Rabu, 18 Juli 2018 13:52:59 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 139
Total pengunjung : 406533
Hits hari ini : 981
Total hits : 3706062
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Selayang Pandang Kristen Koptik dalam Novel dan Film “Ayat-Ayat Cinta”






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 03 Mei 2008 00:00:00
1. Catatan

Pengantar



Fenomena sukses film "Ayat-ayat Cinta", arahan Hanung Brahmantyo ini adalah menarik untuk dicermati. Film

layar lebar yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy [Habiburrahman EI Shirazy, Ayat-ayat Cinta : Sebuah Novel

Pembangun Jiwa. Edisi Revisi (Jakarta: Basmala dan Harian Republika.2006).] ini dalam waktu singkat telah berhasil meraup

pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton ka¬rena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada

pula yang hanya “sekedar ingin tahu", karena penyam¬butan film ini yang cukup luas. Bukan hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP

Muhammadiyah, akan tetapi juga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang memberikan sambutan

antusias.



Ada yang memuji, ada pula yang menanggapi biasa-biasa saja. Ada apa di balik novel dan film ini? Beberapa

orang berkomentar, “ini iklan poligami”, “referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo", tetapi ada pula yang serius

mencermati kaitan film dan novel ini dengan hubungan Kristen-Islam di Mesir. Artikel singkat ini, mungkin tergolong yang

terakhir, kebetulan tokoh Maria Girgis, yang digambarkan berasal dari keluarga Kristen Koptik, Gereja pribumi di Mesir, sebagai

Gereja Ortodoks terbesar di dunia Arab. Sebagai seorang pengamat Gereja-gereja Timur, kenyataannya saya menemukan beberapa

kejanggalan mengenai tradisi Kristen Koptik, yang digambarkan "secara sambil lari" dalam film ini.





2. Sekilas

Film "Ayat-ayat Cinta"



Sebelum memberi beberapa catatan terhadap novel dan film ini, bagi yang tidak membaca novel

atau menonton film ini, akan disarikan cerita yang diangkat oleh novelis muda lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo, ini

:



Dikisahkan, Maria Girgis (Carissa Putri), putri Tuan Butros dan Maddame Nafed [Nama Girgis (arabisasi dari nama

George, seorang santo atau al-qidis, yang sangat populer di Gereja-gereja orthodoks), Butros (arabisasi dari Petrus) dan

nama-nama dalam bahasa Yunani, Ibrani atau Koptik, orang-orang Kristen Arab bisa juga memakai nama-nama Arab sebelum dan

sesudah Islam. Biasanya, nama-nama Kristen Arab misalnya: Abdul Masih (Hamba Kristus), Abdul Fadi (Hamba Sang Penebus), cukup

mudah dibedakan dengan nama-nama Arab Muslim: Abdul Aziz, Ramadhan, Mahmud, Ahmad, Ashraf dan sebagainya. Tetapi nama-nama

seperti Abdullah (Hamba Allah), Ibrahim, Ishak, Mukmin, dan masih banyak lagi, adalah nama-nama netral yang dipakai baik orang

Kristen maupun Islam.] bertetangga flat (apartemen) dengan Fahri, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas al-Azhar.

Maria, terlahir dari kelu¬arga Kristen Koptik, digambarkan mengagumi Al-¬Qur'an, karena ayat-ayatnya yang dilantunkan indah,

bersimpati pada Fahri. Simpati yang akhirnya berubah menjadi cinta. Sayang sekali, Maria tidak pernah mengu¬tarakan perasaan

hatinya. Ia hanya menuangkannya dalam diary saja.



Selain Maria, ada juga Nurul (diperankan Melanie Putri), mahasiswi

asal Indonesia, anak seorang kyai yang cukup kesohor, yang juga menimba ilmu di Al-¬Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati

kepadanya, tetapi sayang rasa cinta itu dihalangi oleh perasaan mindernya, karena Fahri hanya anak seorang petani. Cinta yang

akhirnya tak terucapkan. Ada juga tetangga yang selalu disiksa "ayahnya", dan Fahri ingin menolongnya, tetapi justru itulah

yang menjadi awal bencana baginya. Fahri harus beberapa saat mendekam di penjara, karena tu¬duhan fitnah telah memperkosanya.

Saat badai fitnah menimpa, saat itu Fahri sudah menikah dengan Aisha, gadis Turki yang menjadi warga Negara Jerman. Pen¬dekatan

diplomatik Indonesia buntu, gagal membebas¬kan Fahri.



Tetapi berkat kewarganegaraan Jerman yang dimiliki Aisha,

pengadilan Mesir melunak. Fahri bebas, setelah dibuktikan bahwa tuduhan itu fitnah belaka. Sebenarnya Fahri hanya difitnah,

kesaksian Noura palsu karena dinyatakan di bawah tekanan Bahadur, "ayah"¬nya. Padahal Bahadur, yang ternyata bukan ayah

kan¬dungnya, justru dialah yang memerkosanya, dan ingin menjualnya menjadi seorang pelacur. Sementara itu, Ma¬ria sedang sakit,

karena tekanan batin yang dideritanya karena Fahri telah menemukan “sungai Nil"-nya, dan dia ternyata bukan dirinya. Tetapi

berkat kegigihan Aisha, istri Fahri, Maria berhasil dihadirkan ke pengadilan. Ke¬datangannya menolong Fahri, karena ia menjadi

saksi ketika Fahri dan Nurul menyembunyikan Noura di ru¬mah Nurul, demi menyelamatkan Noura dari amukan

Bahadur.



Justru Aisha sendiri, yang ketika Maria terbaring sakit, membaca diary-nya. Ternyata Maria memendam rindu

kepada Fahri, cinta yang dibawanya sampai ia ter¬baring sakit. Aisha terharu. Ia akhirnya bersedia "mem¬bagi cinta" dengan

Maria. Suaminya justru disuruh mengawini Maria, karena itulah satu-satunya obat bagi kesembuhannya. Fahri dan Maria pun kawin

atas res¬tunya. Madamme Girgis, ibu Maria, sangat berterima kasih dengan pengorbanan Aisha. Madamme Girgis me¬meluk erat Aisha,

ketika wanita keturunan Turki itu menghindar dari akad nikah yang sedang diselenggarakan antara Fahri dan Maria yang sedang

berbaring sakit, karena tidak bisa menahan gejolak jiwanya. Beberapa menit terakhir film ini diisi dengan adegan kebersamaan

antara Fahri dengan kedua istrinya. Ada cemburu antara kedua istri Fahri, tetapi keduanya berusaha keras "menjaga hati".

Sementara Fahri mempergumulkan makna keadilan bagi kedua istrinya. Aisha sedang hamil tua dan menunggu kelahiran bayinya,

sementara Maria kembali jatuh sakit. "Ajarilah aku shalat", ucap Maria kepada Fahri, "karena aku ingin shalat bersama kalian".

Fahri dan Aisha terkejut luar biasa. Dan dalam keadaan terbaring Maria shalat bersama Fahri dan Aisha, dan gadis Kristen Koptik

itu mengehembuskan nafas terakhirnya sebagai seorang muslimah.





3. Tradisi Kristen Koptik di Mesir - Selayang

Pandang



Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi Mesir. Gereja ini lahir sejak awal sejarah Kekristenan, diawali

dari kedatangan Rasul Markus [Irish Habib al-Masri, Qishah Al-Kanisah al-Qibthiyyah. Jilid I (Cairo: Maktabah al-Mahabbah,

2003), hlm. 20-33. Lihat juga: A. Wessels, Arab and Christian? Christian in the Middle East (Kampen: Kok Pharos Publishing

House, 1995), him. 126.], murid Rasul Pe¬trus sekaligus penerjemahnya, yang juga dikenal sebagai penulis Injil Markus. Markus

mati syahid di Alexandria tahun 54 M, dan sejak saat itu Kekristenan berkembang pesat di "Negeri Firaun"

itu.



Berbeda dengan gereja-gereja di wilayah Arab utara, khususnya Gereja Ortodoks Syria, yang sejak sebe¬lum zaman

Islam sudah menggunakan bahasa Arab, terbukti dari temuan-temuan prasasti pra-Islam di wilayah Syria (Inskripsi Zabad tahun 512

M, Inskripsi Ummul Jimmal para abad VI M, dan inskripsi Hurran al-Lajja tahun 568 M), Gereja Koptik mula-mula memakai bahasa

Koptik. Tetapi setelah kedatangan Islam, Gereja Koptik di Mesir mulai memakai bahasa Arab, berdam¬pingan dengan bahasa Koptik.

Bahasa Koptik adalah bahasa zaman Firaun yang aksara-aksaranya diperbarui dengan meminjam aksara Yunani.



Perlu

dicatat pula, di seluruh gereja Timur, termasuk Gereja Ortodoks Koptik, masih dilestarikan ta¬ta-cara ibadah dalam penghayatan

budaya Kristen mula¬-mula. Misalnya: Shalat Tujuh Waktu (Sab'ush shala¬wat) [Lihat panduan Shalat dalam Gereja Orthodoks

Koptik: A/-Ajabiyya: As-Sab'u Sha/awot An-Nahtriyyah wa Lailiyyat (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2001).], Shaum al-Kabir (Puasa

Besar) pra-Paskah, selama minimal 40 hari, [AI-Qush Yoanis Kamal, Tartib UshbO' A/-A/om (Oar al-Jilli ath-Thaba'ah,2001).]

membaca Injil dengan cara dilantunkan secara tartil (dikenal dengan Mulahan Injil—yang para¬lel dengan Tilawat al-Qur'an, dan

masih banyak lagi. Anda bisa menyaksikan seorang pemuda yang komat¬-kamit membaca Kitab di tangannya sewaktu naik bus, atau

kendaraan lain di Mesir. Siapakah mereka? Ternyata bukan hanya pemuda Islam yang membaca al-Qur'an, tetapi juga pemuda-pemuda

Koptik dengan tatto Salib [Munculnya tradisi tattoo salib di tangan, pertama kali berasal dari masa penganiayaan. Tanda itu

menjadi semacam kode sesama umat Kristen demi keselamatan mereka dari para penganiaya mereka. Karena Gereja Koptik Mesir pada

zaman Romawi menjadi gereja yang teraniaya, maka tarikh Koptik yang ditandai dengan peredaran bintang Siriuz, disebut dengan

Tahun Kesyahidan (Anno Martyri), yang tidak termasuk tahun syamsiah (matahari) ataupun qamariyah (bulan), tetapi disebut tahun

kawakibiyah (tahun bintang).] di tangan sedang membaca kitab Agabea. Itulah Kitab Shalat Tujuh waktu, yang tidak pernah mereka

alpakan, juga ketika mereka sedang berkendara di jalan, sepulang kantor, atau berangkat ke kampus.



Informasi

terakhir, meskipun orang Muslim atau orang Kristen di Mesir sama-sama berbahasa Arab, tetapi antara keduanya tetap bisa

dibedakan. Idiom-¬idiom keagamaan mereka berbeda, tetapi juga tidak ja¬rang pula sama atau paralel. Di koran-koran berbahasa

Arab, ucapan bela sungkawa orang Kristen biasanya di¬awali ungkapan : Intiqala ila Amjadis samawat (Telah berpulang kepada

Kemuliaan Surgawi), cukup mudah dibedakan dengan kaum Muslim: Inna Iillahi wa Inna Ilayhi Raji’un (Sesungguhnya semua karena

Allah dan kepada-Nya pula semua akan kembali). Tapi ada banyak persamaan tradisi, misalnya: pertunangan, perkawinan, kematian,

dan masih banyak lagi.





4. Resensi atas Novel dan Film "Ayat-ayat Cinta"



Kalau tidak berpretensi

bisa atau mampu dalam meresensi sebuah novel apalagi sebuah film. Saya hanya ingin memberi beberapa catatan atas beberapa

tradisi Mesir pada umumnya, dan tradisi Kristen Koptik di Mesir khususnya, yang kadang-kadang kurang tepat di¬sampaikan dalam

film ini:



4.1. Adat-Istiadat, Bahasa dan Budaya



Beberapa tokoh dalam film ini gagal memerankan tokoh

orang Mesir. Madamme Nafed (Marini), mamanya Maria, kala mengucapkan kata: "bisyur'ah" (cepat !), tampak kurang ekspresif.

Alangkah lebih "Egypt" nuansanya, bila ia berkata dengan penekanan: "Yala, yala, bisyur'ah, Ya Maria!", misalnya. Begitu juga,

sebagai sosok gadis Mesir, Maria yang diperankan Carissa Putri, rasanya terlalu calm dan "melankolis". Ketika ia mengucapkan

"Afwan" (terima kasih kembali), menja¬wab kata-kata Fahri ketika menerima kiriman juice mangga [Kata "musyakirin awi ala..."

(Terima kasih banyak atas...) adalah dialek khas Mesir, kata "awi" asalnya dari: "qa¬wwi" (besar), dalam bahasa Arab klasik:

"Syukran 'ala... " (terima kasih atas...), atau "Alfu syukran 'ala..." (beribu terima kasih atas...)] yang dikirim Maria

melalui tarian keranjang kecil dari jendela kamarnya: “Musyakirin awi’ala ashir Manggo" (Terima kasih banyak atas juice

mangga). Lebih ekspresif, seandainya Maria mengatakan: "Afwan Ya Habibi!".



Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang

digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi ja¬greed (suatu bunyi siulan ibu-ibu yang menandai pe¬nyambutan acara-acara

kegembiraan mereka). Yang juga tidak kalah penting untuk dicermati, dialek Arab tokoh Maria ketika bertanya : Qamus 'Arabi?,

diucapkan dalam dialek terlalu "Saudi Arabia": Qomus ‘Arabi? Saya kira ini salah satu kekhasan mahasiswa Islam asal Indonesia,

karena ketika belajar bahasa Arab di pesantren, lebih mirip dialek Saudi Arabia yang memang lebih "fushah" (klasik). Tetapi

tidak demikian dengan dialek Mesir, mereka tidak mengucapkan: Subhro, Mubarok, Rohmat, melainkan: Subhra, Mubarak, Rahmat, dan

sebagainya.



Begitu juga, ungkapan salah seorang Mesir ketika melerai pertengkaran: "Khalash! Khalash!" (sudah,

sudah!), lebih "Mesir" lagi kalau diucapkan: "Khalash, khalash ba'ah!". Begitu juga, biasanya seorang Mesir mengucapkan kara

"La, la, la" (tidak, tidak, tidak!), sambil dengan jari terlunjuk bergerak-gerak, dan bibir berdecak. Ucapan "ahlan", biasanya

diucap¬kan berkali-kali : "Ahlan, ahlan, ahlan..." Yang lebih mengganjal lagi, dalam salah satu percakapan, seorang tokoh

mengucapkan dialek Mesir bercampur dengan bahasa Arab klasik: Asyan Ana bahibaki awi (Karena saya sangat mencintaimu),

mestinya: Asyan Ana bahibik awi. Asyan adalah ucapan cepat dari alashan, sedangkan Ana Bahibak, Ana bahibik, dalam bentuk

klasiknya: Ana uhibuka, Ana uhibuki.



Lokasi syuting yang memang tidak dibuat di Mesir, membuat pemirsa tidak bisa

secara utuh meng¬ikuti dan membayangkan "suasana Mesir". Mulai ru¬mah-rumah warga kelas menengah ke atas, lengkap dengan

mashrabiya-nya, [ Mashrabia adalah jendela kecil yang terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran halus, biasanya digunakan oleh

anak-anak gadis orang kaya untuk mengintip keluar tetapi orang tidak bisa melihat ke dalam.] jalan-jalan kota lama Cairo yang

macet, tidak terkecuali Midan Tahrir dengan wa¬rung-warung Asher (juice) segarnya.. Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang

digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi siulan ibu-¬ibu yang menandai penyambutan acara-acara

kegembi¬raan mereka). Masih banyak adat kebiasaan lain, yang dalam film ini tidak berhasil ditonjolkan dengan baik, sehingga

ber-"suasana Indonesia dan India", ketimbang ber-"suasana Mesir", dan negara-negara Arab di Timur Tengah pada

umumnya.



4.2. Tradisi Kristen Koptik



Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal

di Mesir, tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya, penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur'an

karena ayat-ayat¬nya di-"tilawat"-kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci dengan tartil bukan hanya tradisi

Islam, melainkan tradisi Timur Tengah (baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari ini,

gereja-gereja Timur (baik Gereja-gereja Ortodoks maupun Katolik ritus Timur) membaca Kitab Suci yang tidak jauh

berbeda.



Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga Maria, tetapi tradisi Koptik

sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya; Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melihat ke¬dua tangan, padahal orang-orang

Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan, sama dengan Islam. Bedanya, dalam Islam diawali dengan

ru¬musan Basmalah: Bismillahi rahmani rahim (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang), sedangkan dalam Kristen dengan

membuat tanda salib dan berkata: Bismil Abi wal Ibni wa Ruhil Quddus al-Ilahu Wahid, Amin (Dengan Nama Bapa, Putra dan Roh

Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).



Masih ada hal yang sangat menganggu, yaitu tattoo Salib di tangan Maria terbalik,

dan terlalu besar ukurannya. Dan terakhir, permintaan Maria kepada Fahri ketika ia terbaring sakit: "Ajarilah aku shalat!",

mestinya lebih baik diperjelas : "Ajarilah aku shalat secara Islam!". Mengapa? Sebab kata "shalat" saja, di Mesir dan di

negara-negara Arab yang di dalamnya umat Islam dan Kristen hidup bersama-sama, bukan merupakan terma eksklusif Islami. Jadi

berbeda dengan negara-negara Muslim non-Arab.



Orang-orang Kristen Koptik juga mengenal¬ waktu-waktu shalat yang

tujuh kali sehari. Waktunya sama dengan shalat Islam, ditambah dengan "shalat jam ketiga" (kira-kira jam 09.00 pagi, untuk

memperingati turunnya Roh Kudus, Kis. 2:15), dan jam 24.00 tengah malam, yang dikenal dengan, shalat Nishfu Lail

(tengah-malam). Lima waktu shalat selebihnya untuk mengenal Thariq al-Afam (Via Dolorosa) atau jam-jam sengsara

Kristus.



Lebih jelasnya, kala shalat, jauh sebelum zaman Islam kata ini sudah dipakai dalam bentuk Aram tselota.

Menariknya, waktu-waktunya memang sama dengan Islam (Subuh, Dhuhr, ‘Asyar, Maghrib dan Isya), dan dua sisanya sejajar dengan

salat sunnah Dhuha’ dan Tahajjud. Meskipun demikian, istilah, untuk waktu-waktu salat tersebut berbeda, dan waktu-waktu doa ini

mempunyai makna teologis terkait dengan jam-jam sengsara Yesus Kristus (Thariq al-Afam) sebagai berikut:



1. "Salat

jam pertama" (Shalat as Sa’at al-Awwal), kira-kira jam 06.00 pagi waktu kita, untuk mengenang saat kebangkitan Kristus Isa

Al-Masih) dari antara orang mati (Mrk.16:2).



2. "Salat jam ketiga" (Shalat as-Sa'at ats-Tsalitsah), kira-kira jam 9

pagi, yaitu waktu pengadilan Kristus dan turunnya Roh Kudus (Mrk. 15:25; Kis. 2:15).



3. "Salat jam keenam" (Shalat

as-Sa'at as-Sadi-sah), kira-kira jam 12 siang, yaitu waktu penyaliban Kristus (Mrk. 15:33, Kis. 3:30).



4. “Salat

jam kesembilan” (Shalat as-Sa’at at Tasi’ah¬), kira-kira jam 3 petang, untuk mengenang kematian Kristus (Mrk. 15:33,38; Kis.

3:1);



5. "Salat Terbenamnya Matahari" (Shalat al-Ghurub), yaitu waktu penguburan jasad Kristus

(Mrk.15:42).



6. "Salat waktu tidur" (Shalat ai-Naum), untuk mengenang terbaringnya tubuh Kristus; dan;



7.

"Salat Tengah Malam" (Shalat as-Satar atau Shalat Nishfu al-Layl) adalah jam berjaga-jaga akan kedatangan Kristus (Isa

Al-Masih) yang kedua kalinya (Why. 3:3). [Fakta bahwa seluruh gereja-gereja di Timur, baik Ortodoks maupun Katolik ritus Timur.

melaksanakan salat tujuh waktu baik sebelum maupun sesudah Islam dengan jelas dicatat Aziz S. Atiya, History of Eastern

Christianity (Nostre Dome. Indiana: University of Nostre Dame Press, Lt.). Demikianlah catalan Aziz S. Atiya mengenai

pelestarian ibadah ini pada tiap-tiap Gereja: Orthodoks Koptik: "These seven hours consisted of the Morning prayer, Terce,

Sext, None, Vespers, Compline and the Midnight prayer..." (hlm. 128). Mengenai Gereja Orthodoks Syria, "...keep usual hours

from Matins to Compline, with they describe as the 'protection prayer' (Suttara) before retiring" (hlm. 124). Se¬dangkan

Gereja Maronit di Lebanon: "Seven in number., they are the Night Office, Matins, Third, Sixth and Nine Hours, Verpers and

Compline" (hlm. 414). Lebih lanjut. mengenai Shalat Tujuh Waktu ini dalam bahasa Arab. lihat: Mar Ignatius Afram al-Awwal

Borshaum (ed.), Al-Tuhfat al-Ruhiyyahi fi ash-Shalat al-Fardhiyyah (Aleppo. Suriah: Dar al-Raha Ii an-Nasyr.

1990).]



Salat Tujuh waktu (As-Sab'u Shalawat) ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam. Me¬ngapa? Karena

praktek doa ini, khususnya seperti yang dipelihara di biara-biara, sudah ada jauh sebelum zaman Islam. "Kanonisasi

(waktu-waktu) salat" (Shalat al¬-Fardhiyah), sudah mulai dilakukan dalam sebuah doku¬men gereja kuno berjudul Al-Dasquliyyat

atau Ta'alim ar-Rusul yang editing terdininya dikerjakan oleh St.Hypolitus pada tahun 215 M.[ Marqus Dawud (ed.),

Al-Dasquliyyah, ar Ta'alim ar¬ Rusul (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003), Bab: Auqat Shalawat (Waktu-waktu Salat), hlm.

171-172.]





5. Novel Religi, Film Dakwah: Bukan Film Cinta Biasa



Seperti komentar banyak tokoh dalam

novel “Ayat-ayat Cinta”, memang hasil karya Habiburrahman el-Shirazy ini bukan sekedar novel cinta biasa, melainkan novel

cinta, religi, figh, politik yang sarat dengan pesan-¬pesan keagamaan. Novel ini ingin menghadirkan Islam secara damai,

multi-kultural, sarat sentuhan nilai cinta kasih, dan jauh dari gambaran kekerasan yang selama ini sering di-stigmakan oleh

orang Barat.



Meskipun demikian, novel ini juga sarat terhadap apologetika untuk membela Islam. Semangat dakwah yang

berkobar-kobar perlu diacungi jempol, tetapi ter¬kadang "kelewat batas". Misalnya, dalam Bab 33: "Nyanyian dari Surga" (tetapi

bagian ini untungnya tidak divisualisasikan dalam film), Maria bertemu dengan Bunda Maria, Ibunda Isa Al-Masih dalam mimpinya

ketika terbaring sakit. Di Bab Ar-Rahmah (pintu Rah¬mat), Bunda Kristus itu, menampakkan diri begitu ang¬gun dan luar biasa.

"Dia (Allah) mendengar haru biru tangismu", kata Bunda Maria, "Apa maumu?". "Aku ingin masuk surga. Bolehkah?", tanya Maria

sambil menangis.



"Boleh", jawab Bunda Maria. "Memang surga diperuntukkan untuk semua hamba-Nya. Tapi kau harus tahu

kuncinya". "Apa kuncinya?", tanya Maria. "Nabi pilihan Muhammad SAW telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak

mengetahuinya?", tegas Bunda Maria. "Aku tidak mengikuti ajarannya", kata Maria. "Itu salahmu!", kata Bunda Maria lagi. Lalu

dijelaskan bahwa jalan. ke surga itu harus lewat Islam.



"Maria, dengarlah baik-baik!", kata Bunda Kristus kepadanya.

"Nabi Muhammad sudah mengajarkan kunci untuk masuk surga, "Barangsiapa berwudhu dengan baik lalu mengucapkan: Asyhadu ‘an La

ilaha illallah wa asyhadu anna Muhamadan ‘abduhu wa rasuluh (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi

bahwa Muhammad adalah Hamba-Nya dan Rasul-Nya), maka akan dibukakan delapan pintu surga untuknya dan ia boleh masuk yang mana

ia suka." Maria akhirnya masuk Islam, mengucapkan syahadat dan me¬laksanakan shalat sebelum ajal menjemputnya. Inilah "ending"

novel dakwah ini.





6. Catatan Reflektif



Catatan reflektif saya, untuk mengakhiri artikel singkat

ini, sedikit saja. Setiap orang bebas untuk me¬nyatakan keyakinannya. Termasuk keyakinan bahwa sur¬ga itu hanya "hak

orang-orang Muslim". Kalau anda tertarik dengan tawaran ini, silakan saja. Bebas dan tidak ada yang melarang. Tetapi pernahkah

anda berpikir, apa¬kah orang lain yang berkeyakinan berbeda bebas juga mengutarakan keyakinannya? Seperti keyakinan bahwa Bunda

Maria, tokoh paling suci dalam Kekristenan sete¬lah Yesus Kristus, telah menunjuk bahwa jalan ke surga harus melalui

Muhammad.



Bolehkah orang Kristiani, yang mempercayai bahwa Yesus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, dan tidak

seorangpun yang sampai kepada Bapa kecuali melalui Kristus (Yoh. 14:6), meminjam "lisan Nabi Muhammad" untuk mengajar keyakinan

itu? Moga-¬moga anda membolehkannya, seperti kami tidak mendemo ketika "Ayat-ayat Cinta" meminjam "mulut suci Bunda Maria"

untuk dakwah agama Islam. Kalau begini, mengapa harus marah kepada Ahmadiyah? Sebaliknya, mengapa harus mengelu-elukan "Injil

Yudas", dan "The Da Vinci Code", tanpa mempertimbangkan pera¬saan orang lain yang tidak menyetujuinya ? Katakanlah,

"berjuta-juta orang Kristen yang tersakiti perasaannya" karena publikasi novel dan film itu ?"



Padahal film ini akan

lebih mendidik lagi, kalau misalnya diungkap juga fakta keberdampingan harmonis kehidupan umat Kristen dan umat Islam di negeri

yang oleh Ibnu Khaldun dijuluki "lbunda Dunia" ini. Misalnya, tenda-tenda Ma’idah ar-Rahman (Jamuan Sang Pengasih), yaitu

jamuan makan gratis yang dibuka di jalan-jalan kota Kairo, yang di beberapa wilayah Koptik, seperti Subhra, misalnya, selalu

dibuka oleh uskup Gereja Ortodoks Koptik sebagai simbol persatuan nasi¬anal (Wihdat al- Wathani). Begitu juga, kehadiran Syeikh

Al-Azhar, Dr. Muhammad Tanthawi, pada acara ‘Idul Milad (Natal) di Katedral Al-Qidis Marqus, Abbasiya. Tradisi saling

mengucapkan selamat hari raya, baik hari-hari raya Islam maupun hari-hari raya Kristen, juga menjadi kebiasaan yang patut

dijadikan referensi di negara-negara mayoritas Muslim non-Arab, seperti Afga¬nistan, Pakistan, dan Indonesia akhir-akhir ini,

yang terkadang "lebih Arab ketimbang negara-negara Arab sendiri". [Lih. Artikel saya: Bambang Noorsena, "Ramadhan di Cairo", di

Surabaya Post, 20 Agustus 2004, yang dimuat kembali di www.iscs.id]



Dan akhirnya, berbarengan dengan perasaan sedih

dan menyayangkan peredaran film "The Fitna", saya yang terus menerus mencoba memahami sukacita anda menyambut film "ayat-ayat

Cinta", izinkanlah saya mengucapkan : Mabruk, (Selamat!) atas prestasi dan sukses film ini. Ini bukan basa-basi. Karena

sekalipun ada yang tidak saya setujui isinya, tapi hati saya turut merasakan gembira bila anda bergembira.





7.

Lampiran Novel Ayat-ayat Cinta



Hal. 400 - HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY



Yang kuhafal, adalah surat Maryam yang

tertera di dalam Al-Quran. Dengan mengharu biru aku membacanya penuh penghayatan.



"Selesai membaca surat Maryam aku

lanjutkan surat Thaha. Sampai ayat sembilan puluh sembilan aku berhenti karena Babur Rahmah terbuka perlahan. Seorang perempuan

yang luar biasa anggun dan sucinya keluar mendekatiku dan berkata, “Aku Maryam”. Yang baru saja kausebut dalam ayat-ayat suci

yang kau baca. Aku diutus oleh Allah untuk menemuimu. Dia mendengar haru biru tangismu. Apa maumu ? Aku ingin masuk surga.

Bolehkah? “Boleh”. Surga memang diperuntukkan bagi semua hamba¬Nya: Tapi kau harus tahu kuncinya?' Apa itu

kuncinya?



'Nabi pilihan Muhammad SAW. telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak mengetahuinya?' Aku

tidak mengikuti ajarannya.' Itulah salahmu.'



Kau tidak akan mendapatkan kunci itu selama kau tidak mau tunduk

penuh ikhlas mengikuti ajaran Nabi yang paling dikasihi Allah ini. Aku sebenarnya datang untuk memberitahukan kepadamu kunci

masuk surga. Tapi karena kau sudah menjaga jarak dengan Muhammad SAW, maka aku tidak diperkenankan untuk memberitahukan

padamu.



Bunda Maryam lalu membalikkan badan dan hendak pergi. Aku langsung menubruknya dan bersimpuh di kakinya. Aku

menangis tersedu-sedu. Memohon agar diberitahu kunci surga itu. Aku hidup untuk mencari kerelaan Tuhan. Aku ingin masuk surga

hidup bersama orang-orang yang beruntung. Aku akan melakukan apa saja, asal masuk surga. Bunda Maryam, tolonglah aku. Berilah

aku kunci itu! Aku tidak mau pergi selama-lama¬nya. Aku terus menangis sambil menyebut-nyebut nama Allah.



Oleh :

Bambang Noorsena, SH, MA



Bambang Noorsena adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), alumnus

Kajian Perbandingan Agama pada Dar Comboni Institute, Cairo, Mesir.





Sumber : Acara Forum Fokus di Gedung Kasih

Bersaudara - Lt.4, Awal April 2008.



Dikutip dari ;

http://ourunity.blogspot.com/2008/05/selayang-pandang-kristen-koptik-dalam.html

dilihat : 250 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution