Selasa, 25 September 2018 05:57:46 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 223
Total pengunjung : 423033
Hits hari ini : 3243
Total hits : 3898177
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pahala Untuk Pekerja yang Berkenan Di Hati Allah






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 13 November 2008 00:00:00
Pahala Untuk Pekerja yang Berkenan Di Hati Allah
Nats: Matius

25:14-30



Sebelum menceritakan perumpamaan mengenai talenta, Tuhan Yesus terlebih dulu menceritakan tentang sepuluh

gadis. Di dalam perumpamaan ini ada lima gadis bijak dan lima gadis bodoh. Yang bijaksana mengetahui apa yang harus dilakukan,

dan akhirnya mereka dapat mengikuti perjamuan pernikahan. Tetapi yang bodoh hanya berdiri di depan pintu yang sudah tertutup.

Meskipun mereka memohon supaya pintu dibuka, tetapi jawaban dari dalam "Aku tidak mengenal engkau."



Setelah

menceritakan perumpamaan ini, Tuhan Yesus menutup dengan suatu peringatan bagi setiap orang. Dia berkata "karena itu

berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari dan saatnya." Kita tidak tahu kapan Yesus akan datang, tetapi kita harus

berjaga-jaga dan melakukan apa yang Tuhan mau kita lakukan. Tujuannya agar di dalam mengerjakan pekerjaan yang Tuhan berikan

kita tidak melakukannya dengan santai. Kita harus setia mengerjakannya sambil menantikan kedatangan-Nya. Kita juga perlu

bekerja sama dengan sesama rekan kerja. Kita jangan hanya mementingkan diri sendiri, status atau jabatan. Di dalam melaksanakan

kehendak-Nya, Tuhan menghendaki agar kita bergandeng tangan melakukannya.



Setelah itu Tuhan Yesus membicarakan

mengenai pembagian talenta. Mengapa Tuhan membicarakan perumpamaan ini? Tuhan ingin setiap kita, sebagai hamba-Nya, menjadi

hamba yang dapat menyenangkan hati Tuhan, supaya kita menjadi hamba yang diberkati oleh Tuhan, dan yang akhirnya menerima

pahala yang Tuhan sediakan bagi kita.



Pertama, tuan itu memanggil hamba-hamba- Nya. Perumpamaan ini mengatakan bahwa

ada seorang tuan yang akan pergi ke luar negeri. Ia memanggil hamba-hambanya, dan menyerahkan harta bendanya kepada mereka.

Jika kita memperhatikan di dalam bahasa aslinya, tuan ini memanggil hambanya dan menyerahkan hartanya bukan kepada satu atau

beberapa hamba, tetapi kepada semua hamba. Jadi tidak ada seorang hamba pun yang tidak mendapatkan sesuatu. Ada yang mendapat

banyak dan ada yang sedikit. Mereka dipercaya oleh tuannya. Dengan demikian mereka seharusnya setia dan mengerti apa yang

dikehendaki tuannya.



Adalah suatu konsep dan pengertian yang tidak benar, jika kita berpendapat bahwa Tuhan

memberikan karunia, talenta, dan bakat hanya kepada hamba khusus, tetapi tidak kepada aku. Kepada setiap hamba-Nya Tuhan

memberi talenta, bakat karunia, supaya dapat melayani-Nya. Janganlah menganggap diri sendiri sebagai hamba yang tidak punya

karunia apa pun. Jangan menggolongkan diri di dalam lingkungan hamba yang menganggap "aku tidak memperoleh sesuatu dari Tuhan,

itu sebabnya aku tidak bertanggung jawab."



Tuhan tidak mempunyai hamba yang kepadanya tidak diberikan karunia. Yang

penting adalah kita harus sadar karunia apa yang Tuhan berikan, memakainya untuk melayani Tuhan, dan bukan untuk mencari

keuntungan diri sendiri. Kita juga harus bertanggungjawab terhadap apa yang Tuhan berikan, dan melakukannya dengan penuh

kesetiaan, dan dengan segala usaha melakukan yang terbaik bagi Tuhan. Tuhan memberikan karunia, bakat dan tanggung jawab kepada

kita yang disebut-Nya sebagai hamba.



Kedua, Tuhan memberikan harta menurut kesanggupan mereka. Tuhan memberikan

karunia menurut kesanggupan kita atau menurut kehendak-Nya sendiri. Ada dua hal penting di sini, pertama, oleh karena ia adalah

tuan, maka ia memiliki otoritas, kedaulatan. Ia memberi berapapun berdasarkan kedaulatan-Nya. Tuan melihat apa yang terbaik

bagi hamba-Nya. Oleh karena itu sebagai hamba, kita perlu mengucap syukur, "Tuhan terima kasih Engkau mempercayakan itu

kepadaku. Meskipun sedikit, aku mengucap syukur kepadamu, dan melakukannya dengan sebaik mungkin." Kedua, kesanggupan dan

tanggung jawab itu sama seimbang. Tuhan memberikan pekerjaan, Tuhan juga memberikan kesanggupan. Tuhan memberikan tanggung

jawab, Tuhan juga memberikan kekuatan agar dilakukan dengan baik.



Ada sebagian orang berusaha mendapatkan kedudukan

yang lebih tinggi, ingin mendapat jabatan yang lebih tinggi, tetapi tidak melihat kesanggupan dirinya. Jika kita memaksakan

diri untuk mendapatkan jabatan yang melampaui kesanggupan kita, maka kita pasti gagal. Oleh sebab itu, kita harus memohon

kepada Tuhan, melihat apa yang Tuhan serahkan kepada kita dan melakukannya sesuai kehendak-Nya. Di lihat dari sudut yang lain,

hal ini menunjukkan bahwa kalau kita mendapat suatu kewajiban dari Tuhan, meskipun kadang-kadang kita merasa tidak ada kekuatan

untuk melakukannya, kita harus yakin Tuhan akan memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga kita dapat melakukannya dengan

baik. Ia ingin kita melakukannya dengan senang dan rajin. Asal kita bersandar kepada anugerah Tuhan, dengan kemampuan yang

Tuhan berikan dan melakukan yang terbaik bagi Tuhan, maka Tuhan akan menolong.



Mungkin kita sudah capek, tawar hati,

merasa tidak ada kekuatan untuk melanjutkan pelayanan, kita perlu melihat kembali apakah pelayanan ini adalah pelayanan yang

Tuhan serahkan kepada kita. Apakah pekerjaan ini adalah pekerjaan yang Tuhan kehendaki? Jikalau ya, kita tidak perlu takut,

sebab Ia akan menolong kita. Tuhan tidak akan memberikan tanggung jawab melebihi kemampuan kita. Yang penting adalah kita

mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan, melakukan dengan baik, dan tidak bersandar kepada kemampuan kita, tetapi atas

anugerah Tuhan dan kekuatan yang akan Tuhan berikan. Kita harus sadar bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan sehingga kita dapat

memuliakan Dia.



Ketiga, hamba Tuhan yang berkenan di hati Tuhan akan mendapatkan pahala. Dikatakan bahwa hamba yang

menerima lima talenta itu segera pergi menjalankan uang itu. Yang menerima talenta tidak pasif. Ia segera pergi menggunakan

talenta yang diberikan. Demikian juga yang menerima dua talenta, ia segera mengerjakannya. Ini artinya, seorang hamba Tuhan

harus memiliki inisiatif untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Ia tidak pasif, tunggu diperintah, disuruh, didorong, tetapi

berinisiatif melakukan sesuatu untuk Tuhan yang menyerahkan pelayanan itu kepada kita.



Hamba yang menerima lima

talenta mendapat untung lima. Hamba yang menerima dua mendapatkan untung dua. Tetapi pujian yang diberikan tuannya kepada

mereka adalah sama. Pahala yang diberikan juga sama. Tuannya berkata "apa yang engkau lakukan itu baik, hai hambaku yang baik

dan setia, masuklah, nikmatilah." Mereka masuk dan menikmati kesenangan dari tuannya. Tuannya berkata well done artinya engkau

telah mengerjakan dengan baik.



Saudara-saudara yang pernah belajar di luar negeri, kalau membuat sebuah paper dan

paper itu menyenangkan dosennya, maka di atas paper itu akan ditulis well done, sebab paper tersebut baik dan bagus. Sang dosen

merasa puas, sebab murid yang diajarkannya begitu bagus. Hari ini, jika kita melakukan pelayanan, apakah Tuhan akan berkata

"well done hamba-Ku, engkau sudah melakukan yang terbaik yang menyenangkan hati-Ku." Seorang hamba mengerti isi hati tuannya,

mengerti apa yang diminta tuannya, dan melakukan sesuai dengan apa yang dikehendaki tuannya. Yang menyenangkan tuannya hanya

satu, yaitu baik dan setia. Hamba tidak memikirkan diri sendiri, tetapi yang dikehendaki tuannya. Meskipun kedua orang tersebut

memiliki kesempatan kerja yang mungkin berbeda, cara kerja yang mungkin juga berbeda, tetapi mereka adalah hamba yang baik dan

setia.



Saudara-saudara yang melayani di pedalaman, mungkin kesempatannya tidak sama dengan yang di Jakarta. Mungkin

cara pekerjaannya tidak sama, tetapi Tuhan ingin satu hati, yaitu baik dan setia, mengerti isi hati Tuhan, melakukan sesuai isi

hati Tuhan. Maka saudara-saudara pasti akan menerima pahala dari Tuhan.



Di dalam kitab Wahyu 2:8-11, Tuhan Yesus

menyuruh Yohanes menulis surat kepada gereja Smirna. Dikatakan "Aku mengetahui keadaanmu." Mereka berada di dalam kesulitan,

kemiskinan dan fitnahan, tetapi mereka menerima pujian, karena setia sampai mati. Karena itu, Allah memberikan pahala kepada

mereka, yaitu mahkota kehidupan. Mahkota ini diberikan juga kepada setiap hamba yang setia dan menyenangkan

hati-Nya.



Di dalam sejarah gereja, ada suatu masa di mana gereja menghadapi penganiayaan yang besar. Banyak anak dan

hamba Tuhan yang mati syahid. Di Roma ada seorang majelis gereja yang dipanggil oleh pemerintah. Ia diperintah menyerahkan

segala harta benda gereja kepada pemerintah. Majelis ini pulang, tetapi ia tidak kembali dan menyerahkan harta tersebut. Ia

malah membagi-bagikannya kepada orang miskin dan tua. Ia melakukan semuanya ini, karena ia sadar apa yang Tuhan

inginkan.



Pemerintah tidak senang dengan apa yang dilakukannya. Ia dipanggil, ditangkap, dianiaya, dipukul, sampai

tulang tangan dan kakinya patah, tetapi ia memuji dan memuliakan Tuhan. Mereka merasa siksaannya kurang keras, akhirnya ia

dipanggang seperti panggang ayam. Ia ditaruh di atas lempengan besi yang di bawahnya diberi api. Betapa ia menderita. Tetapi ia

tetap setia dan tidak mau menghujat nama Tuhan. Ia tetap menyanyi memuliakan Tuhan, sehingga mereka merasa orang ini sudah

sinting. Majelis ini tetap etia sampai mati. Banyak orang melihatnya, lalu mereka percaya kepada Tuhan. Setia sampai mati,

meskipun tidak melihat pahala yang akan didapatkan. Namun pada saat bertemu Tuhan, kita akan mendapatkan pahala, yaitu mahkota

kemuliaan yang Tuhan sediakan.



Kita sering kali hanya melihat pada penampilan luar. Melihat seseorang berhasil atau

gagal menurut penampilannya. Misalnya, kalau gerejaku orangnya banyak, itu berhasil. Kalau khotbahku didengar orang banyak dan

mereka senang, itu berhasil. Sebaliknya, tidak berhasil kalau banyak orang tidak senang terhadap khotbahku. Jika orang tidak

senang, bukan berarti kita gagal. Contoh Stevanus, ketika berkhotbah, ia menceritakan riwayat Israel sampai riwayat Tuhan

Yesus. Tetapi yang diperolehnya batu. Orang banyak melemparinya dengan batu. Akhirnya ia mati. Apakah ia gagal? Tidak, Stevanus

berhasil. Ketika ia melihat ke langit, ia melihat kemuliaan Anak Manusia yang menyambut hamba-Nya yang setia.



Kita

jangan melihat penampilan luar saja. Yang penting apakah kita setia, setia sampai mati. Apakah di tempat yang Tuhan tempatkan,

kita setia melayani-Nya? Apakah aku telah menjadi hamba yang setia melakukan apa yang Tuhan inginkan? Tuhan berkenan kepada

hamba-Nya yang setia.



Dalam perumpamaan itu juga dikatakan, ketika tuannya kembali dan mengadakan perhitungan,

hamba-hamba itu memberikan laporan kerjanya. Dua hamba yang menerima 5 dan 2 talenta tidak mengatakan "Tuhan lihatlah

keberhasilanku, Tuhan lihatlah betapa hebatnya aku." Sebaliknya mereka berkata "tuan, 5 talenta yang tuan percayakan

kepadaku..." artinya hamba ini mengakui bahwa ia dapat melakukan sesuatu karena tuannya telah terlebih dahulu memberikan

sesuatu kepadanya.



Apakah kita juga mempunyai sikap yang demikian? Kita dapat melakukan sesuatu bukan karena kita

hebat, bukan pula karena kita mampu, tetapi karena Tuhan terlebih dahulu memberi sesuatu kepada kita. Jika kita sadar bahwa

Tuhan memberikan sesuatu dan kita dapat melakukannya, yang perlu kita lakukan hanyalah mengucap syukur "Tuhan terima kasih,

Engkau mempercayai aku, mau memakai aku, dan memberiku kemampuan untuk melakukannya". Tuhan menghendaki agar kita, dengan setia

melakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan. Setia, setia, setia sampai bertemu dengan-Nya. Pada waktu itu kita akan menerima

pujian yaitu, pahala dari Tuhan.



Keempat, hamba yang ditegur oleh tuannya. Dikatakan bahwa hamba yang menerima satu

talenta tidak segera menggunakan uangnya, tetapi menimbunnya. Ia menyembunyikan talenta yang diberikan tuannya. Ketika tuannya

kembali, tidak ada sesuatu yang dapat ia banggakan yang bisa diserahkan. Ia hanya mengembalikan uang yang satu talenta

tersebut. Mengapa ia tidak melakukan? Ada yang mengatakan "yah ia tidak dapat disalahkan, karena uang satu talenta dapat

digunakan untuk apa." Apakah karena satu talenta, ia tidak dapat melakukan sesuatu? Perhatikan, ia tidak melakukan sesuatu

bukan karena mendapatkan lebih sedikit dari orang lain. Tetapi ada dua sebab: pertama, ia berkata "aku takut". Karena takut, ia

tidak berani melakukan sesuatu. Karena takut, maka ia diam, tidak berani mengambil resiko. Apakah ia tidak tahu uangnya boleh

ditaruh di bank, dan bisa mendapatkan bunga? Ia tahu. Apakah ia tidak tahu mempergunakan uang itu dan mungkin bisa mendapatkan

keuntungan? Ia juga tahu, tapi karena takut, maka ia tidak melakukan sesuatu.



Mungkin ada hamba Tuhan seperti hamba

ini. Tuhan telah memberikan kesempatan-kesempat an supaya dapat melakukan sesuatu bagi Tuhan. Tetapi, karena takut menderita,

pelayanan tidak berhasil, tidak dipuji bahkan dicela, dan takut mengambil resiko, ia tidak berani mengerjakan pekerjaan Tuhan.

Ketakutan membuat seseorang, termasuk hamba Tuhan tidak menggunakan apa yang Tuhan berikan untuk melayani-Nya. Demikian juga

banyak gereja takut, takut keluar uang, takut rugi. Banyak orang Kristen pemikirannya seperti pedagang. Melakukan pelayanan

Tuhan harus untung, kalau tidak untung tidak mau. Takut rugi membuat mereka tidak berani melakukan pekerjaan Tuhan. Apakah

karena takut, kita tidak mau melayani Tuhan? Apakah karena takut, kita tidak berani melangkah melakukan sesuatu bagi

Tuhan?



Sebab kedua, ia mempunyai prasangka terhadap tuannya. Prasangkanya sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran.

Saya tidak tahu darimana ia mendapatkan pemikiran seperti itu. Dan mengapa ia terus mempertahankan konsep yang salah itu. Jika

tuannya datang melakukan perhitungan, ia dengan konsepnya yang salah, juga akan memberikan jawaban yang salah. Ia berkata "tuan

aku tahu, tuan adalah manusia yang kejam, yang tidak menabur tetapi menuai, tidak menanam tetapi memungut." Kejam sekali

bukan.



Hamba ini tidak mau melakukan sesuatu. Ia mencari alasan untuk membenarkan apa yang dilakukannya. Apakah

tuannya menerima alasan yang diberikan? Tuannya dengan tegas mengatakan "hai, kamu adalah hamba yang jahat dan malas." Tuannya

menegur dia dengan kata-kata yang berdasarkan perkataan hamba itu sendiri. Hamba ini tidak mau bekerja, karena ia malas dan

jahat. Kalau hatinya tidak jahat, ia tidak ada pemikiran yang menganggap tuannya jahat. Karena hatinya terlebih dahulu jahat,

maka ia menganggap tuannya juga jahat. Jika ia bukan orang yang malas, saya yakin ia tidak akan mencari-cari alasan untuk

membenarkan diri, memaafkan diri, dan untuk menyatakan bahwa ia tidak bekerja itu benar. Apakah kita sudah tawar hati, tidak

berani lagi bekerja bagi Tuhan, tidak ada kekuatan lagi untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan? Marilah mengintrospeksi diri di

hadapan Tuhan. Janganlah seperti hamba ini, yang ditegur oleh Tuhan "hamba yang malas dan jahat." Tetapi jadilah hamba yang

setia yang mau melayani Tuhan. Kita harus belajar seperti hamba yang setia dan baik itu, yang mengerti isi hati Tuhan, dan mau

melakukan sesuai dengan isi hati Tuhan.



Marilah kita mempersembahkan diri, "Tuhan inilah aku, pakailah aku. Meskipun

menurut pandangan manusia aku ini kecil, tidak banyak yang dapat aku lakukan dan tidak mampu melakukan pekerjaan yang besar,

tetapi aku rela mempersembahkan diriku melakukan apa yang Tuhan ingin aku lakukan. Meskipun kecil, aku tetap ingin setia

melakukannya. " Jika kita dengan setia melakukan semuanya itu, maka setelah menyelesaikan perjalanan kita di dunia ini, maka

Tuhan akan berkata: "hai hambaku yang baik dan yang setia, masuklah, nikmatilah kesenangan tuanmu." Jangan melihat, mengeritik,

dan mencela orang lain, tetapi marilah melihat diri kita. Apakah aku dapat disebut sebagai hamba Tuhan yang baik dan setia?

Apakah aku mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya? Orang lain tidak mengetahui keadaan kita. Tetapi marilah kita jujur di

hadapan Tuhan, jangan menipu diri sendiri. Kalau kurang setia, kita mohon ampun "Tuhan tolonglah aku agar aku dapat menjadi

hamba yang setia, yang menyenangkan hati dan memuliakan Tuhan."



Apakah kita bisa disebut sebagai hamba yang baik dan

setia? Di dalam menyambut kedatangan Tuhan, kita harus menjadi hamba yang baik dan setia. Pada waktu bertemu dengan Tuhan, kita

dengan sukacita dapat berkata "Tuhan terima kasih, apa yang Engkau berikan kepadaku, dengan pertolongan- Mu aku sudah

melakukannya. " Pada saat itu Tuhan akan berkata, "Well done, apa yang engkau kerjakan sangat bagus, menyenangkan

hati-Ku."



Meski menderita, tidak disukai dan dibenci rekan sendiri, dan tetap melakukan kehendak-Nya, pada saat itu

Tuhan menyambut "hamba-Ku masuklah, nikmatilah kesenangan di dalam Tuhan." Inilah yang harus menjadi pengharapan kita, yang

harus kita kejar. Bukan pujian manusia dan kenikmatan dunia, yang lebih penting adalah pujian dari Tuhan dan pahala yang

disediakan-Nya untuk kita. Kiranya Tuhan menolong agar kita menjadi hamba-Nya yang baik dan setia sampai Dia datang, dan kita

akan berjumpa dengan Dia dengan penuh ucapan syukur.





Oleh: Pdt. Albert Konaniah, D.Miss.



Sumber:

Situs Gereja Pemberita Injil (GEPEMBRI)





Profil Pdt. Dr. Albert Konaniah:

Pdt. Albert Konaniah, D.Miss.

adalah Rektor Kehormatan dan dosen Theologi Sistematika dan Misiologi di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau

menyelesaikan studi Doctor of Missiology (D.Miss.) di Reformed Theological Seminary, U.S.A.



""Bukan yang dilihat

manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

(1Sam. 16:7b)

dilihat : 312 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution