Kamis, 27 Juni 2019 13:45:26 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 197
Total pengunjung : 517292
Hits hari ini : 1415
Total hits : 4749627
Pengunjung Online : 8
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 30 November 2008 00:00:00
Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen
Nats: Efesus 5:33



Tuhan

memberikan dua blueprint yang penting mengenai pernikahan kepada kita.

Yang pertama sudah saya bahas minggu lalu, Kej.2

memperlihatkan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan sudah memberikan satu definisi yang penting dan yang harus menjadi

prinsip kita untuk mengerti apa itu pernikahan. Pernikahan berarti saatnya seorang pria dan seorang wanita pergi meninggalkan

ayah ibunya dan bersatu menjadi satu daging. Kalimat ini diulang oleh Tuhan Yesus dan diulang oleh rasul Paulus di dalam PB.

Dengan kata lain, sekalipun realitas dosa sudah masuk ke dalam hidup kita, realitas dosa yang bisa menarik kita dan mungkin

makin lama menyeret kita makin jauh di dalam relasi kita, tetapi ikatan cinta yang Tuhan beri di dalam pernikahan harus jauh

lebih kuat mengikat kehidupan kita, mengalahkan segala kekuatan lain yang menarik kita untuk terpisah.



Minggu lalu

saya sudah membahas dua kata yang penting: meninggalkan dan bersatu. Meninggalkan ayah dan ibu, berarti itu saatnya kita

melihat hubungan ayah ibu dengan anak yang menikah bukan lagi hubungan orang tua dan anak, tetapi harus menjadi satu hubungan

yang bersifat dewasa, satu adult relationship. Itu sebab kita harus mempersiapkan anak kita supaya someday mereka pergi

meninggalkan rumah kita. Saya akan memberikan beberapa prinsip kepada anak-anak muda berkaitan dengan hal

ini.



Kenapa sebelum Tuhan memberikan Hawa kepada Adam, Tuhan menempatkan Adam di taman Eden, menyuruhnya untuk

bekerja mengelola taman dan memberi nama kepada semua binatang di situ? Ini adalah satu prinsip penting menunjukkan pernikahan

adalah untuk seorang yang sudah mature dan sudah bisa independent mengurus hidupnya. Memang kita hidup di jaman yang jauh

berbeda dibanding 2000 tahun lalu di mana anak perempuan dinikahkan dalam usia yang sangat muda, tidak lama sesudah dia

mengalami fase pubertas.



Tetapi sekarang kita memasuki satu jaman di mana pada usia belasan kematangan secara

seksualitas sudah terjadi, tetapi mereka memiliki jarak waktu yang cukup panjang, 10-12 tahun untuk mempersiapkan diri masuk ke

dalam pernikahan. Maka sebagai orang tua kita menyadari gap yang panjang itu dan mempersiapkan anak menjalaninya dengan sehat

dan benar. Dari awal kita harus mengajar mereka bahwa ada relasi lawan jenis yang lain yang berupa pertemanan dan persahabatan

tanpa memasuki relasi pacaran. Itu sebab banyak anak remaja, terutama yang pria, kadang-kadang awkward dan tidak memiliki

kesiapan hati membangun relasi yang sehat dengan lawan jenisnya. Begitu dia tertarik dengan seorang gadis, langsung sasarannya

adalah ingin menjadikan dia sebagai pacar. Apabila anak laki-laki tidak mempunyai konsep relationship yang lebih luas dalam

bentuk pertemanan dan persahabatan, akhirnya mereka menjadi awkward dengan lawan jenisnya. Maka para pemuda, buka horison

baik-baik.



Tidak selamanya hubungan lawan jenis itu harus menjadikan dia pacarmu. Coba belajar menjalani pertemanan

dengan benar. Dengan demikian dia bisa menjalani masa itu dengan membangun relasi sebanyak-banyaknya dengan orang lain, belajar

mengerti karakter dan temperamen yang berbeda dan pada akhirnya nanti bisa menemukan seseorang yang dewasa dan matang dan siap

untuk menikah dengan dia.



Saya selalu mengingatkan para pasangan di dalam kelas premarital, menikah itu bukan 1/2 +

1/2 = 1 tetapi 1+1=1. Di mana bedanya? Ada orang tua punya pikiran yang keliru, melihat anaknya kurang bertanggung jawab lalu

memutuskan untuk mencarikan dia seorang istri untuk mengurus dia. Itu pikiran yang sangat salah. You tidak mungkin masuk ke

dalam pernikahan untuk mengurusi orang lain jika mengurus diri sendiri saja belum mampu. Kita pikir seorang yang malas dan

kurang tanggung jawab bisa berubah kalau mendapat istri yang rajin? Sering kita dengar kalimat seperti ini, let marriage make

him better, let marriage make her better. Itu salah. Yang benar adalah, how do you both can make your marriage better. Jangan

terbalik konsepnya. Artinya if you can take care of yourself, you can prove yourself as a responsible person, bekerja dengan

baik, itu artinya engkau siap untuk memasuki jenjang pernikahan. Pernikahan adalah satu fase di mana kalian berdua sebagai dua

orang yang dewasa, bertanggung jawab, matang dan bisa mengurus diri sendiri sekarang saatnya belajar mengisi apa yang

dibutuhkan pasangan satu sama lain. Itu artinya 1+1=1.



Walaupun akhirnya saya menemukan satu hal yang unik sekali di

mana banyak orang menemukan pasangannya karena tertarik dengan dia secara complimentary saling mengisi satu sama lain. Tetapi

complimentary itu bukan karena saya tidak bisa masak, maka saya berusaha mencari istri yang pintar masak. Complimentary itu

bisa terjadi di antara orang yang bisa jadi bertolak belakang sama sekali. Ada pria yang pendiam dan introvert tertarik dengan

wanita yang talkative dan extrovert. Demikian sebaliknya. Tetapi saya ingatkan, kadang kala yang saudara rasa menjadi sumber

daya tarik waktu pacaran, bisa jadi akhirnya menjadi sumber keributan di masa pernikahan. Ada wanita yang mengatakan dia

tertarik dengan pria itu karena dia seorang yang cool sedangkan dia sendiri orang yang emosinya meledak-ledak.





Kalau menghadapi masalah, dia panik sedangkan pria itu bisa dengan tenang menyelesaikannya. Setelah 10 tahun

menikah akhirnya itu yang menjadi sumber keributan di antara mereka. Suami yang tadinya cool sekarang dianggap sebagai orang

yang pasif, apatis, dan tidak mau tahu masalah keluarga, tidak mendukung istri yang setengah mati mengurus anak dan rumah

tangga. Istri yang tadinya talkative sekarang dianggap cerewet dan tukang marah.



Maka saya anjurkan jangan mencari

pasangan karena engkau merasa ada kekuranganmu yang bisa dia isi. Sebaiknya bukan karena dia bisa memenuhimu, tetapi engkau

sendiri sudah menjadi seorang yang utuh dan sekarang bersedia sacrifice membawa seseorang masuk ke dalam hidupmu untuk

bersamamu saling take care satu sama lain. Kalau akhirnya dalam realitas pernikahan, hal yang tadinya membuatmu tertarik

sekarang akhirnya menjadi sesuatu yang annoying tidak menjadikan pernikahan itu kehilangan keindahannya. Ini blue print yang

pertama, prinsip yang penting di dalam satu pernikahan yang tidak boleh saudara langgar. Kita keluar dari rumah, memasuki satu

pernikahan yang bersifat adult relationship dengan lawan jenis. Itu merupakan relasi yang paling intim dan paling close. Tidak

boleh ada relasi lain yang lebih intim daripada itu. Di situ saudara menyelesaikan permasalahan di antara suami istri sebagai

dua orang dewasa dan bertanggung jawab.



Blue print kedua yaitu bicara mengenai role atau peran kita di dalam

pernikahan. Pada waktu Tuhan menciptakan kita dengan gender laki-laki dan perempuan, maka perbedaan gender itu bukan saja

berfungsi sebagai complimentary bagaimana terjadinya hubungan seksual yang membawa kepada reproduksi sebagai kesinambungan

eksistensi manusia, tetapi fungsi gender itu lebih daripada itu. Analisa memberitahukan kepada kita bahwa gender wanita dengan

sendirinya membentuk cara berpikir dan wire yang ada di otak kita bersifat feminin. Perbedaan itu akan membawa kepada role yang

berbeda antara pria dan wanita. Sebelum terjadi interaksi antara pria dan wanita, kita perlu mengerti perbedaan ini dan

mengerti akan role masing-masing sehingga interaksi itu menjadi lebih baik. Karena itulah yang namanya natur. Saya lahir

sebagai pria, maka saya punya natur pria di dalam diri saya yang memiliki keunikan dan signifikansi. Demikian sebaliknya dengan

istri saya.



Maka hidup pernikahan itu bukan saja menghargai pernikahan itu sendiri sebagai satu relasi yang Tuhan

ikat secara permanen sampai kematian memisahkan kita, tetapi itu juga harus menjadi satu relasi yang harus kita kembangkan

menjadi fulfill dan indah ketika kita berfungsi sebagai pria dan wanitia, suami dan istri yang seturut dengan apa yang Tuhan

mau. Memang budaya memberikan kesempitan dan keleluasaan di dalam role pria dan wanita, tetapi sekali lagi kita harus menaruh

pemahaman role itu di dalam kerangka firman Tuhan. Paulus berkata, Bagimu sekarang berlaku hal ini: hai istri, hendaklah engkau

menghormati suamimu sebagaimana kepada Tuhan dan suami, kasihilah istrimu seperti engkau mengasihi dirimu

sendiri.



Les Parrott mengatakan pernikahan itu seperti Love Bank. It depends on apa yang saudara berdua kerjakan di

dalamnya. Kita tidak mungkin bisa masuk ke pada satu pernikahan yang sehat kalau bank cinta kita kalau saudara terus melakukan

interaksi yang saling menyakitkan itu seperti saudara terus withdrawal menarik dana dari bank itu . Tetapi kalau saudara

memiliki interaksi yang menyenangkan dan baik, saudara seperti sedang memasukkan deposit ke bank saudara. Kalau saudara mau

bank cinta itu penuh, dua belah pihak harus rajin menabung di dalamnya. Saudara mengeluh, Wah, susah pak. Saya yang terus

menabung, dia yang terus ambil. Saya mau berbahagia, saya mau menyenangkan, saya terus menabung tetapi dia terus menciptakan

interaksi yang menyakitkan sehingga tabungan cinta itu menjadi kosong. Tergantung sekarang kalian berdua mau menaruh apa di

bank cinta itu. Saudara terus menaruh hal yang menyakitkan, itu berarti saudara makin mengosongkan bunga cinta itu. Tetapi

kalau saudara mau menaruh hal yang baik dan positif, saya percaya pernikahan itu masih bisa diselamatkan. Artinya, kalau

sekarang bunga bank itu sudah negatif, masih ada harapan untuk dipenuhi.



Sekarang saya akan bicara secara spesifik

mengenai role wanita sebagai istri. Hai istri, berlaku prinsip ini bagimu: respect and honor your husband as to the Lord. Ini

bukan soal budaya Barat atau Timur. Baik buku konseling Kristen ataupun non Kristen semuanya setuju bahwa salah satu core yang

paling penting dan yang paling diinginkan para pria dari istrinya yaitu dihormati dan dihargai. Tiga dari empat pria lebih suka

mendapat istri yang hormat dan respek meskipun kurang cinta dibanding mendapat istri yang cinta tetapi kurang hormat dan kurang

respek kepada suaminya. Berarti ada hal yang penting mengapa suami merasa kebutuhannya kurang terpenuhi padahal istri merasa

dia sudah cukup memperhatikan dan mengasihi suaminya. Alkitab 2000 tahun yang lalu sudah mengeluarkan prinsip ini dan tidak

boleh dibalik: hai suami tunduklah kepada istrimu dan hai istri kasihilah suamimu.



Alkitab jelas mengatakan kepada

para istri: respek dan hormatlah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. Tunduk, respek dan cinta menjadi satu lingkaran yang

saling berkaitan satu sama lain, menghasilkan relasi yang sehat atau tidak sehat. Itu sebab Dr. Eggerichs di dalam bukunya Love

and Respect mengatakan ini menjadi satu lingkaran yang sulit dipecahkan dan jikalau lingkaran itu rusak, perlu keberanian dari

salah satu pihak untuk memulai. Biasanya, kalau suami merasa istri tidak hormat kepadanya, itu akan membuat dia bereaksi

menjadi dingin dan kasar kepada istrinya. Kemudian istri merasa suami yang dingin dan kasar itu menunjukkan suami tidak cinta

kepadanya akhirnya bertendensi untuk berlaku kasar kepada suaminya juga.



Akhirnya jadi lingkaran setan. Suami,

kasihilah istrimu. Bagaimana saya bisa sayang kepada dia yang begitu kasar dan marah-marah melulu? Istri, hormat dan respeklah

kepada suamimu, jangan suka kasar memotong perkataannya. Bagaimana saya bisa hormat kepada dia? Orangnya dingin dan arrogant

sekali. Jadi siapa yang harus lebih dulu memulai? Kalau dua-dua tidak mau memulai, tidak akan bisa dibereskan sampai kapanpun.

Dua inti ini penting. Istri memiliki kebutuhan untuk dikasihi oleh suami dan suami membutuhkan hormat dan respek dari istrinya.

Istri berlaku menjadi tidak hormat karena di belakang dia merasa dia ingin sekali suaminya mencintai dia setulusnya. Suami

mungkin berlaku dingin dan tidak ada kehangatan kepadamu karena di baliknya dia sangat rindu sekali engkau menghargai sedikit

apa yang menjadi pendapat dan penilaian dia. Cuma itu saja.



Mana yang lebih gampang, mengasihi atau menghormati?

Bagi sebagian orang, mengasihi lebih mudah daripada menghormati karena kita sudah dipatok dengan konsep ini, kita bisa

mencintai secara unconditional tanpa pandang bulu, tetapi untuk menghormati seseorang, kita umumnya menaruh kualifikasi untuk

seseorang itu bisa kita hormati. Love is given but respect must be earned. How can I respect my husband? He must earn it.

Karena hormat itu mencakup aspek di mana dia perlu melakukan hal-hal tertentu, dia perlu memiliki sifat dan kualifikasi, baru

dia berhak mendapatkan hormat dan respek dari aku. Itulah yang sehari-hari kita hadapi, betapa susahnya untuk memberikan

penghormatan itu sebab kita sudah terjebak dengan konsep dia harus berusaha mendapatkannya. Maka kita menemukan betapa susahnya

satu hidup pernikahan jika sebagai istri saudara mendapatkan gaji lebih tinggi daripada suamimu dan merasa diri lebih tinggi

daripada dia, bagaimana bisa hormat? Mungkin istri mempunyai bakat dan talenta lebih banyak daripada suami, sehingga saudara

rasa bagaimana bisa tunduk sama dia? Mengajar anak matematika, lebih pintar saya. Dia kalau mengajar, salah

melulu.



Yang kedua, mengapa wanita sulit menghormati suami? Karena takut makin memberi hormat, kepala kita bisa

diinjak suami. Nanti saya dijadikan ‘keset’ rumah tangga. Itu kan realitas dosa, pak, kita baik sama orang, kita kasih hati

dia mau jantung. Kepada suami juga begitu, kita tidak boleh terlalu hormat karena nanti dijadikan keset kaki dia. Ini konsep

yang keliru. Respek tidak berarti istri jadi budak. Respek tidak berarti posisi kalian menjadi tidak equal.



Yang

ketiga, mengapa istri sulit untuk respek kepada suami? Di dalamnya ada unsur kecewa karena istri merasa sudah memberi

kesempatan tetapi suami membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. Sehingga akhirnya respek istri terhadap suami menjadi

turun derajatnya. Itu sebab respek menjadi sulit diberikan pada waktu seorang istri merasa berapa batas dia harus mengampuni

suaminya karena suami salah melulu. Hal-hal seperti ini terus diulang sehingga akhirnya istri jadi kehilangan respek. Jadi

respek mengandung aspek lain yaitu kerelaan untuk menerima suami apa adanya walaupun itu tidak seturut dengan ekspektasi kita.

Sulit luar biasa. Dua orang memasuki pernikahan kadang-kadang dengan high expectation. Kita pikir dengan menikah kita bisa

memiliki hidup yang lebih baik tetapi akhirnya mungkin kita kecewa. Itu sebab kita akan bicara aspek yang lain lagi di dalam

hubungan suami istri di mana pengampunan itu tidak boleh ada batasnya.



Yang keempat, mengapa istri sulit untuk

respek kepada suami? Karena memang wanita itu diciptakan Tuhan memiliki keunggulan daripada pria di mana wanita bisa melakukan

segala sesuatu dan di dalam segala hal punya bakat alamiah, termasuk dalam menjadi pemimpin, sedangkan laki-laki perlu proses

belajar. Itulah susahnya, karena di dalam mengatur dan memimpin rumah tangga dan bahkan hampir di dalam segalanya wanita itu

secara alamiah langsung bisa tanpa perlu diajar. Itu sebab itu kita bisa melihat sejak TK sampai SMP anak perempuan lebih

pintar daripada anak laki-laki, lebih bisa memimpin dan mengatur secara alamiah. Maka kita sering melihat istri yang sangat

pandai, mulai dari memasak, mengurus rumah, merawat anak, bahkan budget keuangan dan mengatur jadwal dan detail liburan begitu

baik, sehingga di sinilah perlu kerelaan hati bagaimana menjadi pendamping. Suami yang akhirnya kalah cepat, akhirnya jadi

kernet. Maka istri yang baik akan melatih suaminya sampai suatu kali

menjadi suami yang cakap dan mahir. Itu artinya

menjadi pendamping. Belajar membiarkan suami berkembang, trust kepada judgment-nya, encourage dia menjadi ayah dan suami yang

mengatur rumah tangga dengan leadership yang baik. Itulah sikap yang penting dari seorang pendamping yang respek dan submit

kepada suami.



Dengar baik-baik firman Tuhan bilang, Hai istri, tunduklah kepada suamimu, bukan, Hai suami,

tundukkanlah istrimu. Itu dua hal yang berbeda. Kalau itu dibalik, kita akan melihat ajang pertikaian yang tidak

habis-habisnya, pergulatan di dunia persilatan yang tidak ada hentinya. Enak saja saya harus tunduk kepada suami. Memang benar,

Alkitab tidak bilang hai suami, tundukkanlah istrimu tetapi hai istri, tundukkanlah dirimu. Jadi inisiatif itu datang dari

istri. Memang itu adalah perintah Tuhan, sehingga kita sekarang melihat relasi istri yang tunduk bukan relasi karena suami

lebih tinggi daripada dia tetapi karena istri sekarang melihat relasi tunduk itu seperti relasi dia kepada Tuhan. It is your

own choice and your own freedom untuk melakukannya dengan sukarela. Jangan pikir saya memaksamu untuk melakukannya dan suami

juga tidak boleh bilang, Istri, ayo tunduk, taat perintah Tuhan.



Saya hanya mengingatkan sebagai seorang istri

Kristen di hadapan Tuhan, it is now between you and God. Itu sebab sikap tunduk merupakan aspek spiritual. Itu bukan soal power

karena tunduk, hormat dan respek bukan soal tarik-tarikan kekuasaan. Tunduk itu merupakan suatu pelayanan spiritual. Mari kita

meletakkan kembali satu prinsip penting menjadi seorang wanita dan sebagai seorang istri di hadapan suami. Istri menjadi

penolong, dan menjadi penolong berarti pernikahan itu tidak berjalan sepihak tetapi suami dan istri menjadi satu team. Di situ

berarti istri menjadi satu team yang mendukung suamimu. Menjadi satu team berarti pernikahan adalah satu tempat di mana kita

saling salib-salib. Istri bukan kepala tetapi juga bukan leher yang bisa atur suami semau dia. It is a spiritual service.

Menjadi pendamping berarti your main ministry to God as a wife is a ministry to your husband and to your children. Jadi melihat

role sebagai istri itu sebagai pelayan Tuhan. Itulah arti kalimat, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.





Jangan lagi lihat bagaimana suami dan berhakkah dia menerima respekmu, tetapi sekarang taruh perspektif pelayanan

ini. Sekarang waktunya untuk menaruh relasi yang indah dan yang bahagia sebagai seorang istri yang tunduk dan hormat kepada

suami.(kz)





Oleh: Pdt. Effendi Susanto,

S.Th.



Sumber:

http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/ 2008/2008/ 11/09/perspektif -dan-role- di-dalam-

pernikahan/



Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio



""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia

melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

(1Sam. 16:7b)

dilihat : 432 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution