Rabu, 17 Oktober 2018 23:07:06 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 198
Total pengunjung : 430209
Hits hari ini : 1570
Total hits : 3969507
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -MENGENAL LEBIH JAUH DAN MENDALAM TENTANG “PUASA KATOLIK”






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 10 September 2008 00:00:00
Pengantar



Pada umumnya menjelang bulan puasa Ramadhan

selalu timbul pertanyaan; apakah bagi orang Kristen juga ada kewajiban puasa seperti para penganut agama lainnya? Bagaimana

puasanya orang Kristen dan berapa lama?



Bahkan di kalangan Umat Katolik pun sampai saat ini masih banyak yang

mempertanyakan “bagaimana sih sebenarnya puasa Katolik itu?”.



Menyambut masa Prapaskah 2008 yang akan dimulai

tanggal 6 Februari 2008, dan untuk membantu umat memahami dan menghayati Puasa Katolik, berikut kami turunkan tulisan singkat

ini.



Puasa Katolik



Agama Kristen Protestan tidak mewajibkan untuk berpuasa, sedangkan Kristen Katolik

mewajibkan untuk berpuasa bahkan Gereja secara resmi menetapkan masa Prapaskah sebagai puasa resmi Umat Katolik, di mulai dari

Rabu Abu dan berkahir pada hari Jumat Agung. Bila mungkin puasa ini hendaknya diperpanjang sampai hari Sabtu Suci (lih KL

110).



Bagi Umat Katolik, puasa adalah ungkapan tobat, dan sekaligus merupakan ulah doa yang hangat. Dalam tradisi

Gereja, puasa merupakan ibadat yang penting, yang dilaksanakan umat sebagai persiapan untuk perayaan-perayaan besar, khususnya

Paskah yang dikenal dengan nama Masa Prapaskah.



Dalam tradisi Gereja, masa prapaskah merupakan masa di mana para

katekumen (calon katolik) berpuasa sebelum dibaptis dan masa di mana seluruh umat beriman juga berpuasa untuk mendampingi para

katekumen yang akan dibaptis.



Di samping puas resmi itu secara pribadi umat Katolik disarankan untuk berpuasa pada

hari-hari yang dipilihnya sendiri sebagai ungkapan tobat dan laku tapa. Sebab puasa sangat bermanfaat untuk membangun semangat

pengendalian diri (memudahkan bertobat dan merasa peka terhadap nilai-nilai rohani) dan menumbuhkan semangat setiakawan dengan

sesama yang berkekurangan. serta dan menyisihkan sesuatu untuk memberi (derma).



Bagaimana bentuk puasanya? Menurut

faham Katolik puasa berarti makan kenyang satu kali sehari (dalam waktu 24 jam) dan dua kali sedikit. Minum air tidak termasuk

soal puasa. Namun saat sekarang ini lebih ditekankan makan kenyang satu kali sehari.



Selain berpuasa, Gereja juga

mempunyai kebiasaan berpantang. Pantang dilakukan setiap Jumat sepanjang tahun, kecuali jika hari Jumat itu bertepatan dengan

hari raya gerejawi (lih KHK 1251). Kecuali itu Gereja juga menetapkan pantang selama satu jam sebelum kita menyambut Sakramen

Mahakudus.



Pada hari-hari puasa dan pantang, Umat Katolik diharapkan dapat meluangkan lebih banyak waktu dan

perhatian untuk berdoa, beribadat, melaksanakan olah tobat dan karya amal (lih KHK 1249).





Peraturan puasa dan

pantang



Sebagaimana disebutkan tadi bahwa Gereja menetapkan puasa resmi Umat Katolik adalajh 40 hari selama masa

prapaskah (menjelang paskah, masa prapaskah). Mengapa puasa 40 hari? Ini mengingatkan kita akan Tuhan Yesus yang berpuasa 40

hari (Mat. 4:2) dan juga bangsa Israel 40 tahun di padang gurun hidup sengsara.



Setiap tahun Gereja Keuskupan

Pangkalpinang selalu mengeluarkan peraturan puasa dan pantang Dalam ketentuan puasa dan pantang tersebut ditetapkan bahwa hari

wajib puasa bagi Umat Katolik adalah hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Dan yang wajib berpuasa adalah mereka yang sudah berumur 21

tahun sampai dengan 59 tahun. Walau demikian Gereja sangat menghargai warganya yang berpuasa penuh selama 40 hari menjelang

paskah meneladan cara berpuasa Musa, Elia dan terutama Yesus sendiri.



Puasa merupakan suatu ibadah, maka

pelaksanaannya tidaklah dapat dipaksakan. Relasi dengan Allah adalah soal keyakinan pribadi dan tidak ada seorang pun yang

dapat mengganggu gugat hal itu. Namun permasalahannya adalah, jika puasa itu adalah ibadah apakah puasa perlu dilegalkan atau

diwajibkan dalam hukum agama? Jika demikian kenyataannya, berarti relasi manusia dengan Allah adalah sesuatu yang dapat (bahkan

harus) dipaksakan.



Untuk menyikapi hal tersebut, yang harus dihayati dalam memahami peraturan tersebut adalah puasa

berkaitan dengan komitmen. Maka jenis dan bentuk berpuasa (mis. Pantang makanan; minum; dan berapa lamanya seseorang harus

berpuasa) ditentukan oleh orang yang hendak berpuasa berdasarkan komitmen pribadinya dengan Tuhan; bukan ditentukan oleh aturan

agama.Puasa adalah panggilan, bukan kewajiban. Karena itu puasa harus dilakukan dengan sukacita bukan karena terpaksa.





Puasa bukan pula ukuran kesalehan atau kerohanian seseorang. Orang yang menjalankan puasa tidak berarti dia lebih

saleh atau lebih beriman dari mereka yang tidak berpuasa. Perlu disadari bahwa penebusan Yesus di atas kayu salib telah

menggenapi Hukum Taurat (PL) yang bergantung pada usaha manusia menyelamatkan diri sendiri dengan melakukan hukum agama secara

ketat (sunat, korban, sabat, puasa, halal-haram dll), menjadi kasih karunia Allah yang diberikan kepada setiap orang yang

percaya dan bertobat (Yoh. 3:16; Ef. 2:8-10).



Maksud dan tujuan Puasa KatolikYesaya dengan jelas memberitahukan

umat Israel (Yes. 58) bahwa orang bisa saja tidak melakukan puasa lahir, tetapi yang harus dilakukan adalah melakukan puasa

batin, yaitu berpuasa dari kelaliman, menganiaya dan memperbudak orang. Berpuasa dari mengenyangkan diri sendiri menjadi

memberi makan orang lapar, tidak punya rumah, dan yang telanjang (band. Mat. 25:31-46).



Jadi, puasa itu pada

dirinya sendiri tidak memiliki arti bila bukan merupakan ungkapan hati yang bertobat dan merendahkan diri di hadapan

Allah.Yesus menekankan bahwa puasa harus dilakukan demi kemuliaan Tuhan semata-mata dan bukan untuk mendapat pujian, pamer atau

perhatian manusia ataupun untuk kepentingan pribadi misalnya agar bisa naik pangkat, ataupun ingin lulus ujian.Masalahnya

banyak orang menyalah artikan dengan apa yang tercantum dalam Matius 17:21.



Kutipan tersebut seakan-akan apabila

kita hanya berdoa saja, doa kita itu kurang afdol dan kurang di dengar oleh Allah. Banyak orang berpikir melalui tindakan

berpuasa dengan sendirinya menjamin bahwa Allah akan mendengar dan mengabulkan seluruh doa kita (Yes 58:3-4) Untuk menentang

ini para nabi menyatakan, bahwa tanpa kelakuan yang benar, tindakan berpuaasa adalah sia-sia (Yes 58:5-12; Yer 14:11; Za 7)

Puasa bukan dietPuasa Katolik bukan hannya sekedar diet. Puasa bukan hanya sekedar pantang makan sesuatu. Diet dan puasa itu

beda. Diet hanya puasa jamani lahiriah saja, sedangkan puasa adalah untuk "Jiwa dan Raga". Jadi bukan hanya menahan diri dari

makan dan minum saja melainkan juga menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang Allah. Menahan diri dari gempuran dari

segala macam godaan maksiat.



Entah ini mencuri waktu pada saat jam kantor ataupun berselingkuh. Dan perlu diketahui

juga bahwa puasa bukan untuk menghukum tubuh kita, tapi untuk memusatkan perhatian pada Tuhan. Puasa dalam AlkitabMulai dari

Musa (Kel 34:28), Elia (1 Raj 19:8) maupun Tuhan Yesus sendiri (Mat 4:2), mereka melakukan puasa selama 40 hari. Puasa tidak

selalu harus 40 hari, lihat jenis macam puasa yang terlampir dibawah ini. Berpuasa dalam Alkitab pada umumnya berarti tidak

makan dan tidak minum selama waktu tertentu, jadi bukannya hanya menjauhkan diri dari beberapa makanan tertentu saja lih. (Est

4:16; Kel. 34:28).



Berikut dibawah ini jenis macam Puasa berdasarkan Alkitab:1. Puasa Musa, 40 hari 40 malam tidak

makan dan tidak minum (Kel 24:16 dan Kel 34:28)2. Puasa Daud, tidak makan dan semalaman berbaring di tanah (2 Sam 12:16)3.

Puasa Elia, 40 hari 40 malam berjalan kaki (1 Raj 19:8)4. Puasa Ester, 3 hari 3 malam tidak makan dan tidak minum (Est 4:16)5.

Puasa Ayub, 7 hari 7 malam tidak bersuara (2:13)6. Puasa Daniel, 10 hari hanya makan sayur dan minum air putih (Dan 1:12), doa

dan puasa (Dan 9:3), berkabung selama 21 hari (Dan 10:2)7. Puasa Yunus, 3 hari 3 malam dalam perut ikan (Yunus 1:17)8. Puasa

Niniwe, 40 hari 40 malam tidak makan, tidak minum dan tidak berbuat jahat (Yunus 3:7)9. Puasa Senin – Kamis merupakan tradisi

orang Farisi (Luk 18:21).

Selamat berpuasa.



Sumber: http://keuskupanpkpinang.org/index.php?

dilihat : 295 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution