Sabtu, 21 Juli 2018 05:29:32 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 261
Total pengunjung : 407220
Hits hari ini : 2414
Total hits : 3712814
Pengunjung Online : 8
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Hidup Adalah Uhek-Uhek…






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 19 Mei 2008 00:00:00
Menyongsong Peringatan 100 Tahun Hari Kebangkitan

Nasional, kita disuguhi terpaan iklan yang menampilkan sosok para politisi menebar pesonanya menjelang pemilihan umum tahun

depan.



Ialah Soetrisno Bachir, Ketua Umum Partai Amanat Nasional yang sejak bulan lalu wajahnya mendadak lebih

terkenal dari presiden karena teramat sering muncul di televisi, bahkan dalam jam-jam tayang utama, untuk sebuah propaganda

pencitraan dirinya. Tidak hanya di televisi, SB –begitu pengusaha asal Jawa Tengah yang kini menetap di Pondok Indah itu biasa

disapa, juga mejeng di iklan satu halaman penuh koran terkemuka, serta tampil dalam baliho raksasa di jalan-jalan utama

ibukota, termasuk di titik tertentu di kawasan Sudirman dan Gatot Subroto, yang sebenarnya merupakan kawasan terlarang untuk

reklame.



Majalah Tempo edisi pekan lalu menyindir perilaku SB, dan juga politisi lain yang mendadak memopulerkan

diri lewat advertensi dengan judul parodi “Hidup Adalah Beriklan”. Menurut majalah itu, iklan itu dibuat atas jasa Rizal

Mallarangeng, pemimpin Fox Indonesia, lembaga konsultan politik yang disewa SB Adapun untuk menggarap materi iklannya, SB

memakai 25 Frames Production pimpinan Irfan Wahid, putra tokoh Nahdlatul Ulama, Salahuddin Wahid. Total biaya produksi hingga

penayangannya bisa lebih dari angka 20 miliar rupiah!



Selain iklan SB, penyakit “post celebrities syndrome” melanda

Jenderal (Purnawirawan) Wiranto dan Letnan Jenderal (Purnawirawan) Prabowo Subianto yang juga rajin beriklan. Menurut pengamat

LIPI Hermawan Sulistyo, “post celebrities syndrome” adalah gejala dari orang yang dulu biasa terkenal dan dikerubuti wartawan

lalu kini mendadak tenggelam. Lewat berbagai cara, termasuk memasang iklan nan mahal, mereka mencoba mendongrak popularitasnya

kembali.



Wiranto, yang kini menjadi Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), memasang iklan di televisi sejak

September tahun lalu. Ada dua versi iklan mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia ini, yakni versi dukungan masyarakat

kepadanya dan versi ajakan mengatasi masalah kemiskinan. Untuk menggarap iklan ini, tim Wiranto menggandeng Denny Januar Ali

alias Denny JA, Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia.



Sementara itu, Prabowo, Ketua Himpunan Kerukunan

Tani Indonesia, mengusung isu yang lebih mikro untuk mengerek popularitas. Ia membawa tema pentingnya susu, telur, dan produk

pertanian. Meski namanya sering dikaitkan dengan Partai Gerakan Indonesia Raya, mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus

ini menghindari isu politik.



Hidup adalah beriklan… eh, perbuatan. Tiba-tiba saya teringat pada mata kuliah ilmu

komunikasi paling dasar, bahwa untuk dapat sampai ke sasaran secara tepat, sebuah pesan harus dibungkus dalam kemasan yang

tepat pula. Istilah yang begitu melekat pada kepala saya selaku mahasiswa baru saat itu adalah “packaging”. Paketlah pesan

dalam kemasan yang menarik.



Tapi, kemudian menjadi persoalan, bagaimana bila kemasannya justru lebih menonjol

daripada isi pesannya? Sehingga kemudian muncul ledekan lain di kalangan praktisi komunikasi, “Ingat, yang penting kesan, bukan

pesan!” Sebuah pesan, meski sebenarnya isinya ciamik, bila dipaket secara asal-asalan tidak akan menimbulkan daya tarik bagi

khalayak. Sebaliknya, sebuah paket yang menawan mampu membungkus sebuah substansi yang sebenarnya biasa-biasa saja, menjadi

memikat nan menggiurkan audiensnya. Masih ingat iklan pemilu 2004, “Kapan lagi punya presiden ganteng?” Nah

lo….



Hidup adalah perbuatan, eh... beriklan. Bisakah Anda membayangkan, seandainya ongkos puluhan milyar rupiah

untuk perencanaan, produksi, hingga penayangan iklan tadi disumbangkan untuk mengangkat derajat kaum miskin Indonesia dari

Sabang sampai Merauke tanpa banyak gembar-gembor? Berapa beasiswa dapat diberikan dengan uang sebanyak itu? Berapa subsidi

untuk guru honorer dapat dibagikan dengan lembar-lembar miliaran rupiah? Berapa ton bibit dan pupuk dapat dibagikan untuk

petani? Berapa kiloliter solar dapat diterima nelayan yang sulit melaut karena krisis BBM? Dan lain-lain... Tapi, ah masak iya,

hari gini masih ada orang berbuat baik tanpa publikasi?



Saya pun terkenang saat beberapa tahun lalu sempat bekerja

di sebuah perusahaan jasa konsultasi media dan penyelenggara even milik salah seorang presenter berita televisi ternama. Satu

frase yang saya kenal dari mulut si mbak, adalah frase ’uhek-uhek’, untuk mengganti istilah ’basa-basi yang menyebalkan’. ”Ah,

acara ini terlalu banyak uhek-uheknya, tidak to the point,” begitu keluhnya melihat deretan sambutan yang membungkus sebuah

kegiatan. Atau kali lain, si mbak berteriak keras, ”Jojo, kalau bikin proposal langsung saja, jangan terlalu banyak

uhek-uhek...”



Sayang, saat ini kita hidup di tengah sebuah bangsa yang terlalu banyak uhek-uhek dibanding bertindak.

Seandainya saja, ungkapan ’sedikit bicara banyak bekerja’ benar-benar kita terapkan, maka kebangkitan Indonesia yang kita

dambakan tidak akan butuh waktu terlalu lama lagi.



Bangkitlah Indonesia, mari berbuat, karena hidup adalah perbuatan

tanpa pamrih, bukan uhek-uhek semata...



Sumber : Catatan Ringan,

www.pustakalewi.net

http://pustakalewi.info/detail.asp?section=catrindetail&catrinid=16

dilihat : 315 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution