Minggu, 16 Desember 2018 01:38:00 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 25
Total pengunjung : 450850
Hits hari ini : 70
Total hits : 4153255
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Baptisan Anak






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 22 September 2008 00:00:00
Baptisan Anak
Baptisan Anak-1



Ada sejumlah orang yang menimbulkan kehebohan di dalam gereja berkenaan dengan

baptisan anak-anak. Dengan sombong mereka mengatakan bahwa baptisan ini tidak memiliki dasarnya sebagai institusi Allah, tetapi

dimasukkan kemudian semata-mata berdasarkan ide manusia. Tentu kita menyetujui bahwa suatu sakramen yang tidak berdiri di atas

dasar Firman Tuhan, tidak akan mempunyai kekuatannya. Tetapi bagaimana kalau setelah diperiksa, ternyata tuduhan yang

dilontarkan terhadap institusi yang kudus ini hanyalah fitnah yang tidak beralasan.



Inilah jawaban kita. Pertama,

ajaran yang sudah diterima baik di antara orang-orang saleh ialah pandangan yang tepat mengenai tanda-tanda tidak terletak

hanya pada segi lahiriah dari upacara itu, tetapi terutama terletak pada janji dan rahasia-rahasia (kebenaran-kebenaran) rohani

yang digambarkan oleh upacara yang diperintahkan oleh Tuhan itu. Alkitab menyatakan bahwa baptisan pertama-tama menunjuk kepada

pembersihan dari dosa, yang kita peroleh dari darah Kristus; selanjutnya ialah pematian kedagingan, yang didasarkan pada

keikutsertaan kita dalam kematian-Nya yang melaluinya kita dilahirkan kembali untuk memperoleh hidup yang baru dan persekutuan

dengan Kristus. Inilah intisari ajaran Alkitab tentang baptisan; yang ada di luar itu hanyalah suatu tanda yang menyatakan

kepercayaan kita di hadapan orang-orang.



Sebelum baptisan ditetapkan, umat Allah telah memiliki sunat. Ketika

menyelidiki perbedaan dan kesamaan antara kedua tanda ini, terlihatlah hubungan anagogi keduanya, maksudnya, sunat

mengantisipasi baptisan. Janji yang diberikan Allah kepada para bapa leluhur dalam sunat, juga diberikan kepada kita dalam

baptisan, yaitu sebagai gambaran tentang pengampunan dosa dan pematian kedagingan (bdk. Ul. 10:16; 30:6). Sekarang kita dapat

melihat dengan jelas persamaan dan perbedaan kedua tanda ini. Dalam keduanya terdapat janji yang sama, yaitu anugerah Allah

yang penuh kebapaan, pengampunan dosa, dan kehidupan kekal. Hal yang dirujuk keduanya juga sama, yaitu kelahiran baru, dan

keduanya memiliki satu landasan yang sama yang menjadi dasar bagi penggenapan semua ini. Jadi tidak ada perbedaan kebenaran

internal yang melaluinya seluruh kekuatan dan karakter dari sakramen ini diuji. Perbedaan antara keduanya terletak di bagian

luar, yaitu upacara lahiriah, yang merupakan seginya yang paling idak penting.



Ketika menyelidiki Alkitab untuk

mengetahui apakah dibenarkan untuk melakukan baptisan kepada anak-anak, kita akan menemukan bahwa baptisan bukan saja layak

diberikan, bahkan wajib diberikan kepada mereka. Bukankah dulu Tuhan telah menganggap mereka layak menerima sunat untuk membuat

mereka berbagian dalam semua janji yang ditunjuk oleh sunat? Penyunatan bayi ini bagaikan meterai yang mengesahkan janji-janji

kovenan. Dan karena janji ini masih teguh maka semua ini juga berlaku bagi anak-anak Kristen sekarang ini, sama seperti dulu

menyangkut anak-anak Yahudi. Dan kalau anak-anak ini turut mendapat bagian dalam apa ditunjuk oleh tanda itu, mengapa mereka

harus dicegah untuk mendapatkan tandanya?



Alkitab bahkan membukakan kepada kita kebenaran yang lebih pasti.

Anak-anak Yahudi, karena telah dijadikan sebagai pewaris kovenan ini, dan dibedakan dari orang-orang yang fasik, sehingga

mereka disebut benih yang kudus (Ez. 9:2; Yes. 6:13). Demikian juga, anak-anak Kristen dianggap kudus, yang dibedakan dari

orang-orang yang najis (1Kor. 7:14). Kita melihat bahwa setelah mengadakan kovenan dengan Abraham, Tuhan memerintahkan supaya

hal ini dimeteraikan oleh suatu tanda lahiriah, dengan demikian, kita tidak mempunyai alasan untuk tidak menyaksikan dan

memeteraikan kovenan ini di dalam diri anak-anak kita.



(John Calvin, Institutes of the Christian Religion, IV.16.,

disadur oleh Ev. Solomon Yo, M.Div.)





Baptisan Anak-2



Ketika Kristus memerintahkan supaya

anak-anak dibawa kepada-Nya, Ia menambahkan “karena orang-orang seperti inilah yang empunya kerajaan Allah.” Pertanyaan kita

ialah jika anak-anak harus dibawa kepada-Nya, mengapa mereka tidak sekaligus diterima dalam baptisan, yaitu simbol persekutuan

dengan-Nya? Jika Kerajaan Allah adalah milik mereka, mengapa kita menolak tanda yang membuka jalan bagi mereka untuk masuk ke

dalamnya? Mengapa kita menutup pintu bagi mereka yang hendak Allah terima?



Karena itu, janganlah ada seorang pun

yang tidak menerima bahwa baptisan bukanlah karangan manusia, karena Alkitab membenarkan dan menunjang hal ini. Orang-orang

yang menolak baptisan anak karena mengatakan tidak ada bukti bahwa para rasul membaptiskan anak-anak adalah tidak meyakinkan.

Sebab, walaupun para penulis Injil tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa anak-anak juga dibaptis, namun mereka juga tidak

menyebutkan bahwa anak-anak dikecualikan dari baptisan yang diberikan kepada seluruh keluarga (Kis. 16:15, 32-33). Siapakah

yang dapat menunjukkan dari nas-nas ini bahwa anak-anak tidak turut dibaptis? Apakah karena Alkitab tidak pernah menuliskan

secara eksplisit bahwa wanita juga turut menerima Perjamuan Kudus oleh para rasul, maka wanita harus dikecualikan dari

Perjamuan Kudus.



Selanjutnya kita akan menunjukkan berkat apa yang diberikan oleh pelaksanaan baptisan anak ini

kepada orang percaya yang menyerahkan anak-anaknya untuk dibaptis dan bagi anak-anak yang dibaptis itu, agar jangan ada orang

yang melecehkannya sebagai hal yang tidak berguna. Melalui institusi/sakramen kudus ini iman kita mendapatkan penghiburan.

Sebab tanda ilahi yang diberikan kepada anak itu menegaskan janji yang diberikan kepada orangtua yang saleh dan menyatakan

bahwa secara pasti Tuhan akan menjadi Allahnya dan bahkan Allah anak-anaknya; dan bahwa Ia akan mencurahkan kebaikan dan

anugerah-Nya kepadanya dan keturunannya hingga beribu-ribu angkatan (Kel. 20:6). Mereka yang menyambut janji Allah, yaitu bahwa

kemurahan Allah menjangkau hingga kepada anak-anak mereka, hendaklah memahami kewajiban mereka untuk mempersembahkan anak-anak

mereka kepada gereja untuk dimeteraikan oleh simbol kemurahan, dan dengan demikian, memberikan keyakinan yang lebih sungguh

kepada mereka, karena mereka melihat sendiri kovenan Tuhan telah diukirkan di dalam diri anak-anak mereka.



Di pihak

lain, anak-anak juga menerima berkat baptisan. Dengan dimasukkannya mereka ke dalam tubuh gereja, berarti mereka telah

dipercayakan kepada anggota-anggota tubuh yang lain, dan ketika mereka sudah dewasa, mereka akan lebih terdorong untuk

sungguh-sungguh menyembah Allah karena mereka telah diterima menjadi anak-anak Allah melalui simbol adopsi, sebelum mereka

cukup besar untuk mengakui Dia sebagai Bapa. Akhirnya, kita patut merasa gentar terhadap ancaman yang menyatakan bahwa Allah

akan membalas siapa saja yang menganggap hina pemberian tanda simbol kovenan kepada anak-anaknya. Karena dengan penghinaan

seperti ini, anugerah yang ditawarkan telah mereka tolak, dan bahkan ingkari (Kej. 17:14).



Sebagian orang

mengatakan bahwa anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum cukup umur untuk dapat mengerti misteri (kebenaran) yang

dirujuk oleh baptisan, yaitu kelahiran baru secara rohani. Orang yang berkata demikian tidak mengerti bahwa anak-anak

dilahirbarukan oleh karya Allah yang melampaui pengertian kita. Alasan mereka yang lain ialah karena baptisan adalah sakramen

pertobatan dan iman, maka anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum dapat bertobat maupun beriman. Kita akan menjawab

bahwa argumen ini tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa Allah memerintahkan penyunatan anak-anak, yang disebut oleh Kitab

Suci sebagai tanda pertobatan, dan yang disebut oleh Paulus sebagai “meterai kebenaran berdasarkan iman” (Rm. 4:11). Kita

menyatakan bahwa anak-anak dibaptis dalam pertobatan dan iman yang akan mereka lakukan di masa yang akan datang, dan benih ini

tersimpan dalam diri mereka karena karya Roh Kudus. (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, IV.16., disadur oleh

Ev. Solomon Yo, M.Div.)



Oleh: DR. JOHN CALVIN



Sumber:

Artikel 148 dan 149 di Reformed Evangelical

Daily Bible Readings (READY Bread)

dilihat : 302 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution