Senin, 23 Juli 2018 16:31:06 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 185
Total pengunjung : 407733
Hits hari ini : 1271
Total hits : 3718421
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pelukan Kasih Tuhan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 26 Juni 2008 00:00:00
Pelukan Kasih Tuhan
Ada seorang pengembara yang sangat ingin melihat pemandangan yang ada di

balik suatu gunung yang amat tinggi. Maka disiapkanlah segala peralatannya dan berangkatlah ia. Karena begitu beratnya medan

yang harus dia tempuh, segala perbekalan dan perlengkapannya pun habis. Akan tetapi, karena begitu besar keinginannya untuk

melihat pemandangan yang ada di balik gunung itu, ia terus melanjutkan perjalannya. Sampai suatu ketika, ia menjumpai semak

belukar yang sangat lebat dan penuh duri. Tidak ada jalan lain selain ia harus melewati semak belukar itu.



Pikir

pengembara itu, "Wah, jika aku harus melewati semak ini, maka kulitku pasti akan robek dan penuh luka. Tapi aku harus

melanjutkan perjalanan ini."



Maka pengembara itupun mengambil ancang-ancang dan ia menerobos semak

itu.



Ajaib, pengembara itu tidak mengalami luka goresan sedikitpun. Dengan penuh sukacita, ia kemudian melanjutkan

perjalanan dan berkata dalam hati "Betapa hebatnya aku. Semak belukarpun tak mampu menghalangi aku."



Selama hampir 1

jam lamanya ia berjalan, tampaklah di hadapannya kerikil-kerikil tajam berserakan. Dan tak ada jalan lain selain dia harus

melewati jalan itu. Pikir pengembara itu untuk kedua kalinya "Jika aku melewati kerikil ini, kakiku pasti akan berdarah dan

terluka. Tapi aku tetap harus melewatinya. "



Maka dengan segenap tekadnya, pengembara itu berjalan. Ajaib, ia tak

mengalami luka tusukkan kerikil itu sedikitpun dan tampak kakinya dalam keadaan baik-baik saja.



Sekali lagi ia

berkata dalam hati, "Betapa hebatnya aku. Kerikil tajampun tak mampu menghalangi jalanku."



Pengembara itupun kembali

melanjutkan perjalanannya. Saat hampir sampai di puncak gunung itu, ia kembali menjumpai rintangan. Batu-batu besar dan licin

menghalangi jalannya, dan tak ada jalan lain selain dia harus melewatinya. Pikir pengembara itu untuk yang ketiga kalinya,

"Jika aku harus mendaki batu-batu ini, aku pasti akan tergelincir dan tangan serta kakiku akan patah. Tapi aku ingin sampai di

puncak itu. Aku harus melewatinya. "



Maka pengembara itupun mulai mendaki batu itu dan ia...tergelincir. . Aneh,

setelah bangkit, pengembara itu tidak merasakan sakit di tubuhnya dan tak ada satupun tulangnya yang patah.



"Betapa

hebatnya aku. Batu-batu terjal inipun tidak dapat menghalangi jalanku."



Maka, iapun melanjutkan perjalanan dan

sampailah ia di puncak gunung itu. Betapa sukacitanya ia melihat pemandangan yang sungguh indah dan tak pernah ia melihat yang

seindah ini. Akan tetapi, saat pengembara itu membalikkan badannya, tampaklah di hadapannya sosok manusia yang penuh luka

sedang duduk memandanginya.



Tubuhnya penuh luka goresan dan kakinya penuh luka tusukan dan darah. Ia tak dapat

menggerakkan seluruh tubuhnya karena patah dan remuk tulangnya.



Berkatalah pengembara itu dengan penuh iba pada

sosok penuh luka itu, "Mengapa tubuhmu penuh luka seperti itu? Apakah karena segala rintangan yang ada tadi? Tidak bisakah

engkau sehebat aku karena aku bisa melewatinya tanpa luka sedikitpun? Siapakah engkau sebenarnya?"



Jawab sosok penuh

luka itu dengan tatapan penuh kasih, "Aku adalah Tuhanmu. Betapa hatiKu tak mampu menolak untuk menyertaimu dalam perjalanan

ini, mengingat betapa inginnya engkau melihat keindahan ini. Ketahuilah, saat engkau harus melewati semak belukar itu, Aku

memelukmu erat supaya tak satupun duri merobek kulitmu. Saat kau harus melewati kerikil tajam, maka Aku menggendongmu supaya

kakimu tidak tertusuk. Ketika kau memanjat batu licin dan terjatuh, Aku menopangmu dari bawah agar tak satupun tulangmu patah.

Ingatkah engkau kembali padaKU?"



Pengembara itupun terduduk dan menangis tersedu-sedu. Untuk kedua kalinya, Tuhan

harus menumpahkan darahNya untuk suatu kebahagiaan.



Kadang, kita lupa bahwa Tuhan selalu menyertai & melindungi

kita. Kita lebih mudah ingat betapa hebatnya diri kita yang mampu melampaui segala rintangan tanpa menyadari bahwa Tuhan

bekerja disana. Dan sekali lagi, Tuhan harus berkorban untuk keselamatan kita. Maka, seperti Tuhan yang tak mampu menolak untuk

menyertai anakNya, dapatkah kita juga tak mampu menolak segala kasihNya dalam perjalanan hidup kita dan membiarkan tanganNya

bekerja dalam hidup kita?





Pengirim : Albert August Dewantoro.



Dikutip dari milis pustakalewi.

dilihat : 230 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution