Senin, 23 Juli 2018 16:31:46 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 185
Total pengunjung : 407733
Hits hari ini : 1273
Total hits : 3718423
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Jujuk Srimulat, Panggilan Tuhan Membuatnya Takut Mati






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 17 September 2008 00:00:00
Jujuk Srimulat, Panggilan Tuhan Membuatnya Takut Mati

Bagi penggemar panggung komedi di tahun 80-an, pasti

mengenal sosok wanita yang satu ini. Dulu, bersama Gepeng, Asmuni, Timbul, dan Tarzan, ia sering tampil di berbagai acara

panggung.



Nama Jujuk terus berkibar, setelah dirinya sering didaulat berperan sebagai seorang juragan atau boss

dalam setiap lakon, baik itu di televise maupun panggung-panggung terbuka, seperti di kota Surabaya,

Solo, dan

Jakarta.



Lalu apa sebenarnya yang menarik dari komedian yang satu ini? Istri tercinta pencetus sekaligus pimpinan

teras Srimulat Teguh tersebut, pada tahun 2003 lalu memproklamirkan diri sebagai pengikut Kristus.



Banyak orang

mengenalnya, tetapi sedikit yang tahu kalau dirinya sekarang jadi kristen. Kepada GAHARU wanita yang selalu tampil ayu bak

putri Solo ini berkisah dan menuturkan bagaimana proses pengenalannya terhadap Kristus.



Eksistensi Srimulat dalam

perjalanannya memang mengalami pasang surut, bahkan sempat vakum dalam kurun waktu yanhg cukup lama. Kehadirannya kembali

berkibar sekitar tahun 90-an, ketika salah satu stasiun televisi swasta mengontrak grup ini dalam acara panggung srimulat di

Indosiar.



Sepeninggal Teguh yang dipanggil Tuhan beberapa tahun silam, jujuk memutuskan menikah kembali dengan

seorang perjaka. "Maaf namanya tak usah disebut ya," pintanya sambil tersenyum.



Dalam pernikahan yang diharapkan

akan menuai kebahagian, seperti yang direguknya bersama Teguh dulu, ternyata jauh panggang dari api. Malah sering terjadi

kesalahpahaman yang ujung-ujungnya terjadi pertengkaran. "Rumah tangga saya bagaikan neraka," tandasnya.



Dengan

berbagai persoalan yang begitu pelik itulah membuat fisik dan mental ibu empat orang anak ini lemah. "Saya tertekan, bahkan tak

kuasa menahanya. Kejadian ini saya rasakan saat manggung bareng bersama pelantun tembang-tembang campur sari, Didik Kempot.

Sampai di rumah tubuh saya limbung dan gelap sekali. Saya benar-benar rapuh.



Dalam kegelapan itu saya mencoba

memanjatkan doa permohonan sesuai dengan kepercayaan saya dulu. Tiba-tiba saya mendengar panggilan dalam bahasa jawa

"Muliho-muliho" artinya pulanglah-pulanglah.



Mendengar panggilan itu saya ketakutan luar biasa. Sebab yang saya

pahami dari nenek moyang saya dulu, pulang itu bisa berarti dipanggil Tuhan alias meninggal. Inilah yang membuat saya takut

luar biasa.



Jujur saja saya belum siap kalau Tuhan panggil. Maka secara spontan saya mengajukan permohonan kepada

Tuhan, jangan Kau panggil saya sekarang Tuhan, karena saya belum siap mati. Tetapi suara itu tetap terdengar bahkan sampai tiga

kali. Nah pada panggilan ketiga, suara itu menambahkan supaya saya pulang dengan membawa semua barang-barang saya yang ketika

itu dikuasai oleh suami kedua saya ini.



Disinilah saya meyakini bahwa panggilan pulang itu supaya saya ke rumah dulu

dan membawa barang-barang saya, Saya meyakini bahwa itu adalah suara Tuhan," jelasnya.





Minta

Didoakan



Dengan sisa tenaga yang masih ada, Jujuk segera pulang ke rumahnya. Seperti perintah yang duyakini sebagai

suara Tuhan, ia mengambil dan membawa serta barang-barang berharga miliknya.



"Sebenarnya barang-barang itu juga

hasil jerih lelah saya selama ini. Saya semakin yakin itu suara Tuhan, seminggu setelah saya mendapatkan kabar ada masalah

dengan orang yang bersengketa dengan saya. Dari situlah saya menyadari bahwa Tuhan itu memang baik. Karenanya saya minta

keempat anak saya untuk mendoakan. Sebab mereka sudah terima Yesus terlebih dahulu.



Awalnya mereka kaget. "Mama tahu

kan apa doa saya?" tanya mereka. Lalu saya katakan saya tahu, tetapi tolong mama didoakan.



Sewaktu didoakan itulah

saya menangis sejadi-jadinya dan bicara tidak karuan. Sekarang saya baru tahu kalau yang saya alami itu adalah bahasa Roh. Saya

mengerti apa yang saya katakan, tetapi anak-anak dan hamba Tuhan yang mendoakan waktu itu sama sekali tidak tahu apa maksud

kata-kata saya itu.



Sejak itulah, saya memutuskan untuk menerima Yesus, bahkan sekarang aktif di GBI Keluarga Allah

Solo, dan pelayanan secara Oikumene," kisahnya.



Ternyata hanya di dalam namaNyalah ada kelegaan. Melalui peristiwa

inilah segala beban berat yang ada dalam dirinya terangkat. Dan yang lebih dasyat lagi, Tuhan meminta untuk mengampuni orang

yang bermasalah dengannya.



"Jujur itu sangat berat, sebab orang seperti itu tak layak mendapat pengampunan. Selama

satu tahun saya bergumul untuk bisa mengampuninya. Dan luar biasa akhirnya saya bisa melakukannya, "

ujarnya.



Setelah menerima Yesus. Mujizat demi mujizat terjadi dalam hidup saya, "Rasanya saya sampai tidak bisa

bercerita mukjizat yang saya alami satu persatu karena saking banyaknya, wis kalau mau tahu lebih banyak mujizat yang saya

alami datang ke Solo saja nanti pasti saya akan bercerita banyak", tukasnya dengan gaya

Srimulatnya.



-YU-TUK.



Diambil dari Majalah GAHARU EDISI 54 tahun ke 7 - 2008

dilihat : 317 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution