Senin, 24 September 2018 19:01:44 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 130
Total pengunjung : 422936
Hits hari ini : 1414
Total hits : 3896348
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Toyohiko Kagawa






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 10 Juni 2008 00:00:00
Toyohiko Kagawa
Nabi dari Jepang



Nama Toyohiko Kagawa memang tidak

sepopuler Billy Graham atau Martin Luther, tetapi tidak berarti hidup dan karya ‘nabi’ dari Jepang ini kurang menarik untuk

disimak. Seluruh hidupnya merupakan khotbah yang hidup tanpa dipoles dengan segala macam ilustrasi dan

humor.





Masa Kecil



Kelahirannya saja merupakan satu mukjizat. Ia dilahirkan dalam keluarga Buddha

kaya di Kobe, 10 Juli 1888. Ia terlahir akibat ‘keberandalan’ ayahnya dengan seorang geisha yang lincah dan cantik. Sang ayah

sebenarnya sekretaris Dewan Pertimbangan Agung (setingkat menteri kabinet). Kedudukan inilah yang membuatnya dapat banyak

bergaul dengan orang-orang penting Zaman Meiji, zaman pemerintahan progresif.



Sekalipun moral orangtuanya begitu

bobrok, Tuhan mempunyai rencana yang agung bagi Kagawa. Dari lumpur dosa mereka, ia dibentuk menjadi bejana yang indah dan

berguna di ladang-Nya. Pemrosesan Allah terhadap diri Kagawa memang sulit dibayangkan. Pada usia empat tahun kedua orangtuanya

yang hidup kumpul kebo itu meninggal. Setelah badai menyapu bersih tiang sandaran hidupnya, dia dan kakak perempuannya dikirim

ke Awa, desa leluhur ayahnya.



Di sinilah Kagawa tidak mendapat sambutan dan perlakuan yang baik dari ibu dan nenek

tirinya. Masa kecilnya diliputi penderitaan. Sekalipun ia dibesarkan di rumah yang bagaikan neraka, tekadnya untuk belajar di

‘sekolah penderitaan’ tak pernah surut. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia dikirim ke Tokushima. Dia bersekolah di

Sekolah Menengah pria di Pulau Shikoku. Kepergiannya dari rumah ibu tirinya tidak mampu menghapuskan kesepian dan kepahitan

yang mencekam batinnya.



Di sekolah yang baru, Kagawa tidak disukai teman-temannya karena tidak mau berkompromi

dengan kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan. Dilihat dari segi usia, ia masih remaja, tetapi pengalamannya di ‘sekolah

penderitaan’ di Awa dan pelajaran-pelajaran yang dia dapatkan dari alam memberinya kepandaian yang jauh melebihi umurnya. Ia

menjadi dewasa sebelum waktunya. Penolakan teman-temannya yang suka berjudi, melacur, mencuri menjadikan Kagawa seorang yang

melankolis.





Bertobat



Sebagai kompensasi dari keterasingannya, ia belajar ekstra keras. Lingkungan

yang tak bersahabat itu membuatnya tercekam oleh kesepian yang mendalam. Hampir tiap hari ia mencucurkan airmata kepahitan

sehingga penat dan tak mampu menangis. Atas penderitaan itu, batinnya menjerit, “Hidup ini bak ombak yang mengamuk. Sekalipun

kita melintasi kaki langit, awan menggulung terus di kejauhan dan jarak langit tetap jauh. Lalu, angin mereda dan takdir

menghadapkan kita dengan cakrawala baru yang biasa dan pudar. Tidak ada yang dapat diubah kecuali turut melayang bersama awan

dan diguyur air hujan. Oh… semoga guruh sambung-menyambung dan hujan turun dengan lebat. Atau, biduk hidup karam dan aku turut

tenggelam tenteram.”



Dalam keputusasaan yang mendalam, beberapa penginjil muncul. Kagawa yang tercengkram lumpur

penderitaan hidup mulai merasakan getaran-getaran kasih sayang dari para penginjil yang dikenalnya melalui Tuan Katayama,

seorang guru Kristen di sekolahnya. Kehadiran para penginjil ini menjadi berkat besar dalam hidupnya. Para penginjil inilah

yang mengangkat Kagawa muda dari rawa keputusasaan. Mereka adalah Dr. Hary W. Myers dan Dr. C.A. Logan. Kagawa menyebut Dr.

Myers sebagai bapa dalam iman dan Dr. Logan sebagai penasihat dan pembimbingnya. Di rumah Dr. Myers, Kagawa belajar berbahasa

Inggris. Tak jarang dia disuruh menghafal ayat-ayat Alkitab.



Karena sentuhan kasih Kristus itulah Kagawa berani

berkata, “Jadikanlah aku seperti Kristus.” Kepada sang paman yang menentang pertobatannya, ia berani berkata, “Pernahkah Paman

menjenguk kampung-kampung kumuh? Pernahkah Paman melihat gereja ketika matahari menyinarinya? Semua bergelimang cahaya kemilau.

Tapi, dalam keremangan bayangan semua itu, di situlah juga berdiri deretan gubuk yang berdiri seperti kotak-kotak kecil tak

beraturan. Di situlah ratusan anak dan orang tua menemui ajalnya. Pernahkah Paman menyaksikan dari dekat kehidupan kota di

balik jendela ini? Pernahkah Paman melewati para orang buta, lalu melihatnya ke tempat-tempat mereka di seberang jalan ini?

Itulah pondok-pondok mereka. Padahal di Kobe dan di Tokyo, para keluarga miskin bahkan mendiami kandang-kandang reot seluas

kurang lebih dua meter persegi.”



Pamannya yang merasa malu mengusir Kagawa dari rumah. Pada usia 15 tahun, dia

dibaptis tanpa sepengetahuan pamannya. Ia kemudian meninggalkan rumah Tuan Myers. Sebenarnya, Kagawa akan melanjutkan studinya

di Imperial University, tetapi karena ia sudah menjadi Kristen, pada tahun 1905 ia masuk ke Presbyterian Junior College di

Tokyo. Kagawa memang kutu buku, sehingga baru dua tahun ia mengenyam pendidikan di lembaga ini, hampir semua buku penting di

perpustakaan telah dibacanya: Akal Murni dari Kant, Fauste dari Goethe, Asal-usul Jenis dari Darwin. Kehadirannya di kelas

sempat membuat beberapa dosennya malu sebab bacaannya lebih luas daripada bacaan mereka. Kawan-kawan menyebutnya sebagai

‘Transendentalis’ karena dia menaruh perhatian pada filsafat masalah sosial dan hal-hal lain yang berada di luar jangkauan

pemikiran mereka.





Menjadi Seperti Kristus



Doanya menjadi seperti Kristus mulai menjadi kenyataan.

Semasa kuliah tak jarang teman-temannya terkesima melihat tingkah lakunya. Ia pernah menyelamatkan seorang kacung dari parit,

menampung seorang pengemis dari pinggir jalan. Ia pun memberikan uang tunjangannya kepada orang yang memerlukannya. Sepatu,

bahkan pakaian yang melekat di badannya diserahkan juga kepada orang miskin. Para mahasiswa yang miskin pun tak terhindar dari

uluran tangannya.



Kepeduliannya terhadap masalah kasih dan perdamaian membuatnya berani mengkritik negaranya yang

menyerang Rusia. Kagawa adalah seorang penginjil yang penuh semangat. Dia mengkritik orang Kristen yang suam-suam kuku. Dia

meminta agar manusia memperbaiki hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya.



Pada tahun kedua masa kuliahnya, penyakit

TBC akut menyerang tubuhnya. Ia terpaksa menghentikan kuliahnya dan kemudian mengasingkan diri ke tepi pantai. Namun demikian,

semangatnya untuk memberitakan Injil tidak pernah padam. Di gubuk kotor di tepi pantai itu, ia memberitakan Injil kepada para

nelayan. Di tempat inilah ia mengalami mukjizat. Ia sembuh dari sakit, kemudian melanjutkan studi di Kobe Presbyterian

Seminary, Jepang dan The Princeton Seminary, Amerika Serikat sampai memperoleh gelar Master of Divinity (M.

Div.)



Pada Natal tahun 1909, ia memutuskan tinggal di daerah miskin dan kumuh di Shinkawa. Di sini ia tampil sebagai

seorang nabi pembebas. Bermodal iman seteguh karang, ia mendirikan gubuk seluas 4 meter persegi. Di gubuk inilah, ia

memancarkan sinar Kristus. Di gubuk itu, ia menampung orang-orang yang menderita, sekaligus membiayai keperluan hidup mereka

dengan beasiswa yang diterimanya. Di lorong-lorong yang berbau busuk dan penuh genangan air ini, Injil

berkumandang.



Kagawa mengatur dengan baik pertemuan ibadah di Shinkawa sehingga semakin banyak orang yang

mendengarnya. Meskipun demikian, ia tak luput dari perlakuan tidak baik. Gangguan dan cobaan muncul dari orang-orang yang tidak

menyukainya. Dalam situasi yang rawan ini, ia justru terdorong untuk meneliti penyebab penderitaan dan berusaha mencari jalan

keluarnya. Dari hasil penyelidikan ini lahirlah buku yang terkenal, The Psychology of Poverty.



Buku ini mendapat

perhatian besar pemerintah Jepang. Dari ide-ide buku ini, pemerintah berusaha menghapus daerah slums (miskin) dan

menggantikannya dengan perumahan murah. Sewaktu terjadi krisis ekonomi di Jepang, gubuk Kagawa di Shinkawa dibanjiri

orang-orang miskin. Mereka berdatangan untuk meminta makan dan tempat tidur. Di antara mereka banyak yang mengidap penyakit

menular, seperti kudisan, TBC.



Sekalipun Kagawa menampung para sampah masyarakat, tetapi ia tak luput dari ancaman

para penjahat. Ia pernah diancam akan dibunuh oleh para germo yang merasa kehilangan para pelacurnya. Dari fenomena hidup yang

dialaminya, lahirlah roman terkenal, Di Seberang Garis Maut. Tanpa diduga, roman ini dibayar dua setengah juta rupiah oleh

Majalah Kaizo, suatu jumlah yang spektakuler di zaman itu. Namun, uang sebanyak itu dihabiskan bersama kaum

miskin.



Pada tahun 1914, tepatnya di bulan Mei, Kagawa melangsungkan pernikahan dengan Maruko Shiba yang setia

mengabdikan diri kepada pekerjaan suaminya sampai akhir hidupnya.



Tahun 1915 sampai 1917, ia kuliah di Universitas

Princeton, Amerika. Selesai kuliah, ia kembali ke Shinkawa. Pada tahun 1941, ia menjadi Ketua Serikat Pemintal Osaka, Penasihat

Serikat Tani se-Jepang. Dia juga menjadi pemimpin kaum buruh dan tani yang anti dengan program merah.



Tanpa diduga,

pada tahun 1923 terjadi gempa bumi hebat yang menelan banyak korban. Selain itu, bangunan-bangunan milik pemerintah, swasta,

pabrik, dan kereta api pun hancur. Di saat krisis itulah, pemerintah membutuhkan seseorang yang ulet untuk menyumbangkan

pikirannya guna membangun kembali kota yang telah porak-poranda. Karena kabinet tak mampu mengatasi keadaan, maka dibentuklah

Panitia Eko nomi Kerajaan untuk membantu pemerintah dalam pekerjaan rekonstruksi besar-besaran. Panitia itu terdiri dari 180

orang terpandai dari kalangan pejabat dengan perdana menteri sendiri sebagai ketua.





Perjuangan di Bidang

Sosial



Kagawa masuk dalam keanggotaan panitia itu. Ia terus memperjuangkan nasib kaum buruh dan kaum tani dengan

membuat Undang-Undang Anti Eksploitasi Tanah. Usahanya yang gigih itu berhasil mencabut larangan polisi terhadap

organisasi-organisa si mereka. Tahun 1925, atas perjuangan Kagawa, kaum buruh diberi hak untuk mendirikan

organisasi.



Pada musim dingin tahun 1930-1931, Tokyo mengalami kesulitan keuangan karena dananya terkuras untuk

program rekonstruksi bencana gempa. Pengangguran meluap dan ribuan orang miskin tidak memiliki rumah. Menghadapi kesulitan ini,

Walikota Horikiri menawarkan gaji Rp. 9.000.000 plus mobil dinas kepada Kagawa untuk menjabat sebagai Kepala Biro Kesejahteraan

Kota, tapi ia menolak. Ia menerima tawaran itu setelah menerima tawaran kedua, tetapi tetap menolak gaji itu.



Puncak

kegiatan Kagawa di bidang sosial adalah ketika ia memulai gerakan yang disebut “Gerakan Kerajaan Allah”. Gerakan ini merupakan

gerakan pekabaran Injil, sekaligus gerakan perbaikan sosial. Selama masa kampanye, gerakan ini berhasil menobatkan 25.000 orang

untuk mengikut Kristus. Selain menerbitkan mingguan “Kerajaan Allah” ia juga membuka pos-pos pusat pelatihan penginjil awam.

Dari sini terkumpul 5.000 sukarelawan yang siap diterjunkan di 12.000 desa yang belum pernah dikunjunginya. Dalam

penginjilannya, ia sering mengkritik gereja karena tidak mengulurkan tangan bagi kaum miskin.



Tahun 1925, ia pernah

berkeliling ke Amerika dengan mengamanatkan “Kasih adalah Hukum Kehidupan”. Tahun 1934, ia berada di Tiongkok untuk

mengembangkan koperasi-koperasi Kristen. Ia pun pernah ke Australia, Filipina, Yerusalem, Madras, dan lain-lain. Semua

kunjungannya itu berhubungan dengan pekabaran Injil. Ia adalah seorang pecinta damai dan menolak menyembah kaisar. Baginya

hanya Kristus yang patut disembah. Kagawa mengutuk pemboman sekutu atas Hiroshima dan Nagasaki. Usai perang dunia, sikap

pemerintah Jepang berubah terhadapnya.



Pemerintah menganugerahinya bintang jasa atas jasanya menolong para korban

perang. Ia juga diminta menjadi anggota parlemen mewakili kaum buruh. Namun, ia menolak tawaran dengan alasan, “Aku dipanggil

Tuhan bukan untuk menjadi politikus, melainkan untuk memberitakan Injil.”



Di kalangan para penulis modern, Kagawa

dikategorikan sebagai penulis produktif. Sampai tahun 1945, ia telah menerbitkan 60 judul buku, 80 judul pamflet, dan

selebaran. Buku-bukunya yang termasuk ‘best seller’ adalah Di Seberang Garis Maut, Dari Bintang ke Bintang, Penembak Matahari,

Sebutir Gandum, Mendengar Suara di Tembok. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah The Religion of Jesus (Agama Yesus, tahun

1931), New Life Through God (Hidup Baru Melalui Allah, 1934), Song from the Slums (Suara dari Tempat Kumuh,

1935).



Tepat pada tanggal 23 April 1960, malaikat Tuhan menjemputnya. Ia meninggal dunia di rumahnya dan dimakamkan

di Tokyo 6 hari kemudian. Pemakamannya dihadiri ribuan orang dari berbagai kalangan. Mulai dari para pemimpin politik sampai

para pendeta Buddha. Kematiannya begitu menggemparkan dan banyak orang merasa kehilangan. Hidup dan karya sang nabi

dipersembahkan tanpa sisa di Mezbah Tuhan dalam pelayanan kaum miskin. Ia berpesan, “Angkatlah suaramu dan tersenyumlah.

Jadikanlah senyumanmu sebagai senjata. Karena senyuman lebih ampuh daripada pistol bahkan lebih dahsyat daripada ledakan

bom…!”



Kini nabi dari Jepang itu telah tiada. Namun semangatnya dalam memberitakan Injil dan kegigihannya mengangkat

para sobat Yesus yang miskin merupakan permata yang perlu diwariskan. Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia berdoa, “Tuhan,

kami berterima kasih kepada-Mu. Sudilah Engkau menganugerahkan kasih karunia-Mu kepada gereja kami. Sudilah Engkau

menyelamatkan tanah air kami. Ke dalam tangan-Mu kami serahkan segala yang ada pada kami, dalam kedamaian. Dalam nama Yesus

Kristus. Amin.”



(Rudy N. Assa, Tokoh-tokoh Kristen Yang Mewarnai Dunia, Yogyakarta: Yayasan Andi,

2002)





+++++++



Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan

segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.



Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah:

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.



Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab

para nabi."



Tuhan Yesus (Matius 22:37-40)

dilihat : 256 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution