Senin, 23 Juli 2018 16:45:27 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 186
Total pengunjung : 407734
Hits hari ini : 1321
Total hits : 3718471
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Orang Yang Bersih Kelakuannya, Akan Berbahagia Keturunannya






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 06 Juni 2008 00:00:00
Orang Yang Bersih Kelakuannya, Akan Berbahagia Keturunannya
Keluarga

Yusuf

Kejadian 50 : 15 – 26



Keluarga yang akan kita bicarakan di sini adalah keluarga Yusuf. Pelajaran yang

bisa kita petik dari kisah keluarga ini, yaitu “orang yang bersih kelakuannya akan berbahagia keturunannya”. Saya meyakini

bahwa setiap kita yang berkeluarga tentu mendambakan kebahagiaan, bukan saja bagi diri kita sebagai suami/isteri saja, tetapi

juga bagi keturunan-keturunan kita nanti. Kita semua tentu mengharapkan dapat mewariskan bukan hanya harta kepada anak cucu

kita, tetapi juga kebahagiaan.



Dalam kisah di atas Allah mengizinkan Yusuf melihat anaknya melahirkan anak-anak

mereka, sampai turunan yang ketiga. Yusuf sempat menggendong cucu-cucu dan cicitnya. Semuanya lahir di pangkuan Yusuf. Yusuf

sempat melihat kebahagiaan keturunannya.



Kita semua tentu mendambakan kebahagiaan seperti itu. Kita mendambakan

supaya apabila anak kita menikah, mereka mendapatkan pasangan yang baik. Kita mengharapkan mendapat menantu maupun besan yang

baik. Kita mengharapkan mereka menikmati kebahagiaan. Kita akan dapat mengalami kebahagiaan seperti yang dialami Yusuf, jika

kita menerapkan juga prinsip-prinsip firman Tuhan yang diterapkan Yusuf dalam kehidupan pernikahan dan

keluarganya.





Karakter Seorang Benar



Jika kita menyimak kisah kehidupan Yusuf, maka kita akan

mendapati bahwa Yusuf adalah seorang yang mempunyai karakter yang baik dan tingkah laku yang bersih. Salah satu karakternya

yang perlu kita teladani adalah sikapnya yang menurut. Tidak ada unsure pemberontakan di dalam dirinya. Dia menurut, baik

kepada Allah maupun kepada orang tuanya. Sebagai anak dari seorang yang takut/percaya kepada Allah, tentu dia banyak mendapat

pengajaran firman Tuhan dari ayahnya, Yakub. Dia mendengar dengan baik pengajaran-pengajaran dari ayahnya sebagai pedoman

hidupnya. Dia tidak melawan atau membantah pengajaran orang tuanya.



Ketaatannya kepada Allah diwujudkan dalam sikap

hormatnya kepada orang tuanya. Sejak dia masih kanak-kanak, dia sudah hormat kepada orang tuanya. Apa saja yang diperintahkan

oleh orang tuanya, dia kerjakan dengan senang hati (Kej. 37 : 13, 14). Ketaatan kepada orang tuanya ini menyebabkan tumbuhnya

rasa sayang yang berlebihan dari orang tuanya. Akibatnya Yusuf lebih disayang oleh orang tuanya daripada saudara-saudaranya

yang lain (Kej. 37 : 3).



Sikap penurut ini tetap dimiliki Yusuf sampai dia bertumbuh menjadi seorang remaja. Ketika

dia dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya, tidak ada kata-kata keluhan ynag keluar dari mulutnya. Dia tetap menurut

sekalipun perlakukan itu tentunya mendatangkan kepedihan di hatinya.



Kita bias membayangkan bagaimana ketika dia

dibawa oleh saudara Arab ke Mesir. Di sana dia tentu ditawarkan kemana-mana sampai ada seorang yang mau membeli dirinya. Atau

barangkali dia dibawa ke pasar budak, lalu disuruh berdiri di antara budak-budak yang lain untuk menunggu orang yang mau

membeli dirinya. Sungguh-sungguh menyakitkan. Tetapi hal itu dia jalani dengan sabar.



Dari Alkitab kita mengetahui

bahwa kemudian ada seorang yang membeli Yusuf, yaitu seorang pegawai istana Firaun yang bernama Potifar. Di rumah Potifar dia

disuruh melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar sebagaimana layaknya seorang budak. Namun kita jumpai bahwa Yusuf tidak pernah

mengeluh dan perilakunya tetap bersih, baik dihadapan Allah maupun manusia.



Jika kita membaca riwayat hidup Yusuf,

tidak ada noda di dalam perbuatannya. Di rumah Potifar dia mendapatkan godaan untuk berbuat dosa, tetapi dia tetap tidak

terpengaruh oleh godaan itu. Isteri Potifar yang merasa tertarik dengan Yusuf menggoda Yusuf agar mau tidur dengan dia, tetapi

Yusuf menolak untuk berbuat dosa. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali Yusuf digoda. Sampai pada suatu saat Yusuf difitnah

oleh isteri Potifar, sehingga Yusuf harus dijebloskan ke dalam penjara.



Namun, di dalam penjara pun Allah tetap

memelihara kehidupan Yusuf. Di penjara maupun di rumah Potifar dia selalu menjadi berkat. Memang di mana saja orang benar

berada, di situ dia akan menjadi berkat. Di penjara yang kotor dan tidak layak pun, dia menjadi berkat. Orang benar selalu

bersih kelakuannya, sama seperti emas yang murni, dibuat di Lumpur dia tetap emas, dibuang ke mana pun juga dia tetap emas.

Bahkan sekalipun dibuang ke dalam dapur api dia tetap emas. Seorang Kristen sejati selalu akan tampak kekristenannya di mana

pun dia berada, baik di tempat yang enak maupun tidak enak. Di dalam keluarga, di tempat pekerjaan maupun di masyarakat, dia

akan tetap menjadi berkat.



Alkitab mencatat hanya sedikit orang yang mempunyai satu orang isteri saja. Yang lainnya

mempunyai isteri lebih dari satu (berpoligami). Salah satu di antara mereka yang mempunyai satu isteri adalah Yusuf. Hidup

pernikahan yang bersih menunjukkan kualitas hidup yang benar.



Bukan itu saja, Yusuf adalah seorang yang tidak suka

menyimpan dendam di dalam hatinya. Walaupun dia telah mendapatkan perlakukan yang sewenang-wenang dari kakak-kakaknya, namun

dia tidak menyimpan rasa dendam di dalam hatinya. Bagaimana seandainya Saudara menerima perlakuan seperti yang diterima Yusuf

dari kakak-kakaknya?



Firman Allah berkata, “Apabila kamu menjadi marah janganlah kamu berbuat dosa: janganlah

matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Ef. 4 : 26 – 27). Kita tidak boleh

menyimpan amarah di dalam hati kita. Apabila kita marah, kita harus cepat-cepat membereskannya. Sama seperti Yusuf, dia tidak

menyimpan amarah kepada saudara-saudaranya. Semua perbuatan jahat kakak-kakaknya tidak diingat-ingatnya lagi.



Ketika

dia telah menjadi raja muda di Mesir, sebenarnya ada kesempatan bagi dia untuk membalas dendam kepada mereka. Namun dia sama

sekali tidak memakai kesempatan itu untuk membalas dendam. Sebaliknya, dalam kesempatan itu dia menunjukkan kasihnya kepada

mereka. Ketika saudara-saudaranya datang kepadanya, kata-kata inilah yang terucap dari bibirnya: “Memang kamu telah

mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti

yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kej. 50 : 20).



Imannya kepada Allah

membuat dirinya sanggup menghibur orang-orang yang ada di dalam pejanjara. Walaupun dia bukan pendeta yang bertugas melawat

para narapidana, namun dia telah bertindak sebagai penginjil dalam penjara. Dia adalah seorang narapidana yang melawat

narapidana lain yang membutuhkan penghiburan.



Pada suatu hari dia bertemu dengan dua orang narapidana yang sedang

murung mukanya. Mereka bercerita kepada Yusuf, bahwa pada malam hari sebelumnya mereka telah bermimpi. Mimpi itu tidak dapat

mereka mengerti artinya. Kemudian mereka menceritakan mimpi itu kepada Yusuf. Ternyata Yusuf dapat mengartikan mimpi

mereka.



Iman Yusuf kepada Allah juga telah membuat dirinya mampu melihat jauh ke depan. Dia dapat melihat peristiwa

ribuan tahun yang akan terjadi di masa yang akan datang, yaitu pada masa akhir zaman ketika orang-orang mati dibangkitkan.

Itulah sebabnya, ketika akan meninggal dia berpesan kepada saudara-saudaranya, “Tentulah Allah akan memperhatikan kamu; pada

waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini.” Jika dia tidak memiliki iman tentang kebangkitan orang mati dia tidak

akan berkata demikian.



Jika kita memperhatikan Kejadian 50 : 22, maka kita akan melihat bahwa umur Yusuf tidak

begitu panjang. Dituliskan dalam Alkitab bahwa umurnya hanya sampai seratus sepuluh tahun. Umur seratus sepuluh tahun menurut

ukuran orang pada zaman itu, tidaklah terlalu panjang. Rata-rata pada waktu itu orang meninggal pada umur lebih dari itu.

Sebagai contoh, Yakub, ayahnya, meninggal pada umur 147 tahun. Tetapi dalam usia yang sesingkat itu, Allah memberkati Yusuf

secara luar biasa. Dikatakan dalam Alkitab bahwa Yusuf sempat melihat anak cucu Efraim sampai keturunan yang ketiga, dan cucu

Manasye juga lahir dipangkuannya. Yusuf diberi kesempatan untuk anak cucunya berbahagia. Ini merupakan berkat yang luar biasa

dan tidak dapat dibeli dengan apa saja.



Umur Yusuf memang tidak begitu panjang. Namun yang terpenting bukan masalah

berapa panjang umur seseorang. Yang terpenting ialah apa sajakah yang mengisi umur kita itu. Walaupun seseorang mempunyai umur

yang sangat panjang, tidak ada gunanya jika sepanjang umur itu isinya hanyalah kekacauan. Namun meski umur kita tidak panjang,

jika kita mengisinya dengan hal-hal yang baik, itu akna jauh lebih mulia. Dalam umur 110 tahun, Yusuf telah menjadi berkat bagi

banyak orang. Dia mengisi umurnya dengan kehidupan yang bersih dan memuliakan Tuhan. Dan akibatnya, dalam umurnya yang tidak

begitu panjang itu, dia merasakan kebahagiaan berlipat kali ganda, bahkan sempat melihat kebahagiaan keturunannya. Dia telah

menjadi berkat bagi saudara-saudaranya dan juga orang-orang Mesir.





Keturunan Yang Bahagia



Perkara

kedua yang saya lihat di dalam kisah ini adalah kenyataan bahwa Yusuf memiliki keturunan yang berbahagia. Keturunan Yusuf

membuahkan beberapa orang yang hebat di dalam sejarah bangsa Yahudi. Kita tentu mengenal Yosua, pemimpin Israel yang

menggantikan Musa. Yosua yang hebat itu adalah keturunan dari Yusuf, yaitu dari suku Efraim (Bil. 13 : 9, 15). Orang benar yang

bersih kelakuannya akan berbahagia keturunannya, sebaliknya orang yang kotor kelakuannya akan menderitalah keturunannya. Itu

sudah merupakan hukum yang tidak bias dipungkiri. Belakangan ini kita sering mendengar berita atau membaca di surat kabar

maupun majalah tentang penyakit Aids yang menakutkan semua orang. Penyakit itu mematikan dan belum ada obatnya sampai sekarang.

Penyakit tersebut merupakan akibat hubungan seks bebas. Orang-orang yang mengidap penyakit ini kemungkinan besar akan

menurunkan anak-anak yang berpenyakit demikian juga. Orang yang bersih kelakuannya, berbahagialah

keturunannya.





Allah Mengajar Sesuatu Melalui Keluarga



Perkara ketiga yang perlu direnungkan dari

keluarga Yusuf ialah bahwa Allah mengajarkan sesuatu melalui keluarga. Allah dapat mengajarkan segala sesuatu melalui banyak

sarana/cara. Lewat persoalan yang kita alami, Tuhan dapat mengajarkan sesuatu. Lewat kegagalan, Dia juga dapat mengajarkan

sesuatu. Lewat perkara-perkara kecil pun Tuhan dapat mengajarkan sesuatu. Kita bisa mendapatkan suatu pengajaran dari Tuhan

melalui semut-semut yang berjalan beriringan di atas sebuah mangga. Melalui perkara kecil itu kita mendapat hikmat, “Semut

menjadi guru bagi si pemalas”. Melalui keluarga Yusuf, Allah mengajarkan perkara keselamatan manusia.



Yusuf adalah

tipe dari Yesus Kristus. Yusuf dijual dengan uang 20 keping perak, Yesus juga dijual dengan uang 30 keping perak. Yusuf dijual

oleh kakak-kakaknya sendiri, Yesus dijual oleh muridNya sendiri. Pengalaman Yusuf di penjara memiliki kesamaan dengan

pengalaman Yesus di kayu salib. Di dalam penjara Yusuf bertemu dengan dua orang penjahat, Yesus juga di salib bersama dua orang

penjahat, satu di sebelah kanan-Nya, satu di sebelah kiri-Nya. Salah satu penjahat yang bertemu Yusuf di penjara diselamatkan

(dikeluarkan dari penjara), penjahat lainnya digantung. Demikian juga, seorang penjahat yang di salah satu sisi Tuhan Yesus

diselamatkan, sedangkan yang lainnya binasa. Yusuf dimasukkan ke dalam sumur tua, Yesus masuk ke dalam alam maut. Pada akhir

kisah hidupnya, kakak-kakak Yusuf datnag kepada dia dan menyembah dia. Demikian juga, pada akhirnya nanti semua musuh Tuhan

Yesus akan bertekuk lutut dihadapan-Nya. Ini merupakan pengajaran yang indah mengenai keselamatan manusia.



Jadi,

melalui keluarga Yusuf kita mendapatkan pengajaran indah mengenai perkara keselamatan. Demikian juga, melalui keluarga kita

masing-masing Allah mau mengajarkan perkara-perkara yang indah kepada kita. Oleh sebab itu, kita perlu peka dengan suara Allah

yang berbicara melalui setiap situasi yang ada di dalam keluarga kita.



Kita patut mengucap syukur kepada Allah buat

keluarga kita. Berterima kasih buat isteri/suami kita. Berterima kasih buat anak-anak kita. Sebab melalui merekalah kita bias

mendapatkan pengajaran-pengajaran rohani yang dapat menjadi berkat bagi kehidupan kita, sehingga kita semakin sempurna

dihadapan-Nya. Melalui peristiwa demi peristiwa, situasi demi situasi, dan melalui pribadi-pribadi yang ditempatkan Allah di

sisi kita itu, kita dapat belajar perkara-perkara Ilahi.



Marilah kita belajar untuk menilai setiap situasi yang

terjadi di tengah keluarga kita. Mungkin itu berupa kenakalan anak-anak, atau percekcokan dengan isteri/suami, atau persoalan

dengan mertua, dengan saudara atau dengan tetangga. Semuanya itu dapat berbicara kepada kita. Kadang-kadang tangisa anak pada

tengah malam dapat mengajar kita untuk berjaga dan berdoa pada malam hari. Persoalan dengan mertua dapat mengajar kita untuk

lebih sabar.



Lembaga yang paling penting di dunia ini adalah keluarga. Sebab, ini merupakan lembaga yang diciptakan

oleh Allah sendiri, dan melaluinya Allah ingin memberkati kita. Kita harus benar-benar menjunjung tinggi lembaga

ini.



Melalui lembaga ini pula, Allah mengajar tentang hubungan kita dengan Allah untuk menggambarkan hubungan

pribadi antara kita dengan Dia. Itulah sebabnya kita memanggil Dia dengan sebutan “Bapa”. Jika kita berdoa, Yesus mengajarkan

agar kita menyebut Dia, “Bapa kami yang ada di sorga…” Mengapa tidak dikatakan “Tuhan kami yang di sorga” atau “Majikan kami

yang di sorga”? Tidak dikatakan demikian, karena hubungan antara bapa dengan anak, merupakan hubungan yang sangat intim, yang

hanya ada di dalam keluarga.



Di samping itu, di dalam Alkitab juga diajarkan bahwa hubungan antara suami dan isteri.

Jika Allah tidak menghargai lembaga keluarga, maka Allah tidak akan menggunakan lembaga ini untuk menggambarkan hubungan

Kristus dengan gereja-Nya. Hubungan ini juga merupakan hubungan yang paling intim, kudus dan indah.



Biarlah kita

semakin peka dengan tindakan Allah melalui keluarga kita. Doakanlah selalu keluarga kita agar melaluinya Allah senantiasa

bekerja di dalam hidup kita. Doakanlah selalu isteri/suamimu. Doakanlah selalu anak-anakmu.





Renungan

Sejenak



1. Apakah Anda seorang suami yang mempunyai karakter yang bersih?



2. Apakah Anda percaya bahwa

orang Kristen itu harus beristeri atau bersuami seorang saja?



3. Apakah Anda dan pasangan Anda dapat membereskan

segala pertengkaran di dalam keluarga sebelum naik ke ranjang untuk tidur malam?



4. Dapatkan Anda mendengar “Suara

Tuhan” melalui tangisan bayi Anda yang terus menerus dan menjengkelkan sehingga Anda harus terbangun pada saat Anda tertidur

lelap pada jam dua dini hari?



5. Apakah Anda percaya bahwa “Keluarga” adalah lembaga tertinggi yang diciptakan Allah

di dunia ini?



Jawaban yang tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas akan membahagiakan keluarga Anda. ( Tiny

Ribka )

dilihat : 302 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution