Rabu, 23 Oktober 2019 23:01:45 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 215
Total pengunjung : 520901
Hits hari ini : 1550
Total hits : 4943686
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Agama dan Terorisme






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 24 Juli 2008 00:00:00
Agama dan Terorisme


AGAMA, menurut pandangan teologi, adalah ‘sesuatu’ yang datangnya dari ‘Tuhan.’ Setiap

agama mendefinisikan ‘Tuhan’-nya sebagai sumber segala kebaikan. Karena itu, agama mestinya adalah kebaikan dan untuk kebaikan.

Jadi, secara umum, tidak ada agama yang jahat di mata pengikutnya.



Persoalannya, setiap pengikut punya cara

pandangnya sendiri. Di Amerika Serikat, ada sebuah sekte bernama Church of Satan, yang diperkenalkan oleh Anton Szandor LaVey.

Menurutnya, cara terbaik untuk memperoleh keselamatan adalah dengan mendekatkan diri pada Setan. Salah satu tradisinya adalah

pengorbanan bayi yang baru dilahirkan, dimana jantung sang bayi diambil dan dicampurkan ke dalam minuman perjamuan

mereka.



Bagi kita ini adalah kejahatan fatal, tapi bagi mereka, ini adalah ritual yang diperintahkan oleh Guru

Spiritual mereka, dan mau tidak mau harus dijalankan.



Ketika terjadi peristiwa bom Bali dan JW Marriot, sejumlah

aktivis Islam, yang disebut ‘kelompok radikal’ ada juga yang menyebutnya ‘kelompok militan’, menjadi tersangka. Dengan wajah

tersenyum, Imam Samudera melangkah dalam kawalan polisi seraya menyerukan “Allahu Akbar!”, dan ini menimbulkan kejengkelan

tidak saja di mata umat Kristen tapi juga umat Islam yang nota bene tidak meyakini keislaman model Imam

Samudera.



Lantas, siapa yang dapat disalahkan? Imam Samudera ataukah keislamannya?



Imam Samudera meyakini

benar bahwa tindakannya adalah bukti kesetiaannya kepada Allah. Ia bangga dipertontonkan di hadapan publik sebagai tersangka

teroris, sebab ia sadar, ia bukan teroris, tapi ia adalah seorang pejuang Islam (Ini tentu saja terlepas dari benar/tidaknya ia

terlibat dalam pengeboman itu).



Bagaimana juga dengan kelompok-kelompok militan Islam di Palestina yang dengan penuh

semangat mempersilakan nyawanya kembali ke hadapan Allah demi bebasnya Palestina dari Israel? Tindakan mulis bagi mereka

ternyata diklaim teroris oleh pengamat internasional.



Tiba-tiba sejumlah orang Kristen ditanya, “Bagaimana Anda

melihat wajah Islam?”



Mayoritas umat Kristen akan berkata sesuai apa yang ia lihat, dan harus diakui, kampanye damai

Islam di dunia manapun kurang tersosialisasi dengan baik. Gebrakan kelompok-kelompok militan cenderung lebih terdengar

dibanding gebrakan Ulil Abshar Abdallah di Harian Kompas, meskipun sama-sama menimbulkan polemik.



Lalu kenapa muncul

terorisme?



Terorisme, menurut saya, hanyalah salah satu respon terhadap globalisasi. Ketika arus globalisasi

menghantam dunia ini, tidak semua pihak siap terhadapnya. Banyak yang kewalahan lalu meresponnya dengan beragam respon. Ada

yang hanya terpanah tanpa bisa berbuat apa-apa, ada yang kemudian hanyut dan ikut-ikutan, ada yang sanggup bermain di atasnya,

ada juga yang mencoba melawannya.



Masing-masing respon memiliki dampak. Ketika yang kuat semakin kuat dan yang lemah

semakin lemah, maka muncullah dorongan-dorongan untuk melakukan gebrakan. Ada gebrakan positif melalui lemparan wacana-wacana

kritis, ada juga gebrakan negatif melalui tindakan-tindakan agresif.



Terorisme hadir sebagai respon yang agresif.

Mencoba menghancurkan tatanan yang ada dengan mencari cela-cela yang bisa dimasuki.



Mengapa mesti dengan motif

agama?



Ini hanyalah salah satu motif yang mendorong seseorang untuk menjadi teroris. Terorisme awalnya adalah sebuah

istilah untuk gerakan perlawanan terhadap pemerintahan di Perancis (1793-Juli 1794). Istilah “terorisme” sendiri berasal dari

Bahasa Perancis, terrorisme, yang muncul pertama kali dalam literatur pada 1798.



Sering istilah ini diidentikkan

dengan gerakan radikalisme, padahal kata “radikal” sendiri dari akar katanya (L, radix) berarti “akar.” Kelompok reformis pun

pada tahun 1802, disebut kelompok radikal. Ada juga yang mengaitkannya dengan gerakan fundamentalisme, yang merupakan istilah

yang dipopulerkan oleh gerakan kekristenan di Amerika (1920), yang ingin kembali pada inerrancy Alkitab, melawan liberalisme di

Eropa.



Motif agama sangatlah berbahaya, sebab terorisme dengan motif agama dilakukan secara sadar tanpa adanya rasa

bersalah, melainkan justru merasa benar. Dalam hal ini saya tidak begitu setuju ketika orang mengatakan bahwa akar dari

terorisme dengan motif agama adalah penafsiran yang keliru terhadap Kitab Suci. Saya lebih setuju untuk mengatakan bahwa

lahirnya terorisme dengan motif agama adalah karena adanya potensi dalam Kitab Suci untuk ditafsirkan ke arah

sana.



Karenanya, saya juga tidak begitu setuju jika kita mengatakan bahwa tidak ada terorisme dengan motif agama.

Terorisme dengan motif apapun punya potensi untuk berkembang, termasuk dengan motif agama. Terkadang banyak intelektual agama

mengabsolutkan keyakinan intelektualnya lalu menganggap yang lain itu salah, contohnya penyebutan, “salah tafsir” atau “keliru

menafsirkan.”



Oleh : Yoses R

Aktivis Magen Avraham



Sumber :

http://www.perisai.net/artikel/agama_dan_terorisme



dilihat : 440 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution