Rabu, 18 Juli 2018 15:30:33 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 164
Total pengunjung : 406558
Hits hari ini : 1191
Total hits : 3706272
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kekristenan Yang Dangkal






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 14 Maret 2008 00:00:00
Kekristenan Yang Dangkal
Nats : Ulangan 18:9-14; Yohanes 8:44



Terdapat satu ilustrasi dimana

suatu ketika ada seorang yang ingin membuat kapal yang terlihat demikian besar, megah dan agung sehingga orang yang melihat

akan kagum dan memujinya. Dia berani membayar harga dengan kayu jati yang terbaik, dengan kain yang indah dibuatnya layarnya

disertai dengan tali-tali yang kuat untuk layar tersebut dan akhirnya terwujudlah kapal tersebut. Pada suatu saat, bersama-sama

dengan beberapa kapal yang lain, mereka akan berlayar menuju ke suatu tempat. Ketika berlabuh di pelabuhan, banyak orang yang

hadir disana memandang kapalnya dan kagum karena kapal itu terlihat begitu indah dan megah. Singkat cerita, ketika kapal-kapal

itu mulai berlayar, di suatu tempat mendadak ada badai yang mengamuk dan menerpa semua kapal-kapal itu. Karena tidak kuat

akhirnya semua kapal kembali ke tempat semula, kecuali kapal milik laki-laki itu. Karena kapal itu telah porak poranda di

terjang badai sementara nakhodanya tewas. Banyak orang bertanya-tanya, apa yang salah? Ternyata, walaupun dengan biaya yang

sangat mahal, ia membangun bagian kapal yang terlihat oleh mata dan ia mengabaikan dasar kapal yang tidak terlihat. Karena

dasar kapal itu tidak kokoh, begitu terhantam oleh badai, kapal itu hancur porak poranda.



Gereja itu seumpama

perahu. Masalahnya adalah perahu macam apa? Apakah gereja itu terlihat maju hanya oleh karena banyak aktivitas yang bisa

dilihat oleh mata banyak jemaat yang datang, uang persembahannya banyak, banyak anak muda yang melayani dengan setia dan karena

banyak orang yang belajar theologia? Inikah gereja yang maju dan berkualitas itu? Memang, gereja Reformed tidak didirikan

berdasarkan jumlah, tetapi didirikan berdasarkan kualitas. Tetapi kualitas itu kualitas seperti apa? Jumlah yang banyak

seharusnya merupakan bukti dari kualitas yang baik. Aktivitas pelayanan seharusnya merupakan akibat dari orang yang cinta Tuhan

dan ingin mendukung pekerjaan Tuhan secara bertanggung jawab tetapi realitanya sering tidak demikian. Banyak aktivitas

pelayanan yang hanya sekedar tingkah laku agama dan bukannya masalah spiritual. Orang melayani kadang karena ada orang yang dia

segani atau dekat dengan seseorang yang lain, dan bukannya berdasarkan satu relasi dengan Allah.



Bagi saya, Matius

pasal 5-7 itulah jawabannya. Lepas dari pemahaman terhadap pasal tersebut, hidup kita akan collapse. Kita bisa mendengar

khotbah dan mempunyai pengetahuan theologi yang banyak tetapi seringkali ini justru membentuk close system dalam praktika hidup

kita. Kita mungkin tahu betul apa itu open system, tetapi jika hidup kita tidak mau diubah oleh Tuhan, secara praktika kita

sebenarnya berada dalam close system. Dalam pasal-pasal itu membukakan suatu hal yang sangat penting yang seharusnya dianalisa

oleh umat Kerajaan Allah, karena bagian ini merupakan etika dari anak-anak Kerajaan Allah. Kehidupan kita ditentukan oleh

bagaimana etika kita dihadapan Allah. Kita yang mau memahami kebenaran – segala kebenaran adalah kebenaran Allah – tetapi tidak

mau kembali kepada Allah, maka kita hanyalah sekadar mengetahui bidang-bidang tersebut tanpa memiliki relasi dengan Tuhan. Ada

tiga pelajaran yang dapat dipetik dari nats kita yang dimulai dari ayat 21, yaitu:



(1) Adanya pengakuan iman yang

dangkal. Pengakuan kita terhadap Tuhan, seringkali hanyalah pengakuan yang dangkal, hanya sekedar satu ucapan di bibir saja.

Pengakuan dan isi pengakuan itu memang benar, tetapi apa yang keluar dari mulut seringkali berbeda dengan apa yang ada di dalam

hati. Itulah sebabnya Tuhan mengatakan, "Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan

Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Sorga." Karena itu jika mengucapkan satu pengakuan iman, benarkah

itu berasal dari hati kita?

Banyak orang yang belajar theologi dan mengutarakan pengertiannya dengan mantap, tetapi

pengertian itu hanya berada di kepala saja, dan bukan juga di hati. Di dalam ibadah, pengenalan yang hanya di otak, dan bukan

di hati, itu bukanlah satu tindakan menyembah di hadapan Tuhan, melainkan hanya ingin mendengar satu khotbah yang bagus dan

bersifat informatif saja. Ibadah seharusnya merupakan satu sikap dimana kita sungguh-sungguh menyiapkan hati untuk mendengarkan

firman Tuhan, apa yang Tuhan ingin untuk kita kerjakan dan apa yang Tuhan ingin koreksi terhadap kehidupan kita sehari-hari.

Jiwa seperti inilah yang jarang terlihat. Jika semangat semacam ini tidak ada di dalam gereja, tidak heran jika gereja menjadi

kering. Mungkin gereja itu memiliki doktrin yang baik, tetapi orang-orang yang ada di dalamnya tetap hidup di luar kebenaran.

Bukan berarti kita harus menjadi orang yang sempurna, tetapi kita harus memiliki satu motifasi yakni memiliki kerinduan untuk

berubah.



(2) Adanya pengalaman yang dangkal. Istilah "nubuat" dalam Perjanjian Lama (ayat 22), selalu berarti

memberitakan firman yang Tuhan pakai untuk menunjuk kepada sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang. Bagi orang-orang yang

bernubuat, mengusir setan dan melakukan banyak mujizat demi nama Tuhan seperti ayat 22 ini Tuhan berkata, "Aku tidak pernah

mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Tuhan mengatakan bahwa Ia akan berterus terang,

maksudnya Tuhan akan mengucapkan satu pengakuan di hadapan mereka bahwa mereka tidak dikenalNya dan mereka adalah pembuat

kejahatan. Apa sebab? Karena mereka mau membangun iman mereka di atas pengalaman-pengalam an yang spektakuler, dan pengalaman

itu bukannya satu pengalaman secara pribadi dengan Tuhan.



Gereja harus berdiri di atas kebenaran firman dan bukan

di atas pengalaman hidup seseorang. Tetapi satu hal yang penting ialah, pada waktu kita mau mengenal kebenaran, memang tidak

akan lepas dari pengalaman. Pengalaman semacam apa yang harus kita miliki? Yakni pengalaman berelasi dengan Tuhan. Bangsa

Israel yang paling banyak mengalami mujizat dan sebagainya, justru adalah bangsa yang paling ditegur keras. Dari ujung kepala

hingga ujung kaki sudah penuh dengan borok, sehingga entah di bagian mana lagi Tuhan harus menghajar. Mereka yang tahu dan

mengalami pekerjaan Tuhan yang ajaib, justru adalah yang paling berani melawan Tuhan. Jika seseorang mengatakan bahwa

pengalaman bisa membawa orang datang kepada Kristus, pengertian ini sangatlah dangkal. Roh Kudus, melalui firman yang kita

dengar, itulah yang bekerja dan melahirbarukan kita. Being (keberadaan) kita yang diubah mempengaruhi knowing (pengetahuan) dan

doings (tindakan) kita.



(3) Adanya pengetahuan yang dangkal (ayat 24-27). Seringkali antara yang kita dengar dan

dengan yang kita lakukan, terdapat satu gap (kesenjangan) . Jadi, ada yang banyak tahu dan sedikit yang dikerjakan, ada juga

yang sedikit tahu tetapi banyak yang dikerjakan. Celakanya yang dikerjakan adalah mengajar, padahal sedikit tahu. Di dalam

Alkitab terdapat 2 macam pengetahuan: 1) Pengetahuan akibat dari sesuatu akumulatif di dalam otak, dan 2) Pengetahuan akibat

dari suatu relasi dengan obyek/subyek- nya. Kita yang tahu banyak data diri seseorang tanpa berelasi dengan dia, mungkin bisa

menjawab dengan lancar. Tetapi pengenalan ini hanya di otak saja. Berbeda dengan pengetahuan yang kedua (bdk. Yoh. 17:3; Kej.

4:1). Karena di sini ada satu relasi dan persekutuan yang intim. Itulah sebabnya Reformed Theology (Theologi Reformed) perlu

Reformed Spirituality (Spiritualitas Reformed). Karena theologi yang benar adalah theologi yang berelasi dengan Allah, yakni

theologi yang mengajarkan Allah, yang diajarkan Allah dan yang memimpin kepada Allah. Ayat 24-27 jelas mengatakan, orang yang

mendengar firman dan melakukan bagaikan orang yang mendirikan rumah di atas batu, sedang orang yang mendengar firman dan tidak

melakukan bagaikan orang yang mendirikan rumah di atas pasir. Maka, apakah berarti iman kita ditentukan oleh kelakuan kita?

Tidak! Karena jika kita melihat pasal 5, orang yang miskin secara rohani dan bergantung kepada belas kasihan dan anugerah

Allah-lah yang empunya Kerajaan Sorga. Jika demikian, sebagai apakah kelakuan itu? Kelakuan itu sebagai bukti bahwa kita

mengalami perubahan.

Ada seseorang yang berasal dari keluarga broken home, hidupnya tidak beres, main pelacur, minum

minuman keras, obat-obat terlarang, dsb sementara yang lain berasal agama tertentu, yang terdidik dalam suatu pola tingkah laku

agama tertentu; keduanya datang dalam suatu ibadah. Ketika firman diberitakan, mereka sadar bahwa mereka orang berdosa dan

membutuhkan Kristus. Merekapun percaya dan menerima Kristus. Dari kedua orang ini, manakah yang mempunyai kelakuan yang baik?

Secara penampakan luar, yang berasal dari agama tertentu itu, yang memang sudah terdidik dalam suatu pola tingkah laku agama,

akan terlihat lebih suci, lebih saleh dan lebih terhormat daripada orang yang berasal dari keluarga broken home. Tetapi dalam

masalah kerohanian, ini susah terlihat, karena ini berkenaan dengan suatu relasi dengan Tuhan, yakni suatu pergumulan di dalam

hati dengan Tuhan akibat mendengarkan firman. Seberapa maju sebuah gereja, dapat dilihat dari seberapa dalam gereja itu

berelasi dengan Tuhan. Tidak ada seorang hamba Tuhan yang bisa memiliki kuasa di dalam khotbahnya jika dia tidak tidak disertai

oleh Tuhan dan bergumul dihadapan Tuhan melalui doa. Doa bukanlah sesuatu yang mekanis. Tetapi, bagi saya, doa yang mekanis itu

lebih baik daripada tidak berdoa.



Doa sangat dibutuhkan oleh gereja, tetapi doa sering dianaktirikan oleh gereja.

Kita berdoa hanya ketika kita berada dalam kesulitan saja. Pernahkah kita berdoa dalam kesendirian? Hamba-hamba Tuhan yang

berhasil, selalu menjadikan doa sebagai satu prioritas yang paling penting, inilah juga yang harus kita kerjakan! Sekolah

Theologi didirikan seharusnya menjadi satu pertanggungjawaban bahwa kita sungguh-sungguh mengenal Allah dan isi hatiNya, dan

kemudian kita aplikasikan di dalam hidup. Maka, itu merupakan satu tindakan penyembahan yang benar di hadapan Tuhan. Belajar

theologi itu baik, tetapi jangan hanya berhenti di otak saja. Pengalaman itu baik, tetapi diperlukan satu pengalaman yang

merubah hati kita. Pengakuan itu baik, tetapi mulut yang mengaku harus disertai hati yang beriman. Sekarang, bagaimana kita

melakukan hal-hal yang sesuai dengan kehendak Allah? Kita harus memiliki karakter dari umat Kerajaan Sorga (lihat Mat. 5:4-12),

tujuan dan misi dari umat Kerajaan Allah di dalam dunia (5:13-16), ibadah dari umat Kerajaan Allah (Mat. 4:17-6:18), ambisi

dari umat Kerajaan Allah (Mat. 6:19-34), relasi antara manusia dengan sesamanya dan dengan Bapa (Mat. 7:1-14), menghadapi

pengajaran yang sesat (Mat. 7:15-23), dan Matius 7:24-27 merupakan konklusi akhirnya. Amin.



oleh: Ev. Rusdi

Tanuwidjaya, S.Th.

(Sarjana Theologia—S.Th. dari Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia—STTRII,

Jakarta)



(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Sumber:

Ringkasan khotbah Ev.

Rusdi Tanuwidjaya di mimbar GRII Andhika, Surabaya tanggal 9 Mei 1999



MARI KITA BERSATU PADU

UNTUK MEMBANGUN

BANGSA DAN NEGARA

KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

dilihat : 273 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution