Selasa, 17 Juli 2018 14:47:50 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 109
Total pengunjung : 406229
Hits hari ini : 940
Total hits : 3703115
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Dicari






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 23 April 2008 00:00:00
Dicari
Hari Minggu yang lalu saya memenuhi janji pergi beribadah di Gereja Pantekosta di Indonesia

yang terletak di utara kota Tangerang yang di gembalakan rekan saya Pdt Heski Wengkang. Rupanya gerejanya terletak berdekatan

dengan gereja-gereja lainnya di dalam suatu komplek ruko yang sama satu dengan lainnya dan tanpa plang nama gereja.

Gereja-gereja ini sangat tersiksa dan terdiskriminasi. Karena tidak berhak memakai papan nama gereja, ketakutan di resolusi

warga, tidak ada jaminan kebebasan beribadah seperti yang diamanatkan pasal 29 UUD 1945.



Tak kurang dari lima gereja

ada disana sehingga membuat saya bingung, gereja mana yang harus saya masuki. Setelah bertanya saya mendapatkan petunjuk dari

seorang anggota jemaat GBI yang baru saja selesai beribadah. Dengan yakin saya pergi ke arah yang ditunjuknya dan memarkir

kendaraan di depan gereja yang kesemuanya tertutup. Dari luar saya sudah mendengar pujian Soraklah Haleluya, Soraklah Haleluya,

Haleluya. Saya yakin tak salah lagi inilah gerejanya. Tapi tak disangka ketika saya memasuki gereja itu dan bertanya kepada

seorang jemaat yang baru saja masuk, dia berkata ini bukan gereja Pantekosta tapi gereja Baptis. Wajah saya merah dan segera

keluar lalu mengambil telpon dan mengirimkan sms, tak lama kemudian rekan saya datang menjemput.



Sampai hari ini

saya masih bertanya-tanya mengapa sebuah gereja Babptis memiliki lagu soraklah Haleluyah seperti itu yang sangat terkenal di

kalangan Pantekosta. Di Manado, sewaktu saya masih SMA dan sering mengikuti ibadah Rayon GPdI Paal Dua, saya bisa membedakan

mana kumpulan orang yang GMIM (Protestan) bahkan Baptis dan GPdI dengan nyanyian itu. Jika ada tepuk tangan dan soraklah

halelluyah sudah pasti itu dia Pantekosta. Namun sekarang saya benar-benar tidak bisa membedakannya.



Rupanya memang

sebaiknya begitulah gereja, tidak perlu ada perbedaan karena memang sama-sama memakai Alkitab, sama-sama memanggil Yesus adalah

Tuhan, sama-sama mengakui Allah Bapa Allah Putra dan Allah Roh Kudus, Sama-sama melakukan Perjamuan Kudus, sama-sama merayakan

natal, sama-sama memiliki hari Paskah dan kenaikan Yesus yang satu tanggal dan sama-sama yakin akan masuk

surga.



Kesamaan dalam diri orang Kristen inilah yang sekarang ini saya yakin perlu ditonjolkan. Mengapa? Karena

orang Kristen di Indonesia sekarang sedang menghadapi sebuah tantangan besar dari pemaksaan budaya Arabiah yang coba dipaksakan

diterapkan dalam diri semua warga Negara Indonesia yang majemuk oleh sekelompok orang yang fundamental.



Dimana-mana

di seluruh ruangan di Indonesia terletak lambang Negara garuda Pancasila yang di kakinya terdapat sebuah pita yang bertuliskan

Bhineka Tunggal ika yang artinya berbeda-beda tapi satu. Jelasnya di Indonesia ada orang yang beragama Kristen dan islam ada

yang hindu dan Buda, atau Kong Hu Cu, Kaharingan. ada yang Jawa, Padang, Batak, Tionghoa dan Manado. Semuanya berbeda baik

agama maupun tradisi. Masing-masing punya kekhasan tersendiri. Namun semuanya satu sebagai warga Negara Indonesia. Sayangnya

penerapan Syariat Islam di berbagai daerah, juga belakangan Syariat Kristen di Papua mengancam apa yang disebut sebagai

kebinekaan dalam bingkai kesatuan bangsa.



Tersiksanya para siswi di Padang yang mesti memakai jilbab, dan siswanya

yang dipaksa memakai baju koko merupakan salah satu bentuk dari sebuah pelanggaran hak asasi manusia yang bertentangan dengan

Pembukaan dan UUD 1945. Lebih jauh lagi sangat bertentangan dengan motto bangsa ini Bhineka Tunggal Ika itu. Memang menurut

walikotanya itu merupakan himbauan saja agar yang non muslim menyesuaikan diri, namun pada prakteknya ternyata terjadi sebuah

tindakan intimidasi, bahkan pemaksaan berupa teguran keras dan ancaman kekerasan fisik maupun emosional terhadap para siswi non

muslim oleh para guru dan rekan-rekannya.



Para murid yang terintimidasi ini tidak bisa berbuat apa-apa selain

pasrah. Dengan sendirinya mereka kehilangan jati diri sebagai anak bangsa dan mengikuti tradisi Arabiah yang tidak cocok dibumi

Indonesia. Padahal Mantan Presiden Gus Dur dalam acara dengan KBR 68H menyatakan tradisi Arabiah tidak sama dengan Islamiah.

“Pemaksaan memakai jilbab adalah merupakan sebuah bentuk tidak percaya diri,” katanya.



Sekarang ini orang Kristen

mestilah memunculkan tokoh-tokoh yang berani bersuara untuk mengecam tindakan diskriminasi yang terjadi dimana-mana. Maka saya

katakan DICARI seorang yang berani menentang diskriminasi. Yang mau berjuang tanpa pamrih untuk keadilan dan kesetaraan dan

kemerdekaan.



Saya terinsipirasi dengan perjuangan Marthin Luther Jr di Amerika pada tahun 1960 an. Dia adalah

seorang pendeta dari gereja Babtis. Lebih jauh lagi dia adalah anak pendeta. Hatinya terbakar ketika melihat ketidak adilan dan

diskriminasi terhadap jemaatnya, saudaranya dan sesama warga kulit hitam. Dia lantas menggerakan orang-orang kulit hitam untuk

secara damai menolak dan melancarkan protes damai menentang politik segregasi yang selama ini menganggap orang Kulit hitam

sebagai warga Negara kelas dua.



Betapa Indonesia membutuhkah seorang pemimpin, yang berjuang bukan untuk kantongnya,

bukan untuk gerejanya, bukan untuk golongannya, bukan untuk partainya tapi untuk semua anak bangsa, untuk persatuan Indonesia

dan untuk kemajemukan. DICARI! (Hendra Kasenda)

dilihat : 262 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution