Sabtu, 24 Agustus 2019 02:31:32 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520083
Hits hari ini : 225
Total hits : 4896335
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Berharap pada Pemilu 2009






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 19 Desember 2008 00:00:00
Berharap pada Pemilu 2009
Dalam studi-studi politik mutakhir, Indonesia kini dimasukkan

ke dalam kelompok negara demokratis terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan India. Indonesia pun sudah meraih

penghargaan bergengsi The Democracy Award, yang diserahkan langsung oleh President of International Association of Political

Consultants (IAPC) Ben Goddard pada saat pembukaan Konferensi IAPC ke-40 di Nusa Dua, Bali, 12 November 2007.



Inilah

salah satu capaian positif sejak Indonesia mengalami reformasi pasca-Soeharto. Di luar itu masih banyak hasil positif lainnya,

meski tak dapat dimungkiri ada pula yang negatif. Yang jelas, jika ada pihak-pihak yang berpendapat bahwa para pemimpin yang

dihasilkan melalui Pemilu 1999 dan 2004 sama saja buruknya dengan para pemimpin di era Soeharto, tentu saja itu merupakan sikap

naif sekaligus penilaian gampangan yang cenderung menggeneralisir. Sebab pada kenyataannya, antara dulu dan sekarang sudah jauh

berbeda. Bahwa kebaikan-kebaikan yang dihasilkan oleh proses reformasi pasca-Soeharto itu belumlah memuaskan kita, itu soal

lain. Itulah sebabnya reformasi tak boleh berakhir. Ia harus bergulir terus demi mewujudkan pelbagai hal yang lebih baik dari

masa lalu, dan karena itulah selaku warga negara yang bertanggungjawab kita harus bersabar mengawalnya seraya berkontribusi dan

berpartisipasi aktif di pelbagai aras dan aspek kehidupan.



Dalam kaitan itulah kita harus menyongsong Pemilu 2009

dengan sikap yang cerdas. Tak mau ikut pemilu alias menjadi golput? Silakan, karena itu merupakan hak asasi setiap orang yang

tak sekali-kali boleh dilarang oleh pihak manapun, apalagi dalam wujud larangan bernuansa agamis yang bernama “fatwa”. Namun,

sebelum memutuskan memilih sikap tersebut, kita patut bertanya: mengapa harus golput? Kalau sudah memiliki daftar lengkap para

calon anggota legislatif (caleg), untuk kemudian mencermatinya satu demi satu setelah terlebih dulu mencari tahu profil para

caleg tersebut, namun kemudian merasa tak seorang pun layak untuk dipercaya menjadi wakil rakyat, itu berarti keputusan golput

merupakan sebentuk sikap yang bertanggungjawab. Sebaliknya, jika alasannya tak terkait sama sekali dengan pertimbangan

kalkulatif seperti itu, maka memilih menjadi golput merupakan sikap yang apatis. Orang seperti itu, menurut mahaguru kekuatan

kasih Leo F Buscaglia (1924–1998), “tidak merisikokan apa-apa, tidak akan mengerjakan apa-apa, tidak akan memiliki apa-apa,

bukan siapa-siapa, dan tidak menjadi apa-apa”.



Pemilu itu sendiri, sesungguhnya untuk apa? Jawabannya: pemilu adalah

alat untuk perubahan di masa depan. Jadi, tujuannya adalah perubahan, sedangkan pemilu hanyalah alatnya. Untuk itulah kita

harus menggunakannya secara maksimal, jika menginginkan hasilnya yang positif bagi kita sendiri. Berdasarkan itulah kita

seyogianya berpartisipasi, jika kita merasa terpanggil untuk ikut menjadi penentu masa depan Indonesia -- bukan sekadar

penonton.



Namun, bagaimana jika orang-orang yang kita pilih untuk menjadi pejabat-pejabat publik itu nantinya sama

saja dengan yang sudah-sudah (korup, lupa diri, dan yang sejenisnya)? Mana mungkin sama? Pastilah ada bedanya, entah sedikit

atau banyak. Bukankah sudah terbukti bahwa era sekarang berbeda dengan era Soeharto? Memang, sangat mungkin para wakil rakyat

yang terpilih nanti juga banyak yang tidak berkualitas, gemar korupsi, doyan “perempuan berbaju putih”, dan berperilaku buruk

lainnya. Benar, tak ada jaminan bahwa orang-orang yang terpilih melalui pemilu nanti betul-betul layak memerankan diri sebagai

wakil rakyat. Tapi setidaknya kita masih punya harapan, sehingga karena itulah kita harus memilih hanya orang-orang yang sudah

kita ketahui rekam-jejaknya.



Sekaitan itu ingatlah ucapan bijak Noam Chomsky, seorang ilmuwan politik AS, berikut

ini: “Jika Anda berlaku seolah-olah tak ada peluang bagi perubahan, maka sebetulnya Anda sedang menjamin bahwa memang tak akan

ada perubahan.” Jadi, perjuangkanlah perubahan itu berlandaskan prinsip “dari, oleh dan untuk kita”. Artinya, kita sendirilah

yang harus terlibat aktif di dalam seluruh tahapan proses pemilu, dari sebelum sampai sesudah pemungutan suara. Begitulah

seharusnya warga negara yang bertanggungjawab, yang ingin melihat masa depan Indonesia menjadi lebih baik dari masa silam.

Karena itulah selepas pemilu nanti, setelah para wakil rakyat dilantik, kita harus memantau mereka agar tetap “berada di jalan

yang benar”.



Dalam kaitan itu maka persiapkanlah secara kalkulatif empat caleg yang akan kita pilih pada Pemilu

Calon Legislatif (Pileg) 9 April 2009. Pertama, dia yang kita harapkan menjadi anggota DPR, mewakili rakyat dari partai politik

di aras nasional. Kedua, dia yang kita harapkan menjadi anggota DPRD tingkat I, mewakili rakyat dari partai politik di aras

provinsi di mana kita berdomisili. Ketiga, dia yang kita harapkan menjadi anggota DPRD tingkat II, mewakili rakyat dari

kabupaten/kota di mana kita berdomisili. Keempat, dia yang kita harapkan menjadi anggota DPD, menjadi utusan daerah tanpa

partai politik dari provinsi di mana kita berdomisili.



Setelah semua wakil rakyat hasil Pileg itu diumumkan dan

dilantik, barulah beberapa bulan kemudian kita masuk pada Pemilu Calon Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres). Untuk itu kita

juga harus berpegang pada prinsip yang sama: memilih dengan cermat dan penuh pertimbangan.



Pileg 2009 tinggal

beberapa bulan lagi. Dalam rangka mempersiapkan diri menyambutnya, ada beberapa tip yang perlu diingat baik-baik sebelum masuk

ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) nanti. Pertama, milikilah daftar lengkap para caleg untuk DPR/DPRD tingkat I dan II/DPD.

Pelajarilah para caleg itu terkait kapasitasnya, reputasinya, karakternya, bahkan juga usia dan catatan kesehatannya. Untuk itu

jangan sungkan bertanya kepada pihak-pihak yang berkompeten memberikan informasi tentang para caleg tersebut.



Kedua,

pilih dan pilahlah para caleg tadi dan masukkan ke dalam kelompok-kelompok “caleg tak layak didukung” dan “caleg layak

didukung”. Selama masih ada waktu, evaluasilah terus kelompok-kelompok caleg tersebut. Siapa tahu, disebabkan ada data-data

baru yang didapatkan, kita perlu mengubahnya semisal memindahkan nama tertentu ke kelompok yang lain, atau mencoret nama

tertentu di kelompok tertentu, dan lain sebagainya. Jadi, jangan bersikap terlalu kaku dengan kelompok-kelompok caleg tersebut.

Siapa tahu data-data sebelumnya kurang akurat, kurang lengkap, dan lain sebagainya.



Ketiga, akhirnya kita harus

memastikan bahwa kita sudah memiliki empat nama caleg yang akan kita pilih nanti, lengkap dengan nomor partai (untuk caleg

DPR/DPRD) dan nomor urut mereka (caleg DPD diberi nomor urut berdasarkan abjad nama depan mereka). Dengan demikian sewaktu di

TPS, kita tak memerlukan waktu lama untuk mencontreng keempat caleg yang layak didukung tersebut. Ingat, agar suara yang kita

berikan tidak “bermasalah”, maka contrenglah pada tempat yang tepat sesuai aturan KPU.



Selesaikah sampai di situ?

Tidak. Cari tahulah nomor-nomor penting keempat caleg pilihan tadi, agar kelak kita dapat menghubungi mereka. Artinya, jika

mereka nanti terpilih, maka kita pun harus bertanggungjawab mengawasi dan mengingatkan mereka terus-menerus. Buktikanlah nanti

bahwa mereka betul-betul wakil rakyat yang sejati. Dengan itu berarti, bukan mereka selalu berperilaku baik atau berkinerja

bagus, melainkan selalu siap menerima semua masukan dan kritik.



Kita berharap setidaknya 90% wakil rakyat periode

2009-2014 nanti adalah orang-orang yang berkualitas dan berintegritas. Jika harapan itu tercapai, niscaya Indonesia yang adil

makmur dan sejahtera dapat diwujudkan dalam waktu yang tak terlalu lama lagi. Sebaliknya, jika mereka yang duduk di

posisi-posisi strategis itu adalah orang-orang yang umumnya kurang berkualitas dan kurang berintegritas, niscayalah Indonesia

tetap begini-begini saja dan bukan tak mungkin malah kian terpuruk.



Sesungguhnya Indonesia memiliki banyak modal

untuk menjadi negara kuat dan negeri makmur sebagaimana laiknya AS. Setidaknya kita punya modal struktural-institus ional yang

modernis, modal intelektual, modal sosial, dan modal material yang potensial untuk terus-menerus dikembangkan. Untuk itu,

kuncinya terletak di tangan para wakil rakyat yang menjadi pembuat kebijakan-kebijakan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah.

Karena itu sekali lagi, sambutlah Pemilu 2009 dengan sikap yang cerdas.



Oleh : Victor Silaen

Dosen Fisipol UKI,

pengamat sospol.



Telah dimuat pada Harian Seputar Indonesia, 18 Desember 2008



www.victorsilaen.com

dilihat : 436 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution