Rabu, 18 Juli 2018 13:49:51 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 139
Total pengunjung : 406533
Hits hari ini : 969
Total hits : 3706050
Pengunjung Online : 9
Situs Berita Kristen PLewi.Net -JOHANES CALVIN: PELOPOR GERAKAN REFORMASI GEREJA






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 30 November 2008 00:00:00
JOHANES CALVIN: PELOPOR GERAKAN REFORMASI GEREJA
Natur dari reformasi adalah pembaharuan, dan

pembaharuan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan; diperlukan perjuangan. Perjuangan reformasi ini dapat terjadi dalam

segala aspek kehidupan, termasuk juga dalam perkembangan gereja. Para pejuang reformasi gereja telah menorehkan sejarah, kisah,

dan pelajaran tersendiri kepada gereja saat ini. Perjuangan para reformator telah menggerakkan anak-anak Tuhan di zamannya

untuk meletakkan Alkitab sebagai otoritas tertinggi dalam gereja.



Seperti yang biasa terjadi dalam sebuah reformasi,

pembaharuan gereja kala itu juga diwarnai dengan pertentangan dan perselisihan. Namun, perjuangan tidak berakhir dan bahkan

terus memunculkan tokoh-tokoh reformator gereja. Salah satunya adalah Johanes Calvin dimana riwayat dan sepak terjangnya bisa

kita simak di kolom Riwayat edisi ini. Johanes Calvin memberikan kontribusi besar terhadap pembaharuan di dalam kesatuan gereja

dan cita-cita negara teokrasi.



Di kolom Karya, kami ajak Anda mengenal lebih jauh sosok misionaris sekaligus

linguis, Cameron Townsend yang membuka institut linguistik untuk kepentingan penerjemahan kitab Injil. Harapan kami setelah

menyimak sisi lain dari kehidupan dan karya kedua tokoh tersebut, kita semakin rindu untuk melakukan perubahan di kehidupan

kita. Terlebih lagi untuk meletakkan Alkitab sebagai otoritas kebenaran tinggi dalam segala aspek kehidupan orang percaya juga

gereja.



JOHANES CALVIN: PELOPOR GERAKAN REFORMASI GEREJA



Johanes Calvin adalah seorang pemimpin gerakan

reformasi gereja di Swiss. Ia merupakan generasi yang kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin gerakan reformasi gereja pada

abad ke-16, namun peranannya sangat besar dalam gereja-gereja reformatoris. Gereja-gereja yang mengikuti ajaran dan tata

gereja yang digariskan Calvin, tersebar di seluruh dunia. Gereja-gereja itu diberi nama Gereja Calvinis. Di Indonesia,

gereja-gereja yang bercorak Calvinis merupakan golongan gereja yang terbesar.



Johanes Calvin dilahirkan pada tanggal

10 Juli 1509 di Noyon, sebuah desa di sebelah utara kota Paris, Perancis. Ayahnya bernama Gerard Cauvin. Ibunya, Jeanne

Lefranc, adalah seorang wanita yang cantik dan saleh. Ia meninggal dunia tatkala Johanes Calvin masih muda. Gerard Cauvin

bekerja sebagai pegawai uskup Noyon. Calvin memiliki empat saudara lelaki dan dua orang saudara perempuan. Keluarga Calvin

memunyai hubungan yang erat dengan keluarga bangsawan Noyon. Oleh karena itu, pendidikan elementernya ditempuh dalam istana

bangsawan Noyon, Mommor, bersama-sama dengan anak-anak bangsawan itu. Itulah sebabnya mengapa Calvin memerlihatkan sifat-sifat

kebangsawanan.



Pada mulanya, ayah Calvin menginginkan anaknya menjadi imam. Pada umur dua belas tahun, Calvin sudah

menerima "tonsur" (pencukuran rambut dalam upacara inisiasi biarawan) dan upah dari paroki St. Martin de Marteville. Dengan

penghasilan tersebut, Calvin dapat meneruskan pendidikannya ke jenjang yang tinggi. Pada tahun 1523, Calvin memasuki College de

la Marche di Park. Di sini, ia belajar retorika dan bahasa Latin. Bahasa Latin dipelajarinya dari seorang ahli bahasa Latin

yang terkenal, Marthurin Cordier. Kemudian ia pindah ke College de Montague. Di sini, Calvin belajar filsafat dan teologi. Di

sekolah inilah Calvin belajar bersama dengan Ignatius dari Loyola, yang di kemudian hari menjadi musuh besar gerakan

reformasi.



Setelah Calvin menyelesaikan pendidikannya itu, tiba-tiba ayahnya tidak menginginkan anaknya lagi untuk

menjadi imam. Ayahnya menginginkan Calvin menjadi seorang ahli hukum. Oleh karena itu, Calvin memasuki Universitas Orleans

untuk belajar ilmu hukum. Kemudian ia belajar juga di Universitas Bourges dan Paris. Bahasa Yunani dan Ibrani dipelajarinya

dari Melchior Wolmar, seorang ahli bahasa terkenal pada abad itu. Dengan demikian, Calvin menjadi seorang ahli hukum. Studi

hukumnya sangat memengaruhinya dalam usaha pembaharuan dan penataan gereja reformasi yang dipimpinnya. Calvin sangat menekankan

ketertiban dan keteraturan dalam gereja.



April 1532, Calvin menerbitkan bukunya yang pertama, yaitu "Komentar Kitab

De Clementia". Buku ini didedikasikan untuk Claude de Hangest, sahabat sekolahnya di keluarga bangsawan Mommer di Noyon dahulu.

Buku itu memerlihatkan Calvin sebagai seorang humanisme sejati. Dalam buku ini tidak terdapat tanda-tanda bahwa Calvin telah

beralih ke pihak reformasi di Perancis. Dapat diduga bahwa Calvin telah membaca tulisan-tulisan Luther dan para reformator

Swiss lainnya. Bilamana Calvin menjadi pengikut gerakan reformasi, tidak dapat ditentukan dengan tepat. Pertobatannya

kemungkinan terjadi pada akhir 1532 dan awal 1533. Hal ini didasarkan pada suratnya untuk Bucer, yang meminta Bucer di

Strausburg untuk memberi perlindungan kepada orang-orang reformatoris yang melarikan diri karena ditentang di Perancis. Surat

tersebut ditulis Oktober 1533. Mengenai pertobatannya, Calvin menulis sebagai berikut: "... muncullah suatu ajaran yang baru,

yang tidak membelokkan kami dari pengakuan Kristen, malah justru membawa kami kembali kepada sumbernya yang asli, menyucikannya

dari segala noda, mengembalikan kepadanya kemurniannya yang semula. Tetapi aku benci kepada hal-hal yang baru itu, dan sukar

mendengarnya sekalipun. Dan pada mulanya aku menentangnya sekeras-kerasnya, karena aku telah menempuh jalan yang sesat dan

penuh kebodohan. Tetapi berkat pertobatan yang tiba-tiba,

Allah menujukan hatiku kepada kepatuhan."



Pada

tahun 1534, golongan reformatoris di Perancis ditentang dengan keras. Orang-orang reformatoris menyelamatkan diri dengan

melarikan diri ke Swiss. Calvin pun ikut melarikan diri ke Strausburg di mana ia diterima dengan hangat oleh Bucer. Kemudian

Calvin meneruskan perjalanannya ke Basel. Calvin tinggal di Basel setahun lebih lamanya. Selama itu, Calvin masih pergi ke

Perancis mengunjungi sahabat-sahabatnya dengan memakai nama-nama samaran, seperti Martianus Lucanius, Carolus Passelius,

Calpunius, dan sebagainya. Di Basel inilah Calvin menerbitkan bukunya yang terkenal, yaitu "Religionis Christianae Institutio

(Pengajaran tentang Agama Kristen)", pada tahun 1536. Biasanya dikenal dengan sebutan Institutio. Buku ini kemudian direvisi

berkali-kali dan menjadi buku dogmatika yang terutama dalam gereja-gereja Calvinis. Institutio adalah karangan teologi kedua

yang keluar dari tangan Calvin. Buku teologi yang pertama berjudul "Psychopannychia (Mengenai Tidurnya Jiwa-Jiwa)", suatu

karangan melawan ajaran Anabaptis yang mengajarkan bahwa jiwa manusia tidur hingga Kristus datang kembali setelah manusia itu

meninggal.



Pada tahun 1536, Calvin pergi ke Italia. Dalam perjalanan pulang ke Basel, ia terpaksa melalui Jenewa dan

menginap di sana. Farel mendengar bahwa Calvin berada di Jenewa sehingga Farel mencari Calvin. Farel meminta kepada Calvin

untuk tinggal di Jenewa, dan bersama-sama dengan Farel menata kota Jenewa menjadi kota reformasi. Dua bulan sebelumnya, Dewan

Kota Jenewa telah memutuskan untuk menganut paham reformasi. Permintaan Farel ditolak oleh Calvin. Calvin mau hidup tenang dan

terus menulis karya-karya teologi. Ia merasa tidak cocok dengan pekerjaan praktis dalam jemaat. Namun, Farel mendesaknya dengan

berkata: "Dengan nama Allah yang Mahakuasa, aku katakan kepadamu: jikalau engkau tidak mau menyerahkan dirimu kepada pekerjaan

Tuhan ini, Allah akan mengutuki engkau karena engkau lebih mencari kehormatan dirimu sendiri daripada kemuliaan Kristus."

Calvin melihat panggilan Allah kepadanya lewat Farel sehingga ia tinggal di Jenewa. Kini Calvin tinggal di Jenewa, dan

bersama-sama Farel mengatur gereja reformatoris di sana. Mereka merancangkan sebuah tata gereja yang mengatur seluruh kehidupan

warga kota menurut cita-cita teokrasi. Menurut rancangan tata gereja itu dikatakan, bahwa Perjamuan Kudus diadakan sebulan

sekali dan berhubungan dengan itu akan dijalankan disiplin yang keras. Setiap penduduk diwajibkan menandatangani sehelai surat

pengakuan sebagai tanda bahwa mereka sungguh-sungguh sadar akan iman dan pengakuannya.



Hal yang terakhir ini tidak

disetujui oleh banyak warga kota. Pada tahun 1538, dewan kota dikuasai oleh orang-orang yang menolak pengakuan itu, sehingga

Calvin dan Farel dilarang berkhotbah di mimbar-mimbar gereja di Jenewa, dan pada akhirnya keduanya diusir dari Jenewa.

Kemudian Calvin dipanggil oleh jemaat Strausburg. Ia menjadi pendeta di sana pada tahun 1539 -- 1541. Dalam jemaat ini, Calvin

bersama-sama Butzer dapat menerapkan cita-cita yang gagal di Jenewa dahulu. Di sini Calvin mengusahakan nyanyian Mazmur dengan

bantuan ahli musik terkenal, yaitu Clement Marot, Louis Bourgois, dan Maitre Piere. Di sini pula Calvin mulai menulis

tafsiran-tafsiran Alkitab serta merevisi Institutio.



Di sinilah pula Calvin menikah dengan Idelette de Bure, seorang

janda bangsawan. Pernikahannya hanya berlangsung sembilan tahun lamanya, karena kemudian istrinya meninggal tanpa memberi

keturunan kepada Calvin.



Namun tahun 1541, Calvin dipanggil kembali oleh jemaat Jenewa sehingga kita menemukannya

lagi di sana. Calvin tinggal dan bekerja di sini hingga meninggalnya, 27 Mei 1564, karena mengidap TBC.



Segera

sesudah ia bekerja dalam jemaat Jenewa, Calvin menyusun suatu tata gereja baru yang bernama Ordonnances Ecclesiastiques

(Undang-Undang Gerejani) pada tahun 1541.



Calvin adalah seorang teolog besar dalam kalangan gereja-gereja

reformatoris. Pandangan-pandangan teologinya dituangkannya dalam bukunya, Institutio.



Calvin mengajarkan tentang

pembenaran hanya oleh iman (Sola Fide), sama seperti Luther. Namun Calvin sangat menekankan penyucian, kehidupan baru yang

harus ditempuh oleh orang-orang Kristen yang bersyukur karena Allah telah menyelamatkan mereka. Calvin menegaskan bahwa

anggota-anggota jemaat yang berkumpul untuk mendengarkan firman Allah dan untuk ikut ambil bagian dalam Perjamuan Kudus,

haruslah suci. Disiplin gereja diawasi dengan ketat. Pengawasan atas tingkah laku anggota jemaat bukan saja dilaksanakan oleh

penatua, tetapi juga oleh pemerintah (dewan kota).



Hubungan gereja dan negara dalam teologi Calvin sangat erat.

Calvin mencita-citakan suatu negara teokrasi. Seluruh kehidupan masyarakat harus diatur sesuai dengan kehendak Allah.

Pemerintah bertugas juga untuk mendukung gereja dan menghilangkan segala sesuatu yang berlawanan dengan berita Injil yang

murni. Namun, ini tidak berarti bahwa negara berada di bawah gereja. Gereja dan negara berdampingan. Keduanya bertugas untuk

melaksanakan kehendak Allah dan memertahankan kehormatan Tuhan Allah. Mengenai tugas negara, Calvin menulis sebagai berikut:

"Pemerintah diberi tugas untuk, selama kita hidup di tengah-tengah masyarakat, mendukung serta melindungi penyembahan Allah

yang lahiriah, memertahankan ajaran yang sehat tentang ibadah dan kedudukan gereja, mengatur kehidupan kita dengan melihat

kepada pergaulan masyarakat, membentuk kesusilaan kita sesuai dengan keadilan seperti yang ditetapkan oleh undang-undang

negara, menjadikan kita rukun, dan memelihara damai serta ketenteraman umum ...."



Mengenai jabatan-jabatan dalam

gereja, Calvin mengenal empat jabatan, yaitu pendeta, pengajar, penatua, dan diaken. Para pendeta bersama-sama dengan para

penatua merupakan konsistori, yaitu majelis gereja yang memimpin jemaat dan yang menjalankan disiplin gereja. Peraturan

pemilihan dan penahbisan pejabat-pejabat gereja diatur dengan teliti, terutama jabatan pendeta.



Mengenai Perjamuan

Kudus, Calvin mengajarkan bahwa Perjamuan Kudus adalah pemberian Allah dan bukan perbuatan manusia. Roti dan anggur bukan saja

lambang, melainkan alat yang dipakai untuk memberikan tubuh dan darah Kristus kepada umat-Nya. Akan tetapi, Kristus kini ada di

surga. Roti dan anggur tidak bisa dianggap sama dengan tubuh dan darah yang di dalam surga itu, melainkan harus dianggap

sebagai tanda dan meterai dari anugerah dan kasih Tuhan dalam Yesus Kristus. Calvin membedakan tanda dengan apa yang ditandakan

oleh tanda itu.Calvin menjelaskannya sebagai berikut: "Sebagaimana orang yang percaya itu sungguh menerima tanda-tanda itu

dengan mulutnya, demikianlah pada waktu itu juga ia sungguh dihubungkan oleh Roh Kudus dengan tubuh Kristus yang di surga."

Dalam pelaksanaan Perjamuan Kudus, Calvin sangat teliti.



Calvin, di dalam ajarannya, juga menekankan predestinasi di

samping pembenaran oleh iman. Menurut Calvin, bahwa sejak kekal Allah di dalam diri-Nya sendiri telah menetapkan orang-orang

mana yang diberi-Nya keselamatan dan yang mana yang dibinasakan. Orang-orang yang dipilih Tuhan itu diberi anugerah dengan

cuma-cuma, sedangkan orang-orang yang ditolak Allah, Allah menutup jalan masuk ke dalam kehidupan. Calvin mengatakan hal ini

sungguh sulit dipahami. Tanda-tanda bahwa seseorang ditetapkan Allah untuk kehidupan yang kekal ialah bahwa ia (mereka)

dipanggil oleh Tuhan Allah dan mereka menerima pembenaran dari Allah. Ajaran Calvin mengenai predestinasi ini menyebabkan

timbulnya perpecahan dalam gereja-gereja Calvinis di kemudian hari. Pada masa Calvin masih hidup, Hieronymus Bolsec telah

menyerang ajaran predestinasi ini. Calvin membela kebenaran ajarannya dan ia menganjurkan kepada dewan kota untuk membuang

Bolsec. Dengan demikian, Bolsec diusir dari kota Jenewa.



Calvin juga melawan ajaran Antitrinitarian yang diajarkan

oleh Michael Servet. Pada waktu Servet berada di Jenewa dalam pelarian dari hukuman mati yang telah dijatuhkan oleh Gereja

Katolik Roma atasnya, Dewan Kota Jenewa menangkap dan memenjarakan Servet atas permintaan Calvin. Atas anjuran para pendeta,

dan tentunya termasuk Calvin di dalamnya, supaya kepala Servet dipenggal, maka dewan kota memenggal kepala Servet pada tahun

1553.



Di Jenewa, Calvin juga mendirikan sekolah-sekolah. Di Jenewa didirikan sebuah akademi yang memiliki dua

bagian, yaitu gimnasium dan teologi. Theodorus Beza diangkat menjadi direktur akademi tersebut. Di akademi inilah dipersiapkan

pemuda-pemuda Calvinis yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin gereja Calvinis yang terkenal, seperti John Knox, Caspar Olevianus,

pengarang "Katekismus Heidelberg" yang terkenal itu.



Banyak sekali pekerjaan yang dikerjakan oleh Calvin tanpa

mengenal lelah. Sejak tahun 1558, penyakitnya mulai berat. Sebelum meninggal, ia meninggalkan banyak pesan kepada jemaatnya dan

Theodorus Beza, yang akan menggantikan kedudukannya di jemaat Jenewa. Dewan kota dan para pendeta dipanggilnya untuk

mendengarkan nasihat-nasihatnya. Pada tanggal 27 Mei 1564, Calvin meninggal dunia dengan tenang. Ia pergi dengan meninggalkan

pekerjaan yang berat kepada Theodorus Beza. Namanya dikenang sepanjang sejarah di seluruh dunia dengan terpatrinya gereja

Calvinis.



Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh Dalam Sejarah

Gereja

Penulis: Drs. F.D. Wellem, M.Th.

Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta 1991

Halaman: 64 --

69



------------------------

Teologi dan pemahaman Alkitab "harus menembus hati ketimbang penjelasan kata-kata".

Bernardus -- Teolog

dilihat : 317 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution