Sabtu, 22 September 2018 06:05:12 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 293
Total pengunjung : 422323
Hits hari ini : 3246
Total hits : 3888109
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 21 Mei 2008 00:00:00
Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali
Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six

times"



Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah

kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda

dariku.



Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya

membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di

depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.



"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau

bertanya.



Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau

mengatakan:



"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"



Dia mengangkat tongkat bambu itu

tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata:



"Ayah, aku yang

melakukannya!"



Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus

menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan

memarahi:



"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa

mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"



Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku

dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya

tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata:



"Kak, jangan

menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."



Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup

keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku

tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia

11.



Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat

yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok

tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut:



"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu

baik...hasil yang begitu baik..."



Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas:



"Apa

gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"



Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan

ayah dan berkata:



"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."



Ayah

mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya:



"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?

Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"



Dan begitu

kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka

adikku yang membengkak, dan berkata:



"Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan

pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."



Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke

universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh

dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas

bantalku:



"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu

uang."



Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku

hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.



Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang

adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di

universitas).



Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan

memberitahukan:



" Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"



Mengapa ada seorang penduduk dusun

mencariku?



Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.

Aku menanyakannya:



"Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"



Dia menjawab,

tersenyum:



"Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka

tidak akan menertawakanmu?"



Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku

semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku:



"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun

juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."



Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk

kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan:



"Saya melihat semua gadis kota memakainya.Jadi saya

pikir kamu juga harus memiliki satu."



Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam

pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.



Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah,

kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis

kecil di depan ibuku:



"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah

kita!"



Tetapi katanya, sambil tersenyum:



"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah

ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."



Aku masuk ke

dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada

lukanya dan mebalut lukanya:



"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya

bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja

dan..."



Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun

ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.



Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan

aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.Mereka mengatakan, sekali

meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan:



"Kak,

jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."



Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan

adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia

bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.



Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki

sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik,dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih

pada kakinya, saya menggerutu:



"Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan

sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami

sebelumnya?"



Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya:



"Pikirkan kakak ipar, ia

baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang

akan dikirimkan?"



Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu

kurang pendidikan juga karena aku!"



"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia

berusia 26 dan aku 29.



Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam

acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan

kasihi?"



Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."



Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah

kisah yang bahkan tidak dapat kuingat:



"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari

kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari

sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami

tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang

sumpitnya.



Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik

kepadanya."



Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu

susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."



Dan dalam

kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

(rafael_chung99@yahoo.com.sg)



Pengirim : Mawar Saron School

dilihat : 295 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution