Senin, 16 September 2019 09:51:58 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520099
Hits hari ini : 7565
Total hits : 4954343
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Merenungkan Pikiran Erotis






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 21 Desember 2008 00:00:00
Merenungkan Pikiran Erotis
”Kemenangan yang sejati adalah mengalahkan diri sendiri”

(Miguel de Cervantes dalam Don Quixote). Manusia-manusia mulia atau mereka yang tercerahkan mengajarkan bahwa solusi untuk

berbagai derita hidup tidak berada di luar, tetapi di dalam diri kita.



Keberhasilan menemukan jati diri ditopang

oleh keinginan kuat untuk mengenal gejolak-gejolak batin, mengamati gerak-geriknya, menenangkannya, dan berkuasa

atasnya.



Salah satu dari gejolak kejiwaan yang tersulit untuk dihadapi adalah pikiran. Banyak tradisi mistis

menekankan perlunya menenangkan pikiran. Bila berhasil, pikiran yang teduh akan muncul dan membuka jalan menuju keintiman

dengan Yang Ilahi. Proses inilah yang kerap digambarkan sebagai rute tubuh-pikiran- jiwa-roh (body-mind-soul-

spirit).



Kesulitan menenangkan pikiran disebabkan oleh fluktuasinya yang liar, supercepat, dan sering kali berada di

luar kontrol kesadaran. Siddharta Gautama mengungkapkannya lebih jelas ketika ia mengatakan bahwa dalam satu kedipan mata, ada

17 x 1.021 momen pikiran yang berfluktuasi. Amat sibuk!



Ketenangan pikiran dicapai dengan membawanya dari level

terpencar (scattered mind) menuju level terkonsentrasi (concentrated mind). Pada level terpencar, pikiran sangat labil dan

mudah terusik oleh rangsangan sehingga rentan menimbulkan kecemasan dan ketidakstabilan emosional. Orang yang sampai pada

pikiran terkonsentrasi menerima rangsangan tanpa terganggu. Dalam Taoisme, ini digambarkan sebagai cermin atau permukaan telaga

yang tenang.



Ada satu ilustrasi. Seorang wanita lari dari rumah setelah bertengkar dengan suaminya. Ia melewati

seorang pertapa yang sedang merenungkan kerangka manusia. Tak lama suaminya menyusul dan bertanya kepada pertapa itu, ”Apakah

Anda melihat seorang wanita?” Pertapa itu menjawab, ”Saya tidak tahu apakah pria atau wanita yang lewat. Baru saja lewat

sekarung tulang belulang”.





Pikiran simbolis



Saat ini ada gejolak pikiran yang cukup ramai

dibicarakan, yaitu pikiran erotis (erotic mind). Di satu sisi, ada keinginan baik untuk mengontrol dan mengawasi ”kenakalan”

pikiran ini lewat Rancangan Undang-Undang Pornografi yang sudah ditetapkan sebagai undang-undang. Harapan mulianya adalah

moralitas masyarakat menjadi lebih baik.



Di sisi lain, muncul argumen-argumen yang menolaknya dengan alasan:

menyesatkan secara substansial, melukai pluralitas, mengalihkan permasalahan esensial, mengancam industri kreatif,

mengeksplotasi wanita, memunculkan inkonsistensi internal dalam undang-undang.



Kita sibuk membicarakan manusia

sebagai makhluk yang akrab dengan simbol. Simbol berarti sesuatu yang mengatakan tentang sesuatu yang lain. Ketika pengendara

melihat nyala merah lampu lalu lintas, ia menghentikan kendaraannya. Nyala merah mengatakan perintah untuk

berhenti.



Inilah kekhasan manusia. Ia membentuk sekaligus mengerti simbol. Ketika simbol dimaknai, pengalaman

individual dan kultural ikut berbicara. Karena individu itu unik dan kultur beragam, multitafsir tak terelakkan. Sigmund Freud,

teoretikus besar tentang dorongan seksual manusia, mengakui dominasi hasrat seksual dalam perilaku manusia.



Kerap

kali, hasrat ini hadir dalam simbol yang sekilas tidak berkaitan dengan organ-organ seksual. Dalam mimpi, pohon atau pisau bisa

berarti penis; goa atau kapal bisa berarti vagina.



Anehnya lagi, gambar-gambar seksual yang eksplisit kadang-kadang

tidak berkaitan hasrat erotis. Di Candi Sukuh di Solo kita bisa melihat lingam (penis) dan yoni (vagina) sebagai artefak

terpajang. Begitu erotiskah pikiran leluhur kita sehingga memuja penis dan vagina?



Psikolog yang akrab dengan kajian

kultural akan menolak kesimpulan itu. Lingam dan yoni adalah simbol pengalaman religius tentang penyatuan manusia dan Yang

Ilahi yang berujung pada pengalaman pencerahan atau transformasi diri. Ini mirip dengan apa yang dalam bahasa Jawa diistilahkan

curiga manjing warangka, warangka manjing curiga (keris menyatu dengan sarungnya; sarung menyatu dengan

keris).



Proses pemaknaan serupa perlu diterapkan bagi karya seni yang merupakan jalur menetaskan simbol-simbol

ketidaksadaran. Salah satu sarat penting mencapai pribadi sehat adalah membuat sadar yang tidak disadari. Mungkin ini alasan

Plato untuk mengatakan bahwa seni adalah sarana memurnikan diri.





Pria korban pornografi



Gejolak

seksual (sexual arousal) melekat dengan kondisi riil kita sebagai makhluk bertubuh. Adalah wajar bila kita hidup dengan hasrat

seksual, tetapi menjadi janggal ketika kita hidup demi hasrat seksual. Kehadiran pornografer atau pornoaktor adalah respons

bagi mereka yang hidup demi hasrat seksual di mana wanita kerap dijadikan pajangan.



Mengapa harus wanita? Dalam

teori interaksionisme simbolis, gambaran mental kita tentang pria dan wanita adalah produk dari wacana yang ramai diobrolkan

masyarakat. Salah satu wacana besar tentang seksualitas menyatakan, laki-laki lebih sering memikirkan seks, melakukan

masturbasi, atau menginginkan hubungan seksual.



Wacana seperti ini sebenarnya menampilkan sisi rapuh pria yang

menarik bagi pornografer dan pornoaktor untuk dieksploitasi. Semakin kita menerima wacana itu, semakin subur pornografi. Jadi,

bila dicermati, bukan wanita yang dieksplotasi, tetapi kerapuhan pada pria yang lebih dulu diwacanakan. Wanita dijadikan sarana

menuju kerapuhan itu.



Jelas bahwa baik pria maupun wanita dirugikan lewat pornografi dan pornoaksi. Pornografi

menjauhkan kita dari makna lebih dalam hubungan pria-wanita. Ketika suami jauh dari istri, apakah ia sibuk memikirkan kaki,

tangan, mata, pinggul, atau rambut istrinya? Saya kira tidak. Pikiran yang lebih dominan adalah kecemasan berada jauh dari

cinta dan perhatian sang istri.



Esensi kewanitaan bagi kita (pria dan wanita) perlu kembali dihidupkan. Setiap kita

punya ibu yang adalah wanita, saudara kandung yang adalah wanita, atau sahabat karib yang juga adalah wanita. Mereka ini

menghadirkan makna paling dasar dari hubungan pria-wanita yang kualitasnya digerus pornografi.





Sentuhan

inheren



Kembali ke pikiran terkonsentrasi. Salah satu teknik yang diajarkan dalam tradisi Timur untuk sampai pada

pikiran ini adalah apa yang dalam pemikiran Barat disebut mindfulness atau yang dalam pemikiran Jawa disebut awas. Awas adalah

upaya pribadi mengenali gejolak-gejolak batin (self-awareness) .



Menumbuhkan kesadaran sebaiknya tidak melulu berupa

paksaan dari luar. Ketika seorang ibu melihat anaknya bermain pisau, ia bisa saja mengatakan, ”Jangan bermain pisau!”. Cara

seperti ini sering kali manjur untuk memaksa anak berhenti. Sayangnya, si anak tidak menyadari alasannya. Ada cara lain. Ibu

bisa mengambil sepotong daging mentah, menyayatnya dengan pisau, dan mengatakan, ”Ini lho bahayanya kalau kamu main pisau”.

Cara ini mengajak anak berhenti sambil menyadari bahaya main pisau.



Nah, jika pornografer dan pornoaksi dihentikan

lewat larangan-larangan, apakah dorongan seksual menjadi jinak dan bisa dikontrol? Saya kira belum cukup. Kita masih punya

fantasi dan imajinasi seksual yang kadang-kadang jauh lebih liar daripada sekadar gambar, tulisan, atau gerakan erotis atau

membangkitkan hasrat seksual.



Ada cerita menarik mengenai hal itu. Dua biarawan menyusuri jalan berlumpur di tengah

hujan deras. Ketika sampai di persimpangan, mereka menemui gadis cantik yang tidak bisa menyeberang. Salah satu biarawan

berkata, ”Ayo, saya bantu.” Ia pun menggendongnya menyeberangi jalan berlumpur.



Melihat itu, biarawan yang lain diam

merengut dan tidak berbicara hingga mereka sampai di tujuan. Karena tidak kuat lagi menahan, ia berkata, ”Kita, para biarawan,

tidak boleh dekat dengan wanita. Itu berbahaya. Kenapa kamu melakukannya?” Biarawan yang satu menjawab, ”Saya sudah

meninggalkan gadis itu di sana. Apakah kamu masih membawanya (dalam pikiranmu)?” Dua biarawan itu menjadi cermin diri kemajuan

pikiran kita: masih terpencarkah atau sudah terkonsentrasi?



Oleh : La Kahija



YF LA KAHIJA Pengajar pada

Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Semarang



Sumber : Kompas, Sabtu, 20 Desember 2008

dilihat : 441 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution