Rabu, 17 Juli 2019 20:25:39 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520045
Hits hari ini : 2241
Total hits : 4812656
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Bangsa Saudi Menyerukan Dialog






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 25 Juni 2008 00:00:00
Bangsa Saudi Menyerukan Dialog
Brussels Seruan Arab Saudi bagi sebuah dialog

antaragama yang berkesinambungan telah membuat sebagian pihak di Barat mengangkat alisnya.



Kerajaan tersebut telah

lama dikenal sebagai sekeping wilayah padang pasir yang dikuasai oleh para ulama yang ultra konservatif dengan

tafsiran-tafsiran radikal tentang Islam. Kaum perempuannya ditekan, seperti sering dituduhkan; kaum terpelajar Wahabi ingin

mengislamkan dunia; dan kalangan non-Muslim dilarang melaksanakan ibadah agama mereka di tanah Saudi kata sebagian

kalangan.



Teman Saudi saya menyebut semua ini sebagai mispersepsi belaka. "Bangsa kami tidak ada bedanya dengan

bangsa lain di dunia," katanya. "Kami mendukung pembaruan, menghormati nilai-nilai manusia, dan menghargai

kemodernan."



Kebetulan, ia seperti halnya para perempuan relijius Saudi lain tampak menikmati kehidupannya

sebagaimana kawan-kawan perempuan Barat saya. Penafsiran konservatif mereka tentang Islam tidak menghalangi pendidikan,

belanja, pakaian, dan pesta menjadi bagian dari kehidupan mereka.



Menolak tudingan-tudingan yang dialamatkan kepada

Islam dan Muslim termasuk masyarakat Saudi merupakan tujuan utama dari dialog antaragama yang berkesinambungan. "Penjaga

Dua Masjid Suci ", begitu sang Raja disebut di Arab Saudi, kelihatannya merasakan sebuah komitmen khusus terhadap

Islam.



Di awal bulan ini Raja membuka sebuah konferensi tiga hari di Mekkah yang bertujuan mempromosikan masa depan

dialog antaragama dengan golongan non-Muslim. Ia mengatakan kepada para pendengar yang semuanya Muslim, "Anda telah berkumpul

hari ini untuk mengatakan kepada seluruh dunia bahwa (...) kita adalah suara keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan, bahwa kita

adalah suara bagi koeksistensi dan sebuah dialog yang adil dan rasional."



November lalu, Raja Abdullah menciptakan

sejarah ketika bertemu dengan Paus Benedict XVI di Vatikan, dan bulan ini, monarki Sunni tersebut tampak berdampingan dengan

Ayatollah Hashemi Rafsanjani, mantan presiden Iran yang mayoritas Syiah, sebagai sebuah isyarat simbolis untuk mendorong

kesatuan Muslim.



Langkah-langkah tersebut dapat dilihat sebagai bagian dari sebuah adaptasi lebih luas dari para

ulama Arab Saudi terhadap kehidupan modern. Yang pertama dari yang terjadi di Arab Saudi, konferensi tersebut menyampaikan

sebuah pesan penting: dialog antaragama tidak melanggar prinsip agama mana pun. Malahan, ia dianggap sebagai sebuah elemen

dasar dari Islam. Cuplikan-cuplikan baik dari Al Qur'an dan sunnah (tradisi-tradisi Nabi Muhammad) dikutip untuk

menggarisbawahi arti pentingnya.



Imam Agung negara tersebut, Abdul Aziz Al-Sheikh, menekankan bahwa agama mendorong

penyesuaian dengan kehidupan modern. "Kita hidup di zaman komunikasi," katanya. "Untuk menyesuaikan diri terhadapnya dengan

menyelenggarakan dialog dan korespondensi di antara umat manusia merupakan sebuah kewajiban."



Tidak ada keraguan

bahwa komitmen untuk melibatkan diri dalam sebuah dialog antaragama membutuhkan upaya lebih keras di Arab Saudi, yang

disebabkan oleh komitmennya yang mencurigakan, yang sekarang kelihatannya telah diatasi kaum ulama Saudi. Hassan Al-Ahdal,

direktur media dan hubungan di Liga Dunia Muslim, mengaitkan keengganan ini dengan rasa takut bahwa semua akan berakhir dengan

munculnya "satu agama dunia" yang menimbulkan kerugian bagi setiap ajaran agama.



Tetapi konferensi ini telah

memperjelas bahwa tujuannya bukanlah untuk mengkompromikan prinsip-prinsip agama mana pun. "Prioritasnya adalah untuk

menyepakati nilai-nilai bersama tanpa mengurusi urusan-urusan keagamaan karena hal ini selalu menjadi ladang perselisihan,"

kata Al-Ahdal. "Tak satu pihak pun yang akan berhasil mengubah antara (the other)."



Imam Agung negara bersikap

mendukung pembicaraan-pembicaraan antaragama tersebut, dengan mengatakan bahwa "dakwah" merupakan tujuan akhir dari

keterlibatan dalam dialog. Walaupun dakwah terkadang digunakan dalam Al Qur'an untuk menyebut khotbah yang bertujuan mengubah

keyakinan seseorang, namun sesungguhnya arti harfiahnya adalah "undangan", dan dapat digunakan untuk mengundang antara (the

other) untuk memahami Islam.

"Perbedaan antarbangsa bukan hal yang perlu dipertanyakan," katanya lagi. "Wajar jika orang

berbeda dalam perilaku, bahasa, warna, dan kecerdasan. Al Qur'an mengakui hal tersebut."



Walau tak ada jadwal pasti

yang ditetapkan bagi pembicaraan antaragama Muslim-Kristen-Yahudi, para peserta Muslim minggu lalu telah merancang sebuah

strategi untuk berdialog, dan menyetujui pembentukan badan-badan untuk mendorong dialog akademis seperti Pusat Internasional

bagi Interaksi Peradaban Raja Abdullah Ibn Abdul Aziz, dan pembentukan Penghargaan bagi Dialog Peradaban Raja Abdullah bin

Abdul Aziz.



Masih belum jelas apakah melalui forum-forumnya Raja Abdullah juga bertujuan menyelesaikan

konflik-konflik politik dalam jangka panjang atau tidak, tetapi saat ini politik seharusnya disingkirkan dari

agenda.



Prioritas kunci dari dialog ini untuk mengundang orang-orang dari semua agama, dan khususnya Yudeo-Kristen

di Barat, bergabung dengan Muslim untuk menilai secara rasional apakah rasa saling curiga dapat dibenarkan seharusnya adalah

mengangkat harapan, bukannya alis mata.



Oleh : Asma Hanif



* Asma Hanif adalah wartawan yang bermarkas di

Brussels, yang memusatkan perhatian pada agama dan politik. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan

dapat dibaca di www.commongroundnews.org.



Sumber: Kantor Berita Common Ground, 20 Juni 2008,

www.commongroundnews.org



Telah memperoleh hak cipta.

dilihat : 443 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution