Minggu, 16 Desember 2018 01:37:01 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 24
Total pengunjung : 450849
Hits hari ini : 62
Total hits : 4153248
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Sistem Pendidikan Nasional Belum Menjawab Masalah Pengangguran






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 05 Maret 2008 00:00:00
Sistem Pendidikan Nasional Belum Menjawab Masalah Pengangguran
Jakarta, MI—Sistem pendidikan nasional (sisdiknas) belum menjawab permasalahan pengangguran

di Indonesia. Pasalnya, kebijakan pendidikan selama ini, hanya diarahkan pada output oriented.



"Untuk itu, sistem

pendidikan nasional yang ada saat ini, harus direformasi menjadi job oriented," ungkap Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi

(Menakertrans) Erman Suparno kepada pers seusai meraih gelar doktoral pada program manajemen pendidikan di Universitas Negeri

Jakarta (UNJ), Jakarta, Selasa (4/3).



Erman mengatakan, dengan cara mereformasi kebijakan pendidikan menjadi job

oriented, maka masalah pengangguran tidak hanya diminimalisir melalui sisi hilir (penyediaan lapangan pekerjaan), tetapi juga

dari sisi hulu (sistem pendidikan nasional).



Hal itu, menurut Erman, dapat dilakukan dengan cara merubah paradigma

kebijakan, khususnya terkait dengan keberadaan sekolah lanjutan tingkat atas. "Yakni, ke depan perlu mengurangi jumlah sekolah

menengah umum, namun di sisi lain meningkatkan jumlah sekolah menengah kejuruan," ujar Erman.



Dalam hal ini pula,

ujar Erman, Depnakertrans telah menjajaki kerja sama dengan Depdiknas, agar keberadaan sekolah lanjutan tingkat atas itu, dapat

segera direalisasikan dalam jangka panjang.



Kendati demikian, Erman mengingatkan, arah sekolah menengah kejuruan itu

harus disesuaiakan dengan visi dan misi pembangunan ekonomi bangsa Indonesia ke depan. Misalnya memprioritaskan pada bidang

pertanian, perkebunan, ataupun kelautan.



"Pada bidang pertanian misalnya, peserta didik diarahkan dalam mengatasi

komoditas pangan yang akhir-akhir ini relatif impor. Kemudian, pada bidang perkebunan, bagaimana menyiapkan tenaga penyuluhan,

agar lahan-lahan yang gundul dapat ditanami," jelas Erman.



Selain itu, lanjut Erman, pelayanan satu atap juga sangat

diperlukan, terkait dengan kurangnya informasi lapangan pekerjaan dan keterampilan yang memadai, terutama bagi peserta didik

yang telah menyelesaikan pendidikan formal, non formal, maupun informal.

"Dalam hal ini pula, Depnakertrans telah

melakukan kerja sama dengan Depdiknas dan para users (Kadin, asosiasi pengusaha, dan sektor kewirausahaan) , melalui program 3

in 1, sebagai solusi mengatasi jumlah pengangguran dari sisi hilir," ujar Erman.



Pada program 3 in 1 yang pada 2008

ditargetkan menyerap 2,5 juta lulusan itu, Erman menjelaskan, sektor yang akan menjadi prioritas antara lain, sektor jasa,

sektor pertanian, dan sektor industri.



"Mekanismenya, lulusan akan langsung dilayani BLK-BLK (Balai Latihan Kerja),

dinas pendidikan setempat, serta membuka kios-kios di universitas, yang memberikan pelayanan informasi lowongan pekerjaan,

ataupun informasi pendidikan dan pelatihan yang diadakan untuk menambah kompetensi," jelas Erman.(Sidik Pramono/Dik/OL- 03)

dilihat : 267 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution