Sabtu, 20 April 2019 09:16:30 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 148
Total pengunjung : 493807
Hits hari ini : 1815
Total hits : 4541350
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Rasa Kehormatan dan Martabat bagi Perempuan Pakistan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 21 Oktober 2008 00:00:00
Rasa Kehormatan dan Martabat bagi Perempuan Pakistan
Layyah, Pakistan – Naila,

gadis berusia 13 tahun yang tinggal di sebuah desa di bagian selatan Punjab, lulus kelas 6 sekolah dasar dan menerima sebuah

lamaran pernikahan dari seorang bocah laki-laki tetangga yang berasal dari keluarga berada. Ayahnya, seorang penjaja dagangan

pada sebuah perhentian bus lokal, menolak lamaran itu dengan alasan bahwa anak laki-laki tersebut berasal dari marga berbeda

dan juga pengangguran.



Penolakan, di tempat di mana keluarga dan kerabat merupakan pertimbangan utama dalam

menentukan pernikahan, bukanlah hal yang tidak biasa. Tetapi bagi Naila keputusan ini menentukan nasibnya. Setelah penolakan

ayahnya atas lamaran tersebut, ketika suatu hari ia pulang dari sekolah, Naila menjadi korban dari sebuah serangan asam.

Pelakunya – remaja laki-laki yang sama yang telah melamarnya – melemparkan asam ke wajahnya, yang menyebabkan hidup dan masa

depannya dalam bahaya.



Sayangnya, insiden-insiden seperti yang satu ini mewarnai cara dunia melihat Pakistan, yang

menciptakan citra sebuah negara yang tidak menghormati perempuan dan yang membiarkan hukum rimba yang menyebabkan penderitaan

fisik terhadap perempuan remaja dan dewasa, malah terkadang kematian, atas nama martabat keluarga – dan bahkan

agama.



Menurut perkiraan organisasi hak-hak asasi manusia Ansar Burney Trust, “Sebanyak 70 persen perempuan di

Pakistan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan ini dapat mulai dari pemukulan, kekerasan atau siksaan seksual,

hingga tulang patah dan luka yang sangat serius yang disebabkan oleh serangan asam atau pembakaran korban

hidup-hidup.”



Dalam perkataan pengacara terkemuka dan aktivis hak-hak asasi manusia Hina Jilani, “hak hidup

perempuan di Pakistan bergantung pada kepatuhan mereka terhadap norma-norma sosial dan tradisi.”



Bagimana ini bisa

terjadi, khususnya di zaman informasi yang tersebar luas dan kampanye di seluruh dunia bagi emansipasi perempuan? Dalam banyak

kasus para pelakunya adalah laki-laki remaja atau dewasa, yang menghancurkan masa depan perempuan-perempuan yang menolak

menikahi mereka atau pasrah pada serangan-serangan seksual mereka.



Untungnya, beberapa LSM di wilayah tersebut

sedang melakukan pekerjaan untuk meningkatkan kepekaan masyarakat mereka tentang kekerasan terhadap perempuan melalui kampanye

kesadaran dan proyek-proyek lain. Yayasan Tersenyum Lagi Depilex, Asosiasi Korban Asam Selamat, Bantuan Aksi, Dewan Muda Sosial

Patriot dan organisasi-organisasi lain seperti itu di berbagai bagian Pakistan sedang membantu para korban asam atau serangan

siraman bensin, memberikan mereka dengan operasi rekonstruktif cuma-cuma, rehabilitasi, dan pelatihan kerja.



Tujuan

pemberdayaan perempuan, dengan kehormatan dan martabat yang mereka bawa sejak lahir, dapat dicapai melalui langkah-langkah

hukum, aksi nasional dan kerja sama internasional dalam bidang-bidang seperti pembangunan ekonomi dan sosial, pendidikan, dan

dukungan sosial.



Di bawah hukum Qisas dan Diyat Pakistan ditegaskan bahwa kasus-kasus ganti rugi bagi pidana

kekerasan akan dikompensasi seusai hukum Pakistan, pelakuknya harus menderita nasib yang sama seperti korban. Bangladesh,

negara lain yang bergulat dengan isu-isu serupa, memperkenalkan hukuman mati bagi para pelaku serangan-serangan asam dan

meloloskan undang-undang pada tahun 2002 yang membatasi penjualan asam.



Tetapi semua perundang-undangan ini tidak

menghilangkan tindak pidana asam, yang terus terjadi sebagian karena ketidakefisienan penegakan hukum lokal. Keacuhan negara,

undang-undang yang berat sebelah dan bias jender dari banyak kalangan kepolisian dan lembaga peradilan negara boleh dibilang

telah memastikan kekebalan bagi para pelaku kekerasan terhadap perempuan.



Akhirnya apa yang dibutuhkan adalah sebuah

perubahan dalam cara pandang tradisional yang terpatri dalam masyarakat Pakistan untuk menghormati dan menuntut kesamaan hak

bagi perempuan.



Dalam kasus Naila, setelah berpindah-pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, ia dan kedua

orang tuanya menghubungi Masyarakat Sejahtera Pakistan (PWS) yang, dengan bantuan Asosiasi Korban Asam Selamat di Islamabad,

memberikannya perawatan medis penuh dan bantuan penyembuhan trauma.



PWS juga mendirikan cabang Bantuan Hukum di

kabupaten Layyah Punjab untuk memberikan bantuan hukum bagi para korban serangan asam dan kekerasan rumah tangga. PWS menuntut

kasus Naila hingga ke pengadilan yang menyebabkan putusan hukuman 15 tahun bagi pelaku kejahatan dan ganti rugi uang bagi

korban.



Tetapi dengan membantu satu orang, walaupun penting artinya, hanya mengatasi gejala-gejala bias dan

ketidaksetaraan jender. Akar-akar penyebab juga harus diatasi agar serangan-serangan asam menjadi bagian dari masa lalu, dan

gadis-gadis seperti Naila tidak perlu lagi mencari pertolongan.



###



* Muhammad Hayat adalah seorang

aktivis hak-hak asasi manusia yang bekerja untuk Masyarakat Sejahtera Pakistan di Layyah, provinsi Punjab Pakistan. Artikel ini

ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

dilihat : 428 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution