Rabu, 22 Mei 2019 11:48:46 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 221
Total pengunjung : 505059
Hits hari ini : 1336
Total hits : 4627380
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Dualisme Dalam Kekristenan Dan Keabsolutan Kebenaran Alkitab Sebagai Firman Allah (1)






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 20 April 2008 00:00:00
Dualisme Dalam Kekristenan Dan Keabsolutan Kebenaran Alkitab Sebagai Firman Allah (1)
Pendahuluan : Dualisme,

Sebagai Permasalahan Yang Sedang Dihadapi



Manusia sekarang ini tidak lagi percaya akan kebenaran. Bahkan lebih parah

lagi, bahwa mereka tak mengakui konsep kebenaran. Hal ini adalah sesuatu yang sangat mengkhawatirkan, sebab dengan tidak

dapatnya kebenaran diterima, maka segala sesuatu tak lagi memiliki arah dan patokan. Artinya terjadi hilangnya fokus pada

kebenaran. Selain itu akan sangat mudah bagi setiap orang untuk kehilangan kemutlakan. Di sinilah terjadi mode relativitas,

sebab kebenaran bersifat tidak normatif bagi semua orang. Inilah akibat hilangnya universalitas kebenaran. Dan ketika sifat

universalitas kebenaran itu hilang, maka akan terjadi juga kehilangan kebenaran universal dari suatu wawasan dunia yang utuh.

Segalanya akan menjadi kebenaran-kebenaran yang sifatnya fragmental tanpa koherensi di dalamnya (Holmes, 2000: 18-19).

Kebenaran-kebenaran yang bersifat fragmental itu dapat terlihat di antaranya : pada banyak kalangan yang menganggap sesuatu

benar di bidang agama dan sekaligus tidak benar di bidang pengetahuan serta sejarah, dan sebaliknya. Kebenaran di sini terbagi

dua dan kedua bagian itu tidak berhubungan satu dengan yang lainnya. Keadaan ini dapat menimbulkan beberapa akibat negatif,

sebagaimana dikemukakan oleh Cupples (1996: 17-19).



Pertama, ilmu terpisah dari agama. Masalah spiritual terpisah

dari masalah intelektual. Ajaran Alkitab tentang penciptaan jelas disangkal oleh ilmu. Sebab menurut ajaran itu segala sesuatu

berhubungan dengan Allah sebagai Penciptanya, dan inilah yang disebut sebagai masalah-masalah agama. Demikian juga saat ini

maraknya gejala saintisme (mengutamakan ilmu dan mengabaikan yang lainnya) yang memutlakkan kebenaran sains dan menolak peranan

iman seiring dengan gejala fanatisme agama (mengutamakan agama dan mengabaikan yang lainnya) yang memutlakkan kebenaran

pewahyuan Allah dan menolak ilmu pengetahuan.



Kedua, iman terpisah dengan akal budi. Berbagai hal yang akali tidak

dimasukkan dalam wilayah tak nyata dan tak masuk akal seperti halnya iman. Masalah iman adalah masalah yang tak dapat diukur,

diraba, dilihat, dan dibuktikan secara matematis atau fisis. Sementara itu fenomena alam ini menurut intelektual harus dapat

dijelaskan secara masuk akal dan hal ini ada dalam wilayah ilmu. Kegemaran manusia untuk menekuni segala hal yang terlihat,

yang kasat mata, yang dapat diukur dan dihitung, dapat diperkirakan, dapat dimanipulasi sesuai dengan kehendak mereka,

menyebabkan mereka sangat memegang ilmu sekuler (ilmu dugaan) lebih daripada iman. Bagi mereka, iman adalah sesuatu yang

bersifat metafisika, yang tak terlihat, tak kasat mata, tak realistis, tak terukur dan terhitung, tak dapat diperkirakan, serta

tak dapat dimanipulasi sesuai kehendak mereka. Sementara itu yang berhubungan dengan iman adalah Alkitab sebagai Firman Allah.

Hal ini pula yang mendorong fenomena pemisahan antara iman dan ilmu, antara iman dan akal budi, secara khusus antara

Kekristenan dan ilmu. Ada orang-orang yang sangat memegang ilmu tetapi terlepas dari iman (inilah golongan ilmuwan atheis); ada

pula yang memegang iman begitu kuat dan tetapi tak berilmu (inilah golongan orang Kristen yang bodoh); dan ada banyak pula yang

memegang keduanya secara bersamaan namun mereka cenderung mengkotak-kotakannya (inilah golongan Kristen dualisme). Keduanya tak

berhubungan sama sekali, demikian ungkapan mereka.



Ketiga, iman terpisah dengan sejarah. Segala peristiwa dalam

Alkitab ditolak sebagai sesuatu peristiwa yang nyata dalam sejarah kehidupan. Akibatnya, ketika seseorang berhadapan dengan

Alkitab, ia bagaikan menghadapi suatu negeri dongeng atau legenda.



Keempat, pemakaian bahasa menjadi terpisah.

Pemaknaan istilah-istilah tertentu disesuaikan pengalaman pembicara dan tidak memiliki arti obyektif. Perkataan seseorang hanya

akan dapat dibenarkan sebagai pengungkapan pengalaman pribadi secara subyektif apabila pengalaman rohani terpisah dari

pengalaman yang lain. Di sini pemakaian bahasa secara umum berubah. Hal benar secara subyektif, merupakan tanda bagi pengalaman

subyektif saja. Penilaian benar dan salah hanya berlaku bagi pembicara yang bersangkutan saja, dan tidak bagi umum. Akhirnya

dalam pemberitaan karya Allah yang ajaib, tak ada peristiwa-peristiwa obyektif yang benar dan yang berarti bagi semua orang di

semua tempat. Demikianlah nyata terdapat penyangkalan arti dan nilai bahasa secara umum, sekaligus pengakuan iman kita secara

khusus.



Kehidupan rohani dan kehidupan akademis yang terpisah tentulah berakibat buruk. Di antaranya dapat

disebutkan sebagai berikut: (1) gaya hidup sekuler yang memisahkan Allah dari kehidupan sehari-hari; (2) kemajuan ilmu

pengetahuan bersamaan dengan kemerosotan moral manusia; (3) marginalisasi iman / agama dari kehidupan masyarakat modern; (4)

peningkatan kejahatan yang dilakukan oleh kelompok intelektual; (5) hancurnya makna hidup berkeluarga dalam perspektif Tuhan;

(6) berkembangnya gaya hidup bebas meliputi semua aspek hidup manusia; (7) tidak dihargainya otoritas, hukum, dan agama; (8)

semakin merosotnya penghargaan hak azasi manusia; (9) kehidupan manusia tidak dihormati sebagaimana seharusnya; dan (10) fokus

hidup pada diri sendiri dan hidup tanpa visi, misi, dan makna. Setiap orang yang beriman pasti menghadapi tantangan

intelektual.



Dualisme yang terjadi pada orang Kristen membuktikan mereka beriman tanpa akal. Selain itu, dualisme

akan menjadikan orang Kristen tidak dapat melakukan Firman Tuhan yang terdapat dalam Matius 5: 14-16 sebab hal ini akan membuat

orang Kristen tidak dapat menjadi terang bagi orang lain, sebab iman percayanya pada Kekristenan hanya bersifat pribadi dan

tidak berlaku bagi orang lain.



Selain itu pula, sikap dualisme menjadikan seorang Kristen tidak ada bedanya dengan

dunia ini yang lebih mementingkan pengalaman (Roma 12:2). Manusia modern yang senantiasa dilingkupi tantangan dan kegerahan

atas dunia yang kejam, harus mencari pelarian kepada dunia khayal yang penuh kehangatan dan kesenangan. Pada akhirnya,

pengalaman indah dalam pengenalan akan Allah menjadi suatu hal yang tak ada bedanya dengan kehangatan dan kesenangan rekayasa

seperti halnya pengalaman kebatinan atau pemakaian obat bius.



Keberadaan Alkitab sebagai Firman Allah yang bernilai

benar karena Allah adalah kebenaran itu sendiri lebih mustahil lagi untuk diterima. Terlampau banyak alasan untuk menolak

Alkitab, bisa jadi karena anggapan bahwa Alkitab berisi berbagai macam hal yang tak dapat diterima akal, sekedar isapan jempol,

dan dongeng belaka. Selain itu karena tak realistis dan tak dapatnya dimanipulasi sekehendak hati. Itulah sebabnya paparan ini

disusun untuk dapat memperlihatkan kebenaran yang bersifat absolut dari Alkitab sebagai Firman Allah.



Oleh : Anna

Mariana Poedji Christanti M.Sc

dilihat : 429 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution