Sabtu, 24 Agustus 2019 03:12:17 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520083
Hits hari ini : 333
Total hits : 4896443
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kebangkitan Nasional






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 19 Mei 2008 00:00:00
Kebangkitan Nasional
Tahun ini kita memperingati satu abad kebangkitan

nasional. Banyak hal telah terjadi selama periode satu abad tersebut. Indonesia kini telah merdeka dan menjadi salah satu

negara berdaulat yang memiliki pengaruh secara global. Namun untuk terus maju, kita harus berhenti sejenak dan berpikir untuk

mengevaluasi diri.



Beberapa hari yang lalu Panglima TNI menyatakan bahwa kehidupan bernegara kita mengalami suatu

peningkatan yang cukup signifikan. Meski demikian, semangat nasionalisme menjadi sesuatu yang semakin langka. Padahal tanpa

semangat nasionalisme, kita tidak akan bertahan menghadapi gempuran perubahan zaman secara global di masa mendatang.

Keprihatinan yang sama juga pernah disuarakan alm. Sophan Sophian.



Bercermin dari hal tersebut, kita harus kembali

berpikir mengenai keberadaan kita di tengah bangsa ini. Setelah munculnya reformasi dan tumbangnya pemerintahan Orde Baru pada

tahun 1998, eskalasi konflik dinegara kita semakin luas dan kompleks. Bukan hanya di tingkat elit politik, tetapi juga telah

menyentuh kalangan grass root. Bahkan hal ini telah masuk ke dalam area SARA. Ironisnya, nyaris semua masalah yang terjadi di

masyarakat kini dinilai dari perspektif SARA.



Sebagai contoh adalah kasus konflik di Ambon. Konflik berdarah ini

terjadi hanya karena perkara sepele yang tidak ada kaitannya dengan agama tertentu. Akan tetapi kemudian dikembangkan ke arah

konflik agama. Entah siapa yang memulai, baik kelompok Kristen maupun Islam saling mengaku bahwa mereka merupakan korban.

Pertanyaannya, siapakah yang mengorbankan mereka? Dan, untuk apa?



Contoh lain adalah kasus pergeseran nilai dan

norma yang berlaku di masyarakat. Saat ini masyarakat cenderung bersikap skeptis terhadap sistem yang ada di masyarakat.

Kepercayaan terhadap pemerintah dan sistem hukum yang berlaku berada pada titik terendah. Sebagai akibatnya, mereka mencoba

mencari perlindungan melalui kelompok-kelompok keagamaan, kesukuan, bahkan kebiasaan. Ironisnya, beberapa pihak berusaha

memasukkan nilai-nilai kelompok tersebut saat berinteraksi secara nasional sebagai warga negara Indonesia.



Yang jadi

keprihatinan adalah, pemerintah sendiri cenderung bersikap pasif dan tidak tegas terhadap masalah-masalah tersebut. Kasus

Kerusuhan Mei 1998, separatisme, pembunuhan Munir, hingga yang terakhir masalah Ahmadiyah kurang disikapi dengan bijaksana.

Kerenggangan hubungan pemerintah dengan rakyat mendorong pemerintah kerap mengambil kebijakan-kebijakan yang kurang populer.

Saya yakin, jika pemerintah mau jujur dan terbuka dalam segala sesuatunya, bangsa ini pasti akan terlepas dari krisis. Kalau

orang Jawa bilang, Ana rembug ya di rembug¨ (kalau ada masalah, bicarakanlah/ musyawarahkanlah ).



Budaya duduk

bersama untuk bermusyawarah ini nampaknya semakin hilang. Indikasinya, masyarakat kita semakin mengedepankan otot dalam

menyelesaikan masalah. Prinsipnya adalah hukum rimba. Yang paling besar adalah yang berkuasa, yang berkuasa adalah yang menang,

yang menentang harus diberangus.



Sebuah ungkapan latin mengatakan vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara

Tuhan). Namun sejarah membuktikan bahwa tidak selamanya hal itu adalah benar. Ironisnya, justru sejarah mencatat bahwa

orang-orang yang membawa kebenaran menjadi minoritas dan dikesampingkan. Jadi, perlu kiranya kita mulai belajar kembali untuk

duduk bersama, membicarakan, dan mempertimbangkan masalah bangsa ini tanpa harus mengedepankan perbedaan yang ada. Terutama

perbedaan SARA.



Saya ingat saat beberapa tahun lalu Thailand dilanda krisis ekonomi. Kala itu rakyat dari seluruh

lapisan dan golongan masyarakat menyumbangkan harta miliknya untuk negara. Hasilnya, Thailand kembali bangkit dari keterpurukan

ekonomi. Saya jadi berpikir, kapan bangsa ini dapat memiliki sikap nasionalisme seperti itu. Berdiri bersama membangun bangsa

tanpa memandang perbedaan yang ada. Semangat ini juga yang mendasari kebangkitan nasional satu abad silam.



Jadi,

marilah kita bergandengan tangan membangun bangsa dan negara ini tanpa melihat perbedaan yang ada. Namun lihatlah bahwa kita

semua disatukan oleh kebangsaan kita, bangsa Indonesia.



Oleh : ryu_3981



Diambil dari Milis

www.pustakalewi.net

dilihat : 438 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution