Minggu, 16 Desember 2018 03:21:48 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 52
Total pengunjung : 450878
Hits hari ini : 265
Total hits : 4153450
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Teologia Penderitaan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 27 November 2008 00:00:00
Teologia Penderitaan
Topik tentang penderitaan selalu menjadi isu perdebatan sepanjang jaman, karena penderitaan merupakan fakta yang

sangat dekat dengan kehidupan manusia dan menyentuh semua orang tanpa batasan. Para filsuf dan pemikir keagamaan terus bergumul

untuk menjelaskan keberadaan penderitaan dalam hidup manusia. Alkitab sendiri menyinggung beberapa aspek dari penderitaan.

Salah satu yang paling terkenal adalah pergumulan Ayub. Seluruh kitab Ayub ingin menjawab satu isu: mengapa orang saleh

menderita? Asaf pernah memikirkan secara serius tentang kemujuran orang fasik dan penderitaan orang benar (Mzm 73:3-12).

Habakuk pun bingung melihat Allah yang tampaknya tidak berbuat apa-apa untuk menghukum orang-orang fasik sehingga mereka

menjadi semakin banyak dan mengepung orang-orang benar (Hab 1:2-4).



Penjelasan Istilah



Istilah "Teologi

Penderitaan" dipakai dalam dua pengertian. Istilah ini dapat merujuk pada paham yang mengharuskan setiap orang Kristen untuk

menderita selama di dunia supaya memperoleh kekayaan dan kebahagiaan sorgawi. Istilah ini juga seringkali digunakan dalam arti

pandangan Alkitab (konsep teologis) tentang berbagai seluk-beluk penderitaan. Pengertian yang kedua tersebut mencakup diskusi

seputar asal-usul penderitaan, kaitan penderitaan dengan eksistensi Allah (apakah penderitaan membuktikan bahwa Allah tidak ada

atau tidak baik?), tujuan penderitaan dalam perspektif teologi tertentu maupun penjelasan tentang mengapa orang-orang benar

mengalami penderitaan.



Dua pengertian di atas sebenarnya sangat berhubungan. Gaya hidup menderita dan menghindari

semua kesenangan didasarkan pada konsep teologis tertentu tentang penderitaan. Sebaliknya, konsep teologis seseorang tentang

penderitaan akan mempengaruhi cara dia menanggapi penderitaan atau kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam makalah ini fokus

pembahasan hanya diarahkan pada Teologi Penderitaan dalam arti yang pertama. Pengertian yang kedua merupakan topik

teologis-filosofis yang sangat kompleks dan tidak mungkin terjawab dalam satu kali pembahasan.



Penderitaan dalam

Sejarah Gereja



Sejak awal kekristenan penderitaan telah menjadi bagian integral dari kehidupan Yesus, para rasul

maupun gereja mula-mula. Yesus hidup dalam kemiskinan (Luk 2:24; Mat 8:20//Luk 9:58; Mat 17:24-27). Dia ditolak oleh kaum

keluarga (Mar 3:21; Yoh 7:5), orang-orang di kampung halaman (Mat 13:57//Mar 6:4; Yoh 4:44) maupun bangsa-Nya sendiri (Yoh

12:37-41). Hidup-Nya pun berakhir tragis di kayu salib karena kebencian orang-orang Yahudi terhadap diri-Nya. Dia ditolak oleh

milik-Nya sendiri (Yoh 1:11).



Penderitaan ini terus berlanjut pada diri para rasul. Stefanus dan Rasul Yakobus

dibunuh karena iman mereka (Kis 7:54-60; 12:1-2). Petrus, Paulus dan pemberita injil yang lain beberapa kali mendekam di

penjara (Kis 4:3; 12:4-11; Kis 16:23-40; 24:27; Flp 1:12-14). Paulus pernah menjelaskan berbagai macam penderitaan yang dia

alami dalam pelayanan (2Kor 11:23-28). Yohanes diasingkan ke Pulau Patmos (Why 1:9). Menurut tradisi gereja, semua rasul -

kecuali Yohanes - mati sebagai martyr.



Orang Kristen secara umum juga menghadapi ancaman penganiayaan. Kaisar Nero

(54-68 M) mengkambinghitamkan orang Kristen dalam kasus pembakaran kota Roma (yang diyakini banyak orang justru merupakan

inisiatif Nero). Penganiayaan besar lainnya terjadi pada jaman Kaisar Domitian (81-96 M). Antara tahun 100-250 M penganiayaan

menjadi lebih sistematis dan terorganisasi. Penganiayaan yang paling luas terjadi sejak tahun 250 M melalui keputusan kaisar

Decius dan Diocletian.



Salah satu periode sejarah gereja yang penting dan sangat relevan dengan Teologi Penderitaan

adalah kemunculan gaya hidup asketisisme (menjauhi semua kenikmatan dunia) yang tercermin dalam praktek monastisisme

(kebiaraan) mulai akhir abad ke-3 M. Anthony (251-356 M) - yang biasanya disebut sebagai pendiri kebiaraan - pada usia 20 tahun

menjual seluruh hartanya dan membagikannya pada orang-orang miskin. Ia memilih tinggal di sebuah gua di Mesir. Tindakan ini

diikuti oleh orang-orang lain, namun keberadaan mereka tidak terkoordinasi (masing-masing melakukan askestisisme tanpa

keterkaitan satu sama lain secara organisatoris atau hierarkis). Simon the Stylite (390-459 M) mengubur tubuhnya di tanah

sampai leher selama berbulan-bulan. Beberapa seni Kristen kuno (lukisan, pahatan, dsb) periode ini menggambarkan beberapa

tindakan ekstrim dari orang Kristen, misalnya Macarius yang merasa sangat menyesal karena telah membunuh seekor nyamuk. Sebagai

bukti penyesalan, ia hidup di rawa-rawa dan membiarkan dirinya disengat berbagai serangga. Contoh lain adalah seorang pertapa

(biarawan) yang membakar jari-jari tangannya untuk menghindari godaan seksual. Pada periode-periode selanjutnya, praktik

kebiaraan bersifat komunal (hidup bersama sebagai

komunitas dengan peraturan tertentu yang mengikat).



Sumber

ide kehidupan asketis seperti di atas tidak diketahui dengan pasti, sehingga menimbulkan kontroversi di kalangan para sarjana

(C. T. Marshall, "Monasticisme" , Evangelical Dictionary of Theology, ed. by Walter A. Elwell, 728). Beberapa menduga

orang-orang Kristen dipengaruhi oleh pola hidup sekte Yahudi Essenes/Qumran yang sangat saleh, sedangkan yang lain mengusulkan

beragam aliran mistisisme bercorak dualistik Yunani sebagai pemicu lahirnya asketisisme. Pandangan mayoritas sarjana mengarah

pada berbagai faktor yang bersumber dari pola pikir tertentu yang saling berkaitan. Faktor-faktor tersebut antara lain:

(dikembangkan dari Earle E. Cairns, Christianity Through the Centuries, 3rd ed.. 90-93):



(1) Konsep dualisme Yunani

yang menganggap hal-hal materi (termasuk tubuh) jahat dan non-materi (spiritual) baik. Konsep ini semakin berpengaruh seiring

dengan perkembangan ajaran Gnostisisme sejak abad ke-2 M.



(2) Beberapa teks Alkitab yang dianggap mengajarkan

penderitaan, misalnya selibasi (1 Kor 7:8), penjualan semua kekayaan (Mat 19:21//Mar 10:21//Luk 18:22), jalan keselamatan yang

sempit (Mat 7:14). Sebagian sarjana menduga praktik asketisisme dilakukan orang-orang Kristen sebagai bentuk baru dari hidup

yang menderita bagi Kristus, setelah sebelumnya mereka menderita dalam bentuk penganiayaan.



(3) Keinginan untuk

menjauhkan diri dari kenyataan hidup di pusat kota yang cenderung sekuler, tidak teratur dan memberikan banyak godaan (Alister

E. McGrath, Historical Theology, 95). Dekadensi moral tersebut semakin dipicu dengan masuknya kaum barbarian ke dalam gereja

dengan gaya hidup mereka yang semi-kafir.



Pada periode selanjutnya penderitaan tampaknya semakin jauh dari kehidupan

orang Kristen. Kebiaraan tetap berkembang, namun tidak seekstrim pada masa awal kebiaraan. Dominasi politik, ekonomi dan sosial

yang dimiliki para rohaniwan membawa wajah kekristenan yang baru, yaitu kemewahan. Keadaan ini terus berlanjut, apalagi pasca

revolusi kelautan dan industri. Walaupun ada aliran (ordo) kekristenan tertentu yang ingin kembali mempopulerkan konsep dan

praktik penderitaan Kristiani, namun secara umum dapat dikonklusikan bahwa topik penderitaan tidak lagi menjadi isu dominan di

kalangan kekristenan.



Situasi di atas sedikit berubah seiring munculnya kekristenan di negara-negara dunia ketiga.

Keadaan negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin yang relatif sangat miskin serta penganiayaan terhadap orang-orang Kristen

memaksa para pekabar injil Eropa maupun para rohaniwan lokal untuk menafsirkan ulang dan mempopulerkan konsep Alkitab tentang

penderitaan. Kazoh Kitamori (Theology of the Pain of God) dan G. Gutierrez (A Theology of Liberation) adalah dua contoh para

pemikir Kristen yang ingin melihat kemiskinan, penindasan dan penderitaan dari perspektif Alkitab. Kitamori berpendapat bahwa

penderitaan - yang dia percayai bersumber dari Allah yang menderita - merupakan inti dari teologi Kristen. Gutierrez mengambil

sikap yang agak berbeda. Menurut dia orang Kristen tidak hanya dituntut untuk memberitakan kebebasan rohani, tetapi juga

pengentasan kemiskinan dan penindasan.



Evaluasi Terhadap Praktik Asketisisme



Dari penelusuran sejarah

singkat di atas terlihat bahwa sebagian orang Kristen (terutama pada periode kebiaraan) terjebak pada pola hidup mencari

penderitaan. Ada beberapa hal positif yang ditawarkan oleh penganut asketisisme. Tindakan mereka didorong oleh motivasi yang

baik, yaitu hidup kudus/rohani dengan sempurna. Mereka menyadari betapa bahayanya semua kesenangan duniawi (1Yoh 2:16).

Tindakan mereka bisa dikatakan sebagai protes terhadap dekadensi moral yang terjadi di kalangan kekristenan. Mereka mengikuti

Allah tanpa memusingkan keuntungan jasmani yang akan mereka peroleh. Mereka siap menderita apapun demi Kristus. Apa yang mereka

lakukan sangat kontras dengan para pengikut Teologi Kemakmuran yang sudah dibahas dalam makalah

sebelumnya.



Terlepas, dari semua kelebihan tersebut, asketisisme tetap merupakan penyimpangan dari prinsip Firman

Tuhan. Pertama, konsep dualisme bersumber dari konsep tentang Allah yang salah. Beragam bidat kuno yang bersumber dari dualisme

(misalnya Gnostisisme dan Manicheanisme) mempercayai eksistensi dua macam Allah: yang menciptakan hal-hal non-materi dan yang

menciptakan hal-hal materi (biasa disebut Demiurgos). Dalam Alkitab, segala sesuatu - baik yang kelihatan maupun tidak

kelihatan - bersumber dari Allah (Ef 3:9; Kol 1:17; Why 4:11). Allah adalah kudus dan baik, sehingga Dia tidak mungkin

menciptakan sesuatu yang buruk/jahat. Karena segala sesuatu diciptakan oleh Allah, maka semua itu melayani Allah (Mzm 119:91)

dan baik (1Tim 4:4).Alkitab bahkan menjelaskan bahwa tubuh manusia juga ditebus oleh Kristus (1Kor 6:19-20).



Kedua,

teks-teks Alkitab yang dijadikan dasar telah disalahtafsirkan. Dalam 1 Korintus 7:8 Paulus tidak mengajarkan selibasi. Dalam

konteks hubungan seks antara suami-istri, dia justru melarang suami-istri berpisah untuk jangka waktu yang lama. Dia bahkan

menyebut seks sebagai "kewajiban" (ayat 3, thn ofeilhn apodidotw). Kata ini menunjukkan bahwa pasangan suami-istri saling

berhutang secara seksual (Gordon Fee, The First Epistle to the Corinthians, NICNT, 279). Ayat 9 menjelaskan bahwa pilihan

Paulus untuk tidak menikah merupakan anugerah Allah untuk orang-orang tertentu. Hal ini sesuai dengan ajaran Yesus di Matius

19:11-12 yang menyatakan bahwa tidak menikah adalah anugerah Allah.



Teks lain yang disalahtafsirkan oleh penganut

asketisisme adalah perintah Yesus kepada orang muda untuk menjual seluruh kekayaannya (Mat 19:21//Mar 10:21//Luk 18:22). Ayat

ini tidak bertendensi pada asketisisme, karena yang paling penting bukanlah "jual semua milikmu dan berikan pada orang miskin",

tetapi "ikutlah Aku" (D. A. Carson, Matthew, EBC, electr. ed.). Dengan kata lain, Yesus melihat bahwa harta orang muda ini

merupakan penghalang terbesar bagi dia untuk mengasihi Allah dengan penuh totalitas. Perintah ini tidak boleh diaplikasikan

pada setiap orang Kristen sebagai persyaratan kehidupan Kristen yang sempurna. Ketika Zakheus bertobat ia tidak diperintahkan

Yesus untuk menjual segala miliknya. Sebaliknya, ia sendiri yang mengambil inisiatif untuk berbagi dengan orang lain (Luk

19:8). Yesus tidak menuntut beberapa perempuan kaya untuk menjual seluruh milik mereka (band. Luk 8:1-3).



Berkaitan

dengan Matius 7:14, "jalan yang sempit dan sesak" di sini tidak mengajarkan asketisisme. Sesuai dengan konteks yang ada, yang

dimaksud dengan jalan sempit dan sesak adalah karakter pemuridan yang radikal yang dituntut oleh Yesus sesuai dengan

kotbah-kotbah yang sudah disampaikan (Donald A. Hagner, Matthew 1-13, WBC: Vol. 33a, electr. ed.). Dari keseluruhan Kotbah Di

Bukit (Mat 5-7) tidak ada indikasi bahwa pemuridan yang radikal ini mencakup pola hidup asketisisme.



Kelemahan

ketiga dari asketisisme adalah tindakan mengisolasi diri dari dunia. Dunia memang penuh godaan dan kejahatan (1Yoh 2:16),

tetapi orang Kristen tidak boleh menarik diri dari dunia (band. 1 Kor 5:9-10). Walaupun Yesus mengetahui bahwa dunia pasti

membenci murid-murid- Nya (Yoh 17:14), namun Ia tidak berdoa agar mereka diambil dari dunia (Yoh 17:15). Mereka tetap harus

berada di dalam dunia untuk bersaksi dengan pertolongan Roh Kudus (Yoh 15:26-27). Dari sini terlihat bahwa pengikut Yesus tidak

diijinkan untuk berkompromi dengan dunia maupun mencari keamanan dengan cara melepaskan diri dari dunia (D. A. Carson, The

Gospel According to John, PNTC, 565).



Asketisisme juga bersalah dalam hal memahami konsep kerohanian. Bagi para

penganut asketisisme, kerohanian hanya mencakup relasi vertikal antara manusia dengan Allah. Kerohanian hanya dibatasi pada

hal-hal yang "sakral", misalnya doa, meditasi, pembacaan firman, dsb. Konsep seperti ini jelas merupakan penyimpangan dari

ajaran Alkitab. Dalam perspektif Alkitab, segala sesuatu terkait dengan Allah, karena itu tidak ada pembedaan antara yang

sakral dan sekuler (John Stott, Isu-isu Global). Alkitab mengatur tentang berbagai hal, dari pertanian, potongan rambut,

makanan, pekerjaan, dsb. Kerohanian tidak dibatasi oleh waktu, acara dan tempat. Kerohanian yang sejati justru adalah gaya

hidup yang memuliakan Allah. Orang percaya dapat berjumpa dengan "Allah" dalam setiap detil kehidupan (baca R. Paul Stevens,

Down To Earth Spirituality: Spiritualitas Yang Membumi). Paulus bahkan melihat pekerjaan seorang budak sebagai sebuah pelayanan

(Kol 3:22-23). Dia bahkan menyatakan bahwa orang percaya dapat memuliakan Allah melalui makan atau minum atau melakukan apa

saja yang tampaknya "sekuler" (1 Kor 10:31).



Konsep tentang spiritualitas yang salah seperti di atas pada gilirannya

menimbulkan masalah lain lagi. Mereka yang menganut asketisisme cenderung melihat diri mereka lebih rohani dibandingkan

orang-orang lain yang hidup normal di tengah masyarakat. Ketika Paulus membahas ajaran sesat asketisisme Yahudi yang menyerang

jemaat di Kolose (Kol 2:20-22), dia menegaskan bahwa ibadah yang tampaknya penuh kerendahhatian dan menjauhi hawa nafsu

tersebut ternyata justru hanya untuk kepuasan daging (Kol 2:23). Contoh paling jelas adalah masyarakat Qumran yang hidup

mengisolasi diri dari komunitas di Yerusalem. Mereka menganggap diri mereka sebagai orang Yahudi tulen yang lebih rohani dan

benar daripada semua orang Yahudi di Yerusalem.



Kelemahan terakhir, asketisisme tidak sesuai dengan ajaran Alkitab

tentang sukacita jasmani. Salomo mengatakan bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia selain makan, minum dan

bersenang-senang atas segala jerih-payahnya (Pkt 2:23). Yesus sendiri sering menghadiri undangan pesta atau makan-makan (Yoh

2:1-11; Yoh 15:1-3). Dalam perumpamaan- Nya Yesus juga sering memakai gambaran tentang pesta (Mat 22:1-14; Luk 14:7-11, 16-24).

Dia tidak melarang orang untuk mengadakan pesta, sebaliknya Ia menasehati mereka agar mengundang orang-orang miskin (Luk

14:12-14).



Apakah orang Kristen Harus Menderita?



Pertanyaan ini sebenarnya sangat sulit dijawab dengan

gamblang. Di satu sisi Alkitab mencatat beberapa tokoh Alkitab yang secara jasmani tidak menderita. Allah bahkan beberapa kali

menjanjikan kebahagiaan secara jasmani, misalnya memiliki keturunan (Kej 1:28), kemakmuran (Kej 12:1-3), posisi yang dihormati

(Ul 28:13). Beberapa tokoh Alkitab hidup dalam kecukupan jasmani, misalnya Abraham (Kej 12:1-3; 13:1-2; 24:35), Ishak (Kej

26:13), Salomo (1 Kor 10). Dalam Perjanjian Baru beberapa pengikut Yesus adalah orang kaya, misalnya perempuan-perempuan yang

mendukung pelayanan-Nya (Luk 8:2-3), Yusuf Arimatea (Mat 27:57), Matius (Mar 2:14//Luk 5:27) dan Zakheus (Luk 19:1-10) yang

berprofesi sebagai pemungut cukai.



Di sisi lain, Alkitab mengajarkan bahwa penderitaan merupakan bagian integral

dari status sebagai orang Kristen. Syarat mengikut Yesus adalah salib/kematian (Mat 16:24-25) dan meninggalkan segala sesuatu

(Mat 19:21//Mar 10:21//Luk 18:22; Luk 14:26, 33). Pengikut Yesus tidak boleh takut dengan kematian (Mat 10:28; Yoh 12:24-26)

atau penganiayaan (Luk 21:12-19), karena dunia memang pasti akan membenci mereka (Yoh 15:18-21). Yesus beberapa kali mengecam

orang kaya, baik dalam interaksi-Nya dengan mereka (Mat 19:24//Mar 10:25//Luk 18:25; Mar 12:41-44) maupun dalam perumpamaan-

perumpamaan yang Ia berikan (Luk 16:19-31). Ia memperingatkan para pengikutnya untuk mewaspadai ketamakan (Mat 6:19-24; Luk

12:15-21). Ia bahkan menyebut orang-orang miskin (Mat 5:3//Luk 6:20) dan teraniaya (Mat 5:12) sebagai orang yang berbahagia.

Para rasul juga mengajarkan bahwa penderitaan dipakai Tuhan untuk mendatangkan kebaikan (Rom 8:28) supaya orang Kristen semakin

dewasa dan teruji di dalam Tuhan (Rom 5:3-4; Yak 1:2-4; 1Pet 1:7-8).



Apakah dua gambaran Alkitab di atas saling

berkontradiksi? Sama sekali tidak! Apa yang dikecam oleh Alkitab bukanlah kekayaan jasmani pada dirinya sendiri. Uang,

kesehatan dan jabatan adalah sesuatu yang netral. Semuanya adalah milik dan berasal dari Tuhan (1 Taw 29:11-12). Seandainya

materi pada dirinya sendiri adalah jahat, maka Tuhan pasti tidak akan memberikan yang jahat itu kepada Abraham, Ishak, Salomo

dan tokoh Alkitab lain (band. Mat 7:9-10). Kalau materi itu jahat, maka Tuhan tidak akan memberikan perintah kepada umat-Nya

agar memuliakan Dia dengan harta mereka (Ams 3:9).



Inti permasalahan sebenarnya terletak pada konsep (penghargaan)

terhadap materi. Akar segala kejahatan bukanlah uang, tetapi cinta uang (1 Tim 6:10a). Ketika orang hidupnya terfokus pada

materi saja, maka hatinya juga akan ada di sana (Matius 6:21). Orang ini pantas disebut sebagai hamba Mamon (Mat 6:24; Luk

16:13-14; 1Tim 3:3; 2Tim 3:2; Ibr 13:5). Orang muda yang kaya akhirnya tidak mampu mengikuti Yesus karena hartanya terlalu

banyak dan hatinya telah tertambat pada hartanya (Mat 19:22). Orang percaya seharusnya mengarah diri pada hal-hal yang tidak

dapat binasa (Yoh 6:26-27).



Ketika Yesus memberikan perintah kepada murid-murid untuk meninggalkan segala sesuatu -

termasuk harta dan keluarga - hal itu tidak berarti bahwa mereka benar-benar melepaskan dan tidak menggubris hal itu lagi.

Yesus sendiri tetap memperhatikan keluarga-Nya (Yoh 19:27). Ia memperhatikan ibu mertua Petrus (Mat 8:14). "Meninggalkan segala

sesuatu" di sini berbicara tentang prioritas hidup. Pengikut Yesus harus membenci keluarga mereka (Luk 14:26) dalam arti "tidak

mengasihi mereka sampai melebihi kasih kepada Kristus" (Mat 10:37). Pengikut Yesus tidak boleh mengasihi jiwa mereka melebihi

mereka mengasihi Tuhan (Mat 10:28; 16:24-25), tetapi bukan berarti mereka semua harus mati martyr bagi Tuhan (Yoh 21:21-22).

Pendeknya, semua orang Kristen harus menempatkan Tuhan sebagai prioritas pertama dan satu-satunya dalam hidup serta harus

selalu siap apabila semua yang dimiliki diambil dari dirinya.



Kisah Ayub dalam Alkitab merupakan contoh paling bagus

untuk menguji apakah seseorang mengasihi Tuhan melebihi yang lain atau tidak. Ayub adalah orang yang saleh (Ay 1:1, 5). Sesuai

dengan teologi tradisional yang berkembang waktu itu, orang yang saleh selalu diidentikkan dengan kekayaan materi (Ay 1:2-3).

Sesuatu yang krusial terjadi ketika iblis ingin mencobai Ayub. Menurut Allah, kesalehan Ayub bukan didasarkan pada berkat Allah

(Ay 1:8), tetapi iblis meyakini bahwa Ayub mengikuti Allah hanya karena berkat-berkat- Nya (Ay 1:9-11). Kisah selanjutnya

menunjukkan bahwa Ayub mengasihi diri Allah lebih daripada pemberian-Nya. Ia tetap memuji Tuhan sekalipun dia kehilangan

segalanya (Ay 1:21) dan ia tetap tidak bersalah dengan segala yang dia lakukan (Ay 42:7-8).



Penatalayanan

(Stewardship)



Alkitab berkali-kali menyatakan bahwa dunia dan segala yang ada di dalamnya adalah milik Tuhan (Mzm

89:12). Alkitab juga mengajarkan bahwa semua yang orang percaya miliki adalah berasal dari Tuhan (Ul 8:17-18; 1 Taw 29:14, 16).

Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah-payah tidak akan menambahinya (Ams 10:22). Tidak sesuatu yang dimiliki orang percaya yang

tidak mereka terima dari Tuhan (1 Kor 4:7). Bagaimanapun, apa yang diberikan tersebut tetap menjadi milik Tuhan (1 Taw 29:11,

16; 1 Kor 3:21-23), karena orang percaya hanyalah penatalayan (steward).



Sebagai seorang penatalayan seorang percaya

perlu mempergunakan materi tersebut dengan sebaik-baiknya. Mereka perlu memahami alasan atau tujuan Tuhan memberikan materi

kepada mereka. Semua itu harus memuliakan Tuhan (Ams 3:9), karena segala sesuatu adalah dari, oleh dan untuk Allah (Rom 11:36).

Segala sesuatu harus melayani Tuhan (Mzm 119:91). Kekayaan bukanlah sebuah tujuan atau akhir. Kekayaan adalah sarana untuk

melayani Allah. Sebagaimana Allah memberkati Abraham untuk menjadi berkat bagi semua orang (Kej 12:1-3) maupun meninggikan

Yusuf supaya dia dipakai Tuhan untuk memelihara hidup banyak orang (Kej 45:5-7), demikian pula Allah memakai orang percaya

untuk merealisasikan rencana-Nya di dunia melalui apa yang Dia berikan kepada mereka.



Walaupun sebagai penatalayan

orang percaya tetap diberi ruang untuk menikmati apa yang mereka miliki (Pkt 2:21-23; 3:13), tetapi hal itu tetap harus dalam

konteks memuliakan Tuhan. Bagaimana orang percaya dapat menggunakan harta mereka untuk kemuliaan Tuhan? Mereka harus

mendisiplin diri memberikan apa yang harus mereka berikan pada Allah (perpuluhan [Mal 3:10; Mat 23:23] dan persembahan khusus

lainnya [Luk 8:1-3]). Yang kedua mereka harus mengembalikan apa yang menjadi hak kaisar (pajak, Mat 22:17-21). Mereka juga

harus memperhatikan orang-orang sekitar yang membutuhkan. Anggota keluarga (terutama orang tua) adalah sesama manusia yang

perlu mendapat prioritas kasih dari orang percaya (band. Mat 15:4-6; 1 Tim 5:8). Berikutnya adalah saudara seiman (Gal 6:10)

dan orang-orang lain yang kekurangan (Kel 22:22, 24; Ul 10:18; 14:29; 16:11, 14). Pemberian kasih kepada sesama tubuh Kristus

merupakan penerapan prinsip prinsip keseimbangan: yang kuat menanggung yang lemah (2 Kor 8:13-14). Kita perlu mengutamakan

saudara seiman daripada orang luar (Gal 6:10). Orang percaya juga harus mengasihi sesama mereka yang tidak seiman sekalipun

(Mat 5:43-48; Luk 10:29-37).





Oleh : Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M.



Sumber : http://www.gkri-

exodus.org





Profil. Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M. adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia

(GKRI) Exodus, Surabaya. Beliau meraih gelar Sarjana Theologia (S.Th.) dari Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS), gelar

Master of Arts (M.A.) dan Master of Theology (Th.M.) dari International Theological Seminary, USA (President : Rev. Prof.

Joseph Tong, Ph.D. adik kandung Pdt. Dr. Stephen Tong). Beliau juga melayani sebagai dosen di Sekolah Tinggi Theologia Injili

Abdi Allah (STT-IAA) Pacet. Selain itu, beliau juga melayani sebagi dosen di Sekolah Theologia Reformed Injili Surabaya (STRIS)

Ngagel dan Institut Teologi Indonesia (INTI) Surabaya dalam Program M.A. Kepemimpinan Kristen.



dilihat : 292 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution