Sabtu, 22 September 2018 06:04:10 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 293
Total pengunjung : 422323
Hits hari ini : 3240
Total hits : 3888103
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Alkitab Yang Bungkam Dalam Bahasa Nusantara






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 27 Mei 2008 00:00:00
Alkitab Yang Bungkam Dalam Bahasa Nusantara
(Indonesia, abad ke 17 dan ke-18)



Berabad-abad

lamanya, Alkitab merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di seluruh dunia.



Ada tiga alasan yang

menjadi penghalang sehingga isi Firman Allah itu umumnya tidak dikenal oleh orang-orang biasa.



Mula-mula, pada zaman

dahulu hanya ada satu cara untuk memperbanyak salinan-salinan Alkitab: dengan tulisan tangan. Jadi, salinan-salinan Alkitab itu

sangat langka dan sangat mahal harganya.



Juga, kebanyakan pemimpin umat Kristen pada zaman dahulu berpendapat bahwa

jika orang-orang biasa diizinkan membaca Alkitab sendiri, pasti akan timbul banyak tafsiran yang salah. Jadi (menurut pikiran

mereka), lebih baik jika hak istimewa untuk memiliki Alkitab itu dimonopoli saja oleh para rohaniawan.



Alasan ketiga

ialah, kebanyakan Alkitab pada zaman dahulu masih ditulis dalam bahasa-bahasa kuno. Jadi, kebanyakan orang tidak dapat

membacanya, pun tidak dapat mengerti isinya jika dibacakan oleh orang lain.



Mulai pada abad yang ke-15 dan ke-16,

ketiga alasan yang menjadi penghalang itu berturut-turut dihapus.



Pertama-tama, seni cetak ditemukan oleh

orang-orang Barat (walau pada hakikatnya orang-orang Timur sudah lebih dahulu menemukannya!). Buku lengkap yang pertama-tama

dicetak ialah: Alkitab. Maka salinan-salinan Alkitab menjadi jauh lebih mudah diperoleh.



Kemudian timbul Reformasi

Protestan di benua Eropa. Gerakan pembaharuan gereja itu menekankan bahwa tiap orang bertanggung jawab kepada Allah atas

keadaan rohaninya. Jadi, belum cukuplah jika ia mendengar tafsiran Alkitab yang diberikan oleh orang lain; ia harus dapat

mempunyai Alkitab sendiri, serta harus dapat mengerti isinya.



Tentu saja, untuk dapat mencapai maksud tadi, Alkitab

harus diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa yang biasa dipakai oleh kebanyakan orang. Dan justru itulah yang berlangsung di

seluruh dunia, mulai pada abad yang ke-16.



Namun Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk

kebanyakan orang di Nusantara. Memang sudah ada orang-orang Kristen di sini: Kaum Kristen Nestorian mulai datang ke kepulauan

Indonesia pada abad yang ke-12, dan kaum Kristen Katolik mulai datang pada abad yang ke-14. Tetapi Alkitab-Alkitab yang mereka

bawa itu tertulis dalam bahasa-bahasa asing, yang sulit dipahami oleh putra-putri Nusantara.



Ada juga halangan

khusus di Nusantara yang mencegah orang mempunyai dan membaca Alkitab, yakni: Orang-orang yang tinggal di berbagai-bagai pulau

itu berbicara dalam berbagai-bagai bahasa pula. Jika seorang pelaut pergi berlayar di Nusantara, belum tentu ia dapat

bercakap-cakap dengan orang-orang di pulau tempat tujuannya.



Namun ada juga bahasa-bahasa yang umumnya dipakai kalau

putra-putri Nusantara pergi ke pasar atau berdagang di pelabuhan. Salah satu bahasa perniagaan itu ialah bahasa Portugis;

tetapi yang lebih umum lagi ialah, bahasa Melayu (yang sesungguhnya merupakan nenek moyang bahasa

Indonesia).



Anehnya, Alkitab mula-mula diterjemahkan ke dalam bahasa Portugis, bukan di negeri Portugis sendiri,

melainkan di Nusantara!



Pada pertengahan abad yang ke-17, seorang anak laki-laki kecil dibawa dari Portugis ke kota

Malaka, di semenanjung Melayu. Ketika ia masih berumur belasan tahun, bocah itu mulai percaya kepada Tuhan Yesus Kristus

sebagai Juru Selamatnya. Dan pada umur yang masih sangat muda, mulailah dia menerjemahkan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke

dalam bahasa ibunya. Kemudian, tatkala ia pindah dari Malaka ke Jakarta, ia sempat menyelesaikan terjemahannya itu. Ia juga

menerjemahkan sebagian besar dari Kitab Perjanjian Lama.



Tetapi lambat laun penjajah bangsa Portugis itu diusir dari

seluruh Nusantara oleh penjajah bangsa Belanda. Karena itu makin lama makin sedikit orang yang menggunakan bahasa Portugis

sebagai bahasa perdagangan antar pulau. Dan Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di

kepalauan Indonesia.



Anehnya, orang-orang yang mula-mula insaf bahwa Firman Allah seharusnya diterjemahkan ke dalam

bahasa Melayu bukannya para pendeta dan penginjil, melainkan para pelaut dan pedagang. Pada permulaan abad yang ke-17, seorang

pelaut Belanda bernama Houtman ditangkap dan dipenjarakan oleh suku Aceh yang pada waktu itu terkenal cukup garang. Selama

ditahan di Sumatera Utara, orang Belanda itu sempat belajar bahasa Melayu. Setelah dibebaskan, mulai pada tahun 1605 ia

menerbitkan beberapa tulisan Kristen yangg sudah diterjemahkannya ke dalam bahasa Melayu.



Sementara itu, seorang

pedagang bernama Albert Cornelisz Ruyl berlayar dari Belanda ke Indonesia pada tahun 1600. Ia menyadari bahwa Alkitab perlu

dibaca oleh putra-putri Nusantara. Bahkan ia membujuk rekan-rekan sekerjanya sampai mereka rela membayar semua ongkos

penerbitan untuk proyek terjemahannya itu. Pada tahun 1612 Ruyl sudah selesai mengalihbahasakan seluruh Kitab Injil Matius ke

dalam bahasa Melayu. Tetapi baru tujuh belas tahun kemudian, hasil karyanya itu dicetak.



Dalam bahasa Melayu

terjemahan Ruyl, Doa Bapa Kami (dari Matius 6:9-13) berbunyi sebagai berikut:



"Bappa kita, jang adda de

surga:



Namma mou jadi bersakti.



Radjat-mu mendatang



kandhatimu menjadi



de bumi

seperti de surga



Roti kita derri sa hari-hari membrikan kita sa hari inila.



Makka ber-ampunla pada-kita

doosa kita,



seperti kita ber-ampun



akan siapa ber-sala kepada kita.



D'jang-an hentar kita

kepada tjobahan,



tetapi lepasken kita dari jang d'jakat."



Hanya sebagian saja dari Alkitab yang sempat

diterjemahkan oleh A. C. Ruyl, pedagang Belanda tadi. Lagi pula, bahasa Melayu yang dipakainya itu sangat jelek. Misalnya, ia

belum mengerti perbedaan antara "kita" dengan "kami."



Kemudian, pada pertengahan abad yang ke-17, ada seorang

pendeta Belanda bernama Daniel Brouwerius yang mulai insaf bahwa Alkitab masih merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk

kebanyakan putra-putri Nusantara. Ia pindah ke kepulauan Indonesia dan berhasil menerjemahkan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke

dalam bahasa Melayu.



Dalam terjemahan Daniel Bruwerius, yang mula-mula diterbitkan pada tahun 1668, Doa Bapa Kami

berbunyi sebagai berikut:



"Bappa cami, jang adda de Surga,



Namma-mou jaddi

bersacti.



Radjat-mou datang.



Candati-mou jaddi



bagitou de boumi bagaimana de

surga.



Roti cami derri sa hari hari bri hari ini pada cami



Lagi ampon doossa cami,



bagaimana

cami ampon



capada orang jang salla pada cami.



Lagi jangan antarrken cami de dalam

tsjobahan



hanja lepasken cami derri jang djahat."



Memang Pdt. Brouwerius sudah dapat membedakan "kita"

dan "kami." Namun masih banyak kesalahan dalam Perjanjian Baru bahasa Melayu yang diterjemahkannya. Apalagi, seluruh Perjanjian

Lama masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di Nusantara.



Tujuh tahun setelah Kitab

Perjanjian Baru terjemahan Brouwerius itu diterbitkan, seorang pendeta tentara tiba di Jawa Timur. Siapa namanya? Dr. Melchior

Leydekker. Di samping menjadi seorang pendeta, ia juga seorang dokter. Pada tahun 1678, Dr. Leydekker pindah lagi dari jawa

Timur ke Jakarta, dan tetap tinggal di ibu kota selama sisa umurnya.



Dr. Leydekker menjadi pandai sekali berkhotbah

dalam bahasa Melayu. Jadi, pada tahun 1691 dialah yang ditunjuk untuk mulai menyiapkan suatu terjemahan seluruh Alkitab dalam

bahasa yang dapat dipahami di seluruh Nusantara.



Selama sepuluh tahun Dr. Leydekker bekerja dengan tekun. Terjemahan

seluruh Kitab Perjanjian Lama dihasilkannya. Lalu ia terus mulai mengalih-bahasakan Kitab Perjanjian Baru. Sayang, ia tidak

sempat menyelesaikan tugas yang mulia itu: Ia meninggal pada tahun 1701, setelah mengerjakan terjemahannya sampai dengan Efesus

6:6.



Kutipan Doa Bapa Kami dari terjemahan bahasa Melayu Dr. Melchior Leydekker di bawah ini telah disusun kembali

menurut ejaan yang disempurnakan dan menurut tanda-tanda baca yang modern. Dengan demikian lebih jelaslah persamaannya dengan

ayat-ayat yang sama itu dalam terjemahan biasa bahasa Indonesia:



"Bapa kami yang di sorga,



namaMu

dipersucilah kiranya



KerajaanMu datanglah.



KehendakMu jadilah,



seperti di dalam sorga,

demikianlah di atas bumi.



Roti kami sehari berilah akan kami pada hari ini.



Dan ampunilah pada kami

segala salah kami,



seperti lagi kami ini mengampuni



pada orang yang bersalah kepada kami.



Dan

janganlah membawa kami kepada percobaan



hanya lepaskanlah kami daripada yang jahat."



Salah seorang rekan

Dr. Leydekker almarhum ditunjuk untuk menyelesaikan tugasnya, sehingga pada tahun 1701 itu juga sudah ada Firman Allah yang

lengkap dalam bahasa Melayu. Namun Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk putra-putri Nusantara. Mengapa

sampai terjadi demikian?



Pada masa Melchior Leydekker masih menjadi seorang mahasiswa kedokteran dan kependetaan di

Belanda, lahirlah di negeri itu seorang anak laki-laki dalam keluarga seorang pembantu kepala sekolah. Anak laki-laki itu lahir

pada tahun 1965 dan diberi nama Francois Valentyn. Rupa-rupanya ia seorang pemuda yang pandai, karena ia baru mencapai umur 20

tahun ketika ia diizinkan meninggalkan kuliah teologinya serta pergi ke Maluku sebagai seorang pendeta. Rupa-rupanya ia juga

cepat mahir dalam bahasa Melayu: Menurut kesaksiannya sendiri, ia sudah sanggup berkhotbah dalam bahasa setempat setelah

belajar hanya tiga bulan lamanya.



Pada suatu hari, kebetulan seorang pendeta tua datang ke Ambon dan menginap di

tempat tinggal pendeta yang masih muda tadi. Sang pendeta tua membawa serta sebuah naskah besar. "Warisan," katanya. "Naskah

ini dulu ditulis oleh seorang pendeta yang meninggal sepuluh tahun yang lalu. Kemudian sang janda memberikan naskah ini

kepadaku.



Secara tidak terduga pendeta tua itu meninggal pada waktu ia bertemu di rumah pastori di Ambon. Maka

Naskah kuno itu jatuh ke dalam tangan Pdt. Francois Valentyn. Ketika diperiksa, ternyata tulisan tangan itu adalah terjemahan

seluruh Alkitab ke dalam bahasa Melayu!



Pdt. Valentyn adalah seorang yang rajin. Ia rajin menyelidiki bahasa dan

kebudayaan orang Maluku. Dan ia pun rajin mencari teman-teman baru di tempat pelayanannya. Salah seorang teman barunya itu

adalah seorang janda kaya. Setelah menikah dengan janda itu, Pdt. Valentyn kembali ke tanah airnya pada tahun 1695. Naskah kuno

itu pun dibawa ke Belanda.



Kemudian, pada permulaan abad yang ke-18 diumumkan bahwa Dr. Melchior Leydekker almarhum

(dengan bantuan salah seorang rekannya) telah berhasil menerjemahkan seluruh Alkitab ke dalam bahasa

Melayu.



Mungkinkah Pdt. Francois Valentyn menjadi iri hati? Mungkinkah ia berkeinginan supaya dia saja yang

dihormati (dan bukan orang-orang yang sudah meninggal) sebagai penerjemah yang pertama-tama menghasilkan seluruh Firman Allah

dalam bahasa Nusantara?



Bagaimanapun juga, Pdt. Valentyn mulai mempromosikan dirinya sebagai penerjemah naskah kuno

seluruh Alkitab itu (yang hanya kebetulan saja ada di dalam tangannya). Katanya, terjemahan itu juga lebih baik, jauh lebih

modern, bahkan jauh lebuh mudah dipahami terjemahan Dr. Leydekker.



Tentu saja umat Kristen menjadi bingung. Baik di

Belanda maupun kepulauan Indonesia, ada orang-orang yang lebih setuju dengan terjemahan Valentyn, tetapi ada juga orang-orang

yang lebih setuju dengan terjemahan Leydekker. Akibatnya, kedua terjemahan itu tidak jadi diterbitkan. Dan sekali lagi, selama

berpuluh-puluh tahun, Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan putra-putri

Nusantara.



Akhirnya duduk perkaranya terungkap dengan jelas. "Terjemahan Valentyn" itu diselidiki dan dinyatakan

sebagai hasil karya orang lain. Lagi pula, terjemahan itu dinilai sangat jelek.



Akan tetapi sementara perselisihan

pendapat itu masih berlangsung, sudah lewat juga dua puluh tahun lebih. Ada orang-orang yang merasa bahwa terjemahan Leydekker

tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Maka pada tahun 1723 sebuah panitia ditunjuk untuk menyunting kembali naskah

terjemahannya itu. Selama enam tahun mereka mengerjakan edisinya yang baru.



Menjelang tahun 1729, naskah terjemahan

baru dari Alkitab lengkap itu dua kali disalin dengan tulisan tangan: sekali dalam huruf Latin, dan sekali lagi dalam huruf

Arab. Kedua naskah itu masing-masing dikirim ke Belanda dalam dua kapal yang berbeda. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa

walau satu naskah jadi hilang di dasar laut, namun naskah yang satunya lagi itu masih akan tiba dengan selamat. Salah seorang

penyuntingnya juga berlayar ke tanah airnya, untuk mengawasi proyek penerbitan yang besar itu.



Kitab Perjanjian Baru

terjemahan Leydekker keluar pada tahun 1731. Lalu Alkitab lengkap terjemahan Leydekker diterbitkan pada tahun 1733. Maka

akhirnya juga Firman Allah tidak lagi bungkam dalam bahasa Nusantara!



. E-JEMMI,SABDA-MISI



Pengirim :

Mawar Saron School

dilihat : 239 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution