Kamis, 20 Juni 2019 07:49:27 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 108
Total pengunjung : 515096
Hits hari ini : 694
Total hits : 4728095
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Peran Radikal Bebas Pada Beberapa Penyakit






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 22 Juli 2008 00:00:00
Peran Radikal Bebas Pada Beberapa Penyakit
Radikal bebas adalah atom atau molekul yang mengandung elektron

tidak berpasangan dan dapat dihasilkan dari berbagai proses metabolisme fisiologis dalam tubuh maupun dari lingkungan. Pada

tahun 1894 radikal bebas pertama kali dilaporkan oleh Fenton, menyusul Denham Harman pada tahun 1956 menyatakan bahwa radikal

bebas mempunyai peran terhadap kerusakan sel, mutagenesis, keganasan dan proses degenerasi. Baru pada awal abad 21 terbukti

bahwa radikal bebas bukan hanya mempunyai efek yang merugikan, namun juga mempunyai fungsi fisiologis yang menguntungkan dalam

pengaturan tonus pembuluh darah, memperkuat penghantaran tranduksi signal dari beberapa receptor membran, angiogenesis,

mekanisme pertahanan terhadap mikroba dan sebagai imunomodulasi.



Sel memiliki sistim pertahanan terhadap aktivitas

radikal bebas melalui sistim scavenging (chainbreaker). Ketidakseimbangan homeostasis radikal bebas (redox homeostasis) yaitu

antara pembentukan radikal bebas dengan sistem scavenging menghasilkan suatu keadaan yang disebut stress oksidatif. Stres

oksidatif dapat mengakibatkan kerusakkan sel atau sel dapat bertoleransi terhadap stress oksidatif yang bersifat ringan melalui

pengaturan kembali síntesis antioksidan.



Antioksidan merupakan suatu substansi yang pada konsentrasi rendah mampu

berkompetisi dengan radikal bebas sehingga merupakan suatu sistim perlindungan tubuh yang dapat memperlambat atau menghambat

aktivitas radikal bebas endogen maupun eksogen, yang dimiliki oleh setiap sel normal. Beberapa contoh antioksidan antara lain :

enzim superokida dismutase, enzim glutation peroksidase dan katalase, componen non enzim seperti alfa tocoperol (vitE), beta

caroten, ascorbat(vitC) dan glutation.





Perlu diketahui ada beberapa tipe radikal bebas sebagai berikut

:



Tipe Radikal Bebas



Radikal bebas dapat dikelompokkan dalam spesies oksigen reaktif, spesies nitrogen

reaktif, dan peroksinitrit yang merupakan hasil reaksi antara spesies oksigen reaktif dan spesies nirogen

reaktif.



A. Spesies oksigen reaktif



Spesies oksigen reaktif diperoleh melalui proses penambahan maupun

reduksi molekul oksigen (O2). Berbagai spesies oksigen yang merupakan radikal yang reaktif antara lain : superoksida (O2),

peroksida serta radikal hidroksil.



Proses pembentukan superoksida ditengarai oleh enzim oxidase Nicotinamide adenina

dinucleotide phosphate [NAD(P)H-oksidase] dan enzim xantin-oksidase



Pada keadaan tertentu seperti infeksi, enzim

NAD(P)H-oksidase yang terletak pada membran neutrofil akan teraktivasi 20 kali lebih banyak dibandingkan keadaan normal. Pada

satu sisi superoksida yang dihasilkan dapat membunuh bakteri, namun pada sisi lain juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan.

Xantin oxidase merupakan hasil perubahan xantin dehidrogenase pada keadaan iskemia. Xantin oxidase akan mengubah hipoxantin dan

xantin menjadi asam urat dengan menggunakan oksigen sebagai katalisator. Pada mitokondria terjadi metabolismo energi yang

mengubah 95% O2 menjadi air. Pada beberapa keadaan dapat terjadi kebocoran rantai respirasi sehingga terjadi reduksi O2 menjadi

superoksida.



Enzim sueproxide-dismutase (SOD) dapat mengubah superoksida menjadi hidrogen peroksida (H2O2). Hidrogen

peroksida juga dapat diubah menjadi air (H2O) dengan bantuan katalase atau glutathione (GSH) peroxidase.



Glutation

(GSH) hádala tripeptida yang terdiri dari glutamat, sistein dan glisin 5. Pada reaksi dengan GSH peroksidase, GSH akan

mengalami oksidasi menjadi glutation disulfida (GSSG), yang dapat diubah kembali menjadi glutation melalui reduktase glutation

dengan bantuan NAD(P)H.





B. Species nitrogen reaktif



Oksida nitrit (NO) merupakan spesies nitrogen

yang paling reaktif. Oksida nitrit yang dihasilkan oleh berbagai sel dan jaringan dengan bantuan enzim Nitric Oxide Synthase

(NOS) yang akan mengkatalisis konversi L-arginin menjadi L-sitrulin, dengan NO sebagai produk sisa.



Ada 3 bentuk

isoform enzim NOS,yaitu :

1. neuronal NOS (nNOS;tipe 1) yang ditemukan pada sistim saraf.

2. inducible NOS (iNOS;tipe

2) yang ditemukan pada makrofag dan sel imun;

3. endotelial NOS (eNOS;tipe 3) yang ditemukan pada sel-sel

endotel.



Banyak jaringan yang dapat mengekspresikan satu atau lebih dari ketiga isoform ini. Isoform nNOS dan e NOS

dihasilkan terus-menerus (consecutive NO) oleh jaringan sehat dan aktivitasnya Sangat dipengaruhi oleh substrat yang dapat

meningkatkan konsentrasi kalsium intrasellular seperti asetilkolin dan bradikinin, Namun stimulasi terhadap enzim tersebut

hanya menghasilan sejumlah kecilNO, sedangkan isoform iNOS merupakan enzim yang tidak tergantung kalsium dan hanya

diekspresikan oleh makrofag melalui stimulasi sitokin serta lipolisakarida pada proses inflamasi yang pada akhirnya akan

menghasilkan NO dalam jumlah besar.





C. Peroksinitrit



Reaksi antara superoksida dan NO akan

membentuk peroksinitrit. Peroksinitrit merupakan molekul yang lebih reaktif dibandingkan superoksida maupun NO sendiri.

Peroksinitrit dapat menyebabkan berbagai reaksi kimia pada sistim biologi, meliputi pemicu peroksidasi lipid, penghambatan

transport electron mitokondria, oksidasi komponen thiol, dan juga mempunyai aktivitas pemotongan DNA yang poten.oleh karenanya

peroksinitrit memegang peranan penting dalam apoptosis dan mutasi gen 16. Pada sisi lain, enzim superoksida dismutase(SOD)

dapat bersaing dengan NO dalam bereaksi dengan superoksida sehingga dianggap sebagai enzim “ NO sparing “ 4,16

.



Sebagai contoh Stres oksidatif pada penyakit hati menunjukkan terjadinya kerusakan sel hati yang disebabkan oleh

peningkatan pembentukan senyawa oksigen reaktif (ROS/ reactive oxygen species) dan atau penurunan

antioksidant1.



Pembentukan ROS yang meningkat dapat disebabkan adanya gangguan pada proses reduksi oksigen di

mitokondria, sekresi ROS oleh sel darah putih, disfungsi endotel, polusi udara atau radiasi.ROS dapat menyebabkan kerusakan

membran sel melalui mekanisme peroksidasi lipid pada membran sel, memodifikasi protein dan DNA melalui proses oksidasi sehingga

terjadi perubahan fungís protein yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap proteolisis, yang akhirnya menyebabkan injury pada

hepatosit. Sedangkan penurunan antioksidan sebagai mekanisme perlindungn pada hepatosit dapat meredam dampak

negatifnya.



Kerentanan protein terhadap kerusakan oksidatif berbeda-beda, sebagai contoh albumin akan mengalami

oksidasi 2 kali lebih cepat dibandingkan glutamin sintase dan juga protein yang intak kurang sensitif terhadap oksidasi

dibandingkan protein yang cacat. Pada sisi lain, radikal hidroksil yang dikonversi dari superoksida mempunyai peran dalam

membunuh bakteri bersama-sama dengan mekanise lain (enzim lisosom dan mieloperoksidase).



Oksidasi nitrit berperan

dalam berbagai aktivitas biologi.Oksida nitrit yang dihasilkan oleh nNOS melalui aktivasi Ca 2+ dapat merusak sel-sel otak dan

miokardium sedangkan NO yang dihasilkan oleh iNOS dapat menyebabkan kematian sel endotel melalui mekanisme apoptosis, disfungsi

sel endotel dan mempercepat iskemia. Sebaliknya, NO yang dihasilkjan oleh aktivasi eNOS mempunyai efek proteksi seperti

menurunkan agregasi trombosis, mencegah adhesi lekosit dan meningkatkan vasodilatasi pembuluh darah arteri dan aliran darah

serta mengatur contractilitas sehingga berperan dalam pengaturan tekanan darah,mediasi aktivitas bakterisidal dan tumorsidal

makrofag.





Peran antioksidan zat penghambat proses penuaan (aging)



Untuk menetralisir radikal bebas

ini, tubuh memerlukan antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh dari kerusakkan organ tubuh dan resiko terserang

berbagai penyakit di usia lanjut. Antioksidan berperan sebagai nutrisi sel untuk mengatasi radikal bebas. Dengan bertambahnya

usia maka antioksidan dari dalam tubuh tidaklah mencukupi, oleh karenanya diperlukan asupan dari luar tubuh berupa makanan

yang kita konsumsi sehari-hari. Di antaranya adalah : karetenoid, vitamin C, vitamin E, beberapa mineral seperti Zinc,

Selenium, Manggan, Cuprum, dsb. Berbagai sumber nutrisi yang mengandung antioksidan di antaranya adalah semua biji-bijian,

buah-buahan dan sayuran, daging, unggas, ikan, kerang, tiram, hati dan susu. Vitamin C alami dapat ditemukan pada jeruk, buah

sitrus, tomat, melon jambu biji, strawbery, dsb. Beta karoten (pro vitamin A) yang merupakan antioksidan penting dari

karotenoid banyak dijumpai di aprikot, wortel, belewah, bit, bayam merah, ubi merah, daun singkong dan yang lagi populer buah

merah dari papua. Buah merah dari Papua (pandanus conoideus lam) adalah tanaman yang tergolong dalam familia pandan-pandanan

yang tumbuh secara endemik di wilayah Papua. Konon kabarnya masyarakat pedalaman Papua, terutama yang bermukim di wilayah

pegunungan Jayawijaya mempunyai postur tubuh yang lebih kekar dibandingkan dengan masyarakat yang bermukim di tempat lain. Oleh

masyarakat diyakini sebagai bagian dari pengaruh Buah Merah yang mereka konsumsi sehari-hari.



Menurut analisa yang

dilakukan IPB, Buah Merah memiliki kandungan Karotenoid dan Tokoferol dalam kadar yang tinggi. Total karotenoid pada buah merah

segar adalah 34,000 ppm, sementara pada Sari Buah Merahnya 17,000 ppm. Selain Karotenoid dan Tokoferol, juga terkandung Asam

Lemak Jenuh 17,8% (asam laurat, palmitat, stearat) dan Asam lemak tak jenuh 28% (asam palmitoleat, oleat, linoleat ). Vitamin E

alami ditemukan pada wheat germ (gandum), minyak sayuran, kuning telur, kacang-kacangan.





Penyakit -penyakit

akibat Radikal Bebas



Proses penuaan dan penyakit generatif seperti kanker, arterosklerosis (penyumbatan dan

penyempitan pembuluh darah), stroke, tekanan darah tinggi, katarak serta terganggunya sistim imun tubuh, merupakan beberapa

penyakit yang berkaitan dengan aktivitas radikal bebas. Proses penuaan ditandai dengan kulit keriput, radikal bebas merusak

membran sel sehingga kulit kehilangan ketegangannya dan muncullah keriput. Efek penuaan tersebut sebenarnya dapat ditahan,

karena sel epidermis mengandung antioksidan seperti vitamin E, vitamin C, glutation, superoksidase dismutase dan katalase, yang

mampu mengubah dan memadamkan potensi merusak radikal bebas.



Pada aterosklerosis di dalam pembuluh darah terjadi

oksidasi lemak dalam lipoprotein densitas rendah (LDL) dan lipoprotein densitas sangat rendah (VLDL) yang sebagian besar

terdiri dari minyak jenuh, dapat menyebabkan penyumbatan dan penyempitan pembuluh darah. Jika terjadi di jantung akan

meningkatkan risiko penyakit jantung koroner (PJK) dan jika terjadi pada otak akan menyebabkan stroke.



Kekurangan

selenium dihubungkan dengan risiko stroke dan infark miokard. Aterosklerosis dapat dicegah dengan menghambat oksidasi LDL

menggunakan antioksidan yang banyak terdapat dalam bahan makanan.



Untuk kanker Otto Warburg, peraih Nobel 1931 dan

1944 mengatakan bahwa kanker disebabkan oleh berkurangnya oksigen di dalam sel yang berakibat terjadi kerusakan pada mekanisme

respirasi oksigen (an aerobic) sehingga sel bermutasi mengikuti pola pertumbuhan sel primitive dan menjadi sel kanker. Ini

berakibat terjadi mutasi gen atau DNA. Selain karena kesalahan replikasi dan kesalahan genetika mekanisme perubahan pada mutasi

gen dapat terjadi karena faktor luar struktur DNA, seperti infeksi virus polusi, radiasi atau karena mengkonsumsi pangan yang

tidak sehat. Pada mutasi gen ini, radikal bebas dan reaksi oksidasi jelas ikut berperan. Risiko dapat dikurangi dengan

mengkonsumsi antioksidan dalam jumlah cukup.



Katarak pada mata yang sering terjadi pada lansia dapat disebabkan oleh

radikal bebas yang ditandai dengan kekeruhan pada lensa, akibatnya penglihatan berkurang bahkan bisa menyebabkan kebutaan. Hal

ini terjadi karena sinar matahari dan pembawa oksigen sangat rentan terhadap sinar penyebab peroksidasi

lemak.



Penyakit lain akibat polutan adalah penyakit pada paru. Proses pembakaran pada mesin mobil, menimbulkan

senyawa kimia berracun, nitrogen dioksida. Asap rokok yang mengandung 3000 senyawa kimia, salah satunya adalah nitrogen

dioksida. Kedua senyawa ini dapat merusak paru-paru dengan menyerang lemak tak jenuh dalam membran sel. Seperti dilaporkan

Journal of American Chemical Society (1981), antioksidan dapat menurunkan bahaya serangan paru-paru serta melindungi jaringan

tubuh dari polusi,



Makanan yang mengandung antioksidan



Buah-buahan, sayur-sayuran dan biji-bijian

merupakan sumber antioksidan yang baik dan bisa meredam reaksi berantai radikal bebas. Tomat mengandung likopene, antioksdan

yang ampuh mengehentikan radikal bebas sehingga tidak berkeliaran mencari asam emak tak jenuh dalam sel. Bayam mengandung

lutein dan zeasantin dapat mencegah reaksi oksidasi lipid pada membran sel mata, sehingga kesehatan mata bisa terjaga dari

gangguan katarak. Vitamin E ditemukan pada biji bunga matahari, kacang-kacangan, telur dan ikan. Sedangkan sumber vitamin A

bisa didapat dari telur, hati, daging minyak ikan, mentega, margarine dan lain-lain. beberapa zat lain yang dibutuhkan tibuh

sebagai antioksidan, seperti karotenoid, seng, mangan, tembaga dan selenium. Ingat tidak satupun bahan makanan yang mengandung

semua zat gizi secara lengkap. Sebab itu diperlukan variasi menu makanan yang beragam dan bervariasi yang menjamin tersedianyaa

kelengkapan zat gizi yang dibutuhkan tubuh.





Kesimpulan



Radikal bebas adalah atom atau molekul yang

mengandung elektron tidak berpasangan dan dapat dihasilkan dari berbagai proses metabolisme fisiologis dalam tubuh maupun dari

lingkungan. Antioksidan merupakan suatu substansi yang pada konsentrasi rendah mampu berkompetisi dengan radikal bebas sehingga

merupakan suatu sistim perlindungan tubuh yang dapat memperlambat atau menghambat aktivitas radikal bebas endogen maupun

eksogen, yang dimiliki oleh setiap sel normal. Proses penuaan dan penyakit generatif seperti kanker, arterosklerosis

(penyumbatan dan penyempitan pembuluh darah), stroke, tekanan darah tinggi, katarak serta terganggunya sistim imun tubuh,

merupakan beberapa penyakit yang berkaitan dengan aktivitas radikal bebas Buah-buahan, sayur-sayuran dan biji-bijian merupakan

sumber antioksidan yang baik dan bisa meredam reaksi berantai radikal bebas



Oleh : Dr.Mulyadi

Tedjapranata



Pengirim : Tiny Ribka.

dilihat : 438 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution