Sabtu, 23 November 2019 03:32:31 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520228
Hits hari ini : 390
Total hits : 5102163
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Antara Saksi Yehuwah dan Ahmadiyah






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 08 Juni 2008 00:00:00
Antara Saksi Yehuwah dan Ahmadiyah
Sore hari di akhir pekan kemarin, rumah kontrakan saya di kawasan

Salemba, Jakarta Pusat, kedatangan dua orang tamu tak diundang. Dua perempuan yang usianya masih belum 35-an tahun itu

mengenalkan diri sebagai Evi dan Siti. ”Kami dari kelompok Saksi Yehuwah, sedang berkeliling ke daerah sini.” kata Evi, yang

tampak menjadi mentor bagi tandemnya. Saksi Yehuwah, merupakan sempalan dari Kristen yang sempat dilarang beraktivitas di

Indonesia karena dianggap ”sesat.”



Sebenarnya bukan kali ini anggota SY, kita sebut saja begitu, datang ke rumah

petak kami. Namun, baru pada kesempatan ketiga inilah saya dapat menyediakan waktu untuk mereka. Kesempatan pertama, mereka

datang siang hari, dan hanya ditemui nanny di rumah kami. Sorenya, nanny kami itu melapor kalau hari itu ia mendengarkan ”kisah

penginjilan” sembari sibuk-sibuknya menyeterika pakaian.



Setelah dua pekan lalu seorang anggota SY lain datang pagi

hari, tepat saat kami akan beranjak memeriksakan anak ke rumah sakit, baru kesempatan kemarinlah saya membuka

pintu.



”Jadi, datangnya hanya ke rumah yang penghuninya Kristen?” tanyaku dingin, mengawali

pembicaraan.



”Oh, tidak. Pak. Kami berkunjung ke siapa saja. Karena Yesus kan bilang Ia datang bagi semua orang.

Tapi, kami tidak mau membabi buta. Kami datang setelah lihat tanda salib itu,” kata Evi menunjuk salib berdaun palem di ruang

tamu rumah saya.



Ia pun bertanya, tentang kesusahan hidup yang akhir-akhir ini melanda dunia. ”Menurut Bapak,

mengapa hal itu bisa terjadi?”



”Lha, kan dalam Matius 24 sudah disebutkan begitu?” jawab saya.”Menurut Bapak, apakah

semua ini ujian dari Tuhan?” tanyanya lagi.



”Allah kan tidak mencobai siapapun juga. Alkitab menyatakan begitu kan,”

jawab saya.Ia masih melanjutkan, ”Kalau begitu, semua ini karena siapa?”



Saya jawab lagi, ”Karena diri kita

sendiri.”Merasa kurang puas, ia meminta saya membuka I Yohanes 5:19. ”Pakai Alkitab situ saja deh,” kata saya. Lalu ia membaca,

yang menyatakan bahwa dunia ini dikuasai si jahat.



Demikian terus dialog berlanjut, seperti pertanyaan, apa yang

ditinggalkan Yesus bagi kita sekarang, kapan hari kiamat datang, serta bagaimana gambaran kehidupan kekal nanti. Ketika saya

mereferensi Wahyu 21 sebagai bayangan dunia baru nanti, ia seperti pusing.



”Kok Bapak tahu banyak? Gerejanya mana?”

katanya.Saya menjawab bahwa kami biasa beribadah di Gereja Katolik St. Paskalis, Cempaka Putih.



Ia menyisakan

penasaran, yang segera saya potong, ”Memangnya Katolik tidak boleh tahu banyak?” Sebelum kemudian isteri saya buru-buru

menjelaskan bahwa kami menikah berbeda agama, ia memeluk Katolik dan saya Kristen. ”O....” gumam si Evi.



Sekitar 20

menit di rumah kami, dua delegasi SY pamit baik-baik dengan menitipkan buletin Sedarlah! dan Menara Pengawal edisi April 2008.

Mereka kembali takjub saat tahu respon saya membaca judul media itu, ”O.. Watch Tower ya...” kata saya.



”Sudah tahu

ya?” sahut Evi heran, yang buru-buru saya jawab, ”Saya pernah baca di majalah.”



Isi dua media itu biasa-biasa saja,

kecuali lay-out dan ilustrasinya yang menarik. Isinya juga tidak bertentangan dengan Alkitab. Sama seperti saat saya bertanya,

”Alkitabnya sama kan?” dan ”Saksi Yehuwa percaya Yesus kan?” Dua-duanya dijawab dengan nada positif.



Hehe, mungkin

mereka tidak sadar sedang berhadapan dengan seorang wartawan, yang tak mau melewatkan kesempatan balik bertanya. Maka, Evipun

bercerita, jumlah umat SY di seluruh dunia sekitar 7 juta jiwa, di Jakarta pusatnya di Jalan Danau Maninjau, Benhil. Lanjutnya,

”Di Jakarta ada seratus tempat ibadah.” Termasuk yang biasa didatangi Evi tiga kali sepekan di Kramat II, Kwitang, tempat

sementara sumbangan seorang jemaah SY, sementara mereka sedang membangun tempat permanen di Gunung Sahari IV, juga di Jakarta

Pusat.



Adapun Evi mengaku sebagai seorang wiraswastawati pembuat kue yang tinggal di kawasan Tanah Tinggi, Jakarta

Pusat. ”Kami melakukan kegiatan ini di sela-sela kerjaan utama. Tidak dibayar, dan tidak meminta bayaran,” katanya. Ia

mengakui, sejak 1975 hingga 2001 SY dibekukan oleh Kejaksaan Agung, namun kemudian kembali diizinkan beraktivitas di era

Presiden Gus Dur. ”Kalau bapak masih ada pikiran lain tentang SY, silakan baca aja buku itu,” katanya. Evi berjanji akan datang

lagi untuk berdiskusi. Saya memilih memberikan nomer ponsel saya.



Begitulah. Saya bersyukur, dapat menerima SY

secara terbuka, setelah sebelumnya ada pikiran anitipati di kepala ini. Kalau saja saya mengusir Evi dan Siti serta tidak

memperkenankan mereka masuk ke ruang tamu, saya berpikir, apa bedanya dengan teman-teman Muslim yang tidak menyetujui

keberadaan Ahmmadiyah lalu merusak rumah ibadah serta mengejar-ngejar umatnya? Saya kira, pintu dialog harus dibuka, meski

kalau bicara urusan tarik-menarik, itu perkara lain.



Jadi, bersiaplah. Barangkali esok, delegasi SY akan mengetuk

pagar rumah Anda dengan penampilan layaknya sales shampoo atau surveyor riset pasar. Pilihan sepenuhnya ada pada Anda:

menerima, mengajak berdebat, menutup pintu, pura-pura sibuk, melaporkannya kepada RT, atau malah melempari mereka dengan

batu...



Oleh : Agustinus Jojo Raharjo

dilihat : 446 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution