pemagangan atau praktik pelayanan demi mematangkan dirinya

sebagai pemimpin umat kelak?



Nah, terkait dengan fulltime itu, tentu umat sendiri juga harus bijak terhadap

pendetanya. Artinya, tetaplah perlakukan si pendeta secara manusiawi -- karena pendeta kan bukan malaikat? Semisal kebutuhannya

untuk beristirahat, berekreasi, melakukan ini dan itu demi mengejar kemajuan bagi diri sendiri dan keluarganya, dan lain

sebagainya, masakan tak diperhatikan dan disikapi umat dengan sewajarnya? Jadi, dalam konteks ini, relasi yang terjalin

seharusnya timbal-balik: di satu sisi pendeta siap sedia melayani kebutuhan umat, di sisi lain umat selalu hirau akan

pendetanya.



Kalau saja semua pendeta seperti itu, niscayalah umat selalu damai dan sejahtera serta bertumbuh imannya

terus-menerus. Sebaliknya, bisakah kita membayangkan apa jadinya umat jika pendetanya tak jelas berada di mana dan entah

mengerjakan apa di luar hari Minggu? Kalau si pendeta “nyambi” jadi guru atau dosen, bisalah kita terima itu bukan?

Mencerdaskan anak bangsa, masakan tak boleh? Apalagi jika gereja memberi izin dan umat juga tahu pekerjaan lain si pendeta itu.

Mengerjakan apa lagi di luar hari Minggu itu? Mungkin ada banyak, dan kita bisa saja memberinya kesempatan yang luas untuk itu,

dengan catatan tak ada motif memerkaya diri dan atau mencari kekuasaan di balik pekerjaan yang lain itu. Kalau catatan ini

logis dan dapat disepakati, kita garisbawahi saja dan kita jadikan pedoman untuk para pendeta yang sebagian waktunya digunakan

untuk hal-hal lain di luar gereja.



Kalau pendeta nyambi menjadi pemimpin perusahaan, bagaimana? Lagi-lagi kita harus

bertanya: perusahaan itu berorientasi profit yang memerkaya diri sendiri atau tidak? Sebab soal profit, itu memang keniscayaan,

agar perusahaan tersebut tidak bangkrut. Tapi, profitnya lalu untuk apa dan siapa? Ini yang penting dikritisi. Sekali lagi,

kalau demi memerkaya diri sendiri, mungkin saatnyalah umat mengingatkan agar si pendeta kembali ke jalan yang benar. Kalau si

pendeta bergeming, mengapa tidak sekali-kali umat menegurnya? Ingat, relasi keduanya harus timbal-balik bukan? Kalau pendeta

boleh menegur umat karena kesalahan yang dilakukannya, masakan umat tak boleh melakukan hal serupa jika pendetanya melakukan

hal yang tidak diperkenan Tuhan?



Itulah yang kita prihatinkan dari seorang Billy Sindoro, yang hari-hari ini menjadi

sorotan pers karena dugaan telah melakukan penyuapan atas seorang pejabat publik bernama Muhammad Iqbal. Suatu malam, di sebuah

hotel, ia tertangkap tangan oleh petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tercatat Billy adalah (mantan) Direktur First

Media, sedangkan Iqbal adalah komisioner Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU). Uang suap yang diberikan Billy sebesar Rp

500 juta itu diduga merupakan ungkapan terima kasih atas “bantuan” Iqbal terkait monopoli hak siaran Liga Inggris di stasiun

televisi berbayar Astro – yang dinaungi perusahaan First Media itu.



Sebelum menyimpulkan apa-apa, kita memang masih

harus menunggu akhir dari seluruh proses hukum yang tengah berjalan atas kasus ini. Namun, sekarang saja kita sudah dapat

mengatakan bahwa akibat ulah Billy, sejumlah pihak terkena getahnya. Selain Iqbal, pejabat publik yang terhormat itu, ada

komisioner KPPU lainnya, yakni Tadjoedin Nursaid. Ia sudah mengaku bahwa dirinya memang menjadi penghubung antara Billy dan

Iqbal terkait penyelesaian kasus Astro. KPPU pun, sebagai lembaga independen yang berperan besar dalam mengatur lalu-lintas

persaingan bisnis, kini tercemar dan mulai diragukan publik.



Lantas sekarang, apa kaitan kasus ini dengan wacana

soal “pendeta kadang-kadang” ? Ternyata, Billy adalah seorang pendeta. Ia bahkan sudah tergolong pendeta senior di gereja yang

dipimpinnya. Menariknya, Iqbal sendiri adalah seorang yang dikenal sangat aktif dalam kegiatan kerohanian – tak ubahnya ulama

dalam komunitas Islam.



Sekarang cobalah kita berandai-andai. Pertanyaannya begini: andaikan Billy fokus pada

perannya sebagai pendeta bagi umatnya sehari-hari, akankah dia merasa perlu menemui dan memberikan uang kepada Iqbal? Jelas

tidak. Tapi, karena di luar hari Minggu dia juga menjadi petinggi di sebuah perusahaan, maka pertemuan-pertemuan bisnis itu pun

menjadi urusannya sehari-hari. Kita tak tahu di balik lobi-lobi dan negosiasi-negosiasi yang selama ini dilakukan Billy dengan

sejumlah orang penting di republik ini sudah terjadi apa saja yang sekiranya tidak menyenangkan hati

Tuhan.



Bercermin dari kasus tersebut, maka inilah saatnya umat tampil sebagai pengawas bagi pendetanya. Jangan

biarkan para gembala itu berbuat sesuka hatinya. Ingatkanlah terus-menerus bahwa mereka dipanggil Tuhan bukan untuk memerkaya

diri sendiri. Terkait itu pula, umat berhak meminta penjelasan dari para pendeta yang hari-hari ini tercatat di Komisi

Pemilihan Umum (KPU) sebagai calon anggota legislatif (caleg). Bertanya-jawablah dengan para pendeta itu, apa sebenarnya

motivasi mereka menjadi caleg? Mau menjadi wakil rakyat? Lebih muliakah itu daripada menjadi pemimpin umat? Lalu, bagaimana

cara mereka mencapai cita-citanya itu? Berkampanye dari hari ke hari? Berkompetisi, yang mungkin saja dengan umatnya

sendiri?



Pantaskah itu? Silakan mendikusikannya dalam acara-acara sermon di gereja masing-masing. Bukankah isu yang

aktual dan relevan ini pun seharusnya tak luput dari pergumulan umat selaku warga negara yang bertanggugjawab, yang tak ingin

hanya menjadi penonton saja di tengah arus deras perubahan Indonesia ke depan?



Oleh : Dr.Victor

Silaen



(Dimuat pada REFORMATA, edisi No. 98, 1-15 Januari 2009)

dilihat : 323 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution