Kamis, 23 Oktober 2014 08:30:31 | Home | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
Selamat kepada Jokowi-JK sebagai presiden terpilih. Kita doakan agar pelantikan tanggal 20 Oktober berlangsung baik..--Ingin kegiatan pelayanan anda diliput? silahkan kabari kami di 082139048191, 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Perspektif

Strategi Kebudayaan
Bagi sebuah bangsa yang miskin atau tertinggal, kemakmuran atau kesejahteraan merupakan tujuan yang hendak dicapai.

Catatan Ringan

Kaum Injili dan Politik
Keberadaan kelompok-kelompok Kristen dengan dinamikannya di negara-negara dunia ketiga cukup menarik perhatian untuk dijadikan bahan studi.

Agenda

Kamis, 25 September 2014
Ibadah Syukur Pilpres BAMAG Surabaya
Senin, 29 September 2014
Kongres XXXIV GMKI 2014 di Pontianak
Sabtu, 18 Oktober 2014
KKR Sekota “ON THE WAY”







15725
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kesaksian Iman
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 26 April 2008 00:00:00
Kesaksian Iman
Nats : Roma 1:8-12



Dalam suratnya, Paulus memuji dan

sangat menghargai jemaat di Roma karena kesaksian iman yang mereka nyatakan bahkan dikatakan Paulus rindu ingin datang ke Roma

guna saling menguatkan dan saling menghibur (Rm. 1:12). Muncul beberapa pendapat yang menyatakan bahwa jemaat Roma merupakan

hasil dari penginjilan Apolos, argumen yang lain menyatakan jemaat Roma merupakan hasil dari Pentakosta pertama, argumen yang

lain menyatakan kalau jemaat Roma ini adalah orang-orang Yerusalem yang melarikan diri karena penganiayaan di negerinya. Banyak

pendapat yang muncul tentang asal mula jemaat Roma tetapi satu hal yang pasti jemaat Roma ini bukan hasil dari penginjilan

Paulus, tidak ada hubungan pribadi secara langsung antara Paulus dan jemaat Roma.



Beberapa aspek yang membuat jemaat

Roma ini menjadi sangat istimewa, yaitu:



Pertama, Kota Roma merupakan pusat pemerintahan, kota metropolitan.

Dibandingkan dengan jemaat lain yang hidup di kota lebih kecil maka orang yang hidup di kota Roma ini hidupnya lebih kompleks,

banyak tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi namun toh hal ini tidak menyebabkan iman mereka menjadi luntur sebaliknya

iman mereka semakin kuat dan kabar tentang iman mereka ini tersiar sampai ke seluruh dunia.



Kedua, Kota Roma

merupakan pusat dari seluruh pengajaran filsafat dunia. Kalau kita bandingkan dengan surat Paulus yang lain maka struktur dan

isi surat Roma ini paling kental, komprehensif, padat, dan tajam bahkan ada teolog yang mengatakan surat Roma sebagai miniatur

dari Alkitab atau setidaknya miniatur dari Perjanjian Baru. Karena strukturnya dan isinya yang sedemikian tajam sehingga muncul

pendapat yang mengatakan kalau seandainya seluruh Alkitab di dunia ini tidak ada dan hanya tersisa surat Roma saja maka orang

dapat bertobat dan dapat menjadi Kristen. Faktor lain yang membuat Paulus merasa perlu menuliskan suratnya ini secara lengkap

adalah: 1). jemaat Roma bukan jemaat yang ia didik dan ia bangun sehingga ia merasa perlu untuk memberikan gambaran doktrinal

secara total; 2). jemaat Roma termasuk dalam golongan orang pandai, mereka tidak dapat menerima suatu pengajaran dengan mudah

sehingga dibutuhkan suatu doktrin yang kuat supaya iman mereka dapat bertahan di tengah situasi dan tantangan yang

sulit.



Ketiga, Kekaisaran Roma sangat membenci Kekristenan. Sejarah membuktikan tujuh dari sepuluh Kaisar Roma ini

ingin memusnahkan orang Kristen karena Kekristenan menentang keras penyembahan Kaisar yang menganggap dirinya sebagai wakil

dewa; Kekristenan hanya mengakui satu Kedaulatan yaitu Kedaulatan Allah. Kelompok yang sama yang menentang keras tentang

penyembahan manusia yang dianggap sebagai dewa adalah kelompok orang Yahudi namun orang Yahudi ini tidaklah menjadi suatu

ancaman karena orang Yahudi menganggap dirinya eksklusif, hidup dalam suatu lokalisasi kecil dan rajanya, yaitu Herodes

berkompromi dengan kaisar Roma. Sebaliknya orang Kristen yang tersebar di seluruh kota Roma inilah yang dianggap sebagai musuh

terbesar karena mereka mengajarkan tentang hidup beriman di dalam Kristus dan hanya kepada Kristus sajalah orang harus

menyembah. Dari sini kita dapat melihat bahwa menjadi orang Kristen di kota Roma ini sangatlah berat karena tekanan hidup dan

ancaman penganiayaan yang harus mereka hadapi sangatlah berat.



Hari ini, kita hidup di dunia modern juga menghadapi

tantangan dan ancaman seperti yang dialami oleh jemaat Roma maka surat Roma ini menjadi refleksi sekaligus kekuatan dan

penghiburan bagi kita. Sejak dahulu orang Kristen sudah menghadapi tantangan yang berat namun mereka tetap beriman dan menjadi

saksi Kristus hingga ke seluruh dunia. Pertanyaannya bagaimana dengan iman kita?



Ada beberapa hal yang perlu kita

pahami berkaitan dengan iman dimana iman yang dapat menjadi suatu kesaksian, yaitu :



1. Kesaksian Iman merupakan

anugerah Tuhan



Paulus melihat pertumbuhan iman itu merupakan anugerah dari Tuhan. Begitu juga dengan imannya,

kalau ia masih dapat bertahan dan mempunyai kekuatan maka itu merupakan suatu anugerah; Tuhan akan mengaruniakan kemampuan

sehingga kita dapat berkata-kata pada saat kita berada dalam kesulitan (Mat. 10:18-20). Jangan pernah berpikir bahwa iman hasil

dari usaha kita. Bukan! Hendaklah kita menyadari bahwa iman dan pertumbuhannya ini merupakan anugerah Tuhan. Pada saat kita

berada dalam kesulitan dan penderitaan, ingat kita mempunyai Tuhan, Dia tidak akan membiarkan kita terjatuh. Hanya memandang

kepada Allah saja kita akan memperoleh kekuatan sehingga seluruh masalah kita terasa ringan dan menjadi kecil sebaliknya ketika

gagal memandang kepada Allah maka seluruh masalah akan menjadi besar. Konsep paradoks inilah yang memampukan kita menjadi saksi

di tengah dunia.



Banyak orang yang berpikir bahwa kalau ia sudah menjalankan seluruh ritual atau kegiatan agama

berarti ia sudah beriman Kristen. Salah! Memang baik kalau kita merasakan ada sesuatu yang kosong dalam hati ketika kita tidak

beribadah atau melayani namun kalau ibadah dan pelayanan tersebut menjadi ritual maka semua yang kita lakukan tidak ada

nilainya di mata Tuhan; semua itu tidak lebih hanya sampah yang harus dibuang ke dalam tong sampah. Jikalau benar selama ini

kita berbuat demikian maka kita harus bertobat dan mohon pengampunan- Nya. Orang yang mengaku hidup beriman pada Kristus tetapi

mengandalkan kekuatan sendiri maka itulah titik awal kegagalannya.



Di dalam situasi yang pelik inilah jemaat Roma

tertantang dan terdorong untuk merekonstruksi kembali iman berbeda halnya kalau kita berada pada situasi dan kondisi yang

nyaman maka iman itu tidak pernah diuji. Ketika seorang masuk dalam suatu momen ekstensial, yaitu suatu momen yang menentukan

hidupnya maka itu menjadi suatu titik kritis. Kesulitan dan penderitaan itulah yang menjadi titik paradoxical sekaligus menjadi

titik putar, yakni iman semakin bertumbuh atau orang mulai meninggalkan imannya. Itulah sebabnya kalau terkadang Tuhan

“sengaja“ membiarkan kita berada di dalam kesulitan itu adalah demi untuk kebaikan kita, yakni untuk mempertumbuhkan iman kita.

Pertanyaannnya adalah kenapa orang harus dipukul Tuhan terlebih dahulu baru kemudian ia mau bertobat? Marilah kita menciptakan

momen eksistensial positif di dalam diri kita. Jangan jadikan kesulitan itu sebagai titik putar tetapi biarlah di dalam situasi

nyaman pun itu menjadi titik putar bagi kita, yakni kita menyadari bahwa iman itu merupakan anugerah dari

Tuhan.





2. Kesaksian Iman merupakan Konsekuensi Logis Orang Percaya



Hati-hati dengan rupa-rupa

ajaran sesat yang menyatakan bahwa iman itu merupakan usaha dan kekuatan diri sendiri atau ajaran sesat lain menyatakan bahwa

iman itu menjadi jaminan seseorang masuk ke Sorga. Pendapat yang senada diungkapkan oleh kelompok orang semi armenianistik,

yaitu keselamatan itu merupakan anugerah tetapi juga hasil dari perjuangan diri. Hati-hati, sepintas sepertinya ajaran ini

benar, yakni iman itu anugerah Tuhan tapi iman itu ternyata dapat dianulir, yakni ketika orang tidak menjalankan iman maka ia

tidak akan mendapatkan sorga. Perhatikan, Tuhan justru mengajarkan bahwa iman itu merupakan anugerah dan Tuhan menuntut

pertanggung jawaban dari kita atas anugerah iman yang telah Dia berikan tersebut. Sungguh sangatlah tidak masuk akal kalau

seorang sudah berbuat baik kepada kita tetapi kita justru berbalik berbuat kurang ajar padanya.



Tuhan telah

menganugerahkan iman kepada kita, Dia telah melakukan sesuatu yang besar untuk kita, Dia telah berKor. ban nyawa demi untuk

kita masakan kita tidak berterima kasih pada-Nya? Tidak hanya sampai disitu bahkan Tuhan telah memimpin langkah hidup kita, Dia

memberikan kekuatan dan karunia pada kita supaya kita dapat hidup benar di hadapan-Nya, pertanyaannya sekarang adalah

bagaimanakah respon kita? Apakah kita termasuk seorang yang egois yang penting masuk sorga sehingga tidak peduli yang lain?

Sungguh sangatlah tidak masuk akal seseorang yang sudah merasakan anugerah Tuhan yang berlimpah di dalam hidupnya tapi dia

malah berbuat hal yang kurang baik pada-Nya bahkan kita berdiam diri tidak meresponi anugerah Tuhan itu sangatlah tidak baik.

Bagaimana perasaan kita ketika kita diperlakukan tidak baik atau didiamkan saja, tidak ada satu pun ucapan terima kasih yang

keluar dari mulut seseorang yang telah kita tolong padahal kita telah melakukan kebajikan padanya? Sebagai respon kita atas

anugerah Tuhan itu paling minim hal yang dapat kita lakukan adalah tidak mempermalukan nama-Nya tetapi sesungguhnya kita dapat

melakukan lebih dengan menjadi saksi bagi-Nya. Hari ini kita pun berada di tengah situasi politik, ekonomi dan keamanan yang

sangat pelik. Banyak orang yang tidak tahu bagaimana harus bersikap dan bagaimana menyelesaikan seluruh persoalan hidupnya,

orang tidak tahu kepada siapa mereka memohon pertolongan akibatnya orang mulai kehilangan pengharapan. Dapatlah dibayangkan,

kalau keselamatan seseorang ditentukan oleh perbuatan baik maka betapa sulitnya mereka untuk masuk sorga karena orang harus

berjuang mati-matian di tengah situasi sulit itu demi untuk mendapatkan sorga. Sungguh sangatlah menyedihkan keadaan orang yang

tidak mengenal anugerah Tuhan. Jangan pernah berpikir kalau kesulitan dan tantangan itu hanya menerpa pada orang golongan

menengah ke bawah saja. Tidak! Orang golongan menengah ke atas pun juga mengalami tantangan yang sama. Karena itu, sadarlah

kalau kita dapat beriman di tengah situasi yang sedemikian pelik ini maka itu bukan karena kekuatan kita tetapi semata-mata

karena anugerah Tuhan.



Hidup bersaksi menyatakan iman kepada dunia bukanlah hal yang sederhana sebab di dalamnya ada

suatu kerinduan untuk mengimplementasikan konsekuensi logis dari anugerah Tuhan yang telah kita terima. Konsep anugerah ini

sangat dominan dalam surat Paulus mulai dari pasal pertama hingga terakhir yang ditutup dengan doxology: sebab segala sesuatu

dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm. 11:36). Justru sangatlah tidak wajar

kalau kita tidak bersaksi pada dunia menyaksikan anugerah Tuhan yang berlimpah itu. Kalau kita melayani, kita tahu bahwa semua

itu merupakan perwujudan dari iman sejati yang telah kita proklamasikan itu diwujudkan dalam pelayanan karena kita tahu bahwa

sebagai anak Tuhan, kita harus bersaksi pada dunia. Ingat, iman bukan sekedar sebuah rutinitas pelaksanaan. Tidak! Iman adalah

bukti anugerah Allah turun atas kita.





3. Kesaksian Iman Nyata dalam Perbuatan



Kesaksian iman

bersifat terbuka dimana semua orang dapat melihat kelakuan kita. Ada orang yang beranggapan bahwa iman Kristen itu adalah

tindakan hati akan tetapi iman kalau hanya berhenti pada tindakan hati maka hal itu belum dapat dikatakan sebagai tindakan

iman. Iman harus dimulai dari hati yang diubahkan, heart lalu turun pada pola pikir, mind lalu turun pada behaviour dan

teraplikasi dalam tindakan sehari-hari. Orang yang bertobat hati dan pikirannya dibukakan, ada perubahan yang terjadi dalam

hidupnya. Sebaliknya orang yang tidak mau bertobat maka antara hati dan pikiran ada suatu jarak dan dalam hal ini yang berperan

adalah pola pikirnya. Orang yang demikian ini akan menjadi dualistik, sepertinya Kristen tetapi sesungguhnya pikirannya

dikuasai oleh filsafat dunia Orang yang pikirannya dikuasai oleh materialisme – humanisme maka seluruh implikasi hidupnya

adalah materi dan seluruh tindakannya hanya bertujuan untuk mendapatkan uang tetapi di satu sisi ia mengaku beriman

Kristen.



Penyebab terputusnya hati dengan pola pikir ini adalah dosa dam tidak ada satupun manusia yang dapat

memulihkan hubungan yang terputus ini. Satu-satunya cara supaya hubungan yang terputus ini kembali dipulihkan adalah dengan

bertobat, meminta ampun pada Tuhan. Maka tidaklah heran kalau hari ini kita menjumpai orang yang mengaku Kristen, percaya bahwa

Kristus adalah JuruSelamat tetapi hatinya tidak diubahkan sehingga tidak dapat menjadi kesaksian yang hidup. Iman Kristen bukan

dualisme tetapi iman Kristen merupakan satu kesatuan. Hati yang telah diubahkan dan diperbaharui oleh Roh Kudus itu menerobos

seluruh pola pikir kita dan pola pikir itu menerobos seluruh informasi dan ajaran yang kita terima dan seluruh informasi itu

menjadikan suatu bentukan hidup yang benar ini menghasilkan suatu tindakan yang benar. Roh Kudus yang menyadarkan kita akan

kebenaran dan memampukan kita untuk bersaksi.



Hidup Kristen bukanlah hidup yang dualistik tetapi seluruh hidup kita

dibentuk dan diubahkan oleh Kristus. Kristus adalah Tuhan yang berdaulat atas hidup kita. Banyak orang yang hanya mau Kristus

sebagai Juru Selamat yang menyelamatkan hidupnya dan membawa masuk ke sorga. Tuhan menegaskan supaya kita menguduskan Kristus

sebagai Tuhan yang berkuasa atas hidup kita (1Ptr. 3:15). Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkah kita men-Tuhankan Kristus

sebagai Tuhan? Sudahkah kita memuliakan dan menyenangkan hati-Nya sebagai respon atas anugerah-Nya yang telah turun atas kita?

Sudahkan kita menjadi kesaksian yang hidup bagi orang-orang di sekitar kita? Amin.



Oleh : Pdt. Sutjipto Subeno,

M.Div.



Sumber : Ringkasan Khotbah Pdt. Sutjipto Subeno di GRII Andhika, Surabaya tanggal. 4 Desember

2005.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Pengirim : Denny Teguh Sutandio.

   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by GIS IT Solution