Sabtu, 21 Juli 2018 08:45:49 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 30
Total pengunjung : 407255
Hits hari ini : 176
Total hits : 3713115
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -CAMERON TOWNSEND: MEMULAI INSTITUT LINGUISTIK MUSIM PANAS






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 01 Desember 2008 00:00:00
CAMERON TOWNSEND: MEMULAI INSTITUT LINGUISTIK MUSIM PANAS
Cameron Townsend mendapatkan pelajaran awal dalam hubungan antara linguistik

dan penginjilan. Sebagai seorang misionaris muda di Guatemala, ia bekerja keras mendekati orang-orang jalanan dan menanyakan

hubungan mereka dengan Kristus. Ia menghafal kalimat perkenalannya dalam bahasa Spanyol: "Tahukah Anda tentang Tuhan Yesus

itu?"



Ia tidak tahu bahwa Yesus itu adalah nama pertama yang umum di antara orang Spanyol, dan istilah "Tuhan"

(Lord) -- Senor -- juga artinya "Tuan" (Mister). Ia mengharapkan tanggapan yang akan memberi dia kesempatan berbicara tentang

hal-hal spiritual. Namun, yang ia dapat adalah suatu kenyataan, "Maaf, tidak kenal. Saya pun orang asing di

sini."



Itu terjadi pada tahun 1917. Sebagian besar pemuda Amerika seusianya sedang berperang di Eropa. Mungkin,

melihat tubuh Townsend yang lemah, pejabat yang merekrutnya menawarkan dia menjual Alkitab di Guatemala.



Pada

awalnya, mungkin terlihat bahwa Townsend terlibat dalam pekerjaan berat. Namun, akhirnya ia mempelajari bahasa Spanyol dan

mulai bekerja di antara orang-orang Indian yang beriman. Terbeban bekerja untuk Indian Cakchiquel di dataran tinggi, Townsend

mengetahui bahwa di antara mereka hampir tidak ada yang mengetahui bahasa Spanyol. Agar berdampak terhadap mereka, ia harus

mempelajari bahasa mereka.



Hal ini tidaklah mudah. Istrinya, Elvira, dalam surat doanya menulis, "Berdoalah agar

kami dengan cepat dapat mempelajari bahasa yang mengerikan ini. Tanpa tata bahasa atau buku-buku apa pun untuk dipelajari,

keadaan sungguh menyulitkan. Kami memiliki sebuah buku kecil, di situlah kami mencatat istilah-istilah dan kalimat-kalimat yang

diucapkan orang-orang Indian bila kami mengunjungi mereka. Namun, beberapa istilah ini bunyinya begitu aneh sehingga sulit

dicatat. Tetapi, tentunya bahasa Cakchiquel ini datangnya dari Tuhan, sama seperti bahasa Inggris, Spanyol, atau Swedia, dan

kami tahu bahwa Ia akan membuat kami mengerti bahasa Indian ini agar kami secepatnya dapat menjelaskan Injil kepada mereka

dalam bahasa mereka sendiri."



Doa tersebut terkabul. Menjelang tahun 1931, pasangan Townsend telah menghasilkan

Perjanjian Baru lengkap dalam bahasa Cakchiquel. Tidak lama kemudian, memburuknya kesehatan, memaksa mereka kembali ke Amerika

Serikat. Townsend berharap pindah ke sebuah pelayanan di Amerika Selatan setelah kesehatan mereka pulih. L.L. Legters, seorang

rekan dan pendukung karya Townsend di Guatemala, meminta dia bekerja di Meksiko, lebih dekat ke rumah. Townsend dan Legters

bersama-sama mengembangkan suatu ide baru.



"Saya menganjurkan supaya kita mendirikan institut musim panas tempat

misionaris dapat dididik bagaimana mempelajari suatu bahasa untuk menulis dan menerjemahkan Injil," tulis Townsend di kemudian

hari. Karena hanya dua universitas di Amerika Serikat yang memberi kursus dalam "linguistic descriptive" (bagaimana suatu

bahasa inti lazimnya dipakai), dan program empat tahun ini memakan waktu terlampau lama bagi para misionaris, maka sesuatu yang

khusus dibutuhkan. Legters dan Townsend meneruskan dengan dua jalur. Mereka memutuskan memulai sekolah bahasa bagi para

misionaris di Amerika Serikat, dan mereka berencana meminta pemerintah Meksiko mengizinkan mereka mengirim para penerjemah

Alkitab untuk mempelajari bahasa-bahasa Indian yang belum ditulis.



Pada tahun 1934, Summer Institute of Linguistics

(Institut Linguistik Musim Panas) dimulai di sebuah ladang di Sulphur Springs, Arkansas, dengan kurikulum yang mengesankan.

Apabila para profesornya tidak dapat datang ke institut, maka siswa institut itulah yang mendatangi para profesor (hanya ada

dua orang siswa pada tahun pertama dan beberapa lagi pada tahun kedua).



Pada awalnya, para penerjemah ini hampir

tidak mendapat kerja sama dari pemerintah Meksiko. Tetapi, Townsend memiliki beberapa orang terpelajar tingkat tinggi di

pihaknya. Dia adalah salah seorang pembuat eksperimen yang sangat terkemuka dalam ilmu bahasa yang sedang mencuat. Akhirnya,

para pemimpin Meksiko melihat pentingnya mempelajari bahasa-bahasa Indian tersebut dan memberi dukungan penuh bagi karya

Townsend.



Townsend tidak pernah seorang diri dalam organisasi. Para misionarislah yang melakukan pekerjaan misi,

bukan pejabat-pejabat di rumah (Amerika Serikat). Namun, menjelang awal 1940-an, pekerjaan penerjemahan ini menjadi beban berat

untuk dikerjakan dalam basis "freelance". Institut Musim Panas pindah ke Universitas Oklahoma, dan di situ terdapat 130

mahasiswa. Ada empat puluh empat penerjemah yang sudah bekerja di Meksiko, dan Townsend telah meminta lima puluh lagi. Untuk

ini dibutuhkan semacam organisasi pendukung. Maka, pada tahun 1942, dengan resmi dibentuklah Wycliffe Bible Translators,

dinamakan demikian untuk menghormati penerjemah Inggris yang agung pada abad pertengahan. Institut Linguistik Musim Panas

melanjutkan hubungan dengan pemerintah-pemerintah mancanegara, tetapi Wycliffe Bible Translators mengorganisasikan dukungan

dari Amerika Serikat.



Karya penerjemahan meluas dari sana -- Guatemala, Peru, Kolombia, dan Ekuador. Sebuah korps

penerbangan, Jungle Aviation and Radio Service (Pelayanan Radio dan Penerbangan Hutan), didirikan untuk membawa para

penerjemah misionaris dengan selamat ke dan dari daerah-daerah jauh.



Sampai sekarang, ketiga organisasi tersebut

memunyai lebih dari 6.000 pekerja di lebih dari 50 negara. Mereka menghasilkan bagian-bagian Alkitab dalam lebih dari 300

bahasa, dan sedang bekerja untuk lebih dari 800 yang lain.



Karya Wycliffe Bible Translators tersebut membuat

ratusan kelompok manusia terjangkau Injil. Ini merupakan langkah besar ke depan dalam gerakan misi modern untuk menjangkau

orang-orang yang tidak terjangkau -- mereka yang tidak punya akses terhadap kekristenan.



Namun, organisasi Townsend

juga menggambarkan pergeseran halus dalam Protestanisme Amerika. Pada tahun 1930-an dan 1940-an, fundamentalisme muncul lagi

dengan tiba-tiba. Separatisme yang ketat memberi jalan bagi penginjilan yang agresif. Sementara memelihara kesempurnaan

doktrinnya, organisasi Wycliffe tersebut dengan tidak merasa malu bersekutu dengan universitas-universitas sekuler, para ahli

bahasa, pemerintah, atau pun dengan para antropolog dalam rangka menyelesaikan urusannya. Gerakan "evangelikan" tersebut

melihat banyak misi dan organisasi pendidikan Kristen yang timbul, serta ingin mencoba metode-metode baru membawa Injil ke

seberang.



Tahukah Anda?

Tahukah Anda, ketika berusia muda, Cameron Townsend pernah berjualan Alkitab berbahasa

Spanyol di Guatamela (1917--1918). Sayangnya, sebagian besar orang yang ditemuinya tidak bisa berbahasa

Spanyol.





Dikutip dari:

Judul buku: 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kristen

Penulis: A. Kenneth

Curtis, J. Stephen Lang, dan Randy Petersen

Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta 1991

Halaman: 157 --

159



Sumber: http://www.wycliffe.org/explore/whoweare/history/camerontownsend.aspx

dilihat : 247 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution