Sabtu, 15 Desember 2018 17:57:13 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 179
Total pengunjung : 450782
Hits hari ini : 1203
Total hits : 4152641
Pengunjung Online : 8
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Perselisihan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 09 Juli 2008 00:00:00
Perselisihan
Sebagai balasan terhadap kasihku mereka menuduh aku, sedang aku

mendoakan mereka. Mereka membalas kejahatan kepadaku ganti kebaikan dan kebencian ganti kasihku.

(Mazmur 109 : 4 –

5)



Ada sejumlah orang yang menyikapi perbedaan pola pandang antara mereka dengan orang lain, melalui upaya membangun

opini publik, yang diciptakan sebagai sebuah keinginan untuk membenarkan keputusan yang telah diambil atau pernyataan yang

pernah mereka ucapkan, meskipun mereka sadari, kalau keputusan atau pernyataan itu merupakan sebuah kesalahan, layaknya

menyakiti hati serta perasaan orang lain.



Ketika upaya untuk melukai hati dan perasaan orang lain terjadi, sebuah

perselisihan antara dua pribadi yang bertentangan sikap, terkadang sulit untuk bisa dihindari agar tidak terjadi. Bahkan, dalam

beberapa peristiwa, perselisihan yang terjadi, berakhir dengan sikap permusuhan pada pihak-pihak yang

berselisih.



Pada situasi atau keadaan tertentu, sebuah perbedaan pendapat diantara dua orang, sangat dimungkinkan

berakhir dengan adanya perselisihan, apabila masing-masing pihak tidak mencoba untuk menahan diri untuk mengungkapkan hal-hal

yang diluar konteks logika berpikir manusia yang seharusnya, atau mengucapkan hal-hal yang bisa menyakiti agar tidak

menimbulkan pertentangan sikap diantara mereka yang berbeda pendapat.



Dalam kondiri atau keadaan tertentu, memang

tidak dapat dihindari kalau seseorang bisa membuat sebuah keputusan yang bertentangan dengan kebesaran hati nurani, lalu

membiarkan dirinya terbawa arus emosi.



Pada dasarnya, sebuah perselisihan memang menghadirkan suatu keadaan yang

tidak menyenangkan bagi pihak-pihak yang sedang mengalaminya. Kondisi yang biasanya dirasakan adalah : adanya amarah, adanya

rasa kesal, kecewa, dan sedih.



Sejumlah karakter manusia yang muncul kalau diri seseorang dalam posisi tertekan

tersebut, apabila tidak disikapi dengan bijaksana, akan menimbulkan keadaan dimana masing-masing pihak dianggap telah mencoba

bertindak untuk saling menyudutkan, meskipun apabila diinginkan, adanya niat baik bisa mendamaikan hati serta pikiran pada

masing-masing pihak.



Sebagai bagian dari kelompok masyarakat terdidik, menyakiti hati dan perasaan orang lain,

bukanlah suatu keadaan yang bisa dibenarkan, apalagi kalau pernyataan tidak menyenangkan itu diungkapkan sebagai upaya untuk

merendahkan orang lain. Marah boleh, memaki-maki, jangan.



Masyarakat intelektual seharusnya tahu bagaimana cara

menempatkan diri, terutama untuk tidak memposisikan adanya suatu tindakan untuk menyakiti hati serta perasaan orang lain

sebagai sebuah langkah untuk menciptakan rasa nyaman bagi diri sendiri.



Nabi Yeremia mengatakan, meskipun seseorang

telah memiliki pengetahuan sangat baik akan isi Firman Tuhan, namun masih sangat dimungkinkan kalau sejumlah anak Tuhan, masih

mampu bertindak untuk melukai hati dan perasaan orang lain tanpa ada sikap menyesal.

Pada beberapa pribadi manusia, tidak

adanya sikap menyesali perbuatan yang telah menyakiti hati dan perasaan orang lain, bahkan ditunjukkan dengan membangun opini

publik, terutama kepada individu atau kelompok masyarakat tertentu yang dianggap bersahabat namun mereka tidaklah mengetahui

dengan baik bagaimana kondisi atau permasalahan yang sesungguhnya terjadi.



Adanya upaya membangun opini publik

tersebut dilakukan, tidak lain adalah untuk mendapatkan dukungan moral maupun rasa simpati dari orang lain, dimana akumulasi

dari besarnya dukungan serta rasa simpati tersebut, dianggap sebagai sebuah pendapat yang bisa dipakai sebagai sebuah

argumentasi untuk melegalkan adanya perbuatan tidak menyenangkan yang telah dilakukan.



Sebuah kepahitan yang telah

ditancapkan, telah menghalangi adanya suatu niat, untuk menjaga baiknya sebuah hubungan komunikasi, karena sikap egois lebih

mengemuka dibandingkan sebuah keinginan untuk menyelesaikan masalah.



Harmonisasi keadaan tidak tercipta, karena

adanya upaya pembenaran atas sesuatu hal yang salah. Besarnya keinginan maupun ego pribadi manusia untuk selalu bisa merasa

nyaman dalam setiap langkah kehidupan, (meskipun tidak diucapkan) telah menjadi alasan pokok, kenapa nilai-nilai pembenaran

dihadirkan.



Pembenaran merupakan sebuah sikap yang bertentangan dengan prinsip kebenaran, karena ada kecenderungan,

pernyataan bernada pembenaran, dinyatakan sebagai dalih untuk membenarkan sebuah perbuatan salah.



Dalam sejumlah

peristiwa, nilai-nilai pembenaran dinyatakan untuk menutupi adanya kelemahan yang timbul karena tidak terpenuhinya sejumlah

keinginan mendasar, yang dinilai sangat berpotensi untuk mengendalikan keadaan, namun kini disadari, telah berubah menjadi

tidak lagi nyaman dan menghadirkan tekanan besar dari pihak luar.



Semakin didegradasikannya nilai-nilai kebenaran

oleh adanya sejumlah pernyataan yang mendukung adanya argumentasi untuk maksud pembenaran, diakui atau tidak, memang telah

menciptakan kondisi yang tidak nyaman kepada diri seseorang yang telah mengeluarkan statement untuk maksud pembenaran

tersebut.



Oleh karena itu, suatu kualitas pemikiran tertentu dibangun agar sebuah pengakuan rasa bersalah, tidak

harus diucapkan atau dinyatakan. Pada saat itu terjadi, seseorang telah berhasil membiaskan permasalahan dan mencoba untuk

melupakannya.



Masalahnya, banyak orang yang cenderung lebih memilih untuk menikmati keadaan tidak nyaman, karena

diri mereka enggan untuk mengakui adanya sebuah kesalahan.



Dalam kondisi atau keadaan tertentu, perbuatan melukai

hati dan perasaan orang lain itu memang tidak dapat dihindari.



Kondisi ini dapat terjadi oleh karena 2 hal : ingin

melindungi suatu kepentingan yang lebih besar, atau karena kekuatan sikap egois cenderung lebih mendominasi benak pikiran

seseorang.



Adanya suatu kepentingan tertentu, serta adanya suatu pemikiran yang dilandasi sikap egois, memang

mampu membuat seseorang menyampaikan pernyataan yang tidak menyenangkan, termasuk didalamnya, keluarnya ucapan yang bisa

menyakiti hati dan perasaan orang lain.



Konsep berpikir demikian, merupakan sebuah contoh yang ingin mengatakan,

bahwa sebaik apapun karakter dan kepribadian seseorang, masih sangat dimungkinkan kalau seseorang itu akan sanggup untuk

bertindak tanpa perasaan.



Situasi itu seharusnya bisa dihindari terjadi apabila salah satu ataupun masing-masing

pihak menyadari, kalau perselisihan yang ada, tidak akan membuat masalah selesai dan konflik tidak berkembang pada adanya upaya

untuk saling menyakiti satu dengan yang lainnya.



Tidak ada perselisihan yang berakhir dengan kedamaian, apalagi

kalau setiap pihak tetap berupaya untuk membangkitkan amarah maupun rasa kesal orang lain, karena besarnya keinginan untuk

mempertahankan pendapat, hal-hal prinsip, atau ego dari dalam diri salah satu maupun masing-masing pihak.



Segala

sesuatunya masih bisa dikompromikan, dan seluruh perbedaan pendapat masih bisa dicarikan solusi untuk mendapat titik temu

pemecahan permasalahan.



Setiap pribadi manusia harus menyadari, kalau kebenaran itu adalah sesuatu hal yang harus

tetap dinyatakan dan selayaknya terus dijadikan sebagai sebuah konsep berpikir benar, dalam situasi maupun keadaan apapun.





Patut pula untuk diingat, bahwa apapun alasan-alasan yang dikemukan untuk maksud pembenaran, tidak akan mendorong

suatu keadaan menjadi lebih baik, namun tetap berada pada posisi saling bertentangan.



Gunakan nurani untuk berkata

benar, karena sesungguhnya, hati nurani tidak pernah bergairah untuk berpikir maupun membenarkan adanya tindakan untuk

melakukan sesuatu hal yang salah.



Dendam… Haruskah diri seseorang menggelorakan bara api dendam didalam hatinya

kepada orang lain, yang sesungguhnya telah banyak membantu diri seseorang tersebut untuk dapat merasakan adanya kehidupan yang

lebih baik dari sebelumnya?



Tidak, sekali-kali pun, jangan… Janganlah kita membiarkan bara sekam menjadi api yang

berkobar-kobar hingga akhirnya kita sendiri harus mengalami kesulitan untuk memadamkan kobaran api itu.



Hiduplah

dalam perdamaian. Janganlah masing-masing kita, biarkan diri ini berselisih dengan orang lain. Jangan biarkan emosi memenuhi

hati dan benak pikiran kita. Dan jangan biarkan, kata-kata yang bisa menyakiti hati serta perasaan orang lain, mengalir dari

mulut kita.



Hentikan segenap kepalsuan yang dinyatakan karena adanya pemikiran untuk maksud pembenaran suatu hal

atau keadaan yang salah dan pernah kita lakukan, karena tidak ada kebenaran didalam setiap upaya

pembenaran.



Sekarang, bila keadaan itu telah terjadi, berdamailah, hentikan perselisihan dengan saling

bermaaf-maafan, karena tidak ada guna memendam rasa amarah atau kekesalan di dalam hati.



Kiranya Tuhan yang teramat

baik, menolong kita untuk menjalani hari-hari dalam hidup ini, untuk bertindak benar serta tidak menimbulkan perselisihan

dengan orang lain, apapun bentuknya.



Tuhan memberkati kita semua.





Teriring salam dan doa

saya,



.Sarlen Julfree Manurung

Penulis dan Moderator Milis Pustakalewi

dilihat : 279 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution