Senin, 16 Juli 2018 02:07:12 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 182
Total pengunjung : 405925
Hits hari ini : 3088
Total hits : 3698912
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -H O P E... H o p E...






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 20 Juni 2008 00:00:00
H O P E... H o p E...
I

Petrus 1: 3b



Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus keluar. "Istri Anda dalam

keadaan baik. Namun sayang keadaan bayinya membahayakan jiwa istri Anda. Ada satu hal yang harus Anda putuskan, keselamatan

istri Anda atau bayinya. Saya tahu hal ini sulit, namun kami telah berusaha sekuat mungkin. Akhirnya kami harus menemui Anda,

sebab keputusan Anda amat menentukan. Jika Anda sudah siap, silahkan kami dihubungi dan menandatangani formulir ini", setelah

berkata demikian dokter tersebut memeluk bahu pria yang diajak bicara.



Sorot matanya di balik kaca mata yang tebal

memberi semangat pada pria yang tubuhnya gemetar. Rata Penuh Pria yang sedari tadi gelisah, sekarang bertambah gemetar

setelahmenerima berita yang meluncur dari mulut dokter yang memeluknya.



Wajahnya jadi pucat seperti mayat. Butiran

keringat dingin sebesar kacang kedelai bermunculan di dahinya. Mulutnya menganga, lidahnya kelu. Matanya nanar. Setelah

berusaha menelan ludahnya, ia berusaha mengeluarkan kata-kata.



"Dokkkkter, .....mmm. bbberi kesempatan saaaya untuk

berdoa".



Kepala dokter tersebut menggangguk, tanda setuju. Ruangan tunggu kelahiran bayi malam itu sepi menggigit,

sinar lampunya nampak pudar.



Suasana saat itu bisu dingin menutupi tembok sekeliling ruangan itu. Pria itu kemudian

tertunduk. Wajahnya ditenggelamkan atas kedua telapak tangannya yang menopangnya. Suara tangis tertahan bercampur kepedihan dan

rasa takut menimbulkan suara yang keluar dari mulutnya seperti suara berguman, tidak jelas. Suasa kembali sunyi . Kemudian ia

perlahan bangkit, berjalan menuju perawat yang berdiri menunggunya.



"Suster, katakan kepada dokter, istri saya perlu

diselamatkan, sedapat-dapatnya selamatkan juga anak saya. Saya telah melihat harapan."



Suster itu hanya menggangguk,

kemudian menyodorkan sehelai lembaran formulir. Setelah ditandatangani. Ia kembali menunggu.



Persalinan berlangsung

sulit. Dokter berupaya mengeluarkan bayi dari dalam rahim wanita yang sudah mulai kehabisan tenaga. Dengan alat khusus, dokter

tersebut mengupayakan kepala sang bayi dapat keluar terlebih dahulu. Namun tiba-tiba, crot.., darah segar muncrat disertai bola

mata yang masih terikat ototnya keluar mengelantung, baru kemudian kepala bayi. Merasa berpacu dengan waktu, dokter makin

berusaha keras untuk mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu. Bunyi gemeretak tulang rawan bayi yang patah karena proses tersebut.

Akhirnya, tubuh bayi yang mirip seonggok daging tersebut utuh keluar dari dalam rahim. Persalinanpun berjalan sampai

tuntas.



Dokter segera memerintahkan seorang perawat agar membersihkan tubuh bayi tersebut dan segera dimasukkan

kantong mayat. Namun Tuhan yang mendengar doa bertindak lain. Tubuh bayi yang masih berlumuran darah dibersihkan terlebih

dahulu oleh perawat. Saat tangan sang perawat membersihkan tubuh bayi di bagian dada sebelah kiri, nampak denyut jantung yang

lemah. Tanda kehidupan. Rupanya denyut yang lemah terlihat oleh sang perawat tersebut. Segera bayi tersebut di kirim ke ruang

khusus.



Empat tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak mirip monster hidup. Ia di beri nama William

Cutts. Jika bayi normal, diusia sebelas tahun telah belajar berjalan, tidak demikian dengan William Cutts. Ia baru belajar

merangkak seperti anjing. Kepala bagian kanan agak besar, matanya yang kanan rusak berat, tidak mungkin bisa

melihat.



Bahunya miring. Menjelang remaja, jalannya miring seperti tiang hampir roboh. Dan kata dokter, otaknya tak

akan sanggup berkembang alias tidak mungkin bisa belajar seperti manusia normal.



Sudut pandang dokter rupanya beda

dengan kedua orang tuanya, mereka melihat harapan. Orangtuanya terus membesarkannya dengan penuh kasih sayang. "Kelak anakku

akan dipakai Tuhan secara luar biasa, sebab aku yakin harapan itu ada", demikian doa kedua orangtuanya, setiap kali melihat

William Cutts yang selalu kesulitan dengan menyelaraskan jalannya dengan bahunya. Tuhanpun mewujudkan harapan

anak-anakNya.



Tepat pada waktuNya, William Cutts bersimpuh di kaki- Nya, satu ayat yang dipegangnya yang menjadi

dasar panggilannya, "Justru di dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna", II Korintus 12: 9. Inilah sumber pengharapan

baginya.





Tuhan Tidak Pernah Menyia-Nyiakan Orang Yang Berharap Kepada-Nya.



Tuhan pun membuktikan

janjiNya. Apa yang tidak dipandang oleh dunia, dipakai Allah secara luar biasa. Dengan segala keterbatasannya, William Cutts

maju untuk taat. Harapan demi harapan terkuak setelah ia taat melangkah.



Setelah menyelesaikan sarjananya di sekolah

theologia, ia menjadi utusan misi ke Irian Jaya, Indonesia. Tuhan meneguhkan janjiNya, dalam kelemahan kuasa-Nya nyata. Tiap

langkah pelayanan William Cutts, Tuhan meneguhkan dengan mujizat-Nya. Semua ini diawali dengan orang yang melihat harapan dan

mempercayai harapan di dalam Yesus itu pasti ada dan tidak pernah sia-sia.



William Cutts telah menyaksikan apa makna

hidup di dalam pengharapan yang berlimpah di dalam Kristus!



Sesungguhnya harapan di dalam Kristus itu,

adalah;



Harapan selalu memperlihatkan pada orang percaya bahwa di ujung jalan yang gelap ada

terang.



Harapan selalu dapat menopang kehidupan orang percaya yang telah patah semangat dan tak

berdaya.



Harapan selalu memberikan peluang, kemungkinan dan kepastian ada pemulihan kembali saat kehidupan dirasa

seperti buluh yang patah atau sumbu hanya tinggal asap.



Jadi harapan itu selalu memberikan kehidupan, semangat,

gairah dan kesegaran baru. Dan ..



Orang yang berharap kepada Tuhan tak pernah dibiarkan malu

tersipu-sipu!



Harapan yang Tuhan Yesus berikan bukan harapan seperti yang Anda dipikirkan atau dunia tawarkan.

Harapan di dalam Kristus bukan harapan yang terbatas, tidak pasti dan bersifat temporer. Harapan di dalam Kristus adalah

harapan yang melimpah, pasti, dan berlimpah bak sungai.



Harapan yang demikian selalu ada di dalam diri orang

percaya.



Dan harapan itu amat nyata secara khusus bagi orang-orang percaya yang mengalami berbagai-bagai dukacita

karena pencobaan (ay. 6).



Jika demikian mengapa Anda berkata , "tidak ada harapan bagiku?" Ambillah selangkah lagi,

lihat tangan-Nya terbuka siap memeluk Anda.



Pengirim : Albert August Dewantoro.



Dikutip dari milis

www.pustakalewi.net

dilihat : 248 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution