Rabu, 22 Mei 2019 00:31:51 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 33
Total pengunjung : 504870
Hits hari ini : 86
Total hits : 4626130
Pengunjung Online : 8
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pendidikan Tanpa Hukuman Mengerikan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 02 Juni 2008 00:00:00
Pendidikan Tanpa Hukuman Mengerikan
Saya prihatin melihat Sunarto Kepala SDN Ketabang telah dijadikan tersangka penjeweran yang digolongkan pada

tindak penganiayaan terhadap 4 orang muridnya akibat mereka tidak memakai Hasduk.



Di zaman saya SD ditahun 1968-1973

dan SMP 1974-1976 persoalan guru menjewer atau memukul (pakai tangan/penggaris kayu panjang) adalah hal yang lumrah, demikian

pula oleh para orang tua di rumah dan bapak saya punya senjata sepotong rotan berdiameter kecil yang siap mendarat dipantat

atau betis belakang kita di saat kita dinilainya nakal.



Saya mengenang peristiwa itu dan bersyukur bahwa mereka

mendidik seperti itu karena hukuman yang mereka berikan pada tempat yang tidak membahayakan, dan dalam konteks mendidik yang

menyayangi agar kita tidak salah jalan.



Saya membandingkan banyak anak SMP dan SMA sekarang yang berani merokok dan

minum-minuman beralkohol di hadapan gurunya, menggambar bagian tubuh luarnya dengan tattoo permanent yang akan melekat sampai

ahir usianya.



Apakah kenakalan remaja sekarang yang berat dan kompleks terkait karena kehilangan wibawa para guru

dan orang tua yang takut dibui dalam mendidik anak atau anak didiknya?



Di jaman dahulu murid pandai pun bisa tidak

naik kelas kalau dia berperangai nakal, sedangkan sekarang kepandaian merupakan syarat satu satunya menentukan kenaikan dan

kelulusan.



Guru sekarang lebih cari selamat dengan mengajar mata pelajaran saja sedangkan moralitas baik dan buruk

akan dituai oleh si murid di kemudian hari.



Jadi siapa yang rugi dan dirugikan?



Akhirnya mohon bapak

Sunarto tidak ditahan, silahkan kasusnya diteruskan kepengadilan dan saya yakin beliau akan bebas.



Labih

Basar

Jl. Griya Kebraon Barat VIII BH 4 Surabaya.

dilihat : 428 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution