Selasa, 18 Desember 2018 20:34:56 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 304
Total pengunjung : 451735
Hits hari ini : 1783
Total hits : 4159847
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Ortorite dan Ortovita






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 13 September 2008 00:00:00
Ortorite dan Ortovita
Hidup beriman dan beribadah seringkali dipahami sangat sempit.

Beriman dan beribadah kerap disama-artikan dengan kebaktian atau sebuah situasi dalam pengaruh tata cara liturgis Sehingga

menurut mereka orang yang disebut beriman dan beribadah bila ia sedang menjalankan atau sedang berada dalam situasi kebaktian

liturgis.



Hidup beriman dan beribadah seringkali dipahami sangat sempit. Beriman dan beribadah kerap disama-artikan

dengan kebaktian atau sebuah situasi dalam pengaruh tata cara liturgis (kontemporer maupun tradisionil). Sehingga menurut

mereka orang yang disebut beriman dan beribadah bila ia sedang menjalankan atau sedang berada dalam situasi kebaktian

liturgis.



Alkitab baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sangat menekankan pengertian beriman dan

beribadah yang luas dan tidak sempit. Dalam Perjanjian Lama misalnya, ketika nabi Amos dipakai Tuhan untuk menghentikan ibadah

liturgis mereka, maka pada saat itu Tuhan meminta bangsa itu menunjukkan ibadah sejatinya yang tidak lain tidak bukan

menunjukkan keadilan dan kebenaran.



Amos 5:21-24

5:21 "Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak

senang kepada perkumpulan rayamu.

5:22 Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan

korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang.

5:23

Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu , lagu gambusmu tidak mau Aku dengar.

5:24 Tetapi biarlah keadilan

bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."



Hal di atas terjadi karena bangsa

Israel memiliki pandangan tentang beribadah dan beriman yang sangat sempit. Mereka berpikir sekalipun mereka hidup mengkhianati

kebenaran dan menciderai keadilan namun ketika mereka beribadah mereka pasti tetap akan diterima Tuhan. Ternyata Tuhan malah

bertindak sebaliknya. Allah malah meminta agar ibadah liturgis Israel dihentikan! Allah tidak berkenan kepada korban, perayaan,

perkumpulan raya, nyanyian, lagu gambus dalam satu kumpulan liturgi Israel! Inilah pelajaran yang mengingatkan kita bahwa hidup

beriman dan beribadah adalah kehidupan yang sejalan dengan hidup itu sendiri dan bukan segmen-segmen dari hidup. Hidup itu

adalah ibadah, dan ibadah adalah hidup itu sendiri.



Di Perjanjian Baru, Paulus, mengajarkan bahwa ibadah sejati itu:

penyerahan diri kepada Allah (Roma 12:1); dan Yakobus menyebut ibadah itu sebagai pengekangan diri dan mengasihi sesama (Yak

1:26-27).



Terkait dengan penjelasan dari kedua belahan kitab suci ini kita akhirnya menemukan istilah “ortorite” dan

“ortovita”. Apakah artinya? Ortorite itu adalah ritus yang benar dan Ortovita adalah hidup yang benar. Ortorite dan ortovita

idealnya berjalan berdampingan tetapi faktanya lebih banyak menjadi versus ketika orang memiliki ortorite tetapi tak mampu dan

tak mau menunjukkan ortovita.



Orang Farisi zaman Yesus tidak memiliki keseimbangan ortorite dan ortovita. Ortorite

mereka begitu sempurna tetapi ortovita mereka dicela Yesus.



Dalam II Timotius 3:5 Paulus menulis: “Secara lahiriah

mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”. Kenyataan ini

menunjukkan adanya kebuntuan “ritus yang benar” yang tidak bermuara pada “hidup yang benar”. Ibadah itu bukan hanya seseorang

menjadi mengerti firman, tempat berjumpa dengan Allah dan sesama, atau kita minta diberkati, tetapi ibadah adalah waktu dan

tempat dimana kita mengalami perubahan hidup yang signifikan dan bersesuaian dengan kegiatan ibada itu sendiri. Dengan kata

lain ibadah liturgis harus dapat menunjukkan buah yang luar biasa dalam ibadah yang sejati, dan ibadah yang sejati mendapat

kekuatannya dari ibadah liturgis.



Mari kita renungkan sejauhmana ortorite kita telah mendapatkan buah yang

signifikan dalam ortovita?



Oleh : Daniel Zacharias

dilihat : 333 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution