Sabtu, 17 Agustus 2019 23:55:48 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520076
Hits hari ini : 1680
Total hits : 4876096
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Sebuah Kisah Dibalik Tragedi 911






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 27 Juni 2008 00:00:00
Sebuah Kisah Dibalik Tragedi 911
Seorang laki-laki dari Norfolk, Virginia menelpon

sebuah radio lokal untuk menceritakan pengalamannya berkaitan dengan peristiwa 11 Septermber 2003 (Menara WTC ditabrak oleh

pesawat yang dibajak teroris). Namanya Robert Matthew, dan ini ceritanya :



Beberapa minggu sebelum peristiwa 11

September, saat sebelum kelahiran anak pertama kami, istri saya berencana untuk pergi ke California mengunjungi saudaranya.

Dalam perjalanan saat mengantarkan istri ke bandara, kami berdoa supaya perjalanan istri diberi keselamatan dan perjalanannya

diberkati Tuhan.



Tak lama setelah saya berkata, "Amin", kami mendengar suara letusan dan mobil berguncang keras.

Ternyata roda ban mobil kami pecah. Saya berusaha mengganti ban yang pecah secepat mungkin, tetapi ternyata kami tetap

ketinggalan pesawat. Kami sangat kesal, dan memutuskan untuk pulang.



Di rumah saya menerima telpon dari ayah saya,

seorang pensiunan NYFD (Dinas Pemadam Kebaran New York). Dia bertanya berapa nomer pesawat istri saya, tapi saya saya katakan

kami ketinggalan pesawat. Sambil dalam keadaan terguncang, ayah berkata bahwa pesawat yang sedianya dinaiki istri saya adalah

pesawat yang dibajak oleh teroris untuk menabrak menara sebelah selatan dari WTC. Ayah juga memberitahukan informasi yang lain.

Dia akan mejadi relawan membantu NYFD untuk menolong korban yang ada. Dia berkata, "Saya tidak bisa diam saja melihat musibah

ini. Saya harus melakukan sesuatu untuk menolong mereka."



Saya mengkuatirkan keadaan ayah, tetapi sebetulnya saya

lebih prihatin karena ayah belum menyerahkan hidupnya pada Kristus. Setelah melewati perdebatan singkat, saya mengetahui bahwa

tekad ayah sudah bulat. Sebelum menutup telpon ayah berkata, "Jaga baik-baik cucu ayah." Itu adalah kata-kata terakhir yang

saya dengar, karena ayah juga termasuk korban yang jatuh pada saat NYFD melakukan penyelamatan di menara

WTC.



Sukacita saya karena Tuhan sudah menjawab doa saya dengan menyelamatkan istri saya, berubah menjadi kamarahan.

Saya marah kepada Tuhan, marah kepada ayah saya dan marah kepada diri saya sendiri. Hampir dua tahun saya menyalahkan Tuhan

karena sudah merenggut ayah dari keluarga kami. Anak saya tidak akan pernah bertemu kakeknya, ayah saya tidak menerima Kristus,

dan saya tidak sempat mengucapkan kata-kata perpisahan.



Kemudian sesuatu terjadi. Sekitar dua bulan lalu, saat saya

sedang duduk di ruang keluarga bersama istri dan anak saya, ada suara ketukan di pintu. Saya bertanya kepada istri, tetapi dia

menjawab tidak ada temannya yang berencana datang. Akhirnya saya membuka pintu, dan di depan saya berdiri sepasang suami istri

dengan anak kecil yang digendong. Suaminya bertanya apakah nama ayah saya Jake Matthew. Saya menjawab ya. Segera dia menjabat

erat-erat tangan saya dan berkata, "Saya tidak pernah punya kesempatan bertemu dengan ayah anda, tetapi ini suatu kehormatan

bertemu dengan anaknya."



Dia kemudian menjelaskan bahwa istrinya bekerja di World Trade Center (WTC) dan terjebak di

dalamnya saat terjadi musibah. Dia dalam keadaan hamil dan tertimpa reruntuhan bangunan. Kemudian dia menjelaskan bahwa ayah

saya berhasil menemukan istrinya dan menolongnya. Mata saya sembab dan penuh air mata saat saya membayangkan bahwa ayah telah

mengorbankan nyawanya untuk menolong orang-orang seperti yang datang saat ini. Kemudian dia melanjutkan, "Ada hal lain yang

anda harus ketahui."



Istrinya kemudian menyambung penjelasan, bahwa saat menyelematkan dirinya, dia sempat

bercakap-cakap dengan ayah saya—dan menuntunnya untuk menerima Kristus. Saya mulai sesenggukan saat mendengar cerita itu.

Sekarang saya tahu bahwa ayah sudah berada di surga. Dia akan berdiri di samping Yesus untuk menyambut saya di surga—dan

keluarga ini nantinya dapat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya.



Ketika anaknya lahir, mereka

menamainya Jacob Mattew sebagai penghormatan kepada orang yang sudah mengorbankan nyawanya sehingga anak itu beserta ibunya

bisa hidup.



Kisah nyata ini membantu kita untuk memahami dua hal. Pertama : Tuhanlah yang memegang peranan untuk

mengatur hidup kita dengan ajaib. Kita mungkin tidak bisa memahami apa yang ada dibalik semua peristiwa yang terjadi, dan kita

tidak tahu setiap kejadian menurut sudut pandang surgawi. Tetapi Tuhan sendirilah yang campur tangan dan merencanakan setiap

peristiwa yang terjadi. Dan yang kedua : setelah lewat dua tahun peristiwa penyerangan tragis terhadap WTC, kami tidak boleh

membiarkan hal itu tetap menjadi sebuah ingatan yang pahit.



Tuhan tidak pernah memanggil orang-orang yang sempurna,

tetapi DIA akan menyempurnakan panggilanNya.



Pengirim : Albert August Dewantoro.



Dikutip dari milis

pustakalewi.

dilihat : 440 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution