Jum'at, 14 Desember 2018 15:54:20 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 200
Total pengunjung : 450466
Hits hari ini : 1203
Total hits : 4149936
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Tuhan Adalah Bapaku






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 07 Agustus 2008 00:00:00
Tuhan Adalah Bapaku
Pada jaman Perjanjian Lama sampai kepada kedatangan Tuhan Yesus hampir tidak ada orang yang pernah berani mengatakan Allah

sebagai Bapa. Kecuali beberapa nabi seperti Yesaya dan Yeremia. Walaupun di dalam beberapa kitab ada yang menggambarkan Allah

sebagai Bapa orang Israel atau Allah sendiri menyatakan diri akan menjadi Bapa, tetapi orang pribadi tidak pernah bahkan tidak

berani menyebut Allah sebagai Bapa. Bagi orang-orang yang hidup dalam perjanjian lama dan yang hidup di dalam hukum Taurat

menganggap bahwa Allah terlalu kudus, sehingga untuk menyebut nama Yehova atau Yahwe (YHWE) mereka sering mengganti dengan

Elohim, El, dll. Oleh karena itulah ketika Yesus menyebut Allah sebagai Bapa dan Dia berkata bahwa Dia adalah Anak, orang-orang

Farisi dan ahli-ahli Taurat menganggapnya sebagai suatu penghinaan kepada Allah.



Hal ini terjadi karena orang-orang

Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak mengenal sesungguhnya Yesus, juga tidak mengenal pribadi Allah yang sesungguhnya. Tetapi

Yesus mengenal Allah karena Ia sendiri adalah Allah. Ia mengenal hati Allah sehingga Ia berani menyebut-Nya Bapa. Yohanes

1:18,”Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang

menyatakan-Nya”



Sebenarnya sebutan Anak kepada Yesus sangat erat kaitannya dengan manusia. Ketika Yesus mengambil

rupa seorang manusia maka Dia menjadi sama dengan manusia dengan tujuan agar manusia turut ambil bagian di dalam segala

karya-Nya, dalam segala perbuatan-Nya. Mereka yang percaya dan menerima Kristus, akan mendapat bagian di dalam kematian-Nya,

dapat bagian dalam Kebangkitan-Nya, dapat bagian dalam Kekudusan-Nya dan juga dalam Kebenaran-Nya. Oleh karena itu bagi setiap

orang yang percaya kepada Kristus, mereka telah dikuduskan dan dibenarkan. Dengan kata lain saudara dan saya sama kudus dan

sama benarnya dengan Yesus. Dimata Allah saudara adalah orang-orang Kudus dan orang-orang benar oleh karena Kristus. Yohanes

17:19 dalam doa-Nya Yesus berkata,” dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun di kuduskan dalam kebenaran,”

Juga 1 Korintus 1:30 berkata,”Tetapi oleh Dia kamu berada di dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi

kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”



Selain itu orang percaya juga mendapat bagian dalam

identitas ke-anakan-Nya. Kristus disebut Anak dan Allah adalah Bapa-Nya supaya kita dapat bagian di dalamnya, sehingga kita

disebut anak-anak Allah dan Allah adalah Bapa kita. Yohannes 1:12,”Tetapi semua orang yang menerima-Nya (Yesus-red) diberi-Nya

kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” (band 1 Yoh. 2:23)



Jadi hubungan

kita dengan Tuhan bukan hanya sekedar hubungan antara Allah dengan umat, pencipta dengan ciptaannya, bukan juga hanya seperti

gembala dengan domba tetapi juga hubungan antara Bapa dengan anak. Inilah yang membedakan ke-kristenan dengan agama-agama lain.

Kalau agama-agama lain mengandalkan perbuatannya melakukan hukum-hukum untuk mencapai keselamatan dan kebaikan, tetapi

kekristenan mengandalkan iman atau kepercayaan kepada kasih dan anugerah Allah. Kalau agama-agama lain Allah mereka serasa

sulit untuk di jangkau (harus nungkik beberapa kali dalam sehari untuk menghadap tuhannya, ada yang harus bertapa beberapa

bulan) tetapi dalam kekristenan kita memperoleh kesempatan untuk bergaul karib atau berhubungan dengan akrab dengan Allah. Ini

sungguh luar biasa.



Dalam beberapa kesempatan Yesus Kristus menyebut Allah Bapa sebagai Abba. Abba dalam bahasa

Aramic artinya deddy (B. Inggris) ayah (B.Indonesia) bukan hanya sekedar bapa. Bapa belum tentu ayah tetapi ayah sudah pasti

bapa. Abba atau Ayah menunjukkan garis keturunan. Abba menunjukkan dari mana seseorang berasal. Galatia 4:6,”Dan karena kamu

adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!"(Band Roma 8:15)

Karena kita telah menyatu dengan Kristus dan telah mendapat bagian dari identitas ke-anak-anNya, maka kita juga berhak

memanggil-Nya Abba.



Ketika Yesus berdoa, Dia selalu mengarahkan doanya kepada Bapa. Dia menyebut Allah dalam doa-Nya

sebagai Bapa atau Abba. Dan saat Dia mengajarkan murid-murid dalam hal berdoa dan meminta kepada Allah, Dia mengajarkan para

murid untuk meminta kepada Bapa. Ini menjadi suatu pelajaran bagi kita bahwa apabila kita berdoa dan meminta kepada Allah dalam

doa kita, hal yang sangat perlu kita sadari bahwa kita sedang berdoa atau meminta kepada Bapa kita. Bapa atau Abba yang

mengasihi kita. Bapa yang perduli kepada kita. Bapa yang bangga jika memberi yang terbaik bagi kita sebagai anak-anak-Nya.

Matius 6:7-8,”Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka

menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui

apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta kepada-Nya.” Tidak sedikit orang berdoa dengan bertele-tele. Bahkan kita sendiripun

mungkin terkadang terpengaruh dengan gaya doa yang bertele-tele.



Ada orang yang berdoa sembari menyebutkan firman

Allah seakan-akan mau mengingatkan Allah akan firman-Nya. Dikirinya Allah lupa kali dengan firman-Nya. Tidak sedikit orang

berdoa seperti membuat suatu cerita atau naskah ; ada kata pengantar, pendahuluan, isi dan penutup. Tetapi saat ini firman

Tuhan menegaskan, “janganlah kamu berdoa bertele-tele seperti kebiasan orang yang tidak mengenal Allah, karena Bapamu

mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu meminta kepada-Nya.“



Bapa kita tahu apa yang kita perlukan. Sebagai

ilustrasi, ada seorang bapa yang kaya mempunyai seorang anak umur kira-kira 1,5 tahun, karena dia sudah dapat berjalan dia

ingin berinteraksi dengan dunia luar. Ketika dia mau berjalan-jalan di luar rumah atau halaman, kira-kira apa yang dipikirkan

oleh seorang bapa atau ibu? Seorang bapa pasti berpikir bahwa si anak ini butuh sepatu sebagai alas kaki agar kaki si anak

tidak cedera atau lecet. Walaupun si anak belum tahu meminta apa yang dia perlukan, tetapi karena ada ikatan batin antara bapa

dengan si anak, si bapa melihat apa yang diperlukan oleh anaknya. Ketika si bapak pergi ke toko sepatu, si bapak diperlihatkan

tiga jenis sepatu. Yang pertama sepatu yang biasa yang murah, kedua sepatu yang mahal tapi bagus dan yang ketiga sepatu yang

lebih mahal lagi tetapi sepatu roda. Diantara tiga sepatu ini, dimanakah yang akan dibeli oleh si bapa? Melihat dari kebutuhan

si anak maka yang diperlukan adalah alas kaki, artinya sepatu murahpun sebenarnya sudah cukup. Tatapi karena si bapa kaya,

tentu dia akan membeli yang lebih bagus meskipun lebih mahal. Namun dia tidak akan membeli sepatu roda walaupun lebih bagus dan

lebih mahal, karena si anak tidak membutuhkannya.



Demikianlah Allah kita, Dia tidak hanya memberi apa yang kita

perlukan tetapi lebih dari apa yang kita butuhkah supaya kita dapat menjadi berkat, supaya kita dapat menjadi saksi akan

kebaikan Bapa. Bapa kita yang di sorga bangga memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya yaitu bagi saya dan saudara. Bukankah

Allah telah membuktikan kasih-Nya bagi kita? Yang termahal dari segala yang mahal, yang teragung dari segala yang agung dan

yang termulia dari segala yang mulia telah diberikan kepada kita yaitu AnakNya yang tunggal Yesus Kristus.

Haleluya.



Tahukah saudara bahwa di dalam Yesus, segala yang kita butuhkan telah tersedia? Hanya satu warisan yang

diberikan Bapa kepada kita, tetapi di dalam satu warisan ini segala yang kita butuhkan telah tersedia. Warisan itu adalah Yesus

sendiri sebagai Anak Tunggal Bapa. Yoh.3 :35,”Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Juga Efesus

1:22,”Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala

dari segala yang ada.



Segala sesuatu telah diletakkan dibawah kaki Kristus untuk dikuasai-Nya, dan Dia adalah kepala

sedangkan saudara dan saya adalah anggota tubuh-Nya. Kalau kita adalah anggota/bagian dari tubuh Kristus berarti apa yang

diletakkan dibawah kaki Kristus, juga telah diletakkan dibawah kaki kita. Karena kita adalah bagian dari tubuh

Kristus.



Masalahnya adalah mungkin kita tidak sepenuhnya mengetahui arti posisi kita di hadapan Allah, atau juga

mungkin kita tahu tetapi terlalu sulit untuk meng-imaninya karena kita mengandalkan pikiran kita dan kekuatan kita. Masih

banyak sebenarnya yang dapat kita gali dari firman Tuhan dalam hubungan Bapa-Anak antara kita dengan Allah. Tetapi saat ini,

firman Tuhan memberi pemahaman akan kedudukan kita dihadapan Allah. Oleh karena itu, ketika saudara berdoa kepada Tuhan,

ingatlah bahwa saudara berdoa kepada Bapa, saat saudara meminta, ingatlah bahwa saudara sedang meminta kepada Bapa. Bapa yang

mengasihimu, Bapa yang perduli persoalanmu, Bapa yang tahu kebutuhanmu, Bapa yang bangga memberi yang terbaik

kepadamu.



Firman Tuhan katakan di dalam Matius 7:11,”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik

kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta

kepada-Nya."



Terpujilah Tuhan, Bapa kita yang baik. Haleluya.



Oleh : Lomser Hutabalian



Dikutip

dari milis Pustakalewi.

dilihat : 369 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution