Rabu, 26 September 2018 00:20:28 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 248
Total pengunjung : 423293
Hits hari ini : 1792
Total hits : 3900102
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Filateli Belum Mati






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 10 April 2008 00:00:00
Filateli Belum Mati
Jika melihat fungsinya sebagai sumber informasi, alat bukti sejarah, alat pembayaran, bahkan bukti kedaulatan suatu bangsa,

perayaan hari filateli tahun ini terasa terlalu sederhana.



Padahal sejarah mencatat, prangko dan filateli telah

berperan besar mempertautkan bangsa-bangsa di dunia.



Sejak penerbitan prangko pertama di dunia pada 6 Mei 1840,

sejarah komunikasi antar bangsa di dunia memasuki babak baru yang lebih progresif. Dan dalam perkembangannya prangko, filateli

dan pos terbukti telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi kehidupan umat manusia di seluruh

dunia.



Prangko dan benda pos bukan hanya menjadi alat komunikasi bagi pengirim dan penerima surat, namun juga

lambang persaudaraan dan penebar harapan bagi umat manusia.



Meski kini masyarakat global telah memiliki beragam

saluran komunikasi --yang lebih praktis seperti telepon, email, layanan pesan singkat (SMS) dan layanan multi media (MMS)

melalui telepon genggam-- dan kian jarang berkirim surat melalui jasa pos, hal itu tidak membuat filateli lantas

mati.



Jumlah penggunaan prangko memang kian sedikit. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, sebagai instansi

pemerintah yang memegang hak menerbitkan prangko, kini hanya mencetak sekitar 300.000 sampai 500.000 keping setiap seri

prangko, padahal pada era 1980-an, satu seri perangko bisa dicetak antara 1-2 juta keping.



Namun bagi banyak

kalangan, dunia filateli tetap menarik dan karenanya tetap hidup, tak terkecuali di Indonesia. Para pegiat filateli Indonesia

tetap banyak, bahkan beberapa di antaranya telah mengharumkan nama bangsa lewat ajang internasional filateli.



Para

filatelis Indonesia pernah menyabet juara pada kompetisi mendesain perangko Perserikatan Bangsa-Bangsa "Children Art

Competition 2007", mendapatkan sejumlah medali dalam kejuaran filateli di Taiwan (2008), dan pada Oktober 2008 nanti, Indonesia

akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pameran Filateli Internasional 2008.



Hari Filateli Indonesia, yang jatuh

pada 29 Maret juga tetap diperingati oleh komunitas filateli setiap tahun di Gedung Kantor Filateli, Jl Pos No 2 Pasar Baru

Jakarta, meskipun dalam suasana yang teramat sederhana.



Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI), organisasi berdiri

sejak masa Hindia Belanda (1922) tak bosan mengampanyekan kegiatan berkirim surat.



"Kita tak bosan-bosan mengajak

agar generasi muda agar mencintai prangko dan tetap memupuk kebiasaan berkirim surat," kata Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan

Filatelis Indonesia, Letjen (Purn) Soeyono di hadapan 100 peserta Perayaan Hari Filateli Indonesia, yang kebanyakan siswa

Sekolah Menengah Atas.



Dalam acara yang tema fun e easy dilakukan pula Penandatanganan Sampul Peringatan (SP) dengan

penerbitan perangko Jelang Jakarta 2008 seri ke II, diskusi dan lelang perangko.



Soeyono mengatakan bahwa berkirim

SMS bukanlah tabiat buruk, namun kebiasaan berkirim surat juga harus terus dipelihara.



"Berkirim surat akan

menjadikan kita terbiasa menyusun kata-kata dengan struktur yang baik. Menyampaikan buah pemikiran dengan runtut, menyampikan

pendapat dengan santun, tidak susah memuji orang," katanya.



"(Berkirim surat juga akan) melatih manusia untuk tidak

gampang mencerca sesama," tambahnya.



Oleh karena itu PFI, organisasi yang semula bernama "Postzegelverzamelaars Club

Batavia" (Klub Filatelis Batavia), semakin kerap menggelar kampanye menulis dan berkirim surat melalui pos, terutama kepada

generasi muda. Rangkaian pameran filateli, pembinaan kepada para filatelis, diskusi dan lelang perangko, juga dilakukan demi

melestarikan filateli.



"Saat ini kita tengah menggalang dana bagi kegiatan Pameran Filateli Internasional 2008 di

Jakarta International Trade Center, Mangga Dua Square, 23 Oktober mendatang."



Masih menarik



Lahirnya

prangko memang telah menimbulkan hobi baru, yang kemudian secara populer dikenal dengan sebutan filateli. Selanjutnya

terbentuklah perkumpulan-perkumpulan kolektor prangko atau filateli di seluruh dunia.



Hobi filateli pernah dijuluki

sebagai "the kings of the hobby" (rajanya hobi). Namun kini ada yang mengkhawatirkan bahwa hobi filateli akan semakin

dilupakan, karena penggunaan prangko semakin sedikit.



Pada perayaan hari filateli baru-baru ini penjualan koleksi

perangko juga kurang diminati. Namun, menurut pegiat Filateli Berthold Sinaulan, semakin sedikitnya prangko, tidak akan

menyebabkan filateli semakin menyusut.



"Hobi mengoleksi sesuatu benda akan semakin meningkat bila jumlah benda yang

dikoleksi semakin terbatas. Bendanya menjadi langka, padahal peminatnya banyak. Hal itu menyebabkan nilai bendanya semakin

tinggi, dan semakin banyak lagi yang memburu berusaha mendapatkan benda tersebut," katanya.



Karena itu, prangko kini

bukan saja telah menjadi alat komunikasi tapi juga barang investasi, yang diburu oleh kolektor dan pebisnis.



"Masa

depan filateli tetap cerah. Hobi itu tak akan ditinggalkan orang, walaupun mungkin suatu saat prangko sudah tak diterbitkan

lagi. Tapi makna yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana menggiatkan kembali budaya berkirim surat,"

ujarnya.



Masalahnya, sebagaimana diungkapkan oleh salah satu peserta dialog "Perayaan Hari Filateli Indonesia", kini

semakin sulit menemukan prangko di warung-warung kecil.



"Kenapa perangko tidak lagi dijual di warung-warung kecil?"

tanya Kiki, pelajar SMK 27 Jakarta dengan gaya bicaranya lugas.



Semakin sulitnya mencari benda-benda pos di

lingkungan mereka, menjadi salah satu sebab semakin jarangnya generasi muda yang memiliki sahabat pena.



Sinaulan

mengakui filateli saat ini telah menjelma sebagai hobi. Namun hobi filateli tidak hanya bersikap rekreatif, melainkan hobi yang

menambah wawasan.



Budi, salah satu kolektor besar prangko mengaku bertambah wawasannya karena mengoleksi prangko. Ia

menuturkan pengalamannya saat tur ke Amerika dan mengunjungi patung Abraham Lincoln. Tiba-tiba salah satu anggota rombongan

bertanya, "Abraham Lincoln ini presiden keberapa?"



"Saya dengan cepat menjawab, presiden Amerika ke-17," kata Budi

yang juga berprofesi sebagai pengusaha jamu. "Saya tahu karena saya koleksi semua seri perangko presiden Amerika," kata

penerima rekor MURI tahun 2008 sebagai pemilik koleksi terbanyak itu.



Menurut Budi, dengan perangko orang jadi lebih

mudah mengingat, hal ini semakin membuktikan bahwa perangko adalah salah satu alat untuk mencerdaskan bangsa.



Hal

senada juga diungkapkan Sinaulan. "Ketika saya memiliki koleksi prangko seorang tokoh, saya terdorong mencari data mengenai

tokoh bersangkutan, yang pada gilirannya menambah pengetahuan tentang tokoh tersebut."



"Pada prangko flora dan

fauna, kita dapat melihat bentuk dan warna tumbuhan atau hewan yang namanya tercetak pada prangko itu. Seringkali prangko

mencantumkan juga nama latinnya. Hal itu tentu menambah pula pengetahuan kita."



Seorang guru yang bermukim di Bogor

bahkan menggunakan bahan ajar perangko untuk menerangkan fauna di Indonesia.



"Guru ini meletakkan gambar fauna khas

Indonesia di atas peta sesuai dengan daerah asalnya," kata Lutfi, kolektor perangko yang berhasil mencatatkan namanya dalam

rekor MURI tahun 1998 untuk kategori pemilik tandatangan terbanyak.



Para filatelis yakin kegemarannya mengumpulkan

benda pos adalah hobi yang lengkap karena merangkum aspek keasyikan, kepuasan, kesempatan menjalin persahabatan, perluasan

wawasan, sarana mendidikan, sekaligus melatih ketekunan, ketelitian, kejujuran, kesabaran dan kreativitas.



Oleh :

Dyah Sulistyorini

dilihat : 310 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution