Rabu, 18 Juli 2018 13:56:16 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 140
Total pengunjung : 406534
Hits hari ini : 1001
Total hits : 3706082
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Mengalah Bukan Kalah






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 30 Mei 2008 00:00:00
Mengalah Bukan Kalah
“...Siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu,” ujar Tuhan

Yesus.



Kemudian hari di depan imam besar, Yesus ditampar. Apa reaksi-Nya? Apakah Ia minta ditampar sekali lagi?

Tidak. Ia memprotes, “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau

menampar Aku?”

(Yoh. 18 : 23).



Jikalau Tuhan Yesus sendiri tidak memberi pipi yang sebelah lagi, apa gerangan

arti ucapan-Nya itu?



Ada tiga ucapan Yesus dalam Matius 5 : 38 - 41 yang sejalan.



Pertama : “Janganlah

kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi

kirimu.”



Kedua : “Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga

jubahmu.”



Ketiga: “Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua

mil.”



Ketiga ucapan Tuhan Yesus itu menjadi jelas apabila kita memahami sedikit latar belakang adat-istiadat dan

bahasa Yahudi pada zaman itu. Dalam sastra Yahudi ucapan yang seperti itu termasuk salah satu bentuk ucapan masyal, yaitu gaya

bahasa berlebihan (exaggerated expression) yang digunakan untuk menggambarkan suatu gagasan secara lebih jelas dan

konkret.



Dalam masyarakat Israel pada zaman itu, perselisihan antara dua orang seringkali dilakukan di depan umum.

Di depan banyak orang si A boleh memaki lawannya secara habis-habisan. Dalam gaya bahasa Yahudi itu disebut “menampar pipi”.

Sesudah itu, lawannya mempunyai hak untuk membalas dengan mencaci maki pula. Dalam gaya bahasa Yahudi itu disebut “membalas

menampar”.



Lalu dalam hubungan ini Yesus berkata, “siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi

kirimu”.



Sebelum mengucapkan kalimat itu, Yesus mengutip sebuah peraturan Taurat yang tercatat di Keluaran 21

tentang membalas secara adil yang berbunyi, “Kamu telah mendengar firman : Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata

kepadamu : jangalah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar...” (Mat. 5 : 38 -

39).



Pada zaman itu pun ada kebiasaan sebagai berikut dalam hal-hal pinjam meminjam barang. Jika kita meminjam

sesuatu dari seseorang, maka orang itu berhak meminta jaminan, misalnya sehelai baju kita. Kalau kita lalai dalam memberi

jaminan, kita dapat dilaporkan kepada yang berwajib. Dalam hubungan ini Yesus berkata, “Dan kepada orang yang hendak mengadukan

engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu”.



Ada pula kebiasaan masyarakat Israel pada zaman itu

dalam hal membantu orang asing. Apabila ada orang asing menanyakan letak suatu desa, kita wajib menunjukkan jalan dan

menghantar dia sejauh satu mil. Selama perjalanan itu kita bertanggung jawab atas keselamatannya. Seringkali adat itu

disalahgunakan oleh serdadu Roma dengan memaksa orang memikul barang bawaannya. Lalu dalam hubungan ini Yesus berkata, “Dan

siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil”.



Jadi, ketiga ucapan

itu mempunyai arti yang sejajar. Hak orang lain adalah menampar pipi kanan kita, tetapi Tuhan Yesus berkata, “Berilah juga pipi

kirimu”.



Hak orang lain adalah meminta jaminan berupa baju, tetapi Yesus berkata, “Berilah juga

jubahmu”.



Hak orang lain adalah meminta dihantar sejauh satu mil, tetapi Yesus berkata, “Hantarlah dia sejauh dua

mil”.



Ketiga ucapan itu mempunyai arti yang sama. Relakanlah hak kita digunakan orang lain atau korbankanlah hak

kita demi mengutamakan hak orang lain. Bahkan dalam hal hak untuk membalas kejahatan, lepaskanlah hak itu dan jangan gunakan

hak itu. Kita perlu membela diri dari kejahatan, namun kita tidak usah membalasnya.



Tidak menggunakan hak untuk

membalas suatu amarah, hinaan, makian, fitnahan, kelicikan atau kejahatan lain dapat menimbulkan kesan bahwa kita kalah. Tetapi

sebetulnya itu bukan kalah, melainkan mengalah. Mengalah bukanlah kalah, sebab seringkali justru dengan mengalah kita mendapat

kemenangan.



“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12: 21).

*/pttwr



Pengirim ; Tiny Ribka.

dilihat : 316 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution