Rabu, 21 November 2018 16:52:37 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 115
Total pengunjung : 441122
Hits hari ini : 535
Total hits : 4071860
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Otoritas Alkitab






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 08 Maret 2008 00:00:00
Otoritas Alkitab
Penyebab terbesar dari kekacauan di dalam gereja dewasa ini adalah

kurangnya otoritas yang dapat disandari. Banyak usaha dilakukan untuk mensuplai otoritas ini melalui keputusan-keputusan sidang

gerejawi, pertemuan yang eksistensial dengan "firman" tetapi yang tidak bisa dipahami maksudnya, atau dengan cara-cara lain.

Tapi tak satupun pendekatan itu dapat dikatakan berhasil. Lalu apa yang salah? Apakah sebenarnya sumber otoritas bagi orang

Kristen?



Jawaban klasik orang-orang Protestan adalah: sumber otoritas itu tidak lain Firman Allah yang diwahyukan,

yaitu Alkitab. Alkitab berotoritas sebab bukan perkataan manusia, walaupun manusia adalah saluran sehingga Alkitab dapat sampai

kepada kita. Sesungguhnya Alkitab "dinafaskan oleh Allah". Alkitab adalah hasil buatan Allah. Tetapi mungkin timbul juga

pertanyaan lain mengenai otoritas. Pertanyaan ini berkaitan dengan cara kita menyadari otoritas Alkitab. Bagaimana kita bisa

mengerti sesungguh-sungguhnya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan?



Aspek manusiawi dari pertanyaan mengenai otoritas,

membawa kita sedikit lebih jauh kepada pengertian bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Sebab arti sepenuhnya dari perkataan itu

bukan sekadar menunjukkan bahwa Tuhan telah memberikan Alkitab, tetapi juga bahwa Alkitab terus menerus berbicara melalui

Alkitab kepada manusia secara pribadi. Dengan kata lain, jika setiap orang secara pribadi mempelajari Alkitab, Allah berbicara

kepada mereka melalui usaha mereka untuk mempelajarinya. Allah mengubah diri mereka melalui kebenaran yang mereka dapatkan.

Inilah pertemuan secara langsung dari orang percaya secara individual dengan Tuhan. Luther mengungkapkan hal ini dengan

kalimat, "Hati nuraniku telah ditawan oleh Firman Tuhan." Demikian juga yang dimaksud oleh Calvin dengan perkataan,

"Sesungguhnya Alkitab membuktikan dirinya sendiri otentik".



Hanya pengalaman secara langsung sajalah yang akan

menyakinkan orang bahwa kata-kata dalam Alkitab adalah Firman Tuhan yang otentik dan otoritatif. Calvin berkata, "Jadi, Roh

yang sama yang telah berbicara melalui mulut para nabi sekarang menembus ke dalam hati kita untuk mengatakan kepada kita bahwa

para nabi itu telah dengan setia mengatakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan."



Alkitab lebih dari sekadar sesuatu

kebenaran yang diungkapkan, suatu kumpulan kitab-kitab yang secara lisan diinspirasikan oleh Tuhan. Alkitab adalah suara Allah

yang hidup. Allah yang hidup berbicara melalui halaman demi halaman Alkitab. Jadi Alkitab tidak boleh dinilai sebagai sebuah

obyek sakral untuk diletakkan di atas rak buku lalu diabaikan begitu saja. Alkitab adalah dasar yang kudus, di mana hati dan

pikiran manusia bisa mencapai satu titik temu yang penting dengan Allah yang hidup, yang penuh kasih dan memperhatikan manusia.

Kalau kita mau memiliki perspektif yang sesuai dan pemahaman yang dapat disandari mengenai wahyu maka kita harus terus menerus

memahami ketiga hal berikut: "Firman yang berotoritas dan tidak mungkin salah, tindakan Roh Kudus yang membuat kita mengerti

dan menerima Firman itu dan hati yang mau menerima." Tidak mungkin kita memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah tanpa

ketiga hal itu.





Pandangan Reformasi



Jaminan bahwa Allah telah berbicara kepada para Reformator

secara langsung melalui Firman-Nya memberikan suatu kebulatan di hati para Reformator. Secara teologis, pembentukan kebenaran

pada dasarnya adalah sebuah elemen yang baru dalam Reformasi.



Pekik peperangan Reformasi adalah Sola Scriptura.

Hanya Firman saja. Tetapi bagi para Reformator Sola Scriptura memiliki arti lebih dari sekadar bahwa Allah telah menyatakan

diri-Nya dalam perkataan Alkitab. Elemen yang baru itu bukan berarti bahwa Alkitab, yang sesungguhnya diberikan oleh Tuhan,

berbicara dengan otoritas Tuhan sendiri. Gereja Roma Katolik maupun para Reformator memiliki pendapat yang sama tentang hal

itu. Elemen yang baru itu, sebagaimana juga diungkapkan oleh Packer adalah kepercayaan dalam diri Reformator melalui pengalaman

mereka mempelajari Alkitab, bahwa Alkitab dapat dan memang sesungguhnya menafsirkan dirinya sendiri dalam hati orang beriman.

Alkitab adalah penafsir bagi Alkitab sendiri, Scriptura sui ipsius interpres, sebagaimana dikemukakan oleh Luther. Jadi, kita

tidak perlu Paus atau konsili untuk memberitahu apa arti perkataan Alkitab. Hal ini dapat berarti menantang pernyataan kepausan

atau pernyataan konsili dan menunjukkan bahwa mereka tidak benar dan menuntut orang beriman untuk tidak menuruti mereka.

Alkitab adalah satu-satunya sumber di mana orang berdosa bisa mendapatkan pengetahuan yang benar tentang Allah dan kebaikan.

Alkitab juga merupakan satu-satunya hakim Gereja segala zaman demi nama Tuhan.



Dalam zaman Luther, Roma Katolik

telah melemahkan otoritas Alkitab dengan cara meninggikan tradisi, sampai setara dengan Alkitab. Mereka juga menekankan bahwa

ajaran Alkitab dapat disampaikan kepada orang Kristen hanya melalui perantaraan Paus, konsili, dan para imam. Para Reformator

mengembalikan otoritas Alkitab dengan menyatakan bahwa Allah yang hidup berbicara langsung kepada umat-Nya dengan penuh

otoritas melalui setiap halaman Alkitab.



Para Reformator menyebut tindakan Allah yang melahirkan Firman dalam

pikiran dan hati nurani umat-Nya, sebagai kesaksian batiniah dari Roh Kudus. Mereka menekankan bahwa tindakan seperti itu

adalah pertemuan obyektif atau eksternal, berdasarkan ayat-ayat dalam Yoh 3:8; 1Yoh 2:20, 27; 1Yoh 5:7. Pengertian yang sama

juga diungkapkan Paulus dalam 1Kor 2:12-15 dan Ef 1:16-20. Jika kita melihat ayat-ayat di atas secara keseluruhan, maka

semuanya mengajarkan kita tentang kelahiran baru, pertumbuhan kebijaksanaan rohani dan pengetahuan tentang Allah. Itu adalah

hasil karya Roh Allah atas hidup kita melalui Alkitab. Tidak ada pengertian spiritual yang mungkin terlepas dari tindakan Roh

Kudus ini. Jadi kesaksian Roh Kudus adalah alasan yang paling masuk akal mengapa Alkitab diterima sebagai otoritas tertinggi

dalam semua persoalan iman dan tindakan dari setiap anak Tuhan.





Kitab yang Memahami Saya



Jika kita

membaca Alkitab dan Roh Kudus berbicara kepada kita, maka ada berbagai hal yang terjadi. Pertama, pembacaan itu mempengaruhi

kita dengan sangat berbeda dari semua pembacaan buku-buku lain yang pernah dilakukan.



Dr. Emilie Cailliet adalah

seorang ahli filsafat dari Perancis yang kemudian menetap di Amerika dan menjadi profesor di Princ! eton Theological Seminary.

Ia dibesarkan dengan suatu pendidikan naturalistik. Ia tak pernah mengindahkan hal-hal yang bersifat spiritual. Ia tak pernah

membaca Alkitab. Ketika Perang Dunia I meletus, ia melihat keadaan sekelilingnya dan merasa tidak puas dengan pandangan dan

sikap hidupnya. Ia mengajukan sebuah pertanyaan kepada diri sendiri seperti pertanyaan yang diungkapkan oleh Levin, tokoh fiksi

karya Leo Tolstoy dalam buku Anna Karenina. Bunyi pertanyaan itu, "Darimanakah asal hidup? Jika hidup itu berarti, apa arti

yang sesungguhnya? Apa arti semua teori ilmu pengetahuan dalam kenyataan yang sesungguhnya? " Belakangan Cailliet menulis,

"Seperti Levin, saya juga merasa bukan oleh pikiran saya tetapi oleh keseluruhan keberadaan saya, bahwa saya ditentukan untuk

binasa secara tragis, jika waktunya sampai."



Setelah terjaga sepanjang malam, Cailliet mulai merindukan apa yang

disebutnya sebuah buku yang dapat memahami diri saya. Ia adalah orang terpelajar, tetapi ia tidak pernah mengenal ada buku yang

seperti itu sebelumnya. Ketika kemudian ia terluka dan dibebastugaskan dari kesatuan militer dan kembali ke tempatnya mengajar,

Cailliet berketetapan untuk menyiapkan sebuah buku seperti yang ia maksudkan itu bagi dirinya sendiri secara rahasia. Ketika

membaca buku, ia mencatat kalimat-kalimat yang nampaknya berguna bagi dirinya. Kemudian ia mencatat semua kalimat itu sekali

lagi dalam sebuah buku bersampul kulit. Ia menandai semua kata penting yang diharapkan bisa melepaskan dirinya dari segala

kekuatiran.



Akhirnya tibalah saatnya ia menyelesaikan bukunya, sebuah buku yang akan memahami dirinya. Lalu Cailliet

ke luar rumah dan duduk di bawah sebatang pohon dan mulai membaca kumpulan tulisannya itu. Tetapi bukannya satu kelegaan yang

ia jumpai. Justru setiap kalimat yang sudah dikutipnya itu mengingatkannya tentang betapa berat usahanya mengumpulkan semua

kalimat itu. Akhirnya ia tahu bahwa semua usahanya sia-sia, sebab buku itu dibuatnya sendiri. Buku itu tidak mempunyai

kekuatan. Dengan kecewa ia simpan buku itu dalam sakunya.



Pada saat yang sama, istri Cailliet (yang tidak tahu

menahu tentang usaha suaminya itu) pulang dengan sebuah cerita menarik. Ia baru pulang berjalan-jalan di desa Perancis mereka

yang kecil dan secara tidak sengaja memasuki sebuah gereja Huguenot mungil. Sebelumnya ia tak pernah melihat gereja mungil itu,

tetapi ia masuk juga dan minta sebuah Alkitab, walaupun ia sendiri tidak sadar apa perlunya ia minta Alkitab. Sampai di rumah

ia minta maaf pada suaminya karena membawa Alkitab pulang ke rumah, sebab ia tahu bahwa suaminya tidak suka pada kekristenan.

Tetapi Cailliet tidak mempedulikan permintaan maaf istrinya dan menanyakan di mana Alkitab itu sekarang. Cailliet sadar bahwa

ia tak pernah membaca Alkitab sebelumnya. Lalu dengan bergegas ia justru mulai membaca Alkitab itu. Berikut ini adalah kutipan

dari perkataan Cailliet secara langsung, Aku membukanya dan sampai pada Ucapan Bahagia dari Tuhan Yesus. Aku terus membacanya

terus menerus, berulang-ulang dengan suara keras dan merasakan ada satu kehangatan yang merambat melaluinya... Aku tak dapat

menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan betapa aku kagum dan terpesona. Lalu tiba-tiba aku menyadari: Inilah buku

yang dapat memahami diriku! Aku sangat membutuhkannya, tetapi aku tidak menyadari, bahkan dengan bodohnya aku berusaha menulis

buku semacam ini sendiri. Aku terus membacanya makin jauh, terutama dari keempat Injil. Lalu aku melihat, bahwa Dia yang

berbicara dan bertindak sungguh hidup bagiku. Pengalaman yang indah ini menandai permulaan pengertianku tentang doa, juga

pengalaman itu mengajarkanku tentang kehadiran Tuhan, yang kemudian menjadi sesuatu yang sangat pokok dalam pemikiran

teologisku.



Suasana providensial di dalam Buku itu telah menangkap aku dan walaupun tampaknya absurd untuk

membicarakan tentang sebuah buku yang dapat memahami manusia, sesungguhnya Alkitab dapat memahami manusia. Sebab setiap

halamannya dihidupkan oleh kehadiran Allah yang hidup dan kekuatan karya-Nya. Kepada Allah inilah aku berdoa malam itu, dan

Allah yang menjawab adalah Allah yang sama yang dibicarakan dalam Buku itu.



Sepanjang sejarah umat Allah telah

melihat apa yang diungkapkan dalam Reformasi. Inilah perkataan Calvin tentang kebenaran yang sama, Kuasa yang khusus di dalam

Alkitab jelas dapat kita lihat. Kalau kita bandingkan dengan tulisan-tulisan manusia yang lain, betapapun indah bahasa yang

dipakainya tetap tidak ada tulisan lain yang dapat dibandingkan dengan Alkitab. Bacalah Demosthenes atau Cicero; bacalah Plato,

Aristoteles, dan karya-karya filsuf lain yang sebudaya dengan mereka. Buku-buku itu memang akan memberikan keindahan kepada

kita, menggetarkan hati, dan membuat kita terkenang. Tetapi jika kita beralih dari buku-buku itu dan membawa Kitab Suci, maka

Kitab Suci ini akan mempengaruhi hidup kita, menembus ke dalam hati, kemudian mendiami seluruh sumsum tulang kita. Jika hendak

dibandingkan sekali lagi, maka buku-buku karya para filsuf itu hampir akan ada artinya lagi. Jadi jelaslah bahwa Kitab Suci

jauh melebihi segala kebaikan manusia, sebab Kitab Suci menghembuskan sesuatu yang bersifat Ilahi.



Contoh yang lain

kita lihat di bagian akhir Injil Lukas. Tuhan Yesus baru bangkit dari kubur dan menampakkan diri kepada para murid-Nya. Kleopas

dan seorang kawannya berjalan menuju ke Emaus dan berjumpa dengan Tuhan Yesus di tengah perjalanan. Mereka tidak mengenali-Nya.

Ketika Tuhan Yesus bertanya mengapa mereka tampak sedih, mereka justru balik bertanya, apakah Dia tidak tahu apa yang sedang

terjadi di Yerusalem. Mereka menceritakan tentang Yesus yang mati, lalu pada hari pertama minggu itu para perempuan pergi ke

kubur dan menjumpai kubur itu telah kosong Yesus, walaupun sesungguhnya kubur itu sendiri tidak jauh dari tempat tinggal

mereka. Mimpi mereka lenyap, dan dalam perkiraan mereka waktu itu Yesus telah mati, itulah sebabnya mereka pulang ke Emaus.



Tetapi Tuhan Yesus mulai berkata-kata kepada mereka, mengajarkan mereka Alkitab. Tuhan Yesus menyebut mereka orang-orang

bodoh dan lamban untuk percaya perkataan para nabi. Tuhan Yesus menekankan kepada mereka bahwa Mesias memang harus mengalami

penderitaan itu untuk masuk ke dalam kemuliaan. Tuhan Yesus mulai dengan pengajaran Musa dan seluruh pernyataan para nabi,

kemudian Ia menjelaskan apa yang dikatakan Alkitab tentang diri-Nya sendiri.



Akhirnya mereka tiba di rumah mereka,

dan Ia menyatakan diri kepada mereka ketika mereka makan bersama. Ia tiba-tiba menghilang. Segera kedua orang itu kembali ke

Yerusalem untuk menceritakan kepada para murid yang lain. Mereka mengatakan, "Bukankah hati kita berkobar-kobar ketika Ia

berbicara kepada kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" (Luk. 24:32). Mereka disadarkan oleh

Firman Tuhan. Dalam keadaan ini Tuhan Yesus sendiri menggenapi fungsi Roh Kudus dengan cara menerangkan arti Firman Tuhan

kepada para murid-Nya dan dengan menerapkan kebenarannya kepada mereka.



Alkitab juga mengubah kita. Kita menjadi

orang-orang yang berbeda sebagai hasil dari pertemuan dengan Alkitab. Satu bagian dari Rm 13 mengubah hidup Agustinus ketika ia

membaca Alkitab di kebun rumah seorang kawannya di dekat Milan, Italia. Luther mengatakan pengalamannya dalam meditasi di

Wartburg Castle dan ia dilahirkan lagi dan menyaksikan bagaimana Rm 1:17 menjadi gerbang surgawi. Perenungan John Wesley

terhadap Alkitab akhirnya membawa pertobatannya dalam sebuah pertemuan kecil di Aldersgate.





Kitab Yang

Memahami Saya



Akibat lain dari membaca Alkitab adalah bahwa Roh Kudus yang berbicara melalui setiap halamannya akan

membawa orang-orang menjadi murid Tuhan Yesus. Alkitab berisi berbagai macam pokok bahasan. Alkitab meliputi sejarah yang

ratusan tahun panjangnya. Tetapi obyek dari Alkitab dalam segala bagiannya menunjuk kepada Kristus. Tuhan Yesus berkata bahwa

jika Penghibur, yaitu Roh Kebenaran yang diutus-Nya dari Bapa itu datang, Ia akan menyaksikan tentang diri Tuhan Yesus (Yoh.

15:26). Karena peranan Roh Kudus adalah menunjukkan tentang Tuhan Yesus di dalam Alkitab, maka kita bisa yakin bahwa kita

sedang mendengarkan perkataan Roh Kudus jika kita mengalaminya.



Mungkin orang bertanya, bukankah seluruh isi Alkitab

adalah sejarah? Bagaimana mungkin Yesus adalah subyek dari Perjanjian Lama? Dan bagaimana Roh Kudus dapat menunjukkan kita

kepada-Nya? Tuhan Yesus menjadi subyek dalam Perjanjian Lama dengan dua cara: (1) dengan menyesuaikan dengan tema utamanya dan

(2) dengan menggenapi apa yang nubuatan yang ada.



Satu tema utama dari Perjanjian Lama adalah dosa manusia dan

perlunya penolong bagi manusia. Alkitab dimulai dengan kisah penciptaan. Tetapi kita juga dapati kisah kejatuhan manusia ke

dalam dosa. Manusia bukannya sepenuhnya taat dan bersandar kepada Penciptanya, tetapi justru memberontak dan melawan Allah.

Manusia lebih memilih jalannya sendiri daripada mengikuti jalan Tuhan. Jadi akibat dari dosa segera jatuh atas seluruh umat

manusia.



Dalam Perjanjian Lama selanjutnya kita melihat seluruh konsekuensi dosa ini: pembunuhan atas diri Habel,

kejahatan manusia pada zaman Nuh sampai terjadinya air bah, penyimpangan seksual, bahkan sampai kepada tragedi yang dialami

Israel bangsa pilihan walaupun seharusnya Israel berhak memiliki berkat-berkat Tuhan secara penuh. Paling baik jika Perjanjian

Lama disimpulkan dengan perkataan Daud dalam mazmur pengakuan dosanya. Mzm 51:1-5 boleh disebutkan sebagai pengakuan dosa dari

seluruh umat manusia.



Kita memiliki satu doktrin Alkitab yang! penting. Kalau kita dapat mengertinya dengan benar

maka doktrin ini tidak akan berakhir dalam dirinya sendiri. Kebenaran tentang dosa dan kebutuhan kita diungkapkan dalam Alkitab

sebab Alkitab juga mampu menunjukkan bahwa Kristus mampu menjawab semua persoalan.



Tema kedua dari Perjanjian Lama

adalah eksistensi Allah yang bertindak dalam kasih-Nya untuk menebus orang berdosa. Allah Bapa melakukan ini di dalam seluruh

Perjanjian Lama. Pada saat yang sama, ketika Allah melakukannya, Ia juga menunjuk kepada kedatangan Putra-Nya yang akan menebus

manusia secara sempurna untuk selama-lamanya.



Ketika Adam dan Hawa berdosa, maka dosa itu memisahkan mereka dari

Sang Pencipta. Mereka berusaha bersembunyi. Akan tetapi Allah datang pada mereka pada waktu hari sejuk, dan Allah memanggil

mereka. Memang Allah berbicara dalam penghakiman, sebab memang Ia harus melakukannya. Ia mengungkapkan konsekuensi dari dosa

mereka. Tetapi Allah membunuh seekor binatang dan memakai kan kulit binatang itu untuk menjadi pakaian manusia yang berdosa dan

mulai mengajarkan jalan keselamatan melalui pencurahan darah. Lalu Allah berfirman tentang kedatangan Sang Juruselamat yang

akan meremukkan kepada dari ular yang artinya akan mengalahkan kuasa iblis (Kej 3:15).



Pada sembilan pasal

berikutnya kita jumpai suatu rujukan lain di mana benih perempuan itu akan menghancurkan kepala ular. Allah pertama kali

memberikan janji kepada Abraham dengan menekankan bahwa oleh keturunan Abraham segala bangsa di muka bumi akan mendapat berkat

(Kej 12:3; 22:18). Berkat yang dijanjikan ini tentulah bukan sebuah berkat yang mengalir dari diri Abraham secara pribadi.

Berkat yang dijanjikan ini akan datang melalui keturunan Abraham, yaitu benih yang dijanjikan, Sang Mesias. Lalu beratus-ratus

tahun berikutnya yang mengerti betul ayat ini menunjukkan bahwa: (1) benih itu adalah Tuhan Yesus; (2) janji yang diberikan

kepada Abraham adalah satu berkat melalui Dia; dan (3) berkat itu sampai kepada manusia melalui karya Kristus yang menebus (Gal

3:13-16).



Menjelang kematiannya Yakub berkata bahwa tongkat kerajaan tak akan pernah pergi dari Yehuda (Kej 49:10).

Musa juga berkata tentang Dia yang akan datang (Ul 18:15). Kitab Mazmur berisi banyak nubuatan besar. Mzm 2 menceritakan

tentang Kristus yang memperoleh kemenangan dan berkuasa atas bangsa-bangsa di bumi. Mazmur ini sangat disukai orang-orang

Kristen abad mula-mula (Lihat Kis 4). Mzm 16 menubuat kan kebangkitan Kristus (ayat 10; lihat Kis 2:31). Dalam Mzm 22, 23, dan

24 kita mendapatkan gambaran tentang Tuhan Yesus: Juruselamat yang menderita, Gembala yang baik dan Raja. Mazmur-mazmur yang

lain membicarakan aspek lain tentang pelayanan dan kehidupan Kristus. Mzm 110 kembali pada tema mengenai pemerintahan- Nya,

yaitu hari ketika Yesus duduk di sebelah kanan Allah Bapa, dan menjadikan musuh-musuh- Nya sebagai tumpuan kaki-Nya. Rincian

tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus dapat kita jumpai dalam kitab para nabi: Yesaya, Daniel, Yeremia,

Yehezkiel, Hosea, Zakharia, dan yang lainnya.



Tuhan Yesus Kristus dan karya-Nya adalah subyek dari Alkitab. Roh

Kuduslah yang mengungkapkan semuanya tentang Dia. Pada saat wahyu dalam Alkitab dipahami maka Alkitab memberi kesaksian tentang

dirinya sendiri dan otoritas serta kuasa dari Allah yang hidup dapat dirasakan dalam setiap lembar

halamannya.



Disadur dari buku : Foundation of Christian Faith

Vol 1 : The Sovereign God,

Oleh : Rev. James

Montgomery Boice, D.Theol., D.D.



Diterjemahan oleh : Yudha Thianto



Sumber: Majalah MOMENTUM No. 15 -

Maret 1992.

Disarikan dari: http://www.geocitie s.com/thisisrefo rmed/artikel/alkitab5.html



Profil

:

(alm) Rev. James Montgomery Boice, D.Theol., D.D. adalah pembicara pada siaran radio The Bible Study Hour sejak tahun

1969, melayani sebagai Pendeta Senior di Tenth Presbyterian Church, Philadelphia, U.S.A. dari 1968 sampai beliau meninggal pada

tahun 2000. Beliau juga tergabung dalam organisasi : International Council on Biblical Inerrancy and Bible Study Fellowship.

Pada tahun 1994, Dr. Boice bersama dengan para pemimpin Injili lainnya mendirikan Alliance of Confessing Evangelicals. Dr.

Boice memperoleh gelar Bachelor of Arts (B.A.) dari Harvard University, Bachelor of Divinity (B.D.) dari Princeton Theological

Seminary, Doctor of Theology (D.Theol.) dari University of Basel, Switzerland, dan honorary Doctor of Divinity (D.D., honorary)

dari the Theological Seminary of the Reformed Episcopal Church. Beliau telah menulis lebih dari 60 buah buku, termasuk buku

Tafsiran Surat Roma sebanyak 4 volume yang merupakan satu dari buku terbaik di abad 20.



Pengirim : Denny Teguh

Sutandio

dilihat : 235 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution