Kamis, 19 Juli 2018 01:25:48 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 275
Total pengunjung : 406671
Hits hari ini : 2421
Total hits : 3707502
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pelajaran Dari Seorang Gelandangan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 26 Agustus 2008 00:00:00
Pelajaran Dari Seorang Gelandangan
Hari itu, hari Minggu yang dingin di musim

gugur. Pelataran parkir menuju gereja sudah hampir penuh. Ketika aku keluar dari mobilku, aku melihat bahwa teman-temanku

sesama anggota gereja saling berbisik-bisik sementara mereka berjalan menuju gereja.



Ketika aku hampir sampai, aku

melihat seorang pria terbaring di dinding di luar gereja. Dia tergeletak sedemikian rupa seakan-akan dia sedang tidur. Dia

mengenakan sebuah mantel panjang yang robek-robek dan sebuah topi dikepalanya, jatuh kebawah menutupi wajahnya. Dia memakai

sepatu yang kelihatannya sudah berumur 30 tahun, terlalu kecil untuk kakinya, dengan lubang disana sini, jarinya menyembul

keluar.



Kelihatannya pria ini seorang gelandangan yang tidak memiliki rumah (tunawisma), dan sedang tertidur,

sehingga aku terus berjalan ke pintu gereja. Kami berkumpul selama beberapa menit, dan seseorang menyampaikan tentang pria yang

terbaring di luar. Orang-orang mentertawakan dan berbisik-bisik membicarakan masalah ini tetapi tidak ada yang mau mengajak

pria itu untuk masuk ke dalam, termasuk aku.



Beberapa lama kemudian kebaktian dimulai. Kami semua menunggu Pendeta

yang akan maju ke depan dan menyampaikan Firman Tuhan, ketika pintu gereja terbuka. Muncullah pria tunawisma itu berjalan di

lorong gereja dengan kepala tertunduk. Semua orang menarik nafas dan berbisik-bisik dan terkejut.



Pria itu terus

berjalan dan akhirnya sampai di panggung, dia membuka topi dan mantelnya. Hatiku terguncang. Disana berdiri pendeta kami dialah

"gelandangan" itu. Tidak ada seorangpun yang berbicara. Pendeta mengambil Alkitabnya dan meletakkannya di

mimbar.



"Jemaat, saya kira tidak perlu bagi saya untuk mengatakan apa yang akan saya khotbahkan hari ini. Jika kamu

terus menghakimi / menilai orang, kamu tidak akan punya waktu untuk mengasihi mereka."



Pengirim : Tiny Ribka

dilihat : 223 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution