Rabu, 18 Juli 2018 13:41:17 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 137
Total pengunjung : 406531
Hits hari ini : 925
Total hits : 3706006
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Ketika Sahabat Bersikap Tidak Bersahabat






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 23 Mei 2008 00:00:00
Ketika Sahabat Bersikap Tidak Bersahabat
Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat

yang lebih karib dari pada seorang saudara.

(Amsal 18:24)



I. Sekilas tentang

PERSAHABATAN



Persahabatan merupakan sebentuk jalinan hubungan interaksi sosial yang diperoleh karena adanya

keinginan untuk bisa menjalankan kehidupan pergaulan dengan tingkat keakraban serta kekuatan ikatan emosional yang jauh lebih

erat apabila dibandingkan hubungan interaksi dalam bentuk pertemanan.



Biasanya, hubungan persahabatan dapat

terbentuk karena adanya : kesamaan hal-hal yang disukai, adanya kesamaan idealisme dan cara memandang suatu keadaan atau suatu

masalah, serta memiliki kesamaan visi dan misi dalam memandang masa depan.



Sejumlah kesamaan inilah yang membuat

setiap pribadi yang mempunyai kedekatan diri dengan orang lain dalam bentuk persahabatan, lebih mudah untuk bisa mengakrabkan

diri sehingga terbentuklah suatu ikatan emosional yang melingkupi setiap kegiatan dan pola komunikasi yang dijalani pada saat

berinteraksi.



Kuatnya ikatan emosional, membuat masing-masing pihak yang menjalin hubungan persahabatan, mampu

menghadirkan respon timbal-balik, karena setiap pihak yang terikat hubungan persahabatan, tidak menghadirkan upaya-upaya untuk

mendominasi suasana, namun melandasi segenap tindakan dan perkataannya dengan sikap toleransi serta ketulusan sebagai sebuah

tanda penghargaan diri.



Adanya kasih yang dinyatakan, mampu menumbuhkan keinginan besar agar setiap pihak dapat

hidup lebih maju dan berkembang, dengan cara menyikapi dinamika serta permasalahan kehidupan secara bersama-sama dan tidak

tidak mengenal kata cukup.



Dalam hal ini, konsepsi kehidupan pihak-pihak yang bersahabat direalisasikan melalui

suasana penuh kebersamaan. Dianutnya prinsip-prinsip kebersamaan dalam menjalani hubungan persahabatan, membuat setiap pihak

memiliki tingkat kesetiaan diri yang kualitasnya melebihi kesetiaan kepada yang lainnya.



Aku mengasihi orang yang

mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan aku.

(Amsal 8:17)



Terjadinya pertengkaran,

perselisihan atau sekedar perbedaan pendapat, tidak dipakai sebagai upaya untuk menjatuhkan, karena setiap perbuatan dan

perkataan yang dapat menyakiti hati serta perasaan seorang sahabat, setiap tindakan yang diartikan sebagai upaya memaksakan

kehendak, dan setiap perbuatan maupun perkataan yang mampu memunculkan pertikaian, adalah suatu hal yang diusahakan sebisa

mungkin dihindari terjadi. Segenap sumber perpecahan dalam persahabatan, benar-benar dihindari.



Memperhatikan

seluruh uraian diatas, maka dapatlah disimpulkan, kalau keakraban yang terbentuk dalam persahabatan, tercipta oleh karena

masing-masing pihak yang menjalin hubungan persahabatan, menghargai adanya nilai-nilai kesetiaan, nilai-nilai kepercayaan,

serta mengembangkan sikap saling menghormati, tanpa memandang adanya perbedaan cara pandang atau kondisi yang sedang

dihadapi.



Konsepsi pemahaman kepribadian sahabat, dilakukan dengan mengoptimalkan setiap ruang dan waktu pada saat

berkomunikasi atau berinteraksi, sehingga kesetiaan serta kepercayaan, merupakan karakter yang dibangun dan dinyatakan secara

terbuka.



Adanya keterbukaan membuat seseorang mendapatkan gambaran langsung serta apa adanya, tentang bagaimana

sesungguhnya karakter dan kepribadian dari sahabatnya secara faktual, karena bukan didasarkan atas pendapat maupun pandangan

orang lain.



Selayaknya, nilai-nilai persahabatan dijalani tanpa harus menghadirkan kepribadian ganda karena sebuah

sikap pengertian akan berlaku dengan sendirinya.



Dalam Firman Tuhan dinyatakan : Seorang sahabat menaruh kasih

setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

(Amsal 17:17)



Eratnya tali persahabatan membuat

masing-masing pihak memiliki intuisi besar pada saat salah seorang dari mereka sedang menghadapi beratnya tantangan kehidupan

atau pada saat sedang mengalami kesusahan. Pada saat keadaan itu terjadi, seseorang akan selalu berada disamping sahabatnya,

untuk membantu dan mendukung sahabatnya, dalam menghadapi serta menyelesaikan masalah yang sedang melingkupi.





Besarnya ungkapan kasih yang nyata dihadirkan, karena seorang sahabat akan selalu bersedia menyertai, membantu atau

menghibur sahabatnya, tidak hanya pada saat mengarungi hari-hari yang penuh keceriaan, namun juga menjadi teman untuk mengadu

dan berbagi keluh-kesah, yang mampu membuat kondisi hati dan pikiran sahabatnya tenang dalam melalui keras serta beratnya

tantangan kehidupan.



Oleh karena itu, pembinaan hubungan dalam ikatan tali persahabatan, sesuai dengan isi Firman

Tuhan yang menyatakan :

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan

untuk manusia. (Kolose 3:23)





II. Inkonsistensi dan Egoisme Sikap



Namun, itu bukan berarti

persahabatan tidak menghadirkan dilema-dilema situasional yang bisa menjadi sumber keretakkan hubungan persahabatan, apabila

masing-masing pihak tidak berusaha untuk mengendalikan segenap perkataan, sikap dan perilakunya.



Firman Tuhan yang

tertulis dalam Galatia 6:9, menyatakan :

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita

akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.



Sifat lemah yang dinyatakan dalam Firman Tuhan pada Galatia 6:9

tersebut, dapat diterjemahkan sebagai adanya perubahan sikap atau kemunduran keinginan dalam diri seseorang, untuk konsisten

menjalankan prinsip-prinsip persahabatan, yang dilandasi oleh adanya ketulusan dan kejujuran hati.



Kondisi tersebut

bisa tercipta apabila sikap seseorang, mulai menonjolkan konsep-konsep pemikiran, yang ingin memperhitungkan segenap perbuatan

baik yang telah dilakukan kepada sahabatnya. Apabila itu terjadi, maka hakekat untuk menjalani hubungan persahabatan dengan

penuh ketulusan, mulai luntur karena telah tergantikan oleh adanya keinginan untuk mendapatkan "balasan” lebih dari sahabatnya.





Pada sisi yang lain, adanya sejumlah misi atau tujuan tertentu, yang ingin diterapkan dan diakomodasikan dalam

bentuk upaya-upaya untuk menggapai kesenangan pribadi atau menjalankan kepentingan tertentu dengan memanfaatkan kebaikkan

sahabatnya, juga menjadi salah satu kondisi yang mampu menghadirkan sikap inkonsistensi.



Berkembangnya sejumlah

sikap tidak konsisten tersebut, sangat mungkin melingkupi kepribadian seseorang, karena memang belum tentu semua orang mampu

secara stabil menerapkan prinsip-prinsip ketulusan dan kejujuran hatinya tanpa ada rasa pamrih.



Apabila ditarik

benang merah, munculnya sikap inkonsistensi tersebut bertumbuh dari adanya sikap egois dalam diri seseorang. Segenap sikap

serta perilaku yang dilandasi oleh adanya ego dari dalam diri seseorang, dan kelak mulai menjadi bagian dari kepribadian yang

menonjol pada saat berinteraksi dengan sahabat, akan menghadirkan sikap tidak tulus serta perduli dengan keadaan atau pendapat

temannya.



Padahal, segenap perbuatan atau pernyataan yang dilandasi oleh ketulusan, membangun sikap jujur dan

keinginan untuk selalu bertindak maupun mengungkap pendapat dengan benar, tanpa ada maksud mendukakan.



Orang yang

jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.

(Amsal 11:3)



Sikap egois

membuat seseorang hanya memandang setiap aktifitas yang dilakukan, selalu dinilai berdasarkan pemikiran, apakah bisa

menyenangkan diri atau apakah bisa membawa keuntungan secara materi atau tidak. Dalam bentuk lain, dapat pula diartikan sebagai

: seseorang hanya ingin dilayani namun tidak ingin melayani, mau menerima namun tidak mau berbagi dengan

sahabatnya.



Ini merupakan suatu keadaan yang pelik karena sikap egois serta inkonsistensi sikap yang ditunjukkan

oleh seseorang, pada akhirnya dapat menghadirkan sikap yang tidak bersahabat kepada sahabatnya.





III. Sikap

Tidak Bersahabat



Banyak contoh perbuatan atau pernyataan seseorang yang diekspresikan sebagai suatu tindakan bisa

merusak hubungan persahabatan. Apabila ingin diklasifikasikan, maka ada 3 bentuk keadaan yang dinilai sebagai sikap tidak

bersahabat dari seseorang yang mengaku kalau dirinya sahabat.



Adapun ke 3 bentuk keadaan tersebut, adalah :

1.

Selingkuh atau merebut pacar sahabat

2. Berbuat curang

3. Adanya statement seseorang yang telah menempatkan

sahabatnya pada keadaan, anggapan, kondisi atau situasi yang mendisposisikan kehidupan maupun perilaku sahabatnya, sehingga

membuat kehidupan dari sahabatnya memiliki kesan tidak baik, terlihat tidak baik, atau menjalani kehidupan

negatif.



A. Perselingkuhan atau Merebut Pacar Sahabat



Meskipun tali persahabatan cukup erat mengikat

hubungan mereka yang bersahabat, namun tetap terbuka satu kemungkinkan bagi seseorang untuk melakukan suatu upaya pengkhianat

terhadap sahabatnya. Salah satu bentuk pengkhianatan yang sering terjadi adalah tindakan perselingkuhan atau perbuatan merebut

pacar dari sahabatnya sendiri.



Hadirnya duri dalam persahabatan mulai dirasakan tertancap dalam, ketika hubungan

seseorang mulai semakin dekat dengan pacar sahabatnya.



Oleh karena kerap bertemu, mengirim SMS, atau curhat,

kedekatan seseorang dengan pacar sahabat tersebut, dapat menghadirkan suatu perasaan suka. Dan ketika perasaan suka tersebut

mulai berkembang menjadi adanya rasa untuk saling menyayangi, bisa dibilang, kedekatan tersebut telah berkembang menjadi suatu

tindak perselingkuhan.



Padahal, seseorang tersebut tahu dan menyadari kalau pribadi yang mulai disukai atau bahkan

mulai disayanginya itu, adalah kekasih hati dari sahabatnya sendiri. tindakan atau pola pemikiran ingin memiliki pacar dari

sahabatnya sendiri, telah menghadirkan suatu sikap tidak bersahabat, karena secara sadar telah membuat kedekatan hubungan

menjadi suatu keadaan untuk memiliki.



Berselingkuh atau merebut pacar sahabat, pada dasarnya merupakan sebuah

perbuatan yang sangat tidak menghargai hubungan persahabatan yang telah dibina.



Masalahnya, kondisi dimana seseorang

mulai dekat dengan pacar sahabatnya, kerap terjadi dan menjadi bagian dalam cerita kehidupan persahabatan dari dua orang anak

manusia karena salah satu pihak telah memanfaatkan keadaan tanpa memperhatikan perasaan sahabatnya sendiri.



Firman

Tuhan yang menjadi bagian dari Hukum Taurat telah mengingatkan setiap umat manusia agar tidak bersikap “mengingini” apa yang

dimiliki oleh orang lain, dalam hal ini, pacar dari sahabatnya. Hukum Taurat dibuat agar manusia ingat pada dosa-dosa dan

larangan yang ada dalam hukum tersebut agar tidak dilanggar.



B. Berbuat Curang



Adapun tindakan curang

dilakukan oleh seorang sahabat, adalah untuk mencari keuntungan pribadi atau mencari perhatian dari orang

lain.



Seseorang juga dapat menciderai baiknya hubungan persahabatan yang dibina dengan sahabatnya, ketika ia telah

bertindak curang atau tidak simpatik kepada sahabatnya.



Perbuatan curang yang sering kali terjadi dalam cerita

persahabatan, seperti :

1. Tidak menyampaikan kepada sahabatnya informasi-informasi yang sesungguhnya memang untuk

sahabatnya,

2. Sangat jarang mau mengeluarkan uang untuk kepentingan bersama,

3. Terlihat semakin dekat sama

sahabatnya kalau dirinya ada perlunya saja,

4. Tidak antusias pada saat sahabatnya sedang curhat namun memaksa sahabatnya

itu mendengarkan atau memberikan perhatian lebih pada saat dirinya curhat,

5. dan lain sebagainya.



Kehidupan

manusia tidak terlepas dari adanya perasaan iri atau sikap cemburu. Dalam sejumlah peristiwa, sikap iri serta cemburu, beberapa

diantaranya ditunjukkan secara tidak langsung, yaitu dengan tidak mengungkapkan hal-hal yang seharusnya diketahui oleh

sahabatnya, seperti disebutkan pada point satu diatas.



Informasi tidak disampaikan karena sebuat niat baik telah

diselubungi oleh satu atau sejumlah alasan untuk maksud pembenaran. Namun, ketika sikap iri hati dan cemburu membuat informasi

untuk sahabat tersebut tidak disampaikan, maka kemungkinan itu terjadi karena seseorang mempunyai niat tidak baik terhadap

sahabatnya itu.



Beberapa sikap curang lainnya ditunjukkan melalui sejumlah upaya manipulatif, yaitu suatu tindakan

yang menempatkan seorang sahabat sebagai obyek untuk mendapatkan kesenangan, kebutuhan atau sesuatu yang diinginkannya, namun

dengan menerapkan konsep pemikiran, seminimal mungkin mempunyai andil di dalamnya, bahkan apabila memungkinkan, andil tersebut

100% ditanggung sahabat.



Dalam situasi ini, sahabat tidak diposisikan sebagai tempat berbagi, namun digunakan

sebagai sarana atau media untuk mendapatkan kesenangan pribadi semata, tanpa ada ketulusan niat untuk saling berbagi. Bahkan

dalam sejumlah peristiwa, konsep berbuat manipulatif tersebut dilakukan dengan memaksakan kehendak tanpa mau tahu hal-hal yang

diinginkan sahabatnya.



Asas manfaat untuk memenuhi kesenangan, kebutuhan atau sesuatu yang diinginkan, benar-benar

dijalankan selama tidak ada protes atau kata-kata keberatan yang keluar dari mulut sahabatnya.



Perbuatan yang

bersifat timbal-balik dan bertujuan saling mendukung, sebagai suatu tindakan yang saling menguntungkan serta menghargai, tidak

dijalankan berdasarkan ketulusan hati, sehingga tidak terbangun suatu kebersamaan, seperti yang dinyatakan pada contoh point 2,

dan 3 diatas.



Kurang diciptakannya keadaan yang berimbang serta bermakna konstruktif pada saat ketegaran emosional

sahabat sedang goyah, disikapi dengan menghadirkan anggapan, bahwa bertindak mengayomi dan menjadi tempat mendengarkan

keluh-kesah sahabat, bukanlah sesuatu hal yang wajib dilakukan.



Inkonsistensi sikap yang berwujud bergesernya

keinginan untuk menghadirkan sikap setia mendengarkan segenap curahan hati sahabat yang bisa mengurangi beban di hati dan

pikiran, merupakan bentuk sikap tidak bersahabat yang dinyatakan pada point 4 pada contoh.



Akan hal ini, Firman

Tuhan berkata :

dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain

juga. (Filipi 2:4)



Persahabatan yang baik, dibangun dengan berdasarkan keinginan untuk menjalani alur pergaulan

hubungan persahabatan dalam kebersamaan serta tidak hanya memikirkan bagaimana meraih kesenangan atau keuntungan pribadi

semata.



C. Statement atau Saran Tidak Menyenangkan/ Menyesatkan



Firman Tuhan dalam Mazmur 109:4

mengatakan :

Sebagai balasan terhadap kasihku mereka menuduh aku, sedang aku mendoakan mereka.



Kedekatan

hubungan persahabatan, terkadang membuat seseorang pada saat curhat kepada sahabatnya, tidak mengenal tanda batas. Segala

sesuatu yang dirasakan, lebih nyaman kiranya apabila sudah diceritakan kepada sahabatnya.



Padahal, tidak semua orang

di muka bumi ini yang mampu menjaga rahasia, termasuk didalamnya, seorang sahabat. Beberapa peristiwa yang terjadi dalam cerita

hubungan persahabatan, bahkan menunjukkan kalau seorang sahabat, berani menyampaikan hal yang tidak benar, berita bohong atau

bahkan bernada fitnah, karena memang, tidak ada nilai kebenaran dari apa yang disampaikannya.



Sebuah perkara yang

menghadirkan rasa tidak suka, iri hati, dan cemburu, sering kali menjadi awal munculnya sebuah sikap tidak bersahabat. Dalam

hal ini, adanya sikap tidak bersahabat ditunjukkan dengan memprovokasi orang lain melalui penyampaian gosip maupun

berita-berita tidak menyenangkan, atau menyebarluaskan informasi bernada negatif, mengenai sahabatnya sendiri.





Menyebarluaskan gosip (dalam bentuk dan rupa apapun) yang menghadirkan citra buruk orang lain, merupakan bagian

dari sebuah tindakan tidak menyenangkan.



Apalagi kalau gosip tersebut, bertujuan untuk menjelek-jelekkan,

mendisposisikan, atau mencemarkan citra pribadi maupun nama baik dari seseorang. Dalam batas-batas pemikiran yang normatif,

tindakan itu merupakan tindakan yang tidak perlu dilakukan karena bersifat destruktif, bukan konstruktif.



Jelas,

apabila perbuatan tersebut dilakukan oleh seorang sahabat, maka perbuatan itu termasuk dalam sikap tidak bersahabat dari

seorang sahabat.



Sifat destruktif dapat juga ditunjukkan dengan memberikan saran maupun pendapat yang bisa membawa

seorang sahabat terjerumus dalam keadaan yang penuh dilema, penuh ketidak-pastian, atau membuat suasana menjadi menyenangkan

(semakin sedih atau semakin kecewa pada keadaan atau orang lain, dll). Kondisi ini sering kali pula terjadi dalam kisah

orang-orang yang menjalin hubungan persahabatan.



Sebagai contoh :

1. Seseorang selalu menyarankan agar

sahabatnya putus saja dari sang pacar karena pacar sang sahabat yang dianggap telah berlaku tidak menyenangkan atau tidak

sesuai dengan harapan sahabatnya.

2. Selalu menyarankan untuk melakukan tindakan pemberontakan sikap terhadap orang tua

atau orang-orang yang sepatutnya dihormati sang sahabat.

3. Selalu mengajak sang sahabat untuk melakukan perbuatan yang

dilarang pada saat sahabatnya sedang menghadapi permasalahan.

4. dan lain sebagainya.



Pada beberapa kondisi,

segenap saran seperti yang disebutkan sebagai contoh diatas, bisa saja diterima karena cerita kehidupan yang selalu disampaikan

oleh sahabatnya, dianggap telah menyulitkan seseorang untuk mampu menyampaikan hal-hal yang baik sebagai sebuah saran atau

bahan pemikiran.



Namun, segenap tindakan yang dimaksudkan sebagai pembenaran, belum tentu ada nilai-nilai kebenaran

didalamnya.



Apabila kondisi seperti ketiga contoh diatas memang terjadi, maka dapat dikatakan, kalau saran seseorang

kepada sahabat tersebut, justru telah menyampaikan saran-saran yang bernilai “pembenaran.”



Contoh saran diatas

seharusnya baru muncul setelah melakukan hipotesis yang tepat, benar, dan dapat dipertanggung-jawabkan karena apabila

saran-saran semacam itu selalu mengalir dari mulut seseorang kepada sahabatnya sendiri pada saat sahabatnya sedang curhat

tentang hal-hal yang tidak menyenangkan, maka akan menimbulkan suatu pola pemikiran yang menempatkan seorang sahabat tidak

pernah benar dalam membina suatu hubungan diluar dengan sahabatnya sendiri.



Seorang sahabat seharusnya tidak

menyampaikan saran agar sahabatnya pasrah saja pada keadaan atau menyarankan sahabatnya berlari dari keadaan tidak menyenangkan

yang sedang dihadapinya.



Kenapa demikian?



Dalam persahabatan, sudah sepatutnya seseorang tidak pernah

lelah untuk memberikan saran-saran atau bahan masukan pemikiran yang mendorong serta menghadirkan ajakan agar selalu mencoba

untuk memperbaiki keadaan, selalu menyampaikan agar sahabatnya berpikir positif, selalu memberikan alternatif jalan

penyelesaikan masalah (bukan lari dari masalah), dan selalu meminta sang sahabat agar merenungkan setiap alur peristiwa yang

sedang dihadapinya.



Seorang sahabat seharusnya memberikan energi bagi sahabatnya, dan bukannya rajin menyampaikan

saran-saran yang tidak membuat sahabatnya untuk semakin bingung, semakin menderita, semakin merasa terpojok, atau semakin sulit

untuk mengambil keputusan.



Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa

kebinasaan.

(Amsal 13:3)





IV. Penutup



Apabila kita ingin menjadikan diri kita seorang sahabat

yang baik bagi sahabat kita, Firman Tuhan mengatakan :

Dan jadikanlah dirimu sendiri teladan dalam berbuat baik. Hendaklah

engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu.

(Titus 2:7)



Setiap orang seharusnya memiliki pengertian

atau kesadaran diri untuk menghargai posisi serta keberadaan orang lain, menghargai adanya privasi orang lain (termasuk privasi

dari seorang sahabat), dan menghargai ungkapan hati orang lain yang sedang membutuhkan adanya pihak yang mau mendengarkan

keluh-kesahnya.



Nilai-nilai kejujuran dan keterbukaan merupakan suatu kondisi yang harus dijalani oleh setiap

individu yang menjalin hubungan persahabatan dengan individu yang lain, karena memang, meskipun tidak diucapkan, seseorang bisa

menilai bagaimana sikap bersahabat yang ditunjukkan oleh sahabatnya.



Bagaimanapun adanya, satu nilai negatif yang

ditunjukkan oleh seseorang, akan mudah tertanam dalam benak pikiran dan menjadi suatu hal yang sensitif apabila tidak disikapi

dengan bijaksana.



Keadaan yang seharusnya dibangun dalam hubungan persahabatan, bukan dimaksudkan untuk saling

menghancurkan atau membuat sahabat menjadi semakin berada dalam dilema kehidupan.Setiap pribadi yang menjalin persahabatan

seharusnya menyadari, perilaku destruktif, cepat atau lambat, akan menghancurkan hubungan persahabatan.



Sikap yang

tidak bersahabat bisa dihindari untuk terjadi apabila masing-masing pihak menyadari kalau sahabat bukanlah media atau sarana

untuk menggapai kesenangan pribadi, maupun menjalankan misi-misi tertentu yang dilaksanakan karena adanya kepentingan yang

ingin dijalankan.



Selayaknya, persahabatan merupakan sebuah hubungan istimewa karena memang tidak semua orang

memiliki sahabat. Jadi, menghadirkan sikap tidak bersahabat, yang dilandasi perilaku yang tidak konsisten dan egois, bukanlah

pilihan yang diambil karena seluruh elemen yang membuat sikap tidak bersahabat ada dalam diri seseorang, bukanlah cerminan

KASIH, sebagai landasan perilaku pribadi-pribadi yang bersahabat.



Tuhan memberkati kita semua.



.Sarlen

Julfree Manurung

Penulis dan moderator milis www.pustakalewi.net

dilihat : 245 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution