Senin, 20 Agustus 2018 02:36:12 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 193
Total pengunjung : 414534
Hits hari ini : 1543
Total hits : 3800158
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Mengapa Pendidikan Sering Kurang Berhasil?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 20 September 2008 00:00:00
Mengapa Pendidikan Sering Kurang Berhasil?
Pendidikan (education) adalah penanaman nilai-nilai yang tentunya

berbeda dengan pengajaran yang lebih pada hal-hal yang sifatnya rasional dan teknis. Namun kedua-duanya adalah sebuah kesatuan

yang tidak kita pisahkan. Kita sadar betul bahwa pertanyaan yang merupakan judul di atas tidak bisa dijawab sekaligus sehingga

kita memilih untuk melihat salah satu aspek saja. Salah satu aspek yang kita telusuri adalah aspek pendekatan. Dengan kata lain

pendekatan pendidikan dan pengajaran yang dipergunakan sering menjadi celah bagi gagalnya sebuah pendidikan dan

pengajaran.



Pendekatan pendidikan dan pengajaran kita seringkali tidak tuntas walau kita menguasai berbagai teori

pendidikan bahkan menguasi pula teknologinya. Sebaiknya pendekatan pendidikan itu harus lengkap dan berkesinambungan.

Pendekatan yang dimaksud di sini adalah pendekatan: tahap pertama face to face, kemudian mind to mind, dan heart to heart,

serta dan akhirnya action to action. Teori semacam ini bertebaran di berbagai literatur dan jurnal, tetapi prakteknya selalu

tidak tuntas dan tanggung.



Langkah Pertama: Face to face



Artinya penanaman nilai yang lebih akurat

adalah penanaman yang bersifat pribadi ketimbang perkelompok apalagi perkelas. Kelompok yang terlalu besar atau kelas misalnya

terkadang lebih mengedepankan kebersamaan timbang individu yang unik dan potensial. Hal ini sama sekali jauh dari pengertian

individualistis. Face to face memungkinkan antara pendidik dan naradidik memiliki hubungan yang bersifat pribadi dan memiliki

pengenalan yang dalam. Naradidik tidak dilihat dari kehadirannya tetapi dari relasinya dengan pendidik.



Pendidikan

jarak jauh bisa-bisa saja terjadi tetapi tetap mengurangi jiwa pendidikan itu. Pendidikan akhirnya hanyalah perpindahan

informasi yang gersang tanpa sentuhan emosi manusia yang sarat dengan cinta (baca: kasih) dan marah. Guru bisa mengajar cinta

tetapi juga mengajar marah dalam koridor konstruktif dan penuh dengan kendali.



Orangtua seringkali kehilangan

kesempatan mendidik karena langkah pertama face to face terabaikan. Face to face tak tergantikan bahkan dengan monitor televisi

tercanggih sekalipun. Manusia adalah mahluk sosial yang memerlukan tanggapan, perhatian, rangkulan dan sentuhan yang

konstruktif-eskpresif (istilah yang dipergunakan untuk menghindari rangkulan dan sentuhan yang bersifat destruktif misalnya

pelecehan).



Face to face memerlukan harga yang sangat mahal untuk kita bayar. Face to face memerlukan orangtua yang

siap untuk hadir buat anak-anaknya. Orangtua yang siap mengorbankan waktunya bahkan zona nyamannya untuk memberi perhatian yang

lebih. Atau pendidik yang menghadapi naradidiknya sebagai pribadi bukan sebagai alat bantu untuk mempertahankan profesi dan

gaji saja.



Langkah Kedua: Mind to mind



Mendidik tidak saja soal nilai tetapi juga dasar-dasar yang logis

dan aplikasi meluas dari nilai-nilai tersebut dalam ruang lingkup keseharian. Mendidik juga pada akhirnya membutuhkan aspek

pengajaran yang berisi tentang pengertian dan pengetahuan.



Paulo Freire, pakar pendidikan, soal bagian kedua ini

memang tidak bermaksud menjabarkan mind to mind sebagai sekedar sebuah transfer pengetahuan sehingga otak naradidik digambarkan

sebagai celengan babi. Pengetahuan dan pengertian yang dimaksud bukanlah sebuah hafalan mati rumus-rumus, daftar obat,

petunjuk-petunjuk, nama-nama pengarang buku, tetapi lebih dari itu ada sebuah pemahaman yang mendalam.



Murid-murid

mengetahui kalau phi=22/7 atau 3,14 dalam memahami perhitungan sebuah lingkaran. Tetapi mengapa harus 22 dan mengapa harus

dibagi 7 seringkali naradidik hanya sampai pada menghafal mati rumus tanpa tahu itu dari mana dan akan jadi apa. Pendidik dan

pengajar tidak memberikan pemahaman dari isi kepalanya dan membiarkan anak didik memahami seperdelapan dari apa yang dimiliki

sang guru.



Langkah Ketiga: Heart to heart



Ada guru yang bisa menyentuh emosi positif dari anak didiknya

tetapi ada guru yang hanya memuaskan otak anak didiknya. Mereka yang berhasil menyentuh emosi anak dan membangun emosi tersebut

maka guru tersebut berhasil membawa anak itu jauh lebih dalam tinimbang mengisi otaknya. Mengajar penuh kasih dan menyentuh

hati menolong anak didik di bidang apapun akan sangat bersemangat bahkan mengetahui apa yang harus dia lakukan selanjutnya

dengan pelajaran yang sedang ia tekuni.



Tidak sedikit pendidik tidak mau capai-capai memasuki wilayah ini. Baginya

asal murid menjawab dengan benar maka tugasnya sudahlah selesai. Kalau itu yang ditujunya maka keberhasilan guru itu baru

setengah jalan. Bukankah sudah berulang kali kita menyaksikan bagaimana anak-anak yang tinggi nilai agamanya yang berhasil

menjawab dengan tepat dan cepat soal-soal agama ternyata terlibat dalam kejahatan dan dekadensi moral? Jangan kita biarkan

emosi anak-anak dirasuki nilai-nilai liar yang berdampak sangat buruk. Di satu sisi mereka sangat terdidik tetapi dalam

prakteknya mereka seolah tidak terdidik. Ironis!!!



Langkah Keempat: Action to action



Tujuan utama dari

sebuah pendidikan dan pengajaran adalah perubahan dalam tindakan. Pendidikan dan pengajaran yang tidak bermuara ke arah ini

adalah sebuah kegagalan. Sekolah-sekolah unggulan yang mahal sekarang berdiri dimana-mana. Orang-orangtua bersaing menempatkan

anak-anaknya di bangku terdepan karena mendengar para guru berasal dari kalangan ekspatriat atau lulusan sekolah luar. Sama

sekali tidak ada pertimbangan kompetensi yang jauh lebih dari itu.



Paulus mengajar Timotius dengan mengatakan

“ikutilah teladanku”. Paulus mendidik anak rohaninya lebih dari sebuah acuan referensi dan keterampilan ini itu, ia sampai pada

pendidikan yang memberikan teladan.



Wahai para pendidik jangan berhenti pada face to face dan mind to mind tetapi

lebih yaitu heart to heart dan action to action.



Tuhan memberkati!



Oleh : Daniel Zacharias -

dapetza2007.blogspot.com

dilihat : 224 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution