Sabtu, 21 Juli 2018 08:41:25 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 29
Total pengunjung : 407254
Hits hari ini : 157
Total hits : 3713096
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Diskusi SKK FISIP Universitas Airlangga: 'Dietrich Bonhoeffer






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 27 November 2008 00:00:00
Diskusi SKK FISIP Universitas Airlangga: 'Dietrich Bonhoeffer
Untuk kesekian kalinya,

Sie Kerohanian Kristen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (SKK Fisip Unair) menyelenggarakan kegiatan

diskusi terkait wacana-wacana kekristenan dipandangan dari perspektif keilmuan sosial dan politik. Dan Diskusi yang

diselenggarakan pada hari Jum'at (21/11) ini mengambil tema 'Dietrich Bonhoeffer', sebagai seorang teolog yang juga

menceburkan dirinya dalam ranah perjuangan politik.



Tidak seperti biasanya, diskusi kali ini tidak hanya

diikuti oleh mahasiswa kristen di lingkungan FISIP, tapi juga mengundang teman-teman persekutuan doa dari Fakultas TI ITS.

Tercatat ada enam mahasiswa dari Fakultas TI yang datang untuk ikut menyumbangkan pemikiran-pemikiran mereka sebagai mahasiswa

Kristen. Pembicara kali ini juga tidak hanya berasal dari SKK, tapi juga dari ITS, yaitu Hendra Sipayung yang juga berstatus

sebagai Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Surabaya.



Pada kesempatan pertama, Hendra sebagai

pembicara pertama, menyampaikan sejarah kehidupan Bonhoeffer sampai kepada kisah perjuangannya sebagai oposisi dari kekuasaan

Hitler dengan NAZI-nya yang saat itu mencengkeram seluruh Jerman. Hendra juga mengambil poin-poin penting dari semangat

perjuangan Bonhoeffer untuk dijadikan sebagai cerminan perjuangan umat Kristen di Indonesia.



Pembicara kedua, Santo,

lebih banyak menyoroti perdebatan teologis dibalik keputusan Bonhoeffer untuk ikut terjun langsung dalam kericuhan politik saat

itu. Apalagi posisi Bonhoeffer yang berdiri sebagai oposisi kekuasaan Hitler yang terkenal dengan dengan antisemitisme-nya,

secara langsung akan menimbulkan risiko kehilangan nyawa. Selain itu, juga pertaruhan status teolog yang kemudian ikut 'angkat

senjata' untuk melawan tirani yang berkuasa, bisa kita bandingkan seperti keputusan Gustavo Gutierrez dan para teolog

pembebasan lain di Amerika Latin. Apalagi, hampir semua elemen gereja Jerman saat itu sudah tunduk dan diam pada kekuasaan

Hitler.



Secara umum, tema utama perjuangan Bonhoeffer, adalah berusaha menerjemahkan 'Who is Christ for us today?'

Pertanyaan yang mengandung aspek kontekstual ini ternyata bukan hanya dijadikan Bonhoeffer sebagai bahan tulisan dalam

karya-karya besarnya seperti 'Sanctorum Communio' atau 'Act and Being', dan tak lupa 'Letter from Prison' maupun

'Ethics" yang belum selesai. Pertanyaan itu ternyata juga dilakukan Bonhoeffer dalam menempatkan dirinya dalam kehidupan

politik dan perjuangannya yang dibayar mahal dengan kehilangan nyawanya pada umur 39 tahun.



Kontroversi sosok

teolog kelahiran Breslau, 4 Februari 1906 ini semakin menambah perdebatan teologis ketika Bonhoeffer juga menyentuh aspek-aspek

pengajaran teologis dalam perjuangannya. Konsep-konsep yang diperkenalkan Bonhoeffer, seperti 'Costly Grace-Cheap Grace',

'Theology Act-Theology Being' maupun konsep 'Religionless Christianity' yang tak kalah kontroversialnya selalau menjadi

perdebatan menarik dikalangan para teolog sampai saat ini. Kritik terhadap bentuk teologi a la Bonhoeffer yang terlalu

sosiologis juga diungkap yang kemudian dikaitkan dengan pengajaran Karl Barth yang dituduh terlalu politis.



Diskusi

yang kemudian semakin panas menyoroti bagaimana kondisi umat dan gereja Kristen di Indonesia dikaitkan dengan paradigma

Bonhoeffer ini terpaksa harus ditutup oleh Kornelius, sebagai moderator, karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB.

Kesimpulan dari diskusi ini mungkin sulit untuk ditarik secara garis besar karena sangat luasnya ruang lingkup diskusi ini.

Tapi semangat serta pokok-pokok perjuangan dari Bonhoeffer ini dalam menginterpretasikan 'Who is Christ for us today?'

diharapkan mampu membangkitkan kembali kepedulian politik dari seluruh unsur-unsur umat Kristiani dalam konteks Negara Kesatuan

republik Indonesia sekarang.



(sav)

dilihat : 327 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution