Minggu, 18 Agustus 2019 14:07:57 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520077
Hits hari ini : 983
Total hits : 4877092
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Etika dan Etiket, siapakah mereka ?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 30 Agustus 2008 00:00:00
Etika dan Etiket, siapakah mereka ?
Banyak

diantara kita sering keliru menerapkannya...



Dua kata istilah ini sangat dekat dengan wilayah batas tipis, hidup

berdampingan satu sama lain, tapi mengandung arti dan makna yg berbeda, walau ada sedikit persamaannya

!



Persamaannya adalah jika istilah ini hanya dipakai dalam menyngkut perilaku manusia, tidak untuk hewan, karena

hewan tidak tahu menahu tentang etika maupun etiket.



Sedangkan perbedaannya yang mencolok adalah dimana "Etika"

berhubungan erat dengan "Moral" sedangkan "Etiket" berhubungan dengan "Sopan santun".



Etiket menyangkut tata-cara

dalam pergaulan dan juga suatu perbuatan yg dilakukan manusia. Jadi disini lebih ditekankan dari segi lahiriah/fisikal saja,

sedangkan etika menyangkut manusia dari tata cara/aturan pelaksanaan moral dalam hubungan dengan internal. Etiket lebih bisa

terukur, tetapi "Moral" Unmeasurable tidak terukur!



Maka jika seseorang menjatuhkan sanksi atau vonis kepada

seseorang "presumption innocence" (praduga tak bersalah) tanpa melalui keputusan lembaga pengadilan, maka hukum rimba sudah

diterapkan oleh orang tersebut alias "Main Hakim Sendiri" alias tidak pakai otak dan pikiran lagi! Kurang BERADAB konon kata

orang itu BIADAB!



Ajaran Moral ini mengingatkan kita akan Kasih dan Kebijaksanaan Yesus terhadap orang yg justru

sudah bersalah/ketangkap basah, kata Yesus :



"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama

melemparkan batu kepada perempuan itu."



"Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum

engkau?" "Aku juga tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi". (Bdk Yohanes

8:2-11)





Sehingga kita kerap kali mendengar penampilan palsu bagaikan "musang berbulu ayam, atau serigala

berbulu domba"; Jadi kalau dilihat dari kacamata manusia; akan tampak sangat sopan, lemah lembut, dan familier, tapi hati dan

pikirannya penuh dgn kekejian, kekejaman dan kebusukan.



Orang-orang seperti inilah yang sangat berbahaya, menipu,

berbuat jahat dengan berpenampilan menawan hati sehingga mudah meyakinkan orang lain. Tapi mereka yang selalu melakukan ini,

selalu berpegang pada etiket dan sopan santun, bagi mereka semua itu tidak termasuk kontradiktif.



Semua ini akan

menjadi kontradiktif jika mereka berpegang pada etika/etis, sebab orang bersifat etis tidak mungkin bersikap munafik, tapi

kalau dia munafik, hal ini dengan sendirinya berarti ia bersikap tidak etis (moralnya sudah bobrok alias

BEJAD).



Bagi orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik. Disinilah seseorang nilai dari

kwalitas moralnya/etikanya diuji. Tapi kadangkala orang lebih senang menilai seseorang dari perbedaan agama, warna kulit serta

suku bangsa dan bahasa, lahiriahnya.



Kwalitas moral harus kita pertahankan dan kalau mampu kita tingkatkan, ingat

lakukanlah perbuatan baik dan benar, kasih dan belas kasihan, mau mengampuni, sabar, toleransi, lemah-lembut dan rendah hati!

Itulah yang sering didengungkan, rasanya tak ada lagi yang lebih tinggi dari itu, kejarlah dan dapatkan!



Oleh :

Eddy Tg



Dikutip dari milis Pustakalewi.

dilihat : 444 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution