Senin, 23 Juli 2018 16:16:44 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 185
Total pengunjung : 407733
Hits hari ini : 1221
Total hits : 3718371
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Roma Terbakar Tahun 64






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 21 April 2008 00:00:00
Roma Terbakar Tahun 64
Roma Terbakar Tahun 64





Oleh: Tini Ribka





Tanpa kekaisaran Romawi, kekristenan mustahil berkembang dengan sukses. Kekaisaran itu

dapat dikatakan sebagai bom waktu yang menanti pemicuan iman Kristen.



Unsur-unsur pemersatu kekaisaran itu membantu

penyebaran berita Injil: jalan raya yang dibangun orang Romawi membuat perjalanan dari satu tempat ke tempat lain lebih mudah;

di seluruh kekaisaran orang-orang dapat berkomunikasi dalam bahasa Yunani dan pasukan Romawi yang tangguh itu menjaga

kedamaian. Sebagai akibat mobilitas yang meningkat, kelompok-kelompok pengrajin pun bermigrasi mencari pemukiman sementara di

kota-kota besar Roma, Korintus, Athena atau Alexandria 每 kemudian berlanjut ke kota-kota lainnya.





Kekristenan memasuki iklim yang terbuka secara religius. Dalam gerakan ※zaman baru§ itu, banyak orang mulai

menganut agama-agama Timur 每 seperti menyembah Isis (dewi alam), Dionisus (dewa anggur), Mithras (dewa cahaya), Kibele

(dewi alam) dan sebagainya. Para pemuja mencari keyakinan baru, namun beberapa agama tersebut dilarang, karena dicurigai

melakukan upacara-upacara penghinaan. Keyakinan lain secara resmi diakui, seperti Yudaisme, yang dilindungi sejak zaman Julius

Caesar, meskipun monoteismenya dan penyataan alkitabiahnya telah memisahkannya dari cara pemujaan lain.



Melihat

kesempatan baik ini, para pekabar Injil mulai menelusuri seantero kekaisaran. Di sinagoge (rumah ibadah) orang Yahudi, di

tempat-tempat penampungan para pengrajin, di pondok-pondok kumuh, mereka menyebarkan berita Injil dan memenangkan jiwa-jiwa

baru. Tidak lama kemudian berdirilah gereja di kota-kota besar, termasuk ibu kota kekaisaran.



Kota Roma, pusat

kekaisaran, menarik orang-orang seperti magnet. Paulus sendiri pernah menginginkan kunjungan ke kota tersebut (Roma 1:10-12)

dan pada akhir suratnya kepada jemaat di Roma , ia sudah mengenal banyak orang Kristen di sana (Roma 16:13-15). Mungkin ia

pernah bertemu mereka dalam perjalanannya.



Ketika Paulus tiba di Roma , ia dalam keadaan dirantai. Kisah Para Rasul

pada bagian penutupannya menyatakan bahwa akhirnya Paulus mendapat kelonggaran untuk menjadi tahanan rumah di sebuah rumah

sewaan, Di sana ia dapat menerima tamu dan mengajar mereka.



Menurut tradisi, Petruspun pernah bergabung dengan

Gereja Roma. Meskipun kita tidak mempunyai kurun waktu yang pasti, namun kita dapat menduga bahwa dengan pimpinan kedua tokoh

ini, jemaat tersebut bertumbuh kuta, termasuk para bangsawan dan prajurit serta para pengrajin dan pelayan.



Selama

tiga dekade, para pejabat Romawi beranggapan bahwa Kekristenan adalah cabang agama Yahudi 每 agama yang sah 每 dan

tidak bermaksud membuat ※sekte§ baru agama Yahudi. Namun banyak orang Yahudi yang tersinggung karena kepercayaan baru ini

mulai menyerangnya. Ini juga merupakan ancaman bagi Roma. Kelalaian Roma atas keadaan tersebut ditunjukkan oleh laporan

sejarawan Tacitus. Dari salah satu rumah petak di Roma , ia melaporkan adanya gangguan di kalangan orang-orang Yahudi karena

※chrestus§. Tacitus mengkin salah dengar; orang-orang mungkin memperdebatkan tentang Christos, yang adalah Kristus.





Menjelang tahun 64 Masehi, beberapa pejabat Romawi mulai sadar bahwa kekristenan sama sekali berbeda dengan Agama Yahudi.

Orang-orang Yahudi menolak orang-orang Kristen dan lebih banyak melihat kekristenan sebagai agama yang tidak sah. Jauh sebelum

kebakaran kota Roma, masyarakat telah mulai memusuhi keyakinan yang masih muda ini. Meskipun sifat orang Romawi ingin menerima

dewa-dewa baru, namun kekristenan tidak mau mengakui kepercayaan-kepercayaan lain. Karena kekristenan menentang politeisme

kekaisaran Romawi yang telah berakar, maka kekaisaran itupun mulai membalas.



Pada tanggal 19 Juli, kebakaran

berkobar di sebuah sektor kumuh di Roma, Selama tujuh hari api yang tak kunjung padam itu memusnahkan perumahan yang padat.

Sepuluh dari empat belas blok perumahan musnah dan banyak penduduk yang tewas.



Menurut legenda, Kaisar Nero sedang

bermain biola ketika Roma terbakar. Banyak orang sezamannya menduga bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kebakaran

tersebut. Ketika kota itu dibangun kembali dengan dana dari masyarakat, Nero mengambil sebidang tanah yang cukup luas untuk

membangun Istana Emasnya. Kebakaran itu merupakan jalan pintas bagi pembaruan perkotaan.



Untuk mengelakkan tuduhan

atas dirinya, Kaisar itu mengkambinghitamkan orang-orang Kristen. Ia menuduh bahwa merekalah yang memicu kebakaran tersebut.

Akibatnya Nero bersumpah untuk memburu dan membunuh mereka.



Gelombang pertama penganiayaan orang Romawi terhadap

orang Kristen dimulai tidak lama setelah kebakaran itu dan berakhir sampai tahun kematian Nero, tahun 68. Dengan haus darah dan

biadab, orang-orang Kristen disalibkan dan dibakar. Jasad-jasad mereka berjejer di jalan-jalan Roma, disediakan bagi

pencahayaaan obor. Orang-orang Kristen lainnya dikenakan pakaian hewan dan dimasukkan ke dalam kandang untuk dicabik-cabik

anjing-anjing. Menurut cerita, Petrus dan Paulus menjadi martir akibat penyiksaan Nero. Paulus dipenggal kepalanya sedangkan

Petrus disalibkan terbalik.



Penganiayaan berlangsung secara sporadis, dan tetap terlokalisasi. Seorang kaisar

mungkin telah memicunya dan berlanjut selama lebih kurang sepuluh tahun. Namun, masa damai akan menyusul sampai ada seorang

gubernur yang memulai penganiayaan terhadap orang Kristen di wilayahnya 每 tentu dengan restu dari Roma. Hal semacam ini

berlangsung dua setengah abad lamanya.



Tertullianus, seorang penulis Kristen abad kedua pernah berkata,

※Darah para martir adalah benih Gereja.§ Anehnya, setiap kali penganiayaan merebak, orang Kristen yang menjadi korban

makin bertambah. Dalam suratnya yang pertama Petrus menguatkan orang-orang Krsiten untuk bertahan, percaya diri akan kemenangan

dan kuasa Kristus yang akan diteguhkan (1 Petrus 5:8-11). Kata-katanya ini telah terbukti dengan pertumbuhan Gereja di

tengah-tengah penekanan.



Sumber:

Buku 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kristen (The 100 Most Important

Events in Christian History)

Penerbit PT BPK Gunung Mulia

dilihat : 256 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution